Judi

1082 Words
Roni menonton pertandingan judi bersama Miaoling dari bangku VIP di sana. Dua peserta yang mendapat giliran bermain segera duduk di kursi mereka. Mereka berhadapan satu sama lain dan saling melempar senyum. Kini juri sudah membagikan kartu, kedua pemain sudah memegang masing-masing lima kartu. "Roni, menurutmu dari mereka, siapa yang akan menjadi pemenang?" tanya Miaoling, mata wanita itu masih lurus menatap ke dua peserta. Roni menoleh ke arah Miaoling, pria itu mengangkat kedua bahunya acuh. "Tidak tahu, siapa yang tahu takdir dan hasil akhir?" Miaoling tersenyum tipis. "Itu lah judi, Roni. Kamu harus berani bertaruh dan yakin dengan apa yang kamu pegang atau pilih. Bukankah berjudi takdir itu menyenangkan? Kartu rendah bisa saja mengalahkan kartu kuat, hal ini tentu saja sangat mengejutkan. Hanya sedikit orang yang bisa menyatukan jiwanya bersama para kartu." Roni menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, sejujurnya Roni tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Miaoling. Tahu apa dirinya tentang kartu seperti Poker, Canasta, BlackJack, Casino, Solitaire, dan Bridge? Lagi pula Roni tidak tertarik dengan para kartu tersebut. Namun karena tidak mau membuat Miaoling merasa terkacangi, pria itu bertanya,"Di antara semua permainan kartu, yang mana yang kau sukai?" Miaoling yang mendengar pertanyaan Roni termenung sejenak, kemudian wanita itu kembali tersenyum manis dan menjawab,"Tentunya Poker, dan kemudian Blackjack. Bagaimana denganmu?" Roni menggeleng pelan. "Aku tidak tertarik memainkannya." Miaoling yang mendengar jawaban Roni tertawa, lalu tangan kanan wanita itu memukul punggung Roni. "Astaga! Kau sangat membosankan! Tidak minum, tidak main wanita, tidak merokok! Dan sekarang tidak tertarik bermain kartu?" Roni balas tertawa juga. "Ada satu kartu yang aku sukai dari dulu, aku sering memainkannya dengan sahabatku Sagli." Miaoling mengangkat alis kirinya. "Oh, ya? Apa itu?" "Uno," jawab Roni, hal ini membuat Miaoling memukul punggungnya sekali lagi. "Konyol, permainan anak-anak." Roni mengerutkan keningnya. "Oh, ya? Apa salahnya, huh? Bukankah yang penting dia 'kartu'?" "Bukan seperti itu mak-" belum selesai Miaoling bicara, suara teriakan dari meja pemain terdengar. Hal ini membuat Miaoling buru-buru kembali fokus ke meja pemain. "Raise!!!" Kemudian di sana tampak salah satu pemain menyodorkan chip lebih banyak ke tengah-tengah meja, sepertinya dia mulai memasang taruhan lebih besar. Tawa Miaoling terdengar sangat puas, bahkan bukan hanya Miaoling, tetapi seluruh orang yang menonton pertandingan judi ini tertawa puas. Sepertinya permainan mulai menjadi lebih panas. "Bagus, kawan! Haha! Teruskan! Aku akan menambahkan taruhan padamu!" "Bagus, kawan! Haha! Teruskan! Aku akan menambahkan taruhan padamu!" "Jangan mau kalah! Tambahkan lagi taruhanmu! Apa-apaan dia?! Jangan membuatnya besar kepala di sini!" "Oh, bi*ch! Tambahkan lagi! Aku akan menambahkannya untukmu! Satu miliar!" "Jangan sampai kalah, kepa***t! Aku juga berjudi tentang nasibmu dengan Dolega! Aku bertaruh seratus juta untukmu! Jangan mengecewakanku!" "Miaoling, apa uang yang dimaksud dengan Raise?" tanya Roni, ponsel pria itu sudah menyala dan menunjukkan tempat dia menulis (aplikasi catatan) serta keyboard yang sudah siap untuk digunakan mengetik. Miaoling menoleh ke Roni. "Raise?" Roni mengangguk. "Ya." Miaoling terdiam sebentar, kemudian menjawab,"Raise adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa pemain bertahan dalam permainan dengan cara memasang jumlah taruhan yang lebih banyak dari pada jumlah yang diletakkan pemain terakhir ke dalam pot. Masih ada dua istilah lainnya, aku akan memberitahu kan mu jika kamu bertanya." Roni yang mendengar Miaoling menjelaskannya dengan cepat mengerutkan keningnya. "Pelan sedikit, aku harus mengetik ini sebagai catatan." Miaoling menghela napas, kemudian mengangguk dan mengulangi lagi ucapannya. Setelah selesai mengetik apa yang sudah Miaoling jelaskan tadi, Roni segera kembali bertanya,"Lalu tadi kau berkata bahwa masih ada dua istilah lainnya lagi. Apa itu?" Miaoling tersenyum jahil. "Cium pipiku dulu!" jari telunjuk wanita itu menunjuk-nunjuk pipi kanannya. Roni memasang wajah datar, pria itu menggeleng pelan dan membalas,"Jika aku menciummu, maka tidak akan bisa kamu bayangkan jutaan wanita di luar sana akan cemburu." Miaoling yang mendengar jawaban Roni tertawa. "Ternyata kau orang yang narsis juga, Ron." Roni balas tertawa juga. "Ya, setidaknya aku tidak sepertimu." Miaoling mengerutkan keningnya bingung. "Ada apa denganku?" "Genit. Kamu merasa bahwa kamu lah yang paling cantik, padahal ada yang lebih darimu. Maaf jika ucapanku menyakitkan, aku hanya bicara tentang fakta," jawab Roni sambil menghela napas. Miaoling masih tersenyum, wanita itu segera membalas,"Sekarang aku tahu mengapa Diandra sangat membencimu, Ron. Mulutmu sangat tajam dan tidak berperasaan pada wanita. Apakah kau tidak tahu bahwa kecantikan adalah segalanya dan topik yang sensitif bagi para wanita?" Roni mengangkat bahunya acuh. "Tidak tahu, aku bukan wanita." Miaoling menghela napas, kemudian kembali menatap meja pertandingan. Sembari menonton pertandingan, Miaoling mulai menjelaskan dua istilah yang tadi dia katakan pada Roni. "Istilah pertama adalah Calll. Call adalah bertahan dalam permainan tapi tetap mengikuti taruhan dengan cara memasang jumlah taruhan yang sama ke dalam pot. Lalu kedua ada Fold, menyerah dengan meletakkan kartu tertutup di meja. Dan yang ketiga yang barusan, Raise. Istilah yang aku jelaskan ini adalah istilah yang biasa ada di permainan Poker." "Lalu bagaimana dengan lima permainan kartu lainnya?" tanya Roni, auranya mulai serius bekerja mengumpulkan informasi. Miaoling yang melihat Roni mulai serius juga tidak lagi bercanda. "Yang mana yang ingin kamu ketahui lebih dulu? Apa tidak sebaiknya kamu memahami Poker lebih dalam dulu baru ke yang lain?" Roni mengangguk singkat. "Aku tahu, namun sekarang aku hanya ingin tahu istilah dasar dari semua permainan kartu, menurutku itu yang paling penting untuk naskah. Dan lagi, masih ada berbagai jenis permainan judi selain kartu, dan sekarang yang ingin aku katakan adalah maaf telah merepotkanmu." Miaoling tertegun sejenak karena kalimat terakhir Roni, kemudian wanita itu tersenyum jahil lagi. "Aiya, apa artinya kau telah memiliku sebagai partner dalam mengumpulkan informasi tentang judi untuk naskahmu?" Roni mengangguk. "Tentu, mengapa tidak? Hanya kau yang aku kenal di sini." Miaoling tiba-tiba tertawa saat mendengar jawaban Roni, kemudian wanita itu mendengus semangat. "Kalau begitu aku akan menjadi partner terbaikmu!" Roni tersenyum kaku. "Ya, atur saja sesuai kemauanmu." Roni dan Miaoling kembali menatap ke meja pertandingan, Miaoling yang menikmati pertandingan dan Roni yang tidak terlalu menikmati dan hanya menonton karena dirinya tidak begitu mengerti. Intinya jika salah satu pemain menunjukkan wajah tegang, dia sedang berada di ujung tanduk. "Kau bosan, Ron?" tanya Miaoling tiba-tiba, Roni yang ditanya langsung mengangguk. "Ya." Miaoling berdiri dari kursinya, kemudian menatap Roni dan berkata,"Mau ke ruang judi biasa? Ini adalah ruang pertandingan resmi, jika kau mau mengunjungi ruang pertandingan biasa, kau akan melihat berbagai jenis permainan kartu. Bahkan tidak hanya kartu, di satu ruangan itu terdapat pos mereka masing-masing, ada permainan judi yang lain." Roni yang mendengar ini tentu saja merasa tertarik, pria itu mengangguk dan segera berdiri tanpa ragu. "Tentu." _______ Note: Jika ada kekurangan di cerita ini tentang Poker dan yang lain, tolong segera tinggalkan komentar dan beritahu. Terimakasih, maaf atas segala kekurangannya❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD