Mata Wyla menatap tajam kedua pasang anak manusia di depannya, siapa lagi kalau bukan Reivan dan Fayyana. Kedua manusia yang hampir seumur hidup tumbuh bersamanya itu, kini tengah cengar-cengir hak jelas di depannya. Sedangkan si Ilyasa, kini tengah pergi ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Muka udah dingin gitu, masih aja minum es. Bukan tenggorakan mu yang dingin, tapi esnya yang akan semakin membeku,” ucap Fayyana saat Wyla menyeruput es teh di depannya.
Tak ada ucapan atau apa, hanya tatapan dingin yang Wyla berikan pada Fayyana.
“Nah kan, kagak ngomong. Cuma natap dengan tatapan ala-ala kutub Utara! Dasar manusia es!” cibir Fayyana.
“Ayo pulang,” ucap Wyla seraya berdiri.
Fayyana berdecak melihat dikap sepupunya itu. Ia juga heran, darimana sikapnya itu berasal? Padahal setahunya pamannya orangnya juga bar-bar, apalagi si bibi yaitu Nela, bukan bar-bar lagi, melainkan bersifat gesrek, badas, bar-bar dan sikap pecicilan lainnya. Soal turunan, kedua nenek dan kakek mereka juga sama edannya, adik-adiknya juga gesrek, begitu juga adik Wyla, meskipun laki-laki sama gesreknya dengan keluarganya. Lalu darimana sikap dingin si Wyla ini berasal. Saat ia bertanya pada kedua orang tuanya atau bahkan Nela dan Panji. Ia hanya akan mendapatkan jawaban satu yaitu, “Takdir” sudah seperti jawaban si jomblo aja kan.
“Loh, calon istriku mau ke mana ini?”
Ya sallam!
Satu lagi tambahan manusia gesrek. Yaitu pria bernama Ilyasa yang kini sudah berada di ambang pintu, seolah menghalangi Wyla untuk keluar.
“Gak usah ngaku-ngaku sebagai calon suami anak gadis orang, kamu pikir Wyla ini apaan? Main ngaku-ngaku aja,” ucap Fayyana.
“Eh, bubuk biji kopi, aku gak ngomong sama kamu, aku tuh ngomong sama Ayang,” ucap Ilyasa.
“Minggir!” ucap Wyla dingin.
“Emoh! Kalau aku gak, mau apa kamu?” tanya Ilyasa.
Tanpa pikir panjang dan tanpa ba bi bu, Wyla langsung saja meninju perut Ilyasa. Hal itu membuat sang empunya memekik kesakitan, dan hal itu membuat Wyla langsung keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Fayyana. Keduanya pun berlalu tanpa menghiraukan Ilyasa yang kini tengah memegangi perutnya yang tadi mendapat pukulan dari Wyla. Sungguh bukan pertemuan yang baik.
“Kamu gak apa-apa, Il?” tanya Reivan.
“Gak apa-apa, Mbah buyutmu itu! Gak lihat apa kalau aku kesakitan gini?”
“Loh aku bertanya karena aku hanya melihat tanpa merasakan,” jawab Reivan.
Segala jenis hewan di kebun binatang sudah di absen oleh Ilyasa, mendengar ucapan sahabat yang merangkap sebagai asistennya itu. Bukannya menolong, Reivan seolah menertawakan kesialannya. Jika bukan karena kinerja Reivan yang baik, mungkin saat ini Ilyasa sudah mengirim pria itu ke belahan dunia lain.
“Udah, gak usah misuh-misuh muluk, gak baik. Ntar si Wyla malah menjauh,” ucap Reivan.
Mulut Ilyasa yang tadinya komat-kamit misuh, langsung diam seraya menatap ke arah Reivan, yang kini lebih asyik membereskan barang-barang di ruangan itu.
“Bentar! Kamu kenal sama keluarga Twyla kan?” tanya Ilyasa seraya duduk di samping Reivan.
Reivan menatap Ilyasa lalu berkata, “Iya, kenapa?”
Ilyasa tersenyum smirk mendengar jawaban Reivan. Sedangkan Reivan justru malah bingung dengan tatapan atasan gesreknya itu.
“Kamu harus bantu aku malam ini!” ucap Ilyasa.
“Apa?”
“Nurut aja, yang penting kamu tahu rumah Twyla dan juga nanti kamu akan dapat bonus jika berhasil,” ucap Ilyasa.
“Kalau mau melakukan hal-hal aneh, maaf-maaf ya. Aku gak mau, keluarga Twyla tuh sangat berpengaruh besar di neraka,” ucap Reivan.
“Heh? Gimana?” tanya Ilyasa tak paham.
Bagaimana mau paham, lah wong Reivan mengatakan berpengaruh di neraka. Sedangkan biasanya manusia akan berpengaruh di dunia bisnis atau masyarakat, lah ini di neraka.
“Apa keluarganya dukun?” tanya Ilyasa.
Bukannya menjawab, Reivan justru memukul kepala Ilyasa, menggunakan map yang ada di tangannya.
“Heh, dasar bawahan laknat!” ucap Ilyasa seraya mengusap kepalanya.
“Makanya, jangan ngadi-ngadi itu mulut. Ini udah kelar, mau pulang apa masih mau tinggal di kota ini?” tanya Reivan.
“Eh, Bangke! Ini bahas keluarga Twyla aja belum kelar, udah mau minggat aja kamu!” ucap Ilyasa.
Reivan memutar bola matanya mendengar ucapan Ilyasa. Sebenarnya ia sedikit menyesal karena mengatakan jika ia mengenal Wyla pada Ilyasa, jika ujung-ujungnya begini. Sudah tahu jika manusia gesrek satu ini orangnya kepo akut, apa lagi jika menyangkut seorang wanita, bisa-bisanya ia mengatakan mengebal keluarga besar Panji Supitra. Jika di pikir-pikir, bukankah Ilyasa ini satu spesies dengan keluarga besar Supitra? Sama-sama gesrek dan bar-bar akut. Jangankan keluarga itu. Keluarganya saja gesreknya minta ampun jika sudah berkumpul dengan keluarga Supitra. Sejak ia berusia empat tahun, ia sudah mengenal Nela dan Panji, karena Bundanya, yang lebih tepatnya adalah Tante yang merawatnya sejak kedua orang tuanya bercerai. Jadi maklum saja jika dirinya sudah mengenal keluarga kerajaan gesrek itu.
“Keluarga mereka bukan keluarga dukun seperti yang ada di otak bodohmu itu, Il,” ucap Reivan.
Bodoh?
Wah, Reivan memang bawahan yang laknat sekali. Mungkin hanya dia satu-satunya asisten yang berani mengatai atasannya bodoh.
“Untung aku butuh, kalau gak udah aku tukar dengan sapi buat hari raya kurban kamu,” ucap Ilyasa.
“Keluarga Wyla itu, bisa bikin orang lain masuk neraka jalur undangan,” ucap Reivan.
“Makin gak paham aku,” ucap Ilyasa bingung.
“Kamu rasakan sendiri nanti saat bertemu mereka,” ucap Reivan.
“Maksudnya gimana sih?”
Reivan tidak peduli dengan ucapan Ilyasa, ia lebih memilih berdiri untuk pergi meninggalkan ruangan ini, mungkin ia juga akan pergi meninggalkan Mall. Mumpung ada di sini ia ingin pulang ke rumah bundanya daripada harus menginap di hotel. Lumayan lah mengirit biaya hidup.
“Dasar asisten kurang ajar!” umpat Ilyasa.
“Bukan kurang ajar, tapi kurang gaji,” ucap Reivan.
“Sialan kamu!”
“Berhentilah mengumpat, jika kamu ingin mendapatkan informasi tentang Wyla!” ucap Reivan lalu pergi meninggalkan Ilyasa.
Sedangkan Ilyasa hanya bisa mengumpati Reivan. Benar juga jika ia ingin mendapatkan informasi tentang Twyla, maka ia harus mengikuti ucapan Reivan.
Kini Ilyasa dan Reivan sudah berada di dalam mobil, keduanya hanya diam saja kali ini. Reivan yang entah kesal atau apa pada Ilyasa sehingga ia memilih untuk diam saja. Sedangkan Ilyasa tengah memikirkan sebuah rencana untuk malam ini. Kalian pasti tahu kan apa yang Ilyasa rencanakan. Kalau kalian tidak tahu, ya udah tunggu aja dia ngomong.
“Aku ingin pulang, mumpung ada di sini. Kamu mau ikut apa aku antar ke hotel?” tanya Reivan.
Tidak ada jawaban, hanya ada kesunyian. Reivan menatap ke arah sampingnya, terlihat Ilyasa tengah mengerutkan keningnya, dan beberapa kali terlihat tersenyum smirk. Hal itu membuat Reivan curiga dengan apa yang dipikirkan oleh sahabat gesreknya itu.
“Apa kamu mendengarku, Il?” tanya Reivan.
“Apa? Kamu ngomong apa?”
“Aku ingin pulang, mumpung ada di sini. Kamu mau ikut ke rumah atau mau aku antar ke hotel saja?” tanya Reivan.
“Kalau aku minta antar ke rumah Twyla, kamu mau gak?” tanya Ilyasa.
“Gak usah ngadi-ngadi kamu!” ucap Reivan.
“Gak kok. Aku hanya berniat baik saja,” ucap Ilyasa.
“Berniat baik?” tanya Reivan curiga.
“Aku ingin melamarnya pada kedua orang tuanya!”
“MELAMAR? KAMU GENDENG YA?”