Hancur sudah, dunia percebongan!

1253 Words
Calon istri ndasmu! Begitulah kira-kira batin Wyla, saat pria yang ia tahu bernama Ilyasa itu, mengatakan jika dia adalah calon istrinya, di depan banyak orang, termasuk pria yang mengganggunya itu. Hal itu membuat Wyla kesal, ya meskipun demikian ia juga bersyukur karena setelah Ilyasa mengatakan hal itu, pria yang menggodanya tadi tampak tak bisa berkata apa-apa. “Calon istri? Aku tidak percaya. Mungkin hanya akal-akalan kamu saja, agar aku tidak bisa menyentuhnya kan? Kalau dia calon istrimu, kenapa sejak tadi dia diam sendiri, hana berdua dengan temannya saja.” “Yang nyuruh kamu percaya siapa? Gak ada kan? Kalau percaya sama saya, itu namanya musrik. Percaya itu sama Tuhan. Ayo Sayang kita ke dapur. Maaf ya kalau aku gak tahu kalau kamu ada di restoran aku,” ucap Ilyasa seraya merangkul bahu Wyla. Reivan hanya menghela napasnya melihat kelakuan Ilyasa. Sedangkan Wyla mulai tidak nyaman dengan sikap Ilyasa, tapi ia diam dan mengikuti apa yang pria itu lakukan. Entah mengapa, Wyla lebih mengikuti drama Ilyasa agar pria yang sedari tadi menggodanya itu pergi. “Oh, jadi kamu pemilik restoran kecil ini? Baru punya restoran sekecil ini saja sudah sombong. Lihat saja aku akan meminta papaku untuk menghancurkan restoranmu ini. Dan lihat saja, dalam waktu singkat restoran ini akan jadi milikku, begitu juga dengan dia,” ucap pria itu seraya menunjuk Wyla. Mata Wyla melotot, ia menatap Ilyasa yang terlihat tersenyum smirk menatap pria yang mengancamnya itu. “Sebaiknya, menjauhlah dariku, aku tidak mau jika restoran kamu hancur hanya gara-gara masalah ini. Aku bisa menyelesaikannya sendiri,” ucap Wyla pada Ilyasa. “Bimantara Farelio Agustaf! Putra ke dua dari Malio Agustaf dan Cindy Agustaf. Adik dari Bimonta Firelio Agustaf. Panggilanmu Tara, tapi kamu lebih suka di panggil Farel. Status masih kuliah semester akhir, di salah satu kampus ternama di negara sebrang sana. Entah negara apa aku juga gak tahu dan tepatnya gak mau tahu. Apa semua tebakanku benar, Farelio?” Pria yang bernama Farelio itu diam mematung saat Ilyasa menyebutkan semua tentang dirinya tanpa celah sedikitpun. Ia menatap Ilyasa dengan tatapan penuh pertanyaan. Ilyasa mendekati Farelio dan membisikkan sesuatu di telinganya. “Ayo Sayang kita pergi,” ucap Ilyasa seraya menarik tangan Wyla. Dan anehnya Wyla tidak bisa menolak ajakan Ilyasa. Ia pun berjalan di belakang pria itu dengan otak yang penuh dengan pertanyaan tentang kejadian barusan. “Makan tuh sombong! Berani banget menggoda Wyla,” ucap Fayyana pada Farelio. “Fay?” “Reivan? Ngapain kamu di sini?” tanya Fayyana. “Kerja, lah!” jawab Reivan. “Kerja? Bukannya kamu kerja sama pengusaha muda itu, siapa itu namanya? Terus kenapa kamu ada di kota ini? Apa mau pulang kampung?” “Bawel banget kamu ini. Sudahlah, sana sebaiknya kamu pulang daripada bawel di sini,” ucap Reivan. “Enak aja, aku ke sini sama Wyla, dan aku juga harus pulang sama dia. Kalau gak, Tete Nela bisa ngereog nanti sama aku,” ucap Fayyana. “Dia lagi ada urusan sama atasan aku,” ucap Reivan. “Bodo amat. Mau aku susulin dia, minggir!” ucap Fayyana seraya berjalan melewati Reivan. “Eh, munyuk. Ini restoran orang, jangan main nyelonong aja,” ucap Reivan mencoba mencegah Fayyana. “Kamu tahu kan bagaimana Wyla, dia pendiam dingin kayak kutub Utara gitu. Kalau dia diapain sama atasan kamu gimana? Bisa-bisa kita berdua akan mati bersama!” ucap Fayyana. “Gak akan deh, atasan aku tuh gak gitu,” ucap Reivan. “Eh, gak ada yang jamin keselamatan Wyla. Mau atasan kamu baik kek kayak malaikat Jibril kek, tetep aja nanti bisa khilaf kalau gak aku temanin. Buruan deh lepasin aku,” ucap Fayyana. “Kita tunggu aja di sini, aku akan menelepon dia,” ucap Reivan. Fayyana pun akhirnya menurut, ia memilih duduk di kursi yang ada di sana. “Il, apakah Twyla aman bersamamu? Ini sodaranya ribut khawatir, kayak kuda mau beranak kerbau,” ucap Reivan. Fayyana mengeplak bahu Reivan, saat itu juga. Semakin kesal dia sama anak dari sahabat Nela itu. “Aku gak apa-apa Fay. Sebentar ya, ada urusan,” jawab Wyla. “Woy, ini ponsel siapa. Main nerocos aja kami. Ya udahlah hati-hati. Lagian tumbenan banget mau di ajak mojok sama pria asing,” cerocos Fayyana. “Ganggu orang aja, ngomong seenak dengkulmu!” ucap Reivan. Fayyana hanya mengedikkan bahunya saja seraya menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki. ** Sementara itu, kini Ilyasa sudah membawa Wyla ke dapur, bukan benar-benar dapur, tapi di depan dapur, di sana Ilyasa meminta para pegawainya untuk menyiapkan makanan untuk Wyla. “Sekali lagi maafkan aku atas sikapku tadi, Nona Wyla. Bukannya memanfaatkan keadaan, tapi Memang ada kesempatan,” ucap Ilyasa. Wyla memutar bola matanya mendengar ucapan Ilyasa. Ia memang tidak merasa kaget dan aneh dengan sikap Ilyasa, karena sikap gesrek dan juga aneh, sudah menjadi sarapan dan makanan sehari-hari untuknya. Hampir semua keluarganya memiliki sikap gesrek dan bar-bar, kalau kata orang sih keluarganya itu adalah pemilik kerajaan gesrek terbesar di muka bumi ini. Aneh kan? Tapi itulah kenyataannya. “Oh iya, namaku Ilyasa. Kamu Twyla Lopika kan? Aku tahu kok, jadi kamu gak usah repot-repot memperkenalkan diri lagi,” ucap Ilyasa. Wyla hanya diam saja, pada dasarnya Wyla memang pendiam kok. Sangat pendiam, sampai-sampai kalau mau ngajak dia ngomong kudu buat sesajen khusus dulu. Itu kalau kata Si Nde Nelo nya. “Sebagai permintaan maaf dariku. Aku traktir kamu makan siang. Soal saudarimu itu, aku juga mentraktir dia makan siang, tapi di luar sama asistenku. Siapa tahu aja mereka berjodoh ya. Kalau kita juga berjodoh, aku sih mau juga,” ucap Ilyasa. Selera makan Wyla tiba-tiba saja hilang entah ke mana, sepertinya ia sudah kenyang mendengar ucapan Ilyasa yang unfaedah itu. Itu sih tidak aneh, yang aneh menurut Wyla ialah, kenapa ia mau dan juga betah berada di dekat Ilyasa, yang notabenenya adalah orang asing, alias baru saja ia kenal hari ini, benar juga kata Fayyana tadi, mau-maunya ia mojok sama orang asing, apalagi pria, gesreknya minta ampun pula. “Sebenarnya ini yang gesrek siapa sih? Aku atau otakku? Atau emang yang namanya penyakit gesrek ini virusnya bisa menyebar dengan cepat? Ya sallam, kenapa aku gak bisa jauh dari manusia bersifat gesrek begini,” gumam Wyla. “Kenapa gak makan? Makanannya gak enak kah?” tanya Ilyasa saat melihat Wyla tidak menyentuh makanan yang sudah tersaji. “Belum juga di coba,” gumam Wyla. “Kalau ngomong agak keras dikit ngapa, gak dengar aku ini,” ucap Ilyasa. “Kalau punya kuping itu di pakai dengan benar, bisa infeksi pita suaraku kalau ngomong keras,” ucap Wyla. Rekor pemirsa! Ini adalah rekor dunia percebongan. Pasalnya ini adalah ucapan terpanjang Wyla, di depan orang asing. CATET, YA! DI DEPAN ORANG ASING. “Irit banget Neng. Emang ucapan itu harus beli dulu ya?” tanya Ilyasa. “Iya.” “Apa khusus kamu aja?” “Iya.” “Kita nikah besok yuk!” “Iya.” “Serius?” tanya Ilyasa. Wyla menghentikan suapannya, saat menyadari sesuatu. “Apa kamu bilang?” tanya Wyla. “Gak ada siaran ulang, kalau di ulang nanti gagal. Oke, nanti aku akan minta antar Reivan ke rumahmu untuk melamar dirimu,” ucap Ilyasa. “MELAMARKU? JANGAN MIMPI! DASAR PRIA JELMAAN JAELANGKUNG!” “Ya, itu aku. Gak ada bantahan, Sayang!” “Hancur sudah dunia percebongan! Twyla Lopika mau kawin Rei,” ucap Fayyana yang sudah ada di sana. “FAYYANA, REIVAN! KALIAN ...! Aiihhhs. Bisa gila aku lama-lama!” ucap Wyla frustrasi. “Jangan gila Sayang, cukup tergila-gila padaku saja ya.” “MATAMU, NDASMU, DENGKULMU!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD