Mata Ilyasa mendelik mendengar ucapan Reivan. Ia tak menyangka jika sahabatnya itu mengenal bidadari pujaannya itu.
Ah, boleh kan ya jika Ilyasa mengklaim bahwa Twyla Lopika adalah bidadarinya? Boleh dong, kan gak ada yang melarang.
“Apa?” tanya Reivan.
“Kamu kenal dia jauh sebelum kita kenal? Perasaan kita kenal sejak–“
“Iya lah. Mamaku sama bundanya dia sahabatan kok!”
“Hancik! Serius kamu?”
“Kalau nanya gak usah pakai misuh! Telingaku banyak dosanya nanti. Lagian kamu juga belum tentu bisa mengurangi dosaku! Dosamu saja seberat neraka!”
“Hancik kamu ya! Enak aja. Eh, kalau begitu kamu sudah tahu dia dari dulu dong?” tany Ilyasa.
“Iya lah. Mama kan kerja di toko Bunda Nela.”
“Bunda Nela?” tanya Ilyasa.
“Bunda Nela itu, Mamanya Twyla. Kelakuannya gak jauh beda sama kamu!” ucap Reivan.
Ilyasa menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Reivan. Ia tak paham apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Bagaimana bisa sifatnya mirip dengan Bundanya Twyla? Sifat yang mana dulu ini?
“Gak usah pasang muka amit-amit gitu deh. Gilo aku lihatnya,” ucap Reivan.
“Sifatku mirip sama calon mertua? Sifat yang mana?” tanya Ilyasa.
“Calon mertua, matamu itu! Jangan ngaku-ngaku ya, gak baik!” ucap Reivan.
“Ayolah Rei,” rengek Ilyasa.
“Apa? Gak usah ngadi-ngadi. Pekerjaan kamu hari ini banyak, jangan sampai kamu kehilangan restoran hanya karena Twyla!” ucap Reivan.
Ilyasa mendengus kesal mendengar ucapan sahabatnya itu. Ya ampun. Padahal baru kali ini loh si Ilyasa menyukai wanita dalam pandangan pertama, tapi kenapa jalannya begitu terjal dan juga curam begini? Ingin rasanya Ilyasa melamar Wyla saat ini juga, dan menjadikannya istri.
Jauh bangat ya mainnya otak Ilyasa. Padahal ia belum tahu bagaimana sifat dan sikap Wyla, ia juga belum mengenal lebih jauh bagaimana Wyla, yang ia tahu kan hanya bidadarinya itu cantik. Alasan yang umum sih sebenarnya, tapi kan hal itu bukan sebuah patokan untuk mencintai seseorang dalam sekali pandangan saja. Namun kembali lagi, namanya juga cinta, gak ada yang meminta kapan datang dan kapan pergi, cinta juga tidak salah memilih kepada hati siapa dia berlabuh.
“Kan ada kamu, Rei,” ucapnya enteng.
Mata Reivan mendelik, “Begini nih kalau sempalan pohon kelapa, sukanya menjatuhkan pekerjaan sama temannya, situ sendiri malah enak-enakan mau menjerat wanita, tipe-tipe calon mayat ya begini!”
“Eh, ndasmu sempal! Semua yang hidup juga calon mayat, jadi sesama calon mayat jangan daling menjatuhkan!” ucap Ilyasa.
“Namanya Ilyasa, tapi kenapa kelakuanmu berbeda jauh sama kisah nabi Ilyasa? Makan apa sih Emakmu dulu waktu hamil kamu?”
“Makan nasi lah!” jawab Ilyasa.
“Mana ada, palingan Emakmu itu makan, sendalnya Fir’aun!”
“Gak usah protes lagi, buruan kerjakan apa yang ingin kamu kerjakan, sebelum kamu bangkrut,” ucap Reivan saat Ilyasa ingin mengatakan sesuatu.
Dengan kesal Ilyasa pun mulai melihat beberapa laporan yang ada di meja kerjanya. Ilyasa tampak serius dengan pekerjaanya. Meskipun baru beberapa hari di buka, rupanya restorannya lumayan ramai, hingga angka yang ada di dalam kertas-kertas yang menumpuk itu terlihat naik pesat. Saat ia mulai berkonsentrasi dengan pekerjaannya, tiba-tiba ada seseorang pegawai yang datang ke ruangannya.
“Ada apa?” tanya Reivan.
“Maaf Tuan, di depan ada orang yang membuat onar.”
“Apa? Onar? Siapa?” tanya Ilyasa.
“Ada seorang pria yang mengganggu pembeli wanita, dan hal itu membuat keributan di depan,” terangnya.
Reivan dan Ilyasa kesal mendengar hal itu, keduanya pun langsung saja pergi melihat apa yang terjadi di depan.
“Wyla?”
**
Wyla dan Fayyana mendapatkan tempat duduk tepat di tengah-tengah. Fayyana memesan kentang goreng, sedangkan Wyla memilih memesan roti bakar. Sebenarnya mereka memang sudah kenyang, hanya saja, Fayyana mengajak Wyla ke restoran ini. Meskipun hanya roti bakar, setidaknya mereka memesan sesuatu kan.
“Enak!” ucap Wyla seraya mengunyah rotinya.
“Iya kah? Mau dong!” ucap Fayyana.
“Gimana?” tanya Wyla saat Fayyana mulai mengunyah roti pemberiannya.
“Ternyata enak. Aku mau pesan ini juga lah,” ucap Fayyana.
“Lagian kamu ini, kenapa hanya pesan kentang goreng? Radanya juga pasti sama saja, rasa kentang,” ucap Wyla.
“Kamu pikir, kalau kentang goreng bisa rasa yang pernah ada?” ucap Fayyana seraya berdiri ingin memesan roti bakar.
Wyla hanya tersenyum tipis, sepupunya itu memang suka mencoba makanan baru di restoran baru, padahal baginya rasanya juga sama saja. Saat Fayyana pergi memesan makanan, Wyla kembali menikmati makanannya dengan khusyuk.
“Hai cantik! Sendirian saja nih, boleh duduk sini gak?”
Mata Wyla menelisik pria yang baru saja menyapanya, selanjutnya ia kembali melanjutkan makannya, tanpa mempedulikan pria itu.
“Sombong banget sih, cantik? Tapi gak apa-apa, maklum pertama memang begitu, lama-lama juga biasa kok,” ucap pria itu.
Wyla tidak mempedulikan pria itu, sebenarnya ia terganggu, tapi mau bagaimana lagi, Wyla memilih untuk diam seperti biasanya daripada membuat keributan, toh nanti pria itu pasti akan pergi kalau ria diam tak menanggapi n. Namun ternyata Wyla salah, pria itu mendekati Wyla, dengan duduk di sebelahnya. Dan dengan kurang ajarnya, pria itu memegang dagunya.
“Jaga tanganmu! Jangan kurang ajar, jika kamu tidak ingin saya hajar di sini!” ucap Wyla seraya menampel tangan pria itu
Bukannya takut atau kapok, pria itu justru tertawa terbahak-bahak laku mencoba memegang tangan Wyla, tapi lagi-lagi Wyla memukul tangan pria itu, kali ini Wyla memukulnya dengan sendok yang ada di sebelahnya.
“BERANINYA KAMU MENOLAKKU DENGAN MEMUKULKU, GADIS SOMBONG!” teriak pria itu.
Hal itu membuat perhatian para pembeli yang ada di sana. Wyla hanya tersenyum smirk saja saat pria itu berteriak padanya, hal itu justru membuat pria itu merasa terhina.
“Jangan coba-coba menyentuhku dengan tangan kotormu itu! Kamu pikir kamu pria hebat yang bisa mendapatkan semua wanita yang kamu goda? TIDAK!” ucap Wyla seraya memegang tangan pria yang hendak memukulnya itu.
“Kau–“
“Di sini ada banyak CCTV bukan? Jadi apa pun yang kamu lakukan padaku, akan membuatmu malu bahkan bisa menghancurkan harga dirimu sebagai pria! Jangan macam-macam dan semena-mena pada wanita, karena tidak semua wanita selemah yang kamu kira!” ucap Wyla seraya menunjuk wajah pria itu.
“Kamu adalah wanita pertama yang membuatku malu, aku akan meng–“
“Wyla?”
Wyla dan pria itu sontak menoleh ke arah suara yang menyerukan nama Wyla. Orang itu adalah Ilyasa.
“Apa yang kalian berdua lakukan di restoranku?” tanya Ilyasa.
“Oh jadi Anda pemilik restoran ini? Lihatlah, wanita ini dengan kurang ajarnya memukul tangan saya, dan membuat kekacauan di restoran Anda,” ucap pria itu.
“Oh ya? Setahu daya, Anda lah, yang mengganggu dia. Jadi silakan Anda meminta maaf dan meninggalkan tempat ini, sebelum saya melaporkan Anda pada pihak keamanan, karena mengganggu kenyamanan pembeli saya,” ucap Ilyasa.
“Oh jari Anda membela dia? Kenapa? Karena dia cantik begitu?” tanya pria itu.
“Karena dia adalah calon istri saya!”