Dengan kesal dan jengkel Wyla berjalan meninggalkan Ilyasa dan entah siapa wanita seksi tadi itu yang tiba-tiba muncul dan memeluk Ilyasa. Dan yang membuatnya kesal, Ilyasa tampak seperti biasa saja di peluk oleh wanita seksi itu
“Semua pria itu sama saja. Mana ada pria yang benar-benar baik. Ayah aja dulu gitu sama Ayah,” dumelnya.
“Twyla?”
Mendengar suara Ilyasa memanggilnya, tak membuat Wyla menoleh ia terus saja melangkahkan kakinya menuju luar hotel. Bodo amat dengan Nadia, yang terpenting saat ini ia harus bisa pergi menjauhi pria bar-bar itu.
“Lepas ih! Kamu apa-apaan sih?” Wyla mencoba berontak saat tangannya di pegang oleh Ilyasa.
“Kenapa main pergi aja sih? Kan belum makan?”
“Aku gak lapar, udah lepasin! Urusin tuh wanita berbaju kurang bahanmu itu!” dengan sekali sentak Wyla terlepas dari tangan Ilyasa.
“Kamu cemburu ya?”
Hal itu sontak membuat Wyla menoleh ke arah Ilyasa. Ia tersenyum miring, “Cemburu? Gak ada gunanya cemburu, lagian kamu siapaku hah? Aku pergi bukan karena cemburu, Cuma gak nyaman aja berada di antara kalian berdua!” ucap Wyla lalu berjalan meninggalkan Ilyasa.
Namun, bukan Ilyasa namanya kalau menyerah dan membiarkan sang pujaan cintanya pergi begitu saja.
“Apa lagi sih?” ucap Wyla jengah.
“Dia itu sepupuku, kita udah lama gak ketemu. Jadi jangan marah ya,” ucap Ilyasa menjelaskan.
“Apa urusannya sama aku coba? Mau dia sepupumu adikmu atau ibumu sekalian, bukan urusanku. Udah deh, gak usah bersikap seperti ini. Lagian kita itu hanya orang asing,” ucap Wyla.
“Ya, gak bisa gitu dong, aku kan sudah melamarmu ke Ayah Kang Cil sama Bunda Nela.”
Ingin rasanya Wyla menggetok kepalanya si Ilyasa ini. “Apa kedua orang tuaku menerima lamaranmu? Apa aku juga menerimanya? Gak deh kayaknya. Jadi jangan mengada-ada, lagi pula apa kamu bilang tadi? Ayah Kang Cil? Seenak jidat saja manggil Ayahku!”
“Ya elah ngambek. Nanti aku nikahin kamu loh kalau kamu ngambekan kayak gini,” ucap Ilyasa.
Wyla menghela napasnya, ini juga kenapa tidak ada taksi yang lewat. Menunggu taksi dengan siluman bar-bar di sampingnya, membuat moodnya anjlok.
“La, aku cariin dari tadi juga. Ternyata di sini. Ayo naik!”
Pucuk dicinta Nadia pun tiba. Seolah menyelamatkan diri dari Ilyasa. Tanpa lama Wyla langsung saja naik mobil yang dikendarai oleh Nadia. Meninggalkan Ilyasa yang tengah mereog meneriakkan namanya.
“Ini semua gara-gara si Zamila gila itu. Awas saja kamu ya bocah tengil, aku akan memberimu perhitungan!”
Kesal dengan tingkah sepupunya yang entah kapan datangnya, tiba-tiba memeluk dirinya seperti pasangan kekasih saja, hingga membuat Wyla cemburu.
Wait!
Cemburu? Itu hanya pikiran si Ilyasa saja ya. Pada kenyataannya, si Wyla emang ogah banget berlama-lama dengan dirinya.
“Kamu tadi di bawa ke mana sama si beruang kutub itu?” tanya Nadia. Pasalnya atasannya itu hilang di bawa oleh teman SMA nya dulu yang tak lain adalah Ilyasa.
Wyla menoleh ke arah Nadia yang fokus menyetir mobilnya, “Beruang kutub? Siapa maksudmu?”
“Siapa lagi kalau bukan si Ily! Si beruang kutub, si pria ganas dan dingin itu,” ucap Nadia.
Mendengar julukan yang Nadia berikan pada Ilyasa, membuat tawa Wyla meledak seketika. Hal itu membuat Nadia menepikan mobilnya dan menatap heran pada sahabatnya yang tengah tertawa itu. “Sumpah demi sebuah demikian. Kamu tuh asli, gak cocok ngakak brutal kayak gitu, La. Bisa-bisa banjir bandang nanti,” ucap Nadia.
“Ya siapa suruh, ya ampun,” Wyla memegangi perutnya saat tawa itu kembali meledak.
Sedangkan Nadia menatap aneh pada sahabatnya yang seperti kulkas sepuluh pintu itu tertawa terbahak-bahak seperti itu.
“Kamu bilang dia dingin dan ganas? Si Ilyasa itu?” tanya Wyla seraya mengusap ujung matanya karena mengeluarkan air.
“Dia emang gitu kok,” ucap Nadia.
“Dingin apaan, Nad? Dia itu bar-bar, mirip De Yuli dan Nde Nelo. Di mana letak dinginnya?”
Nadia menautkan kedua alisnya. “Kamu gak lihat dia tadi kayak apa ke satpam dan juga si Lala apa Lela tadi? Dia emang gitu dari dulu!”
Wyla mengatur napasnya, ia mencoba untuk menenangkan diri, dari rasa tertawanya itu. “Ya terserah kamu saja. Udah ah, ayo jalan. Antar aku ke apartemen saja. Urusan butik gak ada yang darurat kan. Aku mau istirahat dulu. Capek banget,” ucap Wyla.
Nadia kembali menjalankan mobilnya, “Tadi dia bilang kamu calon istrinya? Gak salah?” tanya Nadia.
“Jelas salah Nad. Dia mengada-ada itu. Sudahkah ayo jalan.”
Tanpa membantah, Nadia melakukan mobilnya, pasalnya si Wyla dalam mode dingin dan jutek. Jadi Nadia cari aman saja. Lagi pula jika di pikir-pikir, mana mungkin kan, Wyla mau sama Ilyasa yang diam anteng menurutnya itu.
Lain tempat lain pula ceritanya. Di sinilah sekarang si Ilyasa duduk, di depan sepupu laknatnya itu. Bukannya merasa bersalah, wanita bernama Miranda Zamila Maulida itu justru memesan makanan banyak. “Gak punya malu banget sih jadi perempuan,” tegur Ilyasa.
“My Ily my lovely. Buat apa sih malu, kalau kamu mau traktir aku kayak gini.”
Ilyasa berdecak. Sepupu satu-satunya ini memang luar biasa sekali. Sebenarnya, bukan hanya Mila, sapaan gadis itu. Yang menjadi sepupu Ilyasa. Ada banyak sepupunya dari pihak Ayah maupun dari pihak sang Ibu, tapi baginya, hanya Mila saja yang mau dekat dengannya saat dia terpuruk dulu. Bahkan sepupu pecicilan dan laknatnya itu pula, yang mau mengeluarkan biaya untuk dirinya membangun usaha dari nol. Jadi bagaimana pun sikap sepupunya itu, Ilyasa memaklumi saja.
“Suamimu ke mana? Kenapa kamu bisa lepas landas ke sini? Apa di Australia sana kamu hanya berteman dengan kanguru hah?” tanya Ilyasa.
“Suami matamu suek! Kapan aku menikah cok?” tanya Mila kesal.
“Ya itu si Didim!”
Mila menghentikan suapannya, ia mengusap bibirnya dengan tisu. “Kamu pikir aku ini manusia gak normal apa, mau menikah dengan kucing. Ya si Didim ada di sana lah sama anak-anak,” ucapnya kesal.
“Kan kamu emang gak normal!” cibir Ilyasa.
“Kamu ini. Coba deh sikap kamu ini di patenkan ke para wanita, aku jamin deh saat ini kamu pasti sudah punya anak. Namun, sayangnya, kamu justru lebih suka menikah dengan dokumen dan kencan pun harus selaku sama Reivan,” ucap Mila.
“Untung ya kamu itu my hero. Kalau bukan udah aku pakai buat weden sawah kamu! Gadis tadi itu calon istriku! Dan gara-gara sikap laknatmu main peluk di jadi salah paham kan ke aku.”
“Wait, sek, tunggu sebentar.” Mila berganti posisi duduk di dekat Ilyasa. “Kamu bilang gadis tadi calon istrimu? Kapan kamu tunangannya?”
“Tadi malam aku melamarnya sama kedua orang tuanya– woi sakit cok!” pekik Ilyasa saat kepalanya di pukul sendok oleh Mila.
“Kamu bilang ngelamar anak orang semalam? Dan siapa yang melamar untukmu? Kenapa gak bilang sama aku hah? Kamu melamar anak orang pakai apa? Jangan bilang kamu melamar dia pakai kain kafan ya!” cerocos Mila.
“Astagfirullah Zam! Enak aja kain kafan. Aku pakai cincin lah, sama barang-barang lainnya,” ucap Ilyasa.
“Baguslah kalau begitu. Terus kamu di terima?”
“Ten–“
“Dia di tolak mentah-mentah sama keluarganya, Mil. Sikap pecicilannya sangat memalukan!”
Mila menoleh ke arah Reivan yang baru saja datang. Sedangkan Ilyasa menatap horor pada sahabat sekaligus asistennya itu.
“Kamu di tolak?”
Seketika itupun tawa Zamila menggelegar di sana.