Eh, blendrang tewel.

1133 Words
Jika saja mengantar nyawa teman tidak berdosa. Mungkin saat ini Ilyasa sudah mengantar si Reivan ke depan malaikat Izrail, pasalnya sahabat serta asistennya itu sudah menjatuhkan wibawanya di depan sepupu laknatnya yaitu si Zamila. Lihatlah, bahkan wajah putih sang sepupu sudah memerah akibat tertawa terbahak-bahak. Asem memang! “Gini amat ya, punya asisten laknat dan juga sepupu astagfirullah! Hm ...! Rasanya mantap coy!” Zamila semakin terbahak mendengar gerutuan si Ilyasa, sedangkan si Reivan, pria itu hanya memasang wajah datarnya saja. Sudah menjadi makanan sehari-hari baginya melihat keunikan dan kegendengan si Ilyasa. Masih dengan tawanya, Zamila semakin bahagia saat melihat Ilyasa menderita seperti ini “Ya ampun, perutku sampai sakit,” ucapnya seraya memegangi perutnya. “Bodo amat, Zam. Ayo Rei, kita kembali ke restoran saja. Lama-lama di sini bisa gila aku!” “Eh tunggu dulu,” ucap Zamila seraya memegang tangan Ilyasa. “Aku ikut kamu, sekalian deh aku nebeng. Mau ke butik buat ngambil baju.” Ilyasa menepis tangan Zamila. “Sebegitu miskinnya ya, kamu? Sampai mau nebeng segala! Ke mana mobilmu? Seenggaknya sewa kek, di sini banyak banget tuh yang nyewain mobil.” “Sebegitu pelitnya ya, kamu? Sampai gak mau nebengin aku? Seenggaknya, amal lah sedikit denganku,” ucap Zamila seraya menirukan nada bicara Ilyasa. Ilyasa memutar bola matanya saat mendengar ucapan sepupu laknatnya itu. Mau tak mau akhirnya ia pun membiarkan Zamila nebeng di mobilnya. Daripada ribut, mending cari aman saja. Kini, ketiganya sudah berada di dalam mobil milik Ilyasa. Zamila terlihat serius dalam memandangi laptop yang ada di pangkuannya, sedang Ilyasa sibuk memandangi ponselnya. Kalau Reivan, jangan di tanya. Dia tengah fokus mengemudikan mobil. “Eh, kayaknya aku turun di depan sana aja deh, mau ketemu teman soalnya,” ucap Zamila. “Alhamdulillah, setidaknya akan aman ini mobil dan dompet,” ucap Ilyasa. “Dasar manusia pelit. Awas aja kalau ketemu sama gadis tadi, aku akan mengatakan jika aku hamil anakmu, biar tau rasa kamu!” ancam Zamila. “Heh, blendrang tewel! Berani ngomong kayak gitu siap-siap saja kamu aku jadikan tumbal pesugihan di gunung Semeru ya!” “Eh mangkok pecah! Sesama memedi di larang saling menumbalkan, bisa-bisa yang kaya nanti saytonnya bukan kita. Makanya jangan pelit-pelit. Kenalin aku sama dia biar enak kan kalau mau melamar ulang, aku bisa ikut kamu.” “Sana turun!” ucap Ilyasa seraya mendorong tubuh Zamila kearah pintu mobil. “Gak butuh bantuanmu juga. Nanti bukannya di terima malah di tolak sama Ayah Kang Cil!” “Siapa? Ayah Kang Cil?” “Zamila Zahanam! Buruan turun!” Zamila berdecak, seraya membuka pintu mobil. “Iya, iya. Ini turun. Nanti malam aku ke apartemen kamu. Mau numpang makan!” ucapnya sebelum membanting pintu mobil. “Astagfirullah! Ada gitu, manusia jenis kayak gitu? Hidup pula dia.” “Jangan menggerutu, ini kita mau ke mana? Balik restoran apa mau ke restoran cabang?” tanya Reivan. “Kita gak ada pertemuan penting kan?” “Gak ada.” Ilyasa menyandarkan kepalanya di jok mobil, “Kita ke restoran saja, kumpulkan beberapa staf, kita mau membahas soal proyek swalayanku.” Reivan hanya mengangguk saja sebelum menjalankan mobilnya. Selain memiliki beberapa restoran berbintang dan hotel, kini Ilyasa menjajal keberuntungan di swalayan yang tengah ia bangun. Terlahir dari keluarga sederhana, dan yatim-piatu, tak membuat mimpi Ilyasa pudar. Sejak kecil ia sudah menggeluti dunia kuliner bersama mendiang neneknya, meskipun hanya memiliki rumah makan kecil, tapi hal itu bisa menghidupinya dan mendiang neneknya. Karena tekad dan kerja kerasnya, kini Ilyasa sudah memiliki semuanya. Hanya saja, akhlaknya yang minim, itulah kata Reivan saat di tanya kekurangan Ilyasa. Berbeda dengan Ilyasa yang memilih untuk memajukan bisnisnya, kini Wyla tengah duduk di sebuah kursi yang ada di kafe area apartemen miliknya, setelah Nadia mengantarnya, perutnya terasa lapar dan ia memilih makan di kafe yang tak jauh dari apartemen miliknya. Ia mengingat kejadian tadi saat di hotel, kliennya yang dengan kurang ajar menuduhnya yang bukan-bukan, lalu pertemuannya dengan Ilyasa si manusia astagfirullah sekali. Belum lagi saat ada seorang wanita yang tiba-tiba memeluk dan mencium pipi pria itu. Membuat mood-nya hancur seketika. “Kenapa juga harus memikirkan dia? Menyebalkan sekali.” Dengan malas, Wyla kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Rasa nasi goreng yang biasanya enak, kini terasa seperti hambar, tanpa garam dan tanpa bumbu. Lidahnya mulai keluh mungkin. “Hm, boleh nih ya. Numpang duduk di mari? Boleh lah, gak ada orang juga ya. Aku duduk nih ya.” Wyla menatap wanita yang meminta untuk duduk di depannya. Ia menghela napasnya saat mengingat siapa wanita itu. Seketika itu selera makannya hilang. “Heh, beruang kutub. Mau ke mana kamu?” Mata Wyla memicing saat wanita itu memanggilnya beruang kutub. Jika bukan tempat umum, mungkin sat ini Wyla sudah mencabik wajah wanita itu, yang dengan kurang ajarnya memanggilnya beruang kutub. Wyla tak mengidahkan ucapan wanita itu, ia memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu. Untungnya ia tadi sudah membayar makanannya. “Ini bocah sama keras kepalanya dengan si Ily.” “Woi, markonah! Tungguin!” “Astagfitullah. Mau Anda apa sih?” tanya Wyla. Wanita dengan baju kurang bahan itu berkacak pinggang menelisik penampilan Wyla. “Menarik. Bisa ngobrol sebentar?” “Maaf, saya tidak ada waktu. Permisi!” “Busyet dah. Ini benar-benar jelmaan Ilyasa versi cewek.” “Namaku Zamila.” Wyla tidak menggubris, ia terus saja berjalan menuju apartemennya. Dan sialnya, wanita itu justru mengikutinya hingga dirinya sampai di depan unit apartemen miliknya. “Mau Anda apa sih? Ada mengikuti saya?” tanya Wyla kesal. Zamila mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Wyla. “Ini unitmu?” Wyla tidak menjawab ia justru membuka pintu apartemennya. “Hai! Apa yang kamu lakukan?” tanya Wyla kesal saat Zamila menerobos memasuki apartemen miliknya. “Mau numpang makan, kalau ini kebetulan aku bawa mie instan. Sebenarnya unitku ada di sebelah, tapi aku gak punya teman. Jadi izinkan aku numpang makan di sini.” Wyla harus banyak-banyak beristighfar dalam menghadapi manusia sejenis Zamila. Ya, meskipun di rumahnya semua manusianya sejenis mereka, tapi mereka kan keluarga, sedangkan ini? Si Zamila? Orang asing woi. Kemungkinan wanita ini juga kekasih atau wanita ke sekian si Ilyasa. “Pinjam dapurnya ya aku benar-benar lapar,” ucap Zamila. Belum juga mendapatkan izin dari Wyla, wanita itu sudah meluncur bebas ke dapur Wyla. Sangat kesal, tapi sayangnya tak bisa berbuat apa-apa, karena kali ini malas berdebat, dan memilih membiarkan si Zamila menguasai dapurnya. Wyla memilih untuk duduk di sofa ruang tamu. Sesekali ia mengecek beberapa email yang masuk ke akunnya, hingga tanpa terasa kantuk mendatanginya untuk menjemput ke alam mimpi. “Aku buatkan makanan untuk–mu.” Ucapan Zamila menggantung saat melihat Wyla yang tertidur di sofa dengan posisi duduk. “Kamu ini mirip sama si Ily. Sama-sama batu, dan sama-sama dingin di depan orang asing. Semoga saja kalian berjodoh,” ucap Zamila seraya membenarkan posisi tidur Wyla.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD