Eh, tengkorak cacing!

1448 Words
Seperti apa sih, devinisi sifat cuek dan dingin itu? Jika sifat dingin yang dimaksud dalam artian dingin pada orang asing dan hangat pada orang terdekat, Si Ily juga begitu, bukan? Mungkin orang asing pertama yang ia hangatkan adalah si Cebong alias dedek gemes Twyla. Dih, ‘ia hangatkan?’ ambigu banget ya kata-katanya. Selain itu, emangnya si Wyla sayur lodeh apa ya, yang butuh di panasi saat kedinginan? Sudahlah, jangan dengarkan pikiran si Ily yang astagfirullah ini. Di saat si Cebong tengah berselancar di alam mimpi dengan ditemani oleh si Zamila. Kini Ilyasa tengah uring-uringan pada Reivan. Alasannya apa? Ya tentu saja kesal pada si Zamila dan ia lampiaskan pada Reivan. “Eh Cok. Ini anak ke mana sih? Setelah melakukan kelaknatan padaku dan my Twyla, dia tiba-tiba saja menghilang.” Reivan memutar bola matanya mendengar ucapan si Ilyasa. “Kalau di ajak ngomong itu nyahut kek, jawab kek. Malah njegidek aja kamu nih!” Reivan menghela napasnya, ia menatap sang bos sekaligus sahabatnya itu. “Aku kudu piye, Il? Apa aku kudu jadi tikus pelacak untuk mencari keberadaan si Zamila itu?” “Ya kamu telepon kek ke mana dia! Tanya gitu ke mana dia!” ucap Ilyasa. “Dia? Dia siapa? Zamila atau Twyla?” “Twyla lah! Ngapain aku harus nyari si kukusan cabe Zamila!” “Dih! Bukannya tadi kamu marah-marah sama si Zamila, kenapa sekarang jadi nanyain si Twyla?” Ilyasa berdiri dan melempar bantal yang ada di dekatnya, dan untungnya si Reivan menghindar. “Katanya kamu tunangannya, kenapa harus aku yang nanyain Wyla? Ya kamu sendiri sana. Emang kamu gak cemburu apa kalau aku chat dia?” Mata Ilyasa melotot mendengar ucapan sahabatnya itu. “Eh, tengkorak cacing! Jangan pancing-pancing amarahku ya!” “Eh, jubah kuntilanak. Daripada kamu marah-marah gak jelas. Sana kamu telepon atau kamu samperin dia di butiknya sana!” Ilyasa menepuk jidatnya. “Kamu benar juga, sini kasih alamat butiknya padaku!” “Ya elah, tunangan macam apa kamu ini? Butik kekasih halunya saja gak tahu! Itu udah aku kirim!” Dengan semangat Ily membuka ponselnya dan membaca alamat yang diberikan oleh Reivan. Matanya memicing saat mengetahui alamat butik sang pujaan hati. “Twyce?” Gumamnya, bibirnya tersenyum. “Nama butiknya unik.” “Iya lah, itu singkatan dari, ‘Twyla si Cebong’,” terang Reivan. Mata Ily membelalak, ia menatap sang sahabat. “Ah ini nih. Kenapa sih dia di panggil Cebong? Padahal dia itu kan cantik Sholehah dan juga dingin. Gak ada mirip-miripnya sama kecebong kodok?” “Ya mana ku tahu. Yang kutahu dia di panggil seperti itu sejak dalam perutnya Bunda Nela.” “Wih, tahu banyak kamu ini soal my Twyla!” “Sana pergi, kamu. Aku mau pulang istirahat. Capek banget aku,” ucap Reivan. Tanpa menyahut ucapan sang sahabat, Ily pun pergi meninggalkan kantornya, dan menuju ke alamat butik sang tunangan yang masih belum jelas, dirinya diterima apa belum oleh si Twyla. Sementara itu, di apartemen Wyla, Zamila tampak serius menarikan jemari lentiknya di atas keyboard laptopnya. Dengan di temani segelas jus kemasan, Zamila tidak mempedulikan sekitarnya. Bahkan saat Wyla bangun pun ia tak menyadarinya. Wyla yang baru saja membuka matanya, dan kaget saat mendapati sosok perempuan yang duduk membelakanginya dengan berkutat dengan laptop. Setelah mengingat siapa wanita itu, Wyla pun duduk dan kembali memperhatikan wanita yang mengaku sebagai sepupunya Ilyasa dan bernama Zamila tersebut. Tak mau mengganggu, Wyla memilih bangkit untuk mengambil minuman di dapur, saat tiba di dapur, mata Wyla memicing. Pasalnya di atas meja makan terlihat tudung saji di saat, dan saat membukanya, Wyla kembali terkejut, di sana ada semangkuk sup ayam dan beberapa sayur serta sambal. Ia yakin jika makanan itu adalah masakan Zamila, karena seingatnya Zamila ingin memasak tadi. “Makan aja kalau mau. Aku sengaja menyisikan untukmu. Kamu pasti lapar kan?” Wyla terlonjak kaget saat Zamila tiba-tiba saja berada di belakangnya. Wyla menoleh dan mendapati wanita itu bersedekap tangan dan bersandar di dinding. “Tenang saja, itu tidak beracun dan juga tidak ada jampi-jampinya. Aku memasaknya karena aku lapar. Kamu makan dulu saja.” Tepat setelah mengatakan itu, Zamila pergi meninggalkan Wyla. Wyla menghela napasnya, ia memang lapar saat ini, dan ia pun memilih memakan makanan yang ada di meja. Rasa pertama yang ia rasakan, adalah enak. Ya, masakan Zamila sangat enak menurut lidahnya, ia gak menyangka dibalik penampilan seksi dan bar-bar wanita itu bisa memasak masakan seenak ini. Setelah kenyang dan membereskan peralatan makannya, Wyla kembali ke ruang tamu. Di sana masih terlihat Zamila yang sibuk dengan layar laptopnya. “Sudah kenyang? Bagaimana masakanku? Apa cocok di lidahmu?” tanyanya tanpa menoleh. Wyla duduk di samping Zamila, matanya melihat layar laptop yang memperlihatkan sebuah design bangunan. “Ya, masakanmu sangat enak, terima kasih,” ucap Wyla. Zamila hanya mengangguk tanpa menoleh. “Kamu designer rumah? Ah, maksudku arsitek?” tanya Wyla. Zamila mengangguk, lalu menatap Wyla. “Iyq, aku arsitek, tapi tidak seberapa terkenal sih. Jam terbangku masih belum banyak.” “Tujuanmu ke sini untuk bekerja?” “Tentu saja, tapi bukan personal. Aku memiliki team, dan aku hanya bawahan saja,” jawab Zamila. Wyla hanya mengangguk saja. “Sudah gak cemburu nih, sama aku?” Pertanyaan Zamila sukses membuat Wyla melotot. “Cemburu apaan?” Zamila terkekeh saat Wyla kembali ke mode dinginnya. “Gak usah ngegas Sayang.” Zamila mendekatkan diri pada Wyla. “Aku benar-benar sepupunya Ilyasa, loh. Jadi jangan cemburu ya. Dan maaf jika tadi aku lancang mencium pipinya di depanmu. Dan itu bukan salahku, siap suruh dia melamarmu gak pakai bilang-bilang. Kan aku jadinya tetap menganggapnya jomblo karatan,” tutur Zamila. “Apaan sih?” Zamila kembali terkekeh. “Aku dengar kamu menolak lamarannya ya? Kenapa?” Wyla menatap Zamila, ia bingung kenapa harus menerima wanita asing ini di apartemennya? Ya meskipun tadi ya si Zamila memang menerobos sih, tapi apa iya, dirinya menceritakan soal si Ily pada Zamila? Sementara wanita itu adalah sepupunya si pria bar-bar itu? “Kamu curiga jika aku disuruh oleh si Ily ya?” Wyla menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Zamila. “Iya, aku bukan cenayang kok, tapi di jidatmu sudah tertulis kata itu. Tenang saja, Ily tidak menintaku mengejarmu tadi. Kita bertemu karena murni ketidaksengajaan. Dan unit apartemenku memang berada dia unit dari sini,” terang Zamila. Wyla tidak merespon, ia hanya diam saja. Sebenarnya dirinya lelah. Lelah karena perjalanan dari kampung ke kota dan juga ia harus menghadapi masalah tadi, jadi hal itu membuatnya lelah sekali, ditambah ucapan dan pertanyaan Zamila, membuatnya sedikit pusing. “Kamu tahu, La?” Zamila mencoba bercerita. “Ily itu sejak kecil sudah tinggal bersama Nenek, ibunya dan Ayahku kakak adik tapi berbeda ibu, Nenek Ilyasa adalah ibu tiri ayahku. setelah kedua orang tuanya meninggal, ia ikut dengan Nenek. Ia hidup serba kekurangan saat itu. Hanya ayahku saja yang peduli dengan mereka berdua. Karena kata Ayah, meskipun ibu tiri, tapi nenek sangat menyayangi Ayah. Namun, setelah ia duduk di bangku sekolah menengah atas, Nenek meninggal, jadi si Ily tinggal sebatang kara di sini. Ia menolak saat Ayah mengajaknya pindah ke Australia, dengan alasan ia ingin mengenang Nenek di sini, dan ingin mengembangkan rumah makan Nenek. Karena saat itu ia masih sangat muda, jadi Ayah membantunya. Namun, sekarang ia sudah sukses, dan Ayah sangat bangga akan hal itu, meskipun Ayah sudah tiada. Aku yakin Ayah pasti akan lebih bangga pada manusia gesrek itu daripada kepadaku yang anaknya sendiri.” Wyla baru tahu bagaimana kehidupan si pria asing bernama Ilyasa yang tiba-tiba melamarnya itu. Ya, meskipun sedikit sih. “Kok kamu diam saja sih?” Zamila menatap Wyla yang terlihat biasa saja saat ia menceritakan sedikit tentang sepupunya itu. Wyla mengedikkan bahunya lalu berkata, “Ya, mau bagaimana? Aku harus apa? Apa aku harus terenyuh, terharu dan tergoda gitu?” Zamila menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan Wyla. Untung saja itu rahang buatan Tuhan, kalau buatan pabrik, mungkin Zamila harus siap-siap membeli rahang baru. “Hanya itu saja? Tidak bisa kah kamu menerima dia? Dia anak yatim piatu loh. Gak kasihan gitu?” “Meskipun yatim piatu, dia sudah uzur. Gak perlu dikasihani. Lagian kenal juga gak, langsung main lamar aja. Kalian pikir aku ini wanita apaan?” Zamila membelalakkan matanya menatap lekat wajah Wyla. “Jadi kalian belum saling kenal sebelumnya?” tanyanya meyakinkan. Wyla menggelengkan kepalanya. “Jangkrik, pancene si Ilyasa iku! Aku kira kalian sudah kenal! Baguslah kalau kamu tolak dia. Aku gak jadi kasihan sama dia. Buat dia jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dulu padamu. Baru kamu terima.” “Kenapa kamu ngatur-ngatur? Kamu siapa?” tanya Wyla. “Zamila!” Zamila mengulurkan tangannya pada Wyla. “Namaku Zamila lengkapnya, lupa si author. Ntar diingat-ingat lagi ya.” Wyla menepuk jidatnya melihat kelakuan sepupu si Ilyasa itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD