Kulkas ketemu beruang kutub

1412 Words
“Ada apa Nad?” Dengan tergesa-gesa, Nadia mendatangi Wyla. “Kamu tahu, ada seseorang yang merusak acara pernikahan salah satu klien kita di hotel, meskipun acaranya masih nanti malam, tapi ini sangat merugikan, dan mereka meminta kita menyiapkan gaun dalam sehari, jam empat harus jadi, gimana ini?” Wyla paham dengan apa yang diucapkan oleh Nadia sang asisten. “Seperti yang aku bilang di telepon tadi, sekarang persiapannya gimana?” “Alhamdulillah sudah tujuh puluh persen, tapi ini sudah jam dua,” ucap Nadia khawatir. Wyla menghela napasnya, ia turun tangan dalam hal ini, tanpa pikir panjang ia segera mengerjakan gaun itu. “Lagian ada-ada saja sih orang-orang ini. Mau nikah aja ribetnya Masyaallah sekali,” ucap Wyla seraya mengotak-atik gaun itu. “Dia istri pertama pengantin prianya,” jawab Nadia. Hah? Gimana? Mendengar jawaban Nadia, membuat Wyla menghentikan kegiatannya dan menatap asistennya tersebut. “Jadi ini poligami gitu ceritanya?” tanyanya memastikan. Nadia mengangguk saja. “Astagfirullah. Ada-ada saja.” “Lagian bukan urusan kita kok, biarin aja, toh tugas kita Cuma bikin baju aja,” ucap Nadia. Wyla mengangguk setuju, “Terus gimana acaranya? Maksudku tempatnya?” “Ya, mereka meminta pemilik hotel itu untuk bertanggung jawab, karena mereka merasa keamanan di hotel itu kurang. Dan parahnya, pemilik hotel itu sedang tidak ada di sini, tapi katanya sih udah kembali saat mendengar berita ini,” terang Nadia. “Kenapa jadi nyalahin pemilik hotelnya?” “Ya, mana kutahu La. Udah ah, kerjain ini dulu. Biar cepat kelar, pening aku sama tuh pengantin wanitanya,” ucap Nadia. Benar saja, Wyla harus mengerjakan tugasnya ini dengan baik. Tak perlu menunggu lama, gaun pengantin berwarna biru muda itu pun sudah selesai, kini Wyla dan Nadia harus mengantar gaun itu ke hotel di mana pernikahan kliennya di adakan. “Kadang-kadang kita ini di perlakukan seperti babu, tau gak sih?” guman Nadia. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil menuju ke hotel kliennya berada. Wyla terkekeh mendengar ucapan Nadia, ia menoleh ke arah asistennya yang tengah mengemudikan mobilnya itu, “Ya, gimana ya Nad. Pembeli adalah raja kan? Kita harus bisa dong melayani mereka agar puas.” “Bahasamu itu loh. Ambigu banget. Lagian mana ada raja yang sewenang-wenang kayak gini? Herman dah!” Lagi-lagi Wyla terkekeh mendengar gerutuan asistennya itu, mungkin Nadia adalah orang luar yang bisa membuatnya terkekeh selain keluarganya. Senyum Wyla tiba-tiba menghilang saat sekilas seperti melihat orang yang tak ingin ia lihat. “Ada apa?” tanya Nadia saat melihat raut wajah Wyla yang tiba-tiba berubah. “Aku seperti melihat dia,” gumamnya. “Dia? Dia siapa? Di sini adanya Dia, NADIA!” ucap Nadia. “Ish, apaan sih,” ucap Wyla. Nadia menoleh ke arah Wyla, saat ini mereka berhenti di lampu merah. “Kamu kenapa? Udah punya pacar kah?” tanya Nadia penasaran. “Tidak.” Melihat Wyla yang terlihat dingin, Nadia memutuskan untuk tidak bertanya-tanya lagi. Sedangkan Wyla menghela napasnya dengan berat, bisa-bisanya ia melihat Ilyasa, pria yang dengan beraninya melamar dirinya padahal baru saja kenal kemarin. “Gila aja, kenapa juga aku seperti melihat dia, lagian ngapain dia di sini,” batin Wyla. Tak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Nadia pun sampai di sebuah hotel. Tanpa lama, mereka menuju ballroom hotel di mana acara pernikahan kliennya di adakan. Nadia menunjukkan sebuah kartu pada petugas yang ada di sana, setelah mendapatkan izin keduanya pun memasuki sebuah ruangan, di sana ada seorang wanita yang tengah berdiri menatap Wyla dan Nadia. “Kenapa kalian terlambat?” Wyla menatap wanita itu dengan dingin, ia berjalan mendekati wanita itu dan memberikan paper bag yang ia bawa. “Terlambat? Apa matamu buta? Jam di sana masih ham tiga, sedangkan kamu meminta kami datang jam empat! Jadi jangan protes!” ucap Wyla. Wanita itu tersenyum mengejek pada Wyla, “Kamu hanya pemilik butik murahan saja sudah berlagak sok terkenal, kalau bukan karena terpaksa aku juga gak akan mau menggunakan gaun murahan rancanganmu ini.” Dengan, sekali sentak Wyla menyahut kembali paper bag yang ada di tangan wanita tersebut. “Baiklah, silakan cari butik yang mahal dan mewah.” Wyla berjalan menuju kamar hotel itu, tapi ia kembali berbalik menatap wanita itu. “Dan ingat, Nona. Jangan sombong, karena Anda hanya sedang berada di atas gunung, bisa saja gunung itu meletus dan membakar Anda!” Widih, anaknya Bunda Nela memang the best pemirsa! Bahkan Nadia ingin bertepuk kaki saat melihat Wyla seperti itu. “Dasar wanita arogan, kembalikan gaunku!” teriak wanita itu. “Apa katamu?” kali ini Nadia yang menghadapi wanita itu. “Gaunmu? Heh butiran ketombe, bahkan kamu belum membayar lunas gaun ini. Hidup masih nyicil aja udah sombong. Rasain tuh kerusakan pernikahmu!” Tepat setelah mengatakan hal itu, Nadia pergi menyusul Wyla yang sudah terlebih dulu meninggalkan kamar tersebut. “Heh, tunggu kalian berdua!” Nadia dan Wulan sontak menghentikan langkah mereka dan menoleh pada seorang pria. “Ada apa?” tanya Wyla dengan nada dingin. “Kalian sudah mempermalukan Nona kami dengan menghina Beliau, jadi saya harap kalian meminta maaf padanya sekarang, dan kalian juga harus mengganti rugi gaun yang kalian ambil tadi,” ucap pria itu. “Wah! Gini nih kalau pengikut Fir’aun masih hidup. Yang salah itu Nona kamu, jadi jangan salahkan kami dong!” ucap Nadia. “Kalian yang salah. Karena kalian tidak kompeten dalam waktu. Karena sikap kalian ini Nona kami harus menunggu lama. Padahal acara pernikahan harus dilangsungkan satu jam lagi!” “Gak bisa! Lagian itu salah kalian. Lagi pula, kenapa menyalahkan kami? Itu kan salah wanita itu, karena sudah merebut suami orang, jadi bukan salah kami kan kalau semua yang sudah ada rusak?” tentu saja Nadia tidak terima jika harus disalahkan dalam hal ini. Sedangkan Wyla hanya diam memperhatikan perdebatan Nadia dan pria yang tidak ia kenal itu. “Jaga bicara Anda, Nona sebelum saya–“ “Jaga tangan Anda Tuan, jangan menyentuh sahabat saya!” Wyla memegang tangan pria itu yang hendak mendorong Nadia. “Wyla–“ Nadia memekik saat pria itu justru mendorong tubuh Wyla. “Siapa kamu? Berani sekali kamu menyentuh calon istriku!” Semua yang ada di sana sontak menoleh ke arah pria yang menahan tubuh Wyla agar tidak terbentur tembok. “Tu-tuan–“ “Kamu tidak apa-apa?” Wyla yang syok dengan kejadian ini hanya bisa mengangguk, bahkan ia tak menyadari jika dirinya ada dalam pelukan seorang pria. Aroma parfum yang menguar di indra penciuman Wyla, membuatnya melupakan apa yang ada di sekitarnya. “Kamu hanya satpam biasa. Kamu bekerja untuk hotel ini, bukan untuk tamu hotel. Jadi jaga batasanmu dan jangan berani-beraninya main kasar dengan perempuan!” Pria yang tadi mendorong Wyla, terlihat ketakutan mendengar suara pemilik hotel yang terdengar dingin dan menusuk itu, belum lagi tatapan pria itu membuatnya semakin mati kutu. “Ma-maafkan–“ “Reivan!” “Iya Tuan.” “Urus pria ini. Dan bubarkan pernikahan yang akan diselenggarakan di hotelku. Aku tidak mau hotelku tercemar oleh orang-orang hina seperti mereka, selain itu blacklist mereka dari hotelku yang lainnya. Dan tutup berita yang akan merugikan hotelku! Apa kamu paham?” “Baik Tuan.” Reivan pun membawa satpam yang tadi mendorong Wyla, sedangkan orang-orangnya, mulai mengevakuasi acara pernikahan yang akan di adakan di sini. “Bagaimana keadaanmu, Twyla?” tanya Ilyasa. Ya, pria itu adalah Ilyasa. Niatnya kemari ingin menyelesaikan sesuatu, tapi ternyata hal itu berurusan dengan masalah besar, yaitu pernikahan yang akan diadakan di hotelnya, adalah pernikahan kedua dari salah satu suami pemegang saham di hotelnya, jadi Ilyasa harus mengusir mereka atas permintaan wanita itu. Namun, tidak hanya itu yang membuat Ilyasa kesal, saat ingin pergi dari hotel, ia melihat ada sang pujaan hatinya sedang di dorong oleh satpam yang bekerja di hotel miliknya, sungguh cari mati memang satpam itu. “A-aku tidak apa-apa,” jawab Wyla terbata. “Gak usah gugup gitu, aku masih tampan kok, dan aku sadar akan hal itu,” bisik Ilyasa tepat di telinga Wyla. Mendengar hal itu, Wyla langsung tersadar, jika ia sudah berada di pelukan Ilyasa sejak tadi. “Kamu? Kenapa kamu meluk aku?” “Karena aku calon suamimu! Lagi pula kalau gak ada aku kamu pasti udah berciuman sama tembok tadi,” ucap Ilyasa. “Dasar gendeng!” “Eh, eh! Tunggu dulu!” “Bodo, aku mau pergi!” Ilyasa terus mengejar Wyla, sedangkan Nadia masih setia melongo karena syok dengan kejadian yang barusan terjadi. "Calon suami Wyla? Dia? Dia Ilyasa kan? Masa iya, kulkas ketemu beruang kutub," gumam Nadia. "Ya ampun, Wyla tunggu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD