“Pripun, bagaimana, piye? Apakah saya di terima?” sekali lagi Ilyasa bertanya.
“Ini kuping kan? Bukan cantolan akhlak kan?”
“Aduh! Ayah mertua. Ini tuh kuping, jangan di jewer, sakit Ayah,” ucap Ilyasa seraya memegang telinganya yang di jewer oleh Kang Cil.
“Ayah mertua. Ndase kuro! Kalau ini kuping, seharusnya kamu dengar, anakku tidak mau menikah dulu,” ucap Kang Cil.
“Tapi kan–“
“Pulang sana! Be, bawa manusia sengklek ini pergi,” ucap Kang Cil.
“Ngusir nih Kang?” tanya Abbey.
“Masih tanya lagi! Buruan!”
Widih.
Kang Cil kalau tengah marah, ternyata lebih seram daripada si sayton nirojim pemirsa! Abbey dan sang suami sampai bergidik ngeri. Sedangkan Reivan, pria itu terlihat lebih tenang, ia suka drama kenyataan seperti ini. Tepatnya ia suka jika Ilyasa ternistakan seperti itu.
Dengan berat hati dan berat jantung, Ilyasa pun pergi dari rumah Kang Cil bersama keluarga Reivan. Hatinya mulai sakit karena di tolak, tapi ia tak menyerah, ia bertekad akan mendekati Wyla dengan caranya sendiri nantinya.
“Astagfirullah!” ucap Kang Cil, setelah rombongan manusia tanpa undangan itu pergi dari rumahnya.
“Sabar Cil. Maklumi aja, kayak baru pertama ini aja di kejar-kejar orang,” ucap Nela.
Kang Cil menatap sang pujaan pankreasnya dengan memicingkan matanya.
“Itu mata kalau di congkel jadiin cilok enak kali,” ucap Nela.
Mendapatkan ucapan seperti itu dari mulut seksi sang istri, Kang Cil langsung gelagapan.
“Kok kamu gitu sih Sayang. Aku tuh khawatir loh. Aku takut kena karma aja,” ucap Kang Cil.
“Wyla pasti akan baik-baik saja, Cil. Kita doakan saja dia. Lagi pula, karma kan sekarang naiknya jet, dan udah sampai ke kamu sejak dulu. Jadi Wyla gak akan kenapa-kenapa. Jika sampai dia berani menyentuh anak kit, jangan harap besoknya bisa melihat sinar matahari lagi,” ucap Nela.
Kang Cil hanya mengangguk saja.
Sedangkan di dalam kamar, Wyla tegah merasa dongkol. Pasalnya pria yang baru ia temui tadi siang, sudah berani melamarnya, bahkan membawa semua persiapan lamaran, yaitu cincin dan beberapa barang lainnya. Yang lebih pro lagi, itu manusia justru membawa keluarga Abbey, dan parahnya, kenapa keluarga Abbey justru mau-maunya di ajak melamarnya oleh manusia bernama Ilyasa itu?
“Ini pasti mimpi kan? Ya ampun, aku masih ingin kerja dan melambungkan nama butikku, tapi kenapa ada aja makhluk bernama pria yang mendekatiku, dan kali ini parah banget sampai berani melamar ke Ayah dan Bunda. Untung Ayah dan Bunda tidak langsung menerimanya, kalau iya, bisa kelar karir aku,” ucap Wyla.
“Bong?”
“Astagfirullah! Bunda ih. Ngagetin aja sih!” ucap Wyla.
“Ya maaf, kan Bunda sengaja,” ucap Nela.
Ada gitu, kesengajaan yang memang di sengaja? Alah mboh, puyeng mikirin jalan pikiran Ratu gesrek satu itu.
“Ada apa Bun?” tanya Wyla.
Nela melihat anaknya dengan tatapan penuh kasih sayang. Oh tidak, tatapan seperempat kasih sayang saja. Karena seperempatnya untuk Ghifari, yang separuh lagi untuk pujaan pankreasnya. Suka-suka Nela aja lah ya.
“Anak Bunda, udah gede aja! Cantik lagi. Gimana gak cantik lah wong gak punya anak perempuan lagi bundamu ini,” ucap Nela.
Wyla memutar bola matanya mendengar ucapan sang Bunda. Serandom dan seemboh inilah sang Bunda.
“Kamu beneran gak suka Bong, sama si Ily-ily itu?” tanya Nela.
“Emang Bunda suka sama dia?” bukannya menjawab Wyla justru balik bertanya.
“Enak aja. Cinta bunda Cuma untuk Kang Cil seorang. Apalagi sama berondong itu, iw! Ogah,” ucap Nela.
“Lagian aku baru kenal sama dia kok Bun. Mana mau aku di ajak nikah. Dia kira apaan?” ucap Wyla.
“Kalau dia mendekatimu dengan benar, apa kamu mau menerima dia?” tanya Nela.
Wyla menatap sang Bunda. Sepertinya ada kode-kode memintanya menerima si manusia tadi pagi itu deh. Melihat gelagatnya pasti sang Bunda memang berpikir seperti itu.
“Apa? Kamu mikir kalau Bunda maksa kamu buat nikah sama dia gitu?” tanya Nela.
Wyla terlonjak, ia tak menyangka jika Bundanya itu tahu apa yang ia pikirkan.
“Iya sih,” jawab Wyla.
“Bunda Cuma nanya aja. Bunda gak maksa, mau kamu nikah ama dia kek, ama siapa kek. Bodo amat Bong. Itu pilihanmu, yang Bunda mau, kamu bahagia. Apa pun pilihanmu Ayah dan Bunda selalu mendukung, asalkan itu dalam konteks kebaikan. Selain itu, kamu jangan sampai tidak menikah, karena Bunda mau kamu punya keluarga nyata, bukannya menikahi sketsa di kertas kamu itu,” ucap Nela.
“Aku pasti akan menikah Bun, tapi tidak dalam waktu dekat ini ya. Aku masih ingin memajukan karir dulu. Bunda tahu kan, jika itu impianku, tapi aku juga tidak akan menolak jika jodohku datang cepat,” ucap Wyla.
“Terserah kamu saja,” ucap Nela.
“Bun, sepertinya aku harus kembali ke butik besok siang. Tadi Nadia meneleponku, kalau ada salah satu klien kami ada yang membutuhkan jasa kami mendadak,” ucap Wyla.
“Terserah kamu saja. Sekarang istirahatlah,” ucap Nela.
Wyla hanya tersenyum saja. Inilah yang ia sukai dari kedua orang tuanya, tidak pwrnah menolak kemauannya, sekalipun menolak, pasti diberi alasan yang kuat, hingga ia bisa mengerti dan paham alasan kedua orang tuanya menolak keinginannya. Ayah dan Bundanya tidak pernah marah, tanpa alasan. Ia dan adiknya selalu di beri pengertian oleh kedua orang tuanya.
Kini Wyla memilih untuk beristirahat seperti apa yang dikatakan oleh sang Bunda. Kejadian hari ini membuatnya capek, capek sekali, rasanya lebih capek daripada harus berurusan dengan kliennya. Saat ingin memejamkan matanya, notifikasi ponselnya berbunyi.
“Bong, ini manusia gesrek mau minta nomor ponselmu.”
Wyla menghela napasnya saat membaca pesan dari Reivan.
“Hapus saja nomorku dari ponselmu, katakan jika kamu tidak memiliki nomorku. Awas saja jika kamu memberikan padanya. Aku patahkan jari-jemarimu.”
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Wyla langsung meletakkan ponselnya di atas nakas. Ternyata semua pria itu sama, yaitu ambisius, dalam semua hal. Dan kebanyakan jika sudah mendapatkan apa di dapat pasti akan meninggalkan semuanya. Menag tidak semua begitu, tapi selama Wyla tahu, pria yang ia temui kebanyakan begitu. Apa lagi kliennya yang mau menikah, pasti bercerita, bagaimana sebelum akhirnya menikah dengan pilihannya sekarang.
Karena sudah sangat mengantuk, akhirnya Wyla pun mulai memejamkan matanya, dan berselancar di alam mimpi.
Sedangkan Ilyasa, kini tengah uring-uringan, pasalnya, Reivan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Wyla tadi. Ia tidak menghapus nomor Wyla, tapi mengganti nama Wyla dengan nama lain.
“Bun, Bunda tidak tahu kah, nomor si Twyla?” tanya Ilyasa pada Abbey.
“Meskipun tahu, Bunda tidak ingin memberitahu. Bisa jadi cilok goreng nanti Bunda,” ucap Abbey.
“Padahal aku–“
“Il, sepertinya kita harus berangkat ke kota sekarang. Ada masalah di hotel utama,” ucap Reivan menyela ucapan Ilyasa.
“Ada apa?”
“Ada orang yang merusak acara pernikahan di hotel kit, dan pihak penyewa menuntut pertanggungjawaban dari pihak kita,” ucap Reivan.
“Siapkan mobil, kita berangkat sekarang.”