Siapa yang tidak kaget alias syok, saat dilamar oleh pria yang baru saja dikenal. Bukan kenal, tapi pria itu yang sok kenal padanya. Itulah yang Wyla rasakan saat ini. Matanya mendelik saat sang Bunda memanggilnya dan mengatakan jika Bunda Abbey datang melamarnya. Awalnya ia mengira jika Reivan yang akan melamarnya, sedikit syok juga, tapi saat Bundanya bilang jika lamaran ini bukan untuk Reivan, Wyla sedikit tenang. Namun, ketenangan itu berakhir saat ia melihat sosok pria pecicilan dan bar-bar yang ia temui di Mall tadi, tengah nyengir layaknya kuda milik Rapunzel. Duduk di antara Reivan dan Bunda Abbey. Bukan hanya kaget dan syok, mungkin Wyla merasakan hal yang lebih parah daripada itu saat Nela mengatakan jika Abbey melamarnya untuk Ilyasa, pria yang baru tadi siang ia temui.
“Heh? Melamarku? Kamu?” tanya Wyla.
“Iya, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama,” ucap Ilyasa.
“Ini orang agak lain emang!” ucap Nela.
Ilyasa hanya cemberut saja. Hal itu membuat Wyla merasa jika pria bernama Ilyasa ini memang sedikit oleng otaknya.
“Pasti ini ulahmu ya Rei? Pasti kamu cerita soal anakku pada ini bocah tengil?” tuduh Nela.
“Is, Bunda Nela mah gitu. Aku tuh gak pernah cerita apa-apa soal Cebong pada dia. Mereka bertemu di Mall tadi siang,” terang Reivan.
“Bang Bong, matamu! Enak aja manggil bidadari secantik dia Cebong. Geli banget,” ucap Ilyasa.
Bukannya senang, si Wyla dan Nela justru menatap Ilyasa dengan tatapan ingin memakan pria itu.
“Eh, kutu semut! Itu panggilan kesayangan anakku. Berani-beraninya kamu malah bilang geli! Kamu gak tahu apa jika panggilan itu memiliki sejarah yang panjang dan mem–“
“Bunda Sayang, jangan dilanjutkan. Lagi pula gak penting juga dia tahu soal itu,” ucap Wyla.
“Jadi gimana? Lamaran aku di terima kah?” tanya Ilyasa.
“Gak, aku masih belum ingin menikah. Nanti saja menikahnya, kalau aku bertemu dengan seorang pria waras dan anteng. Capek banget kalau nambah satu personil gesrek di kelurahan ini,” ucap Wyla.
Wah!
Ilyasa terpesona oleh ucapan Wyla. Pasalnya , ini adalah ucapan terpanjang Wyla. Sejak tadi Ilyasa melihat jika Wyla adalah gadis dingin dan penuh misteri, tapi lihatlah kali ini! Begitu bersemangat dan menggebu saat mengatakan hal itu.
“Kita tunangan dulu deh. Aku akan merubah sikapku nanti. Mau ya, Sayang? Mau ya terima cintaku,” ucap Ilyasa.
Hadeh!
Semua orang yang ada di ruangan itu kompak menghela napasnya, pasalnya mereka sudah biasa melihat tingkah orang macam Ilyasa ini, mungkin ada yang lebih parah kali ya. Jadi melihat tingkah Ilyasa ini, bagi mereka seperti kangkung yang nyelip di gigi geraham.
“Gak ada. Aku masih mau memperbanyak duit!” ucap Wyla, lalu berdiri dan pergi ke kamarnya.
“Bunda, bantuin orang tampan ini! Emangnya Bunda gak pingin apa punya mantu kayak aku ini? Aku tampan, aku kaya selain itu aku juga–“
“Dekil, laknat, sinting, dan satu lagi, oleng itu otak!” ucap Nela memotong ucapan Ilyasa.
Bukannya tersinggung, Ilyasa justru mendekat ke arah Nela lalu memeluk wanita paruh baya tersebut.
“Ayolah calon Bunda mertua. Bantulah aku untuk mendapatkan anakmu, restui aku jadi mantumu ya, Bunda,” rengek Ilyasa seraya menampilkan wajah sok imutnya.
Nela mencoba melepaskan pelukannya dari pria muda bin aneh dan ajaib ini, dari tubuhnya. Namun, hal itu nihil karena Ilyasa seolah ada lemnya dan gak bisa lepas dari tubuh Nela. Hingga akhirnya–.
Klotak!
“Adauw. Sakit cok!” ucap Ilyasa seraya mengusap kepala.
“Kurang ajar banget ya kamu! Berani-beraninya meluk-meluk istri orang! Minta di giling jadi cilok ini manusia!”
Semua mata tertuju pada suara menggelegar tersebut. Ternyata itu suara Kang Cil alias Bapaknya si Cebong Wyla dan Ghifari dan juga suami tercinta si Ratu gesrek Arnela Mujiati! Pria itu kini tengah memegang panci dan juga sebelah tangannya menunjuk ke arah Ilyasa.
“Dih, Panji pakai J gak pakai C, lagi cosplay jadi tukang cilok ya?” ucap Abbey.
“Cosplay matamu! Dia kan emang tukang cilok, Juliadin!” ucap Nela.
“Jangan buat saya jadi cilok dong, Om. Masa manusia seganteng ini mau di bikin cilok, nanti populasi manusia tampan di dunia ini bisa-bisa punah loh,” ucap Ilyasa.
Kang Cil melongo mendengar ucapan pemuda yang tadi ia geplak menggunakan panci ciloknya. Ternyata pria ini cukup berani juga.
“Minggir! Kamu juga ngapain mau-maunya di peluk sama berondong jagung gosong ini!” ucap Kang Cil pada Nela.
“Asal kamu tahu saja ya, Cil. Nih bocah yang tiba-tiba saja memelukku. Lagian kapan lagi sih di peluk berondong,” ucap Nela.
“Wah-wah! Ini Papanya Wyla? Kenalin Pa, nama saya Ilyasa, calon mantunya Papa,” ucap Ilyasa seraya menyalami tangan Kang Cil.
Kang Cil mengerjapkan matanya melihat pria di depannya ini, tadi berani-beraninya memeluk Nela, sekarang malah mengaku sebagai calon menantunya?
“Situ waras?” tanya Kang Cil.
“Sepertinya gak. Dia mirip tuh sama orang di masa lalu yang sayangnya hingga saat ini masih hidup,” ucap Abbey seraya melirik Nela.
Panji menatap sang istri, jika di lihat-lihat, kelakuan pria di depannya ini, memang mirip dengan Nela dulu. Blak-blakan dan sedikit tidak tahu malu. Untung pria, jika wanita mungkin dia akan mengambil kaca agar Nela bisa melihat jiplakannya waktu mengejarnya Kang Cil dulu.
“Anaknya siapa ini kamu bawa ke sini, Be? Main ngaku-ngaku sebagai calon mantuku! Emang sejak kapan anakku memiliki pacar modelan kayak cacing kermi kepanasan gini? Modelnya kayak–“
“Kayak apa? Gak usah melirikku. Tak untal baru tahu rasa kamu!” ucap Nela ketus.
Hais!
Kang Cil langsung kincep lah. Memang benar kan, jika pria ini mirip dengan Nela. Pecicilan dan petakilan, selain itu pria ini terlihat mengejar anaknya.
“Lagian si Cebong juga gak mau sama dia, kenal aja baru tadi siang di Mall. Masa sekarang udah mau melamar aja. Dia pikir ngegedein anak itu segampang ngegedein belek apa,” ucap Nela.
“Jadi Cebong udah tahu kalau dilamar sama ikat buntal ini?” tanya Kang Cil.
“Ya kalau dia nolak, berarti dia udah tahu, Cil. Kamu ini gimana sih? Otak masih nyangkut di kepala apa gak sih? Heran deh!” ucap Nela.
“Ya maafkan aku Sayang,” ucap Kang Cil seraya mengusap pipi Nela.
Semua yang ada di ruangan itu berekspresi ingin muntah melihat kelakuan kedua manusia itu, kecuali Ilyasa, ia tak peduli dengan apa yang dilakukan Nela dan Kang Cil. Yang ia pedulikan bagaimana bisa menikah dengan Wyla.
“Mau ya, nerima aku?” Ilyasa kembali memelas.
“Kalau anak saya gak mau, ya jangan maksa dong!” ucap Kang Cil.
“Gak maksa, Pa–“
“Sejak kapan saya nikah sama Mamamu? Main panggil Papa?” ucap Kang Cil.
“Oke calon Ayah mertua. Saya Ilyasa, datang ke sini berniat melamar anak Ayah untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anakku nanti. Mohon di terima. Ini cincinnya ini saldo rekening saya, dan hati saya juga saya berikan sepenuhnya pada putri Ayah mertua,” ucap Ilyasa.
Panji dan Nela saling pandang lalu menatap Ilyasa. Bisa-bisanya ada orang yang dengan berani melamar anaknya langsung ke hadapan mereka. Bukannya gak suka, tapi ini kan mendadak, apalagi anak mereka tidak terlihat tengah dekat dengan pria, dan juga keduanya baru kenal tadi siang.
“Kamu pikir saya miskin apa? Kalau kamu serius, coba dekati dia dengan benar. Jangan maksa kayak gini. Di terima kagak, gumoh nanti yang ada,” ucap Kang Cil.
“Jadi saya di terima ini?”
“Iy–“
“Gak ada di terima. Gak ada PDKT!”
“Tapi–“
“Bodo amat. Dasar pria ngadi-ngadi!”