Piye toh?

1264 Words
Reivan hanya bisa menghela napasnya saja melihat ke-astagfirullah keluarganya. Di dalam keluarga ini kayaknya hanya dirinya dan sang Ayah saja yang waras. Bahkan adiknya pun sama saja bar-bar dan bikin rusuh. Apalagi adiknya yang perempuan, hadeh, bikin kepala Reivan mau pecah. Usia kedua adik kembarnya masih enam belas tahun. Masih duduk di bangku sekolah menengah atas, untungnya saja keduanya meminta sekolah di pondok pesantren, jadi mereka akan pulang ke rumah jika sedang liburan saja. Itulah alasan kenapa Reivan jarang pulang? Karena kedua adiknya selalu saja meminta hal aneh-aneh. Hidup dengan Ilyasa setiap hari saja sudah membuat dirinya setres, apalagi jika harus tiap bulan pulang dan bertemu dengan kedua adiknya. Bisa-bisa dirinya akan langsung menjadi penghuni baru RSJ. Kan sayang, orang setampan ini harus masuk rumah sakit jiwa. “Heh, Rei! Kenapa kamu gak cerita sama Bunda, kalau si Ilyasa naksir sama Cebong?” tanya Abbey. Abbey? Si Abbey? The geng’s of para betina gesrek? Tentu saja si Abbey yang itu. Siapa lagi memang personil betina gesrek yang bernama Abbey? Reivan ini adalah keponakannya yang dulu di tinggal minggat oleh Emak dan Bapaknya tanpa belas kasur, eh belas kasihan maksudnya. Untung ya, ada si Nela dan Kang Cil yang baiknya bak malaikat Izrail, karena mau menolongnya, memberikan tempat tinggal dan pekerjaan untuknya, hingga ia bisa merawat Reivan hingga menjadi seperti saat ini. Selain itu ia juga bersyukur karena suaminya juga mau menyayangi Reivan seperti anaknya sendiri. “Mana bisa aku cerita, Bunda! Itu manusia baru ketemu Cebong tadi siang di Mall, dan langsung aja tuh niat ngelamar. Menurut Bunda apa itu gak berlebihan? Secara ya, dia kan kadal buntung yang suka berkelana dengan perasaan wanita! Jadi nanti si Cebong kalau nikah sama dia?” ucap Reivan. “Lah, ya tetap jadi orang lah! Memangnya si Cebong bakal jadi kodok kalau nikah sama Ily?” tanya Abbey. Kudu sabar kudu punya iman yang tebal dan kuat saat berada di depan salah satu anggota betina gesrek ini. Ini baru anak buahnya, belum suhunya loh ini. “Bunda ini gimana sih? Tahu sendiri kan kalau Ily itu playboy. Aku malah gak rela kalau Cebong jatuh ke pelukannya!” ucap Reivan. Abbey menatap anak sulungnya yang hanya setatus saja yang sulung. Tatapan Abbey seolah menyiratkan sebuah pertanyaan. “Apa? Bunda berpikir kalau aku naksir dan cinta sama cebong gitu? Gak ya Bunda! Enak aja, gak ada aku cinta sama si Cebong,” ucap Reivan. “Ish, kamu nih kayak cenayang saja, kenapa harus tahu isi pikiran Bunda?” Reivan memutar bola matanya mendengar ucapan sang Bunda. “Kelihatan kali Bun. Udah deh pokoknya Bunda gak boleh ngelamar Cebong untuk si curut itu,” ucap Reivan. “Ya udah kalau gak boleh ngelamar untuk Ily, Bunda ngelamar Cebong untuk kamu aja,” ucap Abbey. “BUNDA ...!” “Iya-iya. Yang nunggu Fayyana gede. Segitu cintanya ya sama Fayyana sampai gak mau di bercandaiin gitu,” celetuk Abbey. Ucapan Abbey sontak saja membuat Reivan melotot. Lagian dari mana Bundanya tahu jika dirinya menyukai Fayyana? Padahal dia tidak pernah bercerita pada siapa pun, kecuali pada sajadahnya. Kalau di pikir-pikir memang aneh ya, dirinya kan suka setres tuh, kalau berhadapan dengan para betina gesrek, tapi bisa-bisanya ia malah menyukai Fayyana yang notabennya keturunan dari kerajaan gesrek. Kedua neneknya gesrek, Tetenya gesrek kakeknya juga gesrek, bahkan Fayyana sendiri juga gak kalah gesreknya loh. Namun, kembali lagi, hanya Tuhan yang bisa membolak-balik hati umatnya. “Apa? Mau mengelak?” tanya Abbey. “Bodo amat lah, Bun. Aku mau masuk aja udah mau magrib ini,” ucap Reivan. Reivan pun masuk ke dalam rumahnya, pasalnya ia tadi mengajak sang bunda untuk membicarakan soal rencana gila Ilyasa yang ingin melamar si Cebong. Ya kali, ia akan menyetujui ide unfaedah itu. Kasihan kan si Cebong nantinya. “Gimana? Jadi kita kerumah Wyla jam berapa?” tanya Ilyasa, saat Reivan dan Abbey memasuki rumah. “Gak ada acara lamaran! Aku gak rela kalau Wyla jatuh ke pelukanmu! Kamu tuh playboy, sedangkan Wyla itu masih unyu-unyu,” ucap Reivan. “Ya elah, Rei. Aku kan hanya sekedar kencan biasa aja sama para manusia berjenis kelamin perempuan, soal ini pusaka, Alhamdulillah masih murni, suci dan masih tersegel alias masih perjaka belum tersentuh oleh wanita lain selain Emakku, itu pun Emakku mengangnya pas aku masih bayi,” ucap Ilyasa. “Bodo amat! Amat aja udah pintar, tapi kamu malah gak pintar-pintar. Pokoknya gak da acara lamar–“ “Tapi Ayah susah terlanjur bilang sama Kang Cil dan Nela.” Mata Reivan mendelik ke arah sang Ayah, bisa-bisanya sang Ayah melakukan hal itu? Bagaimana keadaan di rumah Nela saat ini, kenapa sang Ayah harus menelepon keluarga gesrek. “Ayah, apa-apaan sih?” tany Reivan. “Kamu gak punya hak, Rei. Sudah ayo kita ke sana setelah magrib. Kamu udah beli cincin dan apalah itu keperluan lamaran?” “Sudah dong Yah. Matur thank kasih Ayah!” ucap Ilyasa seraya memeluk Ayahnya Reivan. Reivan hanya bisa pasrah saja melihat kelakuan kedua pria di depannya itu. Ia hanya bisa menghela napas saja saat ini. “Sudahlah, lagi pula ini hanya lamaran biasa kan. Belum tentu juga si Wyla mau sama si Ily, si Nela sama Kang Cil juga belum tentu mau nerima Ily kan? Jadi kamu jangan khawatir ya. Ikuti saja kemauan dia. Kalau gak nanti dia bisa membakar lemak!” ucap Abbey. Reivan hanya bisa kembali pasrah, benar juga apa yang dikatakan oleh sang Bunda, belum tentu kan si Ilyasa di terima nanti. Ia sih hanya berharap agar Ilyasa di tolak. Biarlah jika doanya ini kejam, hanya saja ini terlalu buru-buru bagi Reivan. Mungkin, jika Ilyasa mendekati Wyla dengan benar tidak terburu-buru, mak Reivan bisa mempertimbangkan ide gila sahabat sekaligus bos senganu-nganunya itu. Sepertinya yang di rencanakan, kini keluarga Abbey sudah tiba di rumah Kang Cil. Ternyata ayahnya Reivan hanya mengabari Nela jika ia ingin berkunjung, bukan untuk melamar Wyla. Jadi tentu saja tidak ada yang tahu jika tujuannya ke sini untuk mengantarkan si Ilyasa. “Mbak Nela! I miss you!” teriak Abbey. “Waalaikumsalam! Maaf kamu di tolak masuk karena tidak mengucapkan salam!” ucap Nela. “Oh iya, lupa. Oke ulang! Mbak Nela, assalamualaikum!” “Waalaikumsalam wahai babuku!” ucap Nela. “Bangke kamu Mbak!” Beginilah acara penyambutan keduanya, jika bertemu. Gak ada bagus-bagusnya, gak ada menarik-menariknya. Yang ada justru kegendengan yang hakiki. Reivan hanya memutar bola matanya melihat kelakuan kedua betina gesrek ini, begitu juga dengan sang Ayah. Sedangkan Ilyasa justru terkekeh geli melihat kedua wanita yang bertingkah laku seperti itu. “Mbak, aku ke sini membawakanmu calon mantu. Noh, ganteng kan?” ucap Abbey seraya menunjuk ke arah Ilyasa. Padahal mereka baru saja mendaratkan b****g di sofa empuk Nela, tapi si Abbey tanpa basi lagi langsung mengatakan hal itu. “Dia? Mau ngelamar anakku?” tanya Nela. Semua yang ada di sana mengangguk kecuali Reivan. “Punya berapa mantan pacar kamu, kok berani-beraninya melamar anakku? Kalau hanya punya satu mantan saja, jangan berani melamar anakku!” ucap Nela. “Hah? Gimana Tante?” “Nah kan, di tanya gitu aja udah lola, gimana mau jadi mantuku! Lama-lama aku pakai buat pupuk jagung di kebunku, yang ada!” “Pupuk? Lah, di bantai dong aku?” tanya Ilyasa. “Gak di bantai, tapi di kubur separuh, biar awet!” ucap Nela. “Awet apanya, Tante?” tanya Ilyasa gak paham. “Awet stok makanan para cacing yang aku kerjakan untuk menyuburkan tanaman!” “Lah! Gimana konsepnya?” tanya Ilyasa. “Mau nyoba aku kubur sekarang?” “Gak?” “Pulang gih. Gak usah melamar anakku kalau kamu takut cacing!” “Piye toh?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD