Dasar kodok goreng!

1197 Words
Apa yang kalian bayangkan jika Ratu gesrek bercerita? Melow? Sedih? Atau ngakak? Jawabannya tentu saja ngakak! Neala dan Kang Cil menceritakan bagaimana prosesnya dirinya terbentuk dan bagaimana juga caranya, jika berpikir mereka mensesor cerita, itu tidak terjadi ya, karena memang Nela dan Panji menceritakan dengan gaya mereka yang gesrenya nauzubillah sekali. Dari cerita Si cebong Wyla yang dulu masih berbentuk kecebong hingga menjadi kodok dan sekarang menjelma menjadi bidadari yang amat cantik jelita ini. Soal tinggi bada, untung saja mengikuti sang Bapak alias Kang Cil, tinggi benar-benar tinggi, bukan semapai seperti emaknya, semua di ceritakan oleh Nela. “Hah? Kalian serius?” tanya Wyla. “Lah, gak jadi sedih Bong?” tanya Nela. “Jadi awal aku di panggil cebong karena Ayah mimpi di datangin aku, sedangkan Bunda hanya melihat gambar bentuk s****a saja?” tanya Wyla. Keduanya mengangguk. “Astagfirullah, kenapa kalian bisa seperti itu sih? Aku kira itu benar-benar panggilan spesial kalian buat aku!” ucap Wyla. “Lah, kan emang iya, Bong,” ucap Nela. “Ish, Bunda ini. Lagian kenapa sih Bunda dulu ngejar-ngejar Ayah sampai segitunya? Memalukan bukan Bun?” ucap Wyla. “Bundamu itu cinta mati pada Ayah Bong,” ucap Panji. “Ayah juga sama aja , b*****t!” ucap Wyla. “Weh, lambemu loh Bong. Biarpun gini-gini, dia bapakmu! Ya meskipun dengan paksaan, tapi hasilnya secantik ini,” ucap Nela. Wyla memutar bola matanya mendengar ucapan sang Bunda. Amarah emosi dan juga rasa kecewa yang ia pendak selama bertahun-tahun dan sudah mendarah-daging, langsung hilang seketika itu juga. Sebenarnya kalau di pikir-pikir, dirinya itu marah karena apa sih? Kalau marah karena lahir di luar nikah, itu pasti. Selama ini ia hanya ingin mendapatkan kata maaf dari sang Ayah, dan juga ingin mendengar penjelasan dari kedua orang tuanya, tapi setelah apa yang ia inginkan di dapat, ia justru merasa seperti ‘Yo wes lah, Opo Jaremu Wes! Sak Karepmu Wes!’ seperti sudahlah, begitu sajalah. “Hais, ternyata selama bertahun-tahun ini aku rugi karena kecewa dengan hal konyol! Ya Allah,” batin Wyla. “Maafkan Ayah ya, Bong?” ucap Panji. “Jekletek loh Yah! Ternyata penjelasan kalian tidak sesuai ekspektasi di otakku!” ucap Wyla. Nela dan Panji saling pandang, mendengar ucapan sang putri tercinta tercantik dan terimut. “Ini maksudnya gimana sih?” tanya Nela. “Lupakan saja lah Bun, aku capek, mau makan!” ucap Wyla. “Lah, kalau capek ya istirahat, kalau lapar makan, kalau haus minum,” ucap Nela. “Kalau jelek Bun?” tanya Panji. “Kalau jelek ya sadar diri dong Yah!” ucap Wyla. Asem tenan, nih anak. Bisa-bisanya anaknya mengatakan hal itu. Namun, Panji dan Nela merasa lega sudah mengatakan hal yang selama ini di sembunyikan. Padahal hanya begini akhirnya, tapi kenapa hanya begini, apa begini juga yang Wyla rasakan tadi? Sudahlah Nela dan Panji tidak mau ambil pusing, sekarang mereka memilih untuk ke belakang untuk makan malam. “Ini Ghifari ke mana sih?” tanya Nela. “Tadi bilang, dia mau menginap di rumah Nenek,” jawab Wyla. “Nenek siapa?” “Suyati.” Nela hanya ber’oh’ria saja, anak bujangnya itu memang luar biasa, lain daripada yang lain, di saat remaja pada umumnya pendiam jaga image, itu anaknya justru sudah terlihat bar-bar, dan lebih mirip seperti dirinya. Sedangkan si Cebong Wyla justru seperti es batu, tapi setelah hari ini kayaknya si Cebong akan lebih hangat, mungkin saja. Wyla menyantap oseng kangkung kesukaannya dan juga ikan gurame bakar yang tadi di kirim oleh si Nde somplak kesayangannya. Hah, selama ada di ibukota, Wyla tidak bisa memakan makanan seenak ini, karena sama-sama kangkung juga akan beda jika sang Bunda yang memasak. “Kamu mau segera berangkat Bong?” tanya Nela. “Kali ini aku ingin lebih lama di rumah Bun,” jawab Nela. “Alhamdulillah, akhirnya si Neng Toyib, pulang lama juga,” ucap Nela. “Pekerjaanmu gimana?” tanya Panji. “Sudah ada Calista dan yang lainnya kok, Yah. Lagian aku capek sekali, lagi pula bulan ini juga gak ada cara fashion show yang aku ikuti,” ucap Wyla. “Duit kamu buat apa sih Bong?” tanya Nela. “Buat kasur!” jawab Wyla. Kesal sekali dengan pertanyaan sang Bunda, tapi untung saja sih, hanya itu yang dipertanyakan oleh kedua orang tuanya, jika orang tua lainnya pasti akan mendesak kapan menikah. Panji dan Nela tidak pernah mendesaknya untuk segera menikah, mungkin sesekali saja bertanya, tapi hanya sekedar bertanya saja. “Tadi aku ketemu sama Reivan di Mall,” ucap Nela. “Ngapain tuh anak di kota ini? Tumben tidak kesini? Emaknya juga gak ngomong kalau dia pulang,” ucap Nela. “Tante m aja gak tahu kalau dia pulang, katanya baru datang pagi ini, dan dia mau pulang,” ucap Wyla. “Ish nanti aku telepon bocah itu. Ngomong-ngomong kita ini makan malam kan? Tapi ini belum magrib padahal,” ucap Nela. Wyla dan Panji saling pandang, mendengar ucapan Nela, bisa-bisanya mempermasalahkan hal sepele seperti ini, tapi ya, kalau gak aneh bukan Nela si ratu gesrek namanya. Lain tempat lain pula ceritanya. Kini si Ilyasa sudah berada di rumah orang tua Reivan, kedatangannya di sambut ramah oleh orang tua Reivan. “Ini bocah kalau pulang gak ngabarin dulu! Kalau Bunda ada di rumah enak, gimana kalau Bunda gak ada?” “Lah emang Bunda mau ke mana? Nyatanya ada kan?” bukan si Reivan yang berujar tapi si Ilyasa. “Ish, kamu juga. Udah jadi orang kaya bukan ya menjaga wibawa malah selengekan kayak kodok goreng.” “Ish, Bunda ini, manusia ganteng gini di bilang kodok goreng. Enak aja Bunda ini,” ucap Ilyasa tidak terima. “Mana–“ “STOP! Bisa kah, kalian berdua jangan bersikap aneh? Tuh lihat si Ayah, gak malu kalian?” ucap Reivan menengahi. Jika tidak di hentikan, bisa-bisa kedua orang itu akan berlanjut berdebat unfaedah tanpa henti. Reivan membayangkan bagaimana jika Ilyasa yang menjadi anak dari kedua orang tuanya, bisa-bisa keseharian mereka akan seperti keluarga kerajaan gesrek si Nela. Mengingat Nela, Reivan memandang Ilyasa. “Kenapa kamu menatapku?” tanya Ilyasa. “Apa kamu benar-benar mau melamar dia?” tanya Reivan. “Melamar? Siapa yang melamar, dan siapa yang dilamar?” “Ada lah, Bun. Dia itu cantik, seperti bidadari dan suaranya auranya membuatku mabuk cinta dan ingin melamarnya,” ucap Ilyasa seraya senyum-senyum gak jelas. Hal itu membuat Reivan bergidik ngeri, sedangkan kedua orang tuanya justru tersenyum. “Siapa wanita itu?” “Si Reivan kenal Bun, kayak e juga akrab tuh!” ucap Ilyasa. Semua yang ada di ruangan itu serempak menoleh ke arah Reivan, yang kini tengah mengembuskan napasnya dengan berat. Inilah yang tidak ia sukai dari suasana ini. “Lebih baik urungkan niatmu itu, dekati saja dia jangan langsung melamar, bukan sifat Ilyasa banget kalau seperti itu,” ucap Reivan. “Gak bisa, aku udah beli cincin dan juga udah beli alat sholat, pokoknya Bunda sama Ayah harus melamar dia untukku!” ucap Ilyasa. “Siapa dia sih dia?” “Si Cebong, Bun,” ucap Reivan. “Oh, si Cebong.” Diam, kedua orang tua Reivan diam setelah mengatakan hal itu, tapi selanjutnya. “APA? CEBONG? SI TWYLA?” “Ya ampun! Kita gak budek kali Bun!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD