12. Hidup Lebih Lama

1052 Words
Waktu terus bergulir, hari demi hari pun berganti. Tak terasa sudah tiga bulan Olivia berada di rumah sakit tempat Dokter Gustin bekerja. Selama itu juga ia telah melakukan kemoterapi lanjutan dan serangkaian perawatan lainnya. Berangsur-angsur kondisi fisik wanita itu mengalami perkembangan pesat. Setiap pagi, seorang perawat akan membuka tirai jendela untuk Olivia. Di sana, dari ranjang pesakitan Olivia masih bisa menikmati pemandangan jajaran gedung dan beberapa burung kecil yang hinggap di sisi ventilasi bagunan bertingkat itu. Ya, wanita itu merasakan fase kehidupan baru. Semangatnya telah pulih seiring dengan kesehatan yang membaik. "Selamat pagi, Olivia," sapa seseorang ketika Olivia asik memandang ke luar jendela. Lelaki berseragam serba putih itu tersenyum memamerkan deretan gigi putih yang terawat. Dokter Gustin tampak membawa sebuah map, stetoskop masih tergantung di leher maskulinnya. Sungguh ciri khas seorang pekerja medis yang profesional. Pantas saja jika para perawat mengagumi sosoknya, bahkan banyak yang mendamba bisa menjadi pendamping hidup sang dokter tampan. Olivia menoleh dan membalas senyuman sang dokter. "Pagi juga, Dok." "Hmm, tampaknya langit hari ini cerah sekali, ya." Dokter Gustin memulai obrolan ringan. Olivia menghela napas dalam dan memejamkan netra. "Benar, secerah hatiku sekarang, Dok." Wanita itu membuka kelopak matanya perlahan. "Terima kasih, telah merawatku hingga detik ini." Jantung Dokter Gustin berdebar ketika mendengar ucapan Olivia. Tak tahu mengapa, setiap hari tubuh dan pikirannya tergerak untuk mengunjungi pasien cantik itu. Bisa disebut dirinya kini seperti dokter pribadi untuk Olivia. Menemani wanita malang itu mengobrol untuk menghilangkan kebosanan dengan alasan mengecek keadaannya. "Kembali kasih, bukankah itu memang tugasku sebagai pengabdi masyarakat?" tanya Dokter Gustin sembari membolak-balik map yang ia bawa. Olivia tertawa dan mengerucutkan bibirnya. "Benar, tetapi Anda telah melakukannya dengan sangat-sangat baik." "Tentu, karena saya telah berjanji mendedikasikan diri untuk kesembuhanmu ... ah, maksudku kesembuhan semua pasien melalui bantuan Tuhan," ucap Dokter Gustin dengan cepat. Dengan cepat Dokter Gustin meralat kalimatnya, sehingga Olivia tak menyadari ada kata aneh yang terselip di antara ucapan sang dokter. Lelaki itu berusaha mengalihkan pandangan sejenak dari sang pasien untuk menetralkan ritme jantung. Hampir saja ia melanggar kode etik sebagai seorang dokter. Andai saja saat itu ia telah menanggalkan seragam dinas, mungkin akan berbeda cerita. "Dok ...," panggil Olivia lirih. Dokter Gustin menoleh. "Ya, ada apa?" Ah, rasanya hati Dokter Gustin berbunga-bunga ketika mendengar suara lembut Olivia memanggil gelar profesinya itu. Terasa hangat dan menggairahkan. Astaga, apa susunan saraf sang dokter ada yang bermasalah? Tidak! Ini adalah chemistry yang terbentuk antara pasien dan dokter. Dokter tampan itu mengecek kembali catatan medis sang pasien. "Olivia, melihat grafik rekam medismu yang semak-" Lelaki itu menghentikan kalimat, ketika menoleh ke arah Olivia yang menatapnya lekat. Manik mata yang beberapa pekan lalu tampak redup itu kini terlihat segar. Binarnya memukau siapa saja yang beradu pandang dengan wanita berparas cantik itu. "Maukah Anda mengajak saya pergi keluar rumah sakit, ketika saya sudah sembuh?" pinta Olivia penuh harap. Pada saat yang bersamaan Dokter Gustin telah menandatangani surat izin kepulangan sang pasien untuk kembali ke Indonesia. Ya, sebentar lagi Olivia telah diperbolehkan pulang. Sel kanker di dalam tubuhnya semakin mengecil. Pergerakan antibodi wanita itu sungguh luar biasa dalam menghadapi penyakit ganas yang bersarang di tubuhnya. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, Olivia kembali bugar. Betapa hebatnya pengobatan di sana. "Maaf, mungkin ini terdengar lancang, tapi saya merasa bosan hanya memandang jendela itu setiap harinya." Selama dua belas pekan, Olivia hanya terbaring di rumah sakit tanpa pernah melihat seperti apa negara berikon kepala singa itu dari luar. Tentu terbesit keinginan untuk mengenal negara itu lebih jauh. Dokter Gustin terdiam untuk berpikir sejenak, tampaknya bagus jika ia mengajak sang pasien jalan-jalan. Anggap saja itu hadiah atas perjuangan yang telah dilalui Olivia. "Boleh, saya akan mengajakmu berkeliling dan menikmati indahnya Singapura." Lelaki itu menutup dokumen yang sedari tadi ia baca. Manik mata Olivia berbinar, ia tak menyangka dokter yang selalu menemani masa sulitnya itu setuju dan akan mengabulkan permohonannya. Namun, rona wajah Olivia mendadak murung. Ada sesuatu yang mengganjal pikiran Olivia. Kapan keinginan itu akan tercapai? Sedangkan ia sendiri tak tahu sampai kapan akan berada di rumah sakit itu. Mendadak asa yang baru saja ia ciptakan seketika pupus, tampaknya mood swing masih sering menghampiri Olivia. "Tapi, Dok. Bukankah itu masih sangat lama?" tanya Olivia dengan pesimis. Dokter Gustin Justavo menggeleng ringan dan mengangkat dokumen yang ia bawa. "Tidak, besok kita bisa jalan-jalan karena ini sudah kutanda tangani." Hah! Olivia ternganga. Apa yang barusan diucapkan sang dokter? Ada apa dibalik dokumen yang ia baca itu? Atau kata besok itu hanya perumpaan saja. Rasa penasaran menggelitik batinnya. Olivia tidak bisa menahan diri dan menanyakan perihal map yang dibawa pekerja medis tersebut. "Apa itu, Dok?" Olivia mengerutkan kening. "Surat izin kepulanganmu ke Indonesia. Selamat Olivia, kamu berhasil berperang dengan sel jahat itu!" Lagi-lagi manik mata Olivia membulat sempurna. Kali ini semuanya terasa begitu menakjubkan, hadiah dari Tuhan atas kondisi tubuhnya itu membuat dirinya tak berhenti mengucap syukur. Seakan tidak percaya, wanita itu mengulang pernyataan sang dokter untuk memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik. "Ya Tuhan, benarkah? Be-besok, Anda akan mengajak saya berkeliling?" Gustin mengangguk cepat, darah dalam nadinya berdesir hebat. Melihat sang pasien begitu antusias dalam keadaan yang semakin fit merupakan kebanggan tersendiri. Dokter manapun akan merasa sangat bahagia telah berhasil memperpanjang roda kehidupan. Pastinya semua ini berkat bantuan Tuhan juga, keahlian yang ia miliki hanya sebagai perantara. "Terima kasih Tuhan! Terima kasih, Dok. Saya tidak menyangka akan mendapatkan dua kabar gembira sekaligus," pekik Olivia dengan girang. "Terima kasih, Tuhan telah memberi hamba-Mu ini kesempatan untuk tinggal lebih lama lagi." Olivia mengucap syukur berulang kali sembari menangkup wajah. Ya, sesuai isi dalam dokumen itu Olivia akan kembali ke Indonesia dalam dua hari ke depan. Enam kali kemoterapi yang ia lakukan di rumah sakit itu telah menghentikan pergerakan sel darah yang abnormal itu. Sehingga, untuk perawatan selanjutnya bisa dilakukan saat check up. Tidak ada hal yang paling menggembirakan selain kesembuhan, wanita itu bersuka cita karena ia tidak akan lagi membuat sang mama bersedih. Cinta dan dukungan orang tua, serta pengobatan dan bantuan Tuhan merupakan perpaduan yang sempurna. Doa seorang ibu yang tulus akan dikabulkan, Olivia yakin sang mama tak pernah berhenti meminta sampai ia mendapatkan kesembuhan ini. d**a wanita itu seakan ingin meledak, euforia dan pekikan batin mengisi penuh relung kalbu. Tak sabar rasanya melihat ekspresi kedua orang tua yang ia kasihi. "Kau pantas menerima ini," gumam Dokter Gustin lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD