Hari yang dijanjikan oleh Dokter Gustin pun tiba, sore ini wajah Olivia tampak bersinar. Ia begitu bersemangat untuk menjelajahi kota Singapura. Tanpa riasan wanita itu masih tampak sangat cantik, tak ada seorang pun yang akan menistakan anak gadis Bella. Dengan atau tanpa make up, tetap mempesona.
"Sore, Olivia. Apakah ka-" Mulut Dokter Gustin ternganga.
Lelaki itu terhipnotis kecantikan Olivia. Surai yang biasanya berantakan itu di kuncir kuda dengan menyisakan anakan rambut. Wajah putih bersih dan bibir ranum yang semakin hari kian memerah itu membuat darahnya berdesir. Penampilan Olivia hari ini sangat berbeda, padahal wanita itu hanya sedikit merapikan diri.
"Sore, Dok. Saya menunggu Anda dari tadi," jawab Olivia dengan senyum merekah.
Lima menit berlalu, tetapi Dokter Gustin masih mematung. Olivia mengernyitkan alis dan mulai kebingungan. Lelaki itu terus menatap lurus ke arahnya, apakah ia tampak aneh? Pandangan sang dokter membuatnya salah tingkah.
"Maaf, Dok. Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" seloroh wanita itu langsung.
Dokter Gustin tersadar dan menggeleng cepat.
"Ti-tidak, hanya saja tampak luar biasa. Ya, seperti itu."
Tak paham apa yang diucapkan sang dokter, Olivia hanya mengangguk-angguk setuju. Memilih untuk diam dari pada membahas hal yang menurutnya tidak penting itu. Tentu juga ia harus menjaga perasaan lawan bicaranya dan berpura-pura paham saja.
"Hmm, bagaimana jika kita pergi sekarang?" tanya Dokter Gustin.
"Saya akan menunjukkan tempat yang menakjubkan di dekat sini."
Iris jernih Olivia berbinar, ia merasa sangat bahagia. Setelah sekian lama tidak pernah melihat dunia luar, ini akan jadi perjalanan pertamanya pasca mengidap leukemia. Namun, wanita itu merasa janggal karena bahasa formal yang digunakan sang dokter setiap waktu.
"Dok, maaf bolehkah kita bercakap dengan bahasa sehari-hari saja? Karena saya merasa canggung dengan bahasa formal," ujar Olivia sembari tertunduk.
Sebenarnya Olivia takut mengutarakan keinginannya kali ini. Hanya saja ia benar-benar merasa terhalang jika mengobrol menggunakan bahasa formal. Terkesan kaku dan terpaksa, tidak bisa mengalir apa adanya.
"Hahaha, tentu saja boleh. Aku sebenarnya juga merasa aneh, tetapi takut jika kamu menganggapku tidak sopan dan genit," jawab dokter tampan itu lugas.
Gelak tawa pun terdengar memenuhi ruangan itu. Olivia tak menyangka bahwa sang dokter pun memiliki sisi humoris yang terpendam. Apalagi ia bukan hanya sekadar pekerja media baginya, melainkan seorang motivator yang tak lelah memberi dukungan.
"Ayo, lokasinya tidak jauh dari sini." Lagi-lagi dokter tampan itu mengajak Olivia dengan lembut, suaranya yang maskulin terdengar indah.
"Ayo, aku sudah tidak sabar ingin melihat dunia luar!" pekik Olivia tanpa sadar.
Wanita itu mengikuti sang dokter, ketika mereka melewati lobby. Beberapa perawat tampak menatap tajam. Bagaimana tidak? Dokter tampan mereka direbut oleh seorang pasien! Ya, mungkin itu yang berada dalam otak para wanita pengagum Gustin Justavo—lelaki dengan sejuta pesona.
"Kita sudah sampai," ucap sang dokter pada Olivia.
Wanita itu turun dari mobil pribadi milik sang dokter dan sesuatu terjadi. Olivia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah matahari tenggelam. Semburat jingga berbentuk setengah lingkaran di cakrawala itu perlahan-lahan menghilang. Seakan ditelan oleh deburan ombak dan nyanyian alam.
"Luar biasa, Dok. ini benar-benar sangat indah!" pekik Olivia tidak mampu menutupi kekagumannya pada hamparan pasir dengan air berwarna bening kehijauan.
Dokter Gustin tersenyum lebar.
"Selamat datang di Pantai Palawan, surga para pecinta lautan," ucap Dokter Gustin, memperkenalkan salah satu destinasi wisata alam di Singapura kepada Olivia.
"Heem, sa-sangat cantik," ucap Olivia sembari mengusap lengannya.
Sang dokter yang menangkap gesture tubuh Olivia segera membuka coat yang ia kenakan dan meletakkan jaket hanga itu di bahu pasien istimewanya.
"Pakailah, angin di sini begitu kencang."
"Terima kasih, Dok," jawab Olivia tersenyum dengan wajahnya memerah.
Dalam hatinya, Olivia merasa bingung dengan reaksi yang sudah ditunjukkan tubuhnya ketika berdekatan dengan lelaki di depannya.
"Jangan panggil aku dokter, kita sudah berada di luar area rumah sakit."
Olivia memiringkan kepala untuk melihat wajah sang dokter. Kalau bukan dokter lalu apa? Tenaga medis, begitu?
"Lalu, harus kupanggil apa?" tanya Olivia membeo.
"Gustin saja."
Olivia menggeleng dan tersenyum. "Di negaraku menyebut seseorang yang lebih tua hanya dengan nama itu tidak sopan. Jadi, aku akan memanggilmu Kak Gustin, bagaimana?"
"Hahaha, itu terdengar aneh! Tapi, terserah Olivia saja. Ayo kita berkeliling, jangan hanya mematung di sini." Dokter tampan itu menggandeng pergelangan tangan Olivia.
Sedetik kemudian Olivia tertegun, ia menelan salivanya sendiri. Tak apakah jika dirinya menghabiskan waktu bersama lelaki lain? Mungkin Rehan juga akan menyetujui ini karena hubungan mereka hanya sebatas pasien dan dokter.
Mereka berjalan lurus melewati jembatan gantung yang bergoyang-goyang. Lampu-lampu kecil menghiasi hampir sepanjang jembatan. Sesekali Olivia merapatkan genggaman karena takur terjatuh dari alat penyebrangan yang bergoyang-goyang itu. Pantai Palawan ini terdapat pulau kecil yang bisa kita kunjungi.
"Kak, aku ...." Olivia menyentuh dadanya, ia merasa lelah.
Dokter Gustin panik dan menyentuh kening Olivia.
"Apa kau merasa tidak enak badan? Sebaiknya kita kembali saja."
"Tidak, aku ingin ke sana." Olivia menunjuk semacam menara berbentuk pendopo yang bisa dinaiki sampai atas untuk melihat keseluruhan pantai.
Lelaki itu tersenyum dan membalikkan badan, kemudian ia membungkuk sedikit. "Naiklah ke bahu. Aku akan menggendongmu sampai ke sana."
"Ah, tidak perlu. Aku sanggup berjalan sampai sana," tolak Olivia halus.
Bagaimana mungkin ia akan menuruti ucapan sang dokter. Sudah cukup ia merepotkan banyak orang. Wanita itu bersikeras akan mengunakan kedua kakinya untuk sampai ke tempat tujuan. Meskipun, sesungguhnya ia juga merasa lelah dan sedikit nyeri di persendian kaki.
"Hmm, kau tidak boleh terlalu kelelahan. Kalau memang tidak mau naik ke bahuku. Bagaimana jika begini?" Dokter pemilik bibir s*****l itu membopong Olivia.
Lidahnya terasa kelu. Olivia tak tahu apa yang harus ia katakan lagi. Dokter itu membopongnya, ya menggendong dirinya di depan ala bridal style. Olivia berusaha menyembunyikan rasa malu. Ia memalingkan wajah dari tatapan sang dokter. Wanita itu dapat menghirup aroma parfum yang Gustin kenakan dalam jarak sangat dekat.
Deru napas yang hangat dan mengapa Olivia merasa sangat nyaman? Perhatian kecil sang dokter mengubah segalanya perlahan. Wanita itu tersenyum dan menikmati petualangannya hari ini. Putri Bella itu terdiam dan berpikir, betapa baiknya sosok Gustin Justavo ini. Lelaki yang membantunya bangkit dari kehancuran dan lembah keputusasaan.
"Maaf, aku merepotkan," ucap Olivia setelah mereka sampai di menara itu.
Gustin menurunkan tubuh bak gitar spanyol itu dengan sangat hati-hati. Ketika tangan kekar sang dokter menyentuh pinggulnya. Olivia sontak menoleh, untuk sesaat tatapan mereka terkunci. Anakan surai Olivia menari tertiup angin, menutupi sebagian wajahnya yang kian bersinar.
Saat ini mereka tengah mengamati satu sama lain. Deburan ombak dan aroma lautan menambah kesan intim. Putri kesayangan Ozan itu pun terpukau, ia baru menyadari jika sang dokter berparas sangat rupawan.