"Musalmah, oy, Musalmah, tunggu!" teriak Ujang. Lama sekali Ujang tidak bertemu Musalmah, dia rindu kepada perempuan dengan rambut yang selalu dicepol asal tapi rapi. Merasa ada yang memanggil, Musalmah menarik tuas rem dan menepi, tepat di bawah pohon yang entah apa nama pohonnya. Dia tebak umur pohon itu sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun. Dibukanya sarung tangan, helm dan juga masker, jika adegan ini direkam dan duoutar dengan gerakan slow motion, pasti menyenangkan. Seperti di film-film action yang biasa Ujang tonton. Ujang menepikan kendaraan tepat di depan motor Musalmah, ehm ... ralat, ini bukan motor Musalmah, mungkin kepunyaan Afri atau Lhong adiknya. "Ngebut amat, Salmah, saya sampe cape kejar," protes Ujang. "Alah, tinggal kau gas itu motor, Jang. Segala bilang capek.

