Bagian Tujuh

1696 Words
Gio tertawa melihat Anna yang mendumel kesal kepadanya, gadis itu berbalik memunggungi Gio padahal mereka tengah berdiri di pelaminan untuk menyalami para tamu. Sudah satu jam lebih mereka berdiri di sana dan selama itu pula Gio selalu menggoda Anna, membuatnya marah dan kesal sehingga pipinya yang di polesi blush on tipis semakin memerah. Gio terkekeh,  entah kenapa ia masih bisa menggoda Anna di saat gadis itu jelas-jelas sedang mendiaminya. Tidakkah ia peka dan merasa bersalah? Setidaknya ada keinginan untuk meminta maaf? Namun Gio bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Padahal setelah ijab kabul tadi, di saat tidak ada orang yang memperhatikan,  Anna akan mendiamkannya, tidak menghiraukan Gio. Dia jelas-jelas marah. Setelah beberapa saat, Anna merasakan ada yang berbeda dari Gio, dia terdiam tidak lagi menggoda Anna. Saat Anna menoleh untuk melihat apa yang terjadi pada pria itu, Anna tertegun melihat Gio yang menegang. Tatapannya lurus ke arah pintu masuk ballroom hotel. Anna mengikuti arah pandangan Gio dan saat itulah ia mendapati wanita yang kemaren ia temui di kantor Gio sedang berdiri dengan wanita lain di sebelahnya. Wanita yang membuat Gio membatalkan rapatnya, wanita yang membuat Gio melupakan janji mereka. Wanita yang membuat Gio... meninggalkannya. Tiba-tiba Anna merasa marah, kemarahan yang ditahannya sedari kemaren kembali menguap seiring mendekatnya wanita itu. Olivia melangkah ke arah Anna dan Gio dengan senyuman yang di paksakan. Saat mendengar Gio akan menikah hari ini, Olivia memaksa untuk keluar dari rumah sakit. Membuat Yuka mau tidak mau mengikuti kemauannya. Anna melirik Gio yang masih menegang, tatapannya datar. Bahkan saat Anna merangkul tangannya Gio diam saja.  Dan yang terkesiap adalah Anna sendiri. "Hey, selamat ya, Gi! Semoga langgeng dan cepat dapat momongan, hehe!" Ucap Yuka dengan sumringah,  membuat Olivia di sebelahnya tersenyum masam. Yuka benar-benar tidak pernah mengerti keadaan, dia selalu menyeruakan apa yang ada di pikirannya. Gio mengerjap, lalu menjabat tangan Yuka. "Thanks Ka, haha doain aja!" Ucapnya lalu melirik Anna dan Olivia bergantian. Gio terdiam saat menangkap ekspresi yang pertama kali dilihatnya di wajah Olivia.  Ekspresi terluka yang tanpa malu di tunjukan nya kepada Gio. Apa Olivia terluka atas pernikahannya? Apa Olivia menyesali keputusan Gio? Kemungkinan itu, entah kenapa membuat hati Gio sedikit... bahagia? Ya, memang tidak bisa di pungkiri kalau Gio masih mencintai Olivia,  bahkan rasa cintanya tidak berkurang sedikit pun. Sama seperti saat pertama rasa itu hadir di hatinya. Lalu bagaimana dengan Anna ? "Selamat ya..Gi? Aku harap kamu-" Giliran Olivia yang memberikan selamat untuk Gio. Wajah pucatnya tersungging senyum pahit, seperti dipaksakan. Dia berhenti sejenak untuk menatap Gio, memerangkap manik hazel Gio dengan manik coklatnya. Membuat laki-laki itu salah tingkah. Kembali kepadaku. "Bahagia!"Lanjut Oliv sambil tersenyum manis. Gio mengangguk."Makasi Mbak!"Ucapnya lalu tersenyum kaku. Mbak ga pernah sadar kalau bahagia aku itu sama Mbak. Anna terdiam saat melihat dengan jelas interaksi yang dilakukan oleh Gio dan Olivia.  Dia tau pasti ke duanya masih saling mencintai, bahkan tanpa keduanya menunjukkan dengan kata-kata. Gerakannya terbaca bahkan dalam diam. Anna cemburu ? Tentu saja ! Lebih tepatnya, marah.   Tidak peduli atas perasaan nya terhadap Gio, yang jelas Gio itu suami sah nya. Milik dia. Apapun yang terjadi saat ini, Gio tetaplah suaminya dan Oliv tidak berhak menyentuh miliknya. Harga dirinya terluka.  Sebagai perempuan, tentu saja dia mengharapkan suami yang bersedia belajar mencintainya. Walaupun ia tau cinta itu bullshit, setidaknya mereka bisa mencoba. Nyatanya Gio malah berselingkuh tepat di depan matanya, bahkan di hari pernikahan mereka. "Selamat yaaa!"Ucapan seseorang langsung menyadarkan Anna dari lamunan nya. Apalagi saat wanita itu memeluk Anna dan membisikkan sesuatu yang membuat Anna tergugu. "Ngeliatinnya jangan gitu kali, ntar kepala si Gio bisa bolong karna tatapan lo, xixixi. Keep him at your side Na, jangan sia-sia in orang yang ada di dekat lo, karena gue kenal satu orang yang seperti itu." "Semoga bahagia dan langgeng sampe tua!" Lanjut Yuka sambil tersenyum penuh arti sesaat setelah ia melepaskan pelukannya. Anna mengerjap dan tersenyum aneh. Dia menggaruk tengkuknya gugup, merasa aneh dengan ucapan Yuka. Apa maksud wanita itu memperingatinya? Apa Yuka setuju dengan pernikahan Anna dan Gio? Seharusnya Yuka marah karena Anna menjadi penghalang anatara Olivia dan Gio. Sebenarnya apa yang terjadi antara mereka semua? "Ngg Thanks, ngg…" Yuka tertawa keras, membuat Gio dan Olivia langsung menoleh ke arahnya. Tawa Yuka malah semakin keras sehingga matanya berair, saat melihat ekspresi heran Gio dan Olivia. "Adudududu, lucu bangeeet. haha, masak si Anna bilang dia mau anak tujuh sama gue ? She is so wonderfull!"Ucap Yuka di sela tawanya, membuat Anna membulatkan matanya dan menggeleng cepat. Namun sebelum itu terjadi Yuka menahan badannya.  Yuka aneh, dia seperti ingin membuat Olivia cemburu. Gio berdehem tidak nyaman dan telinganya memerah. Jangan bilang kalau dia percaya sama ucapan Yuka. Anna buru-buu menatap Yuka meminta pejelasan, apa maksudnya melakukan ini semua.  Namun yang di tatap hanya terseyum penuh arti. "Ya udah deh, kita cabut dulu,  ga enak gangguin pasangan yang baru nikah. Yuk cabut, Liv!" Yuka menarik tangan Olivia yang terlihat enggan utuk pergi, di saat ada beberapa orang mengantri untuk bersalaman dengan pasangan itu.Gio menatap punggung Olivia yang semakin menjauh lalu menghela nafas. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. Dia merasa cintanya terbalaskan, namin apakah ini saat yang tepat? Di saat ia tengah berdiri di pelaminan? *** "Maksud Lo apa huh ?" Yuka menoleh dan menatap orang yang selama ini ia anggap sahabat namun nyatanya tidak sama sekali—dengan ekspresi datar. "Apa?" Wajah tanpa dosa Yuka membuat Olivia muak. Dia mengusapa wajahnya kesal saat tangannya hampir saja menampar pipi sahabatnya itu. "Lo sengaja ya bikin gue cemburu?" Tanya Oliv berapi-rapi. Yuka tersenyum, jenis senyum yang memuakkan bagi Olivia. "Gue udah bilang sama lo untuk berhenti Liv. Ini semua tu salah lo,  lo udah menyia-nyiakan Gio. Jauh sebelum Anna hadir di hidupnya. Lo yang terlalu sok jual mahal dan sekarang lo ngarepin dia balik sama lo? Dari kemaren gue juga ga setuju dengan rencana lo, mulai dari akting lo pura-pura sakit, sampai sekarang ini. Datang dengan kondisi seolah-olah lemah, berharap Gio bakal luluh. Lo tu aneh tau ga!" Yuka mengakhiri ucapannya dengan nafas yang terengah.  Akhirnya apa yang selama ini ingin ia katakan keluar juga. Ia tidak pernah menyukai sifat Olivia yang seperti ini. Sifat Ambisius, sok juak mahal dan keras kepalanya. Namun Yuka tidak dapat pergi dari sisi Olivia karena suatu hal yang membuatnya benar-benar terikat dengannya. Sesuatu yang mudah saja Olivia hancurkan. Wanita itu gila! "Lo tau, lo ga pantas ngomong kayak begini sama gue Ka! Gio itu milik gue dan selamanya akan begitu.  Dan lo ga bisa ngatur gue, tentang apa yang harus gue lakuin dan apa yang engga!" Yuka mengatupkan bibirnya, tidak ingin mendebat Olivia lebih jauh.  Dia tahu apa yang akan terjadi dengannya saat Olivia benar-benar marah terhadapnya. Dia terikat. ***   Anna menghempaskan badannya ke atas ranjang. DELAPAN JAM !! DELAPAN JAM LEBIH! Dia harus berdiri di samping lelaki tidak peka dan menyebalkan, sambil tersenyum dan menyalami orang-orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Nasib baik rahang Anna tidak copot karena pegal. Belum lagi menyaksikan opera sabun ala Gio dan mantannya yang menyebalkan itu. Haaaah lelah! Bahkan untuk mengganti pakaian saja rasanya Anna tidak sanggup. Dia menggerakkan kedua tangannya,  mengacak-acak seprai yang terasa lembut. Tipikal  saat hendak tidur,kini dia tengah berada di apartement Gio di kamar Gio, iya di kamarnya si pria kulkas. Kamarnya sendiri sudah dijadikan gudang tempat menyimpan hadiah pernikahan.  Anna tidak mungkin tidur di sana. Namun ini malah menjadi masalah bagi Anna, dia tidak mungkin tidur satu ranjang dengan Gio, yang benar saja! Pokoknya dia tidak mauuuuu! Anns baru saja hendak menarik selimut untuk menutupi badannys saat Gio masuk ke dalam kamar. Jasnya sudah dibuka dan di sampirkan di bahu kanannya, dua kancing teratas kemejanya juga di buka, sehingga memperlihatkan d**a bidangnya yang kokoh. Tanpa sadar Anna menahan nafas saat Gio menoleh dan menatapnya dengan datar. "Kenapa? Ada yang salah?" Nyess! Anna merasa wajahnya memanas seketika. Dengan gugup ia beranjak turun dari ranjang dan berjalan cepat ke arah kamar mandi.  *** Setelah sekian lama berdiam diri di dalam kamar mandi. Anna memutuskan untuk keluar. Tidak mungkin berdiam diri di sini sementara dia sudah kedinginan.  Sial, gara-gara gugup, dia sampai lupa membawa baju ganti.  Akhirnya saat ini dia hanya memakai bathrobe, lalu handuk untuk menutupi paha.  Dengan keberanian yang mulai hilang, Anna melangkah keluar dan detik setelahnya menyesal atas keputusan yang dia buat.  Harusnya dia memang tidur di dalam kamar mandi,  argh! Gio tengah duduk di ranjang,dengan rambut acak-acakan dan cahaya lampu remang-remang sedang  memainkan tabletnya, mungkin saja mengecek pekerjaan nya  dan lebih parah lagi...Topless. Anna menahan nafas saat Gio menoleh dan menatap ku datar. Tidak ada lagi sorot mata jahil yang tadi di perlihatkannya. Sehingga saat ia bergerak turun dari ranjang, Anna refleks mundur selangkah. Bah! Mati lah awak! "Ga-ga mandi?" Tanya Anna gugup. Gio menngernyit, menaikkan sebelah alisnya. Namun dia tetap melangkah ke arah Anna. Gadis itu merasakan jantungnys berdegup kencang saat Gio semakin dekat dan matanya lurus menatap ke arahnya,  menilai dengan terang-terangan. "G-gi!" Gio berhenti di depannya dan menatapnya dengan sedikit menunduk. "Kopernya ga bisa kebuka, baju sama handuk saya di sana!" Eh? Anna langsung mengerjap dan menatap Gio yang menatapnya dengan aneh. Sedetik kemudian dia tersenyum jahil. "Kenapa wajah kamu merah?" Tanyanya sambil tersenyum. "Hayooo mikir apa?" Ucap Gio lagi. Anna gelagapan dan langsung beranjak dari depannya. "Nnng-ngaak ada!" Ucapnya jutek, Gio mendengus geli. "Bener?" Godanya. "Iya, nih !" Anna melemparkan handuk dan baju kaos putih serta celana training ke arah Gio lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi, sebelum wajah gadis itu semakin memerah karena malu.  Aku menghela nafas lega saat mendengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Dengan cepat aku langsung memakai bajuku dan melompat ke arah ranjang,  berusaha unuk tidur sebelum Gio keluar dan mulai mengerjainya lagi. Jantung Anna berdegup tidak karuan, bahkan dapat mendengar detaknya yang memacu sehingga membuatnya sulit untuk menutup mata.  Bahkan sampai pintu kembali terbuka dan tertutup Anna masih tidak bergeming, membelakangi kamar mandi arah datangnya Gio.  Jantung Anna semakin memacu saat merasakan seseorang menaiki ranjang.  Namun,dia tetap diam tidur seperti orang pingsan. Sebenarnya dia memang nyaris pingsan. Saat Anna merasakan tidak ada pergerakan lagi dari Gio dia membalikkan badanku menatapnya. Dan saat itulah Anna merasa akan pingsan, Gio berada dua senti di depannya, tersenyum jahil, senyuman penuh makna. Sedikit merunduk membisikkan sesuatu. "Hey, Babe!" Oh crap!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD