“I like you, but I can’t always be your second choice. Not when you’re my first.”
Pria itu hanya diam. Tidak bergeming semenjak beberapa menit yang lalu. Fokusnya terpusat kepada seorang wanita yang tengah terbaring lemah, tidak sadarkan diri.
'Sebenarnya apa yang terjadi padamu? kenapa kamu memperlakukanku seperti ini? Sampai kapan perasaan ini harus ku tahan?'
Gio menghela nafas berat. Tadi saat ia keluar dari ruangannya untuk meeting, Olivia menahan tangannya. Dia sudah mencoba menepisnya, mencoba tidak menghiraukan. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah, Gio mendapati Olivia tergeletak tak sadarkan diri. Tidak butuh waktu lama untuknya membatalkan seluruh meeting yang ada dan segera membawa Olivia ke Rumah Sakit, berteriak panik seperti orang gila. Bodoh! Gio sangat bodoh.
"Dia masih belum sadar?" Tanya seseorang yang dari tadi memperhatikan Gio yang bahkan mengenggam tangan Olivia pun tidak berani. Dia hanya mencengkram pinggiran ranjang, mencoba untuk menahan keinginan untuk mengenggam tangan halus itu, atau merapikan anak rambutnya atau kemungkinan lain, memeluknya?
"Mmm."
"Kata dokter dia Anemia, tapi setau gue Oliv ga pernah ngidap Anemia, gue udah nelfon Tante sama Om kalo Oliv dirawat-" Yuka tidak melanjutkan ucapannya saat melihat raut Gio menggelap. Dia tersenyum masam.
"Makasih udah nganterin Oliv, gue masih heran kenapa dia lebih milih Dirga dari pada elo. Lo kan baik, perhatian, ganteng-"
"Lo apa kabar, gimana Jepang?" Potong Gio dingin, tidak ingin mendengar ucapan tidak jelas perempuan di sampingnya.
Yuka tertawa dia suka menggoda pria ini. "Baik. Biasa aja kok, gue seneng bisa balik ke Jepang walau cuman sebentar. Lo gimana? Eh maaf yah, waktu itu ga bisa datang ke acara pertunangan lo."
Gio terdiam, pertunangan? Pertunangan? T-tunangan?
Tunggu. Sepertinya ada yang salah-
Astaga. Anna!
Gio tersentak dan segera berdiri, dia melirik jam di pergelangan tangannya panik. Astaga sudah setengah sepuluh malam. "Ada apa?" Tanya Yuka yang melihat Gio seketika panik.
“Ka gue cabut duluan, ada urusan mendadak, nanti kalau ada apa-apa sama Oliv-" Gio melirik Oliv yang masih tertidur, "lo jangan segan hubungin gue."
Yuka mengangguk sambil tersenyum manis. "Oke!"
***
Gio mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Ya tuhan, dia tak habis fikir kenapa dia bisa lupa kalau hari ini Anna ikut dengannya kekantor? Berbagai fikiran buruk lalu-lalang di benak Gio. Jangan sampai… jangan sampai si Madam Medusa masih di kantor, batinnya.
Semua pemikiran itu membuatnya semakin panik. Gio mempercepat langkahnya menuju ruangan, kantor sudah gelap, hanya beberapa lampu yang masih hidup. aat di sampai di dalam ruangannya Gio menghela nafas lega, lampu sudah mati itu berarti tidak ada lagi orang di dalam. Dia berbalik mencoba menelfon Anna, namun tidak diangkat. Gio memutuskan untuk pulang, berfikir Anna sudah berada di apartemen.
Ketika sampai di apartemen, Gio mendapati keadaan yang sama, ruangan sudah gelap, hanya lampu di sudut ruangan yang dihidupkan. Ketika ia hendak berjalan kea rah ruang kerjanya, Gio menangkap bayangan seseorang tengah berdiri di beranda. Sepertinya, gadis itu masih belum menyadari kedatangan Gio dan asyik memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana.
Sekejap, perasaan bersalah mulai menggorogoti d**a Gio, teringat akan perbuatannya yang melupakan Anna siang tadi. Gio berjalan mendekat kea rah jendela lebar itu, dia berdehem pelan memberi tahu keberadaannya pada Anna. Perasaan bersalah itu semakin kentara terasa saat Anna berbalik dan terkejut melihatnya, dia terdiam lalu berjalan melewati Gio tanpa berkata apapun. Anna menghidupkan lampu, yang seketika membuat ruangan terang benderang. Gio dapat melihat wajah lelahnya namun tidak dapat membaca ekspresinya
Anna berjalan menuju Sofa dan mengambil sesuatu dari bawah meja. "Akhirnya datang juga, aku pikir kamu lupa aku di sini." Ucapnya sambil tertawa kecil. Gio terdiam melihat Anna yang masih asyik menyiapkan sesuatu.
"Maaf ya, aku ga masak. Padahal kita jani buat makan malam bareng hari ini/" Ucapnya sambil cemberut sebentar, lalu kembali tersenyum.
"Aku udah mesen Jjangmyeon, kamu suka ga? Emang udah dingin sih, tapi kayaknya masih enak. Sini-sini!!"
Anna menepuk bagian sofa di sebelahnya meminta Gio untuk duduk. Namun Gio masih terdiam, benaknya berkecamuk, apakah Anna tidak marah? Dia bahkan tidak menanyakan Gio dari mana saja, bersikap seolah tidak ada yang terjadi, dan itu membuat Gio merasa seperti b******n.
"Buruan, laper nih!" Anna berdiri dan segera menarik tangan Gio untuk segera duduk di dekatnya.
Mereka makan dalam hening. Hanya helaan nafas terdengar jelas saat Anna memakan mie dengan sumpitnya.
"Haah, kenyang!"
Gio terkesiap saat Anna sudah berdiri hendak membuang bungkus makanannya. ‘Buset dah itu laper apa doyan sih, cepat kali abisnya?’ pikirnya. Saat Anna kembali duduk di sebelah Gio dan mengecek ponselnya.
"Kamu ga makan?" Tanya Anna. Gio melirik Jjangmyeon di pangkuannya dan menggeleng. "Mau?" tanyanya, Anna diam sebentar lalu mengangguk cepat dan merebut mangkuk di tangan Gio.
"Mm,” Gio berdehem pelan meminta perhatian Anna, gadis itu melirik dari ujung matanya, “masalah tadi, sebenarnya saya tadi ke-"
"Ga usah cerita." ucap Anna tiba-tiba. Dia menghentikan makannya dan menatap lurus. Pipinya menggembung karena Jjangmyeon di mulutnya belum di telan.
"Kamu ga harus cerita kok, bukan urusanku-" Dia menghela nafas kasar. "Hah, tiba-tiba kenyang." Anna berdiri lalu berjalan keluar meninggalkan Gio yang masih terdiam.
Gio merasa ada yang aneh, kenapa tiba-tiba Anna terlihat sedang marah?
Oh, Of course she is. Gio stupid!
Dia tentu marah karena Gio tidak menepati janji, setelah itu ia harus menunggu beberapa jam dan menahan lapar. Gio masih terdiam melihat punggung Anna yang perlahan menjauh. Saat tersadar, dengan cepat pria itu bangkit dan segera menyusulnya.
"Na, tunggu!"
Anna sama sekali tidak menghiraukan teriakan Gio, dia tetap berjalan. Namun saat hampir sampai di depan kamar dia baru berhenti dan menatap Gio yang sedang terengah.
"Kamu kenapa sih, saya kan-"
"Ceramahnya bisa di pending ga? Aku capek nih pengen tidur."Potong Anna.
Gio terdiam. Tanpa membantah, langsung menarik tangannya dari pergelangan tanga Anna.Dia langsung masuk ke dalam kamar tidurnya tanpa memberi Gio kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
Apa dia benar-benar Marah? Gio terpekur.
***
Anna memperbaiki posisi tidurnya menjadi terlentang. Sudah tengah malam, tetapi tubuhnya masih enggan untuk terlelap, entah kenapa rasanya ada sesuatu yang mengganjal membuat tidak nyaman. Sedari tadi dirinya tidak henti-henti melirik ke arah pintu. Sengaja tidak mengunci pintu kamar berharap Gio akan datang dan meminta maaf, gila bukan? Aku pasti sudah gila, Anna membatin.
Anna tidak butuh penjelasan apapun, hanya kata maaf, mengetahui Gio menyesal telah membuatnya menunggu, dia rasa itu sudah cukup untuk menghapus kekecewaannya pada Gio hari ini.
Mata Anna melirik kalender di meja, dua hari lagi dan semuanya akan berubah total. Dia bukan lagi Anna Brata Nuraga, gadis lajang yang masih bisa berpesta sampai tengah malam, menghabiskan tabungan untuk berbelanja atau bangun siang setelah bergadang semalaman. Beberapa hari lagi statusnya akan berubah, namanya, dan segalanya. Semuanya tidak akan sama lagi.
***
Keningnya berkerut heran dengan wanita yang sedang bergerak lincah di dapurnya. Dia terlihat sangat beda, jauh dan tak tergapai, entah kenapa membuat Gio merasa ada sesuatu yang hilang. Pagi ini Anna sangat aneh, dia tidak mengacuhkan Gio, bahkan saat Gio mencoba untuk mengajaknya berbicara, Anna hanya menanggapinya malas-malasan, seperti tidak minat.
"Nanti kalau bosan di rumah, ke rumah Mama aja. Tanya apa aja yang perlu buat besok, saya harus ke kantor dulu sekarang. Masih ada beberapa hal yang harus diurus." Ucap Gio panjang lebar, saat Anna berbalik meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas s**u di depannya.
"Oke!"
Gio terperangah. Anna hanya berujar singkat lalu berjalan meninggalkan dapur dengan segelas s**u di tangannya. Biasanya dia akan duduk di depan Gio sambil menghabiskan sepotong roti atau susunya. Sekarang dia terlihat menghindari Gio.
Setelah menghabiskan sarapannya, Gio berjalan ke ruang tengah mencari keberadaan Anna. Dia melihat Anna yang sedang fokus menonton TV dan sesekali tertawa padahal gadis itu tengah menonton siaran 'yoga' yang sama sekali ga ada lucunya. Gio mengernyit heran, namun dia tidak bertanya sama sekali. Mungkin siaran yoga punya 'That sense of humor' bagi Anna.
"Saya berangkat." Ucap Gio sambil tersenyum sumringah, mengira Anna akan berbalik menatapnya.
"Mm, hati-hati!"balas Anna tanpa menoleh, membuat Gio terhenyak. Namun sekali lagi, dia hanya diam tidak berani membantah atau pun bertanya.
Dia hanya diam karena beranggapan esok akan kembali seperti semula, but he doesn't know, one thing.
***
Gio mengerang melemparkan tumpukan kertas ke mejanya. Mengusap wajahnya kasar, Gio merenggankan dasi yang terasa mencekik. Besok adalah pernikahannya dan sekarang ia terjebak di dalam ruangan dengan tumpukan file dan masalah yang bejibun. Tidak bisakah ia istirahat sejenak?
Memencet intercome lalu mengomel meminta sekretaris andalanya untuk segera keruangan. Gio lalu melempar tubuhnya kesandaran kursi, memijit pelipisnya dengan dengusan lelah yang tak henti-hentinya keluar. Hanya butuh beberapa detik, Amira muncul dari pintunya.
"Ya pak?" Tanya Amira dan dengan cepat berjalan ke arah atasannya.Sebelum pria yang notabene adalah atasan sekaligus sahabatnya itu mengomel tidak jelas.
"Ra, gue butuh bantuan lo!"
Sekejap Amira tau ada yang tidak beres dengan atasannya
***
"You should say sorry to her.."
Gio teringat akan ucapan Amira kemaren saat ia meminta saran atas masalahnya dan Anna. Amira memarahinya habis-hanisan, tidak enak dilihat karena seorang sekretaris memarahi atasannya, namun Gio diam saja mendengarkan seluruh perkataan Amira.
Gio melirik penampakannya di cermin, dia memperbaiki letak peci putihnya gugup. Dia sangat gugup saat ini, tangannya gemetar dan badannya merinding disko. Mau nikah apa ngeliat hantu sih? Bagi Gio tidak ada bedanya sama-sama menyeramkan dan menguras tenaga.
"Acaranya udh mau di mulai, Gi."Ucapan seseorang dari ambang pintu tidak menghapus kegugupan Gio, malah tambah menjadi-jadi. Gio sedikit heran mendengar nada bicara Dirvan yang terkesan dingin namun ia tidak terlalu menanggapi.
Batinnya sibuk melafaskan Bismillah. Dengan hati gugup, Gio menatap Dirvan.
"Oke!"
***
Flo tersenyum geli melihat gelagat sahabatnya. Perempuan terlihat sangat gugup sebentar duduk, sebentar-sebentar berdiri lalu duduk lagi lalu berdiri lagi. Anna terlihat cantik dengan kebaya putihnya yang anggun. Rambutnya yang biasa tergerai sekarang tertutup oleh Jilbab yang membuatnya semakin cantik, Anna sangat cantik.
"Alhamdulillah, Na. Selamat Datang Nak.. Selamat ya sayang, kamu sudah menjadi seorang istri!" Ucapan sumringah seseorang menginterupsi kegugupan luar biasa yang melanda Anna. Wajahnya menghangat, seketika perasaan gugupnya makin menjadi. Elni terlihat sangat senang.
Anna melirik Flo yang tersenyum ."Yok. kita temui suami tampan elo!"
Dia pasrah saja saat Helni dan Flo menggiringnya ke tempat akad nikah berlangsung. Anna terlalu sibuk untuk gugup, apalagi saat matanya menangkap punggung pria tegap dengan peci hitam itu. Gio berbalik dan menatap Anna lalu tersenyum gugup namun hangat membuat Anna sedikit rileks.
Anna mendudukkan dirinya di samping Gio, tidak berani menoleh menatap suaminya sama sekali.
Astaga, Suami? Bisakah ia gila sekarang?
Anna mengerjap saat mendengar pembawa acara menyuruhnya untuk mencium tangan Gio. Walau lambat namun Anna tetap mencium punggung tangan Gio khusuk lalu tersenyum. Gio balas tersenyum hangat, merengkuh wajah Anna mendekat dan mendaratkan ciuman di keningnya.
Seketika ruangan gemuruh denga tepuk tangan dan teriakan menggoda. Gio tersenyum menatap istrinya.
"Welcome to My life!" bisik Gio.
"Yeah, Im in."