Bagian Lima

1804 Words
Anna mengusap tengkuknya gugup, bulu kuduknya berdiri ketika dia mengalihkan pandangan pada seseorang di ambang pintu, yang menatapnya dengan tajam, marah, kesal, Anna tidak mau menilik lebih jauh, tahu kalau perempuan di sana tengah murka terhadapnya. "H-hai!" Dengan susah payah kata-kata itu keluar dari mulut Anna. Gadis itu  mencoba menyengir takut-takut dan melambai pelan ke arah sahabatnya, yang di sambut dengusan kesal, dengan langkah lebar Flora berjalan ke arah Anna, membuat gadis itu otomatis berdiri dan memasang posisi kuda-kuda, siapa tahu ibu hamil di depannya ini akan langsung menghabisinya di tempat. "Hai?” Flo tersenyum miring “Hai, hai pala lo, kalau aja ga abis di dandanin, udah gue ajak berantem lo dari tadi!" Sungut Flo pura-pura menyingsingkan lengan gaun yang dipakainya. "Eits ibu hamil ga boleh marah-marah, ntar anaknya vertigo!" ujar Anna menyengir, Flo memukul lengan sahabatnya dan mendesis pelan, "Sialan lo!" ucapnya sambil mengusap pelipisnya dan menarik nafas lelah. "Kok lo ga ngomong sama gue sih, Na? Bahkan gue tau kabar ini sama dari orang lain, lo ga nganggap gue sebagai orang spesial yang berhak tahu hari bahagia lo itu lebih duluan dari orang lain ya?" Ekspresi sedih Flo membuat Anna merasa bersalah. Dia segera menghempaskan badannya kursi rias dan menarik nafas, tak kalah lelahnya dari wanita hamil yang berdiri di depannya. "Long and weird story, Flo. Semua ini mendadak banegt, gue aja rasanya ga bisa napas saking cepatnya, nyesekkin banget!" Anna menatap Flo yang masih setia berdiri sambil bersidekap, menanti penjelasan. "Tapi lo kan bisa luangin waktu buat nelfon atau pun sms gue, gue terima kok di kasih tau lewat telepon, dari pada gue tau ini dari surat kabar, gue ngerasa engga banget tau gak!" "Sorry-" ujar Anna, "Sorry karena ga berbagi sama lo, sorry karena bikin lo khawatir.  Dari dulu kerjaan gue emang ngenyusahin lo aja, maafin gue ya…" Anna menunduk tidak berani menatap sahabat baiknya, dia sadar sikap diamnya beberapa hari ini benar-benar keterlaluan, seharusnya dia memang harus menelpon Flo dan berbagi dengannya, namun gadis itu terlalu larut dalam kecemasannya dan tak memikirkan yang lain. Siapa yang tidak cemas, menikah dengan orang yang bahkan baru beberapa hari kamu kenal dan karena kesalahpahaman? Tak ada hal yang lebih buruk dari itu. Anna hampir saja menangis saat meraskan lengan membungkus tubuhnya, dia memeluk balik. "Bukan itu maksud gue, gue ngga keberatan di repotin sama lo, Na. Lo sahabat gue, udah kayak sodara sendiri, masalah lo itu masalah gue jadi lo ga perlu khawatir buat ngenyusahin gue,  gue malah senang lo libatkan dalam masalah lo. Gue ngerasa lebih berarti…" ujar Flora pengertian, dia mengelus punggung Anna naik-turun. Sedetik setelah pelukan itu terlepas, Flo mulai melontarkan granatnya. "Jadi, siapa ntu cowok ganteng?" Perubahan suasana itu begitu cepat, sehingga Anna mengernyit tidak mengerti kemana arah pembicaraan Bumil ini, saat dia mengerti maksud peremuan itu, pintu ruangan terbuka dan kepala Helni menyembul di celah pintu. Dia tersenyum sumringah dan menatap Anna takjub. "Waahh, kamu cantik sekali, Na!" Dengan tergesa Helni berjalan ke arah Anna dan memeluk gadis itu dengan erat, kehangatan dengan segera melingkupi tubuh Anna. Dia terheran, kenapa Ibunda Gio begitu mudahnya menikahkannya dengan anak semata wayangnya tanpa curiga akan asal-usulnya, ditambah lagi 'penyebab' pernikahan ini terjadi. Sudah sewajarnya dia memarahi Anna dan memusuhinya,  namun yang tak disangka Anna Helni malah memperlakukannya dengan baik. "Makasih, Tante." Ujarnya canggung. Elni mendelik, melepaskan pelukannya dan menatap Anna tidak suka, "Panggil Mama dong, kamu kan bentar lagi jadi anak Mama juga!" Anak Mama. Iya, anak Mama, jadi istrinya anak Mama,  Ibu dari cucu Mama kelak. Aaah, seketika Anna ingin membenturkan kepalanya ke tembok saat menyadari kenyataan itu "Iya Ma!" jawab Anna ragu-ragu,  dia mendengar tawa geli dari Flo, Anna mendelik sewot ke arahnya. "Tante,  ayo keluar, acaranya udah mau dimulai.." Ketiga wanita itu spontan menoleh ke arah suara maskulin itu, dan mendapati pria berparas cina sedang tersenyum tipis. Dirvan, sepupunya Gio, pria yang terang-terangan menilai Anna dengan tatapannya, satu-satunya pria yang berhasil membuat Anna merasa risih dengan tatapannya, satu-satunya pria yang membuat Anna hampir terjengkang karena keberadaannya disini. Dia lebih tau Anna dari pada siapapun di dunia ini, hanya dia yang berhasil mengendalikan Anna. Dan Anna tau, dia benci kenyataan itu! Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa... Pria itu. Sepupu calon suaminya itu—adalah mantan kekasihnya. Ya tuhan, ternyata dunia ini emang begitu sempit. *** Anna meraba cincin yang melingkar di jari manisnya.  Cincin perak yang menjadi tanda pengikat hubungannya dengan pria di sampingnya, pria yang saat ini mengemudi dengan tenang. Suasana hening begitu kentara di dalam mobil,  membuat Anna mendengus bosan. Dia benar-benar tidak tertolong. Hari-hari dihidupnya setelah ini akan menjadi hari yang membosankan. Anna melirik Gio lagi, tidak dipungkiri kalu laki-laki itu memang sangat tampan, dengan rahang tegas dan mata yang setajam elang,  hidungnya memang tidak terlalu mancung namun yang membuat Gio makin menarik adalah bibirnya,  bibirnya tebal dan bewarna merah,  membuat Anna cemburu karena bibir Gio menurutnya sangat cantik. "Jangan lama-lama natapnya, ntar jatuh cinta.." Spontan, Anna mendengus mendengar kalimat penuh kepercayaan diri yang diucapkan oleh Gio. Dia membuang pandangan, menatap pemandangan di luar jendela mobil sama sekali  tidak ingin mendebat Gio karena suasana hatinya mendadak buruk. "Ngambek?" Goda Gio lagi. "Terserah deh, Om.." Gio menggeram tertahan, Anna memang memanggil dirinya Om semenjak gadis itu tau kalo Gio beberapa tahun lebih tua darinya. Ingin rasanya Gio memelintir mulut Anna setiap kali gadis itu mengatainya 'Om om desperate' atau 'Om Om pembawa malapetaka' namun yang dilakukannya hanya diam, bungkam. Bahkan membalas pun tidak. Gio mencoba dewasa. Mobil Gio memasuki perkarangan apartement mereka, Anna segera meloncat turun dan menyisingkan gaun biru tuanya ke atas dan melangkah lebar-lebar meninggalkan Gio yang berjalan santai di belakangnya. Gio membuka jas hitamnya, menyisakan kemeja biru yang serasi dengan gaun Anna, setengah berlari ia menghampiri Anna dan menyampirkan jas itu kepundak Anna yang terbuka, membuat gadis itu terkesiap dan mendongak menatapnya. "Aku keluar sebentar, langsung masuk terus tidur. Ga usah tungguin ya?" Gio tersenyum jahil, lagi-lagi ia menggoda Anna. "Siapa juga yang mau nungguin? Dasar Om-om desperate." Tepat setelah mengucapkan kalimat itu Anna kembali mengangkat gaunnya tinggi-tinggi dan berjalan sambil mengentakkan kakinya kesal. Gio tersenyum geli melihat Anna, ketika gadis itu menghilang.dia menghela nafas letih, ingatannya melayang kekejadian beberapa jam yang lalu. Wanita itu kembali. Dia kembali di saat Gio masih ragu dengan keputusannya. *** Anna terkesiap saat mendengar pintu apartementnya terbuka,  dia segera bersembunyi di balik sofa dan memerhatikan pria yang santai melenggang melewatinya. Sejujurnya Anna tidak mengerti dengan dirinya sendiri,  padahal jelas-jelas tadi dia menghina Gio atas kepercayaan dirinya yang menyuruhnya untuk tidur tanpa menunggu, jelas-jelas itu adalah hal yang tidak akan dilakukan oleh Anna. Menunggu Gio pulang? Cih ngimpi! Namun kenyataannya sekarang, ia tengah menunggu pria itu,  duduk di ruang  tengah sambil sesekali melirik jam dan pintu bergantian. Dia tidak bisa tidur dengan tenang sebelum pria itu kembali,  ini hal yang baru mengingat sebelumnya Anna tetap tidur nyenyak tidak peduli akan Gio. Dan yang mengherankan lagi,  saat Gio pulang dia malah bersembunyi seperti tidak ingin ketahuan kalau dia memang sedang menunggu pria itu. Anna merasa aneh,  semenjak beberapa hari yang lalu dia merasa ada yang aneh yang terjadi pada dirinya,  dan dia tidak menyukai perubahan yang terjadi. Karena dia merasa lemah dan merasa membutuhkan Gio. Lelaki itu terus berjalan lurus menuju ruang kerjanya.Tepat saat Gio menutup pintu Anna menghela nafas lega, dengan sedikit berlari dia masuk kedalam kamarnya, dia sudah tenang, karena Gio sudah pulang. Ini bahaya, dia tidak bisa seperti ini. *** Klontang, Klontang. Gio menggeliat kecil merasakan punggungnya yang terasa kaku. Ah lagi-lagi, dia tertidur di meja kerjanya, setelah semalaman memeriksa beberapa dokumen penting yang diberikan sekretarisnya beberapa hari yang lalu, Gio tidak sadar bahwa dia sudah tertidur di sana. Dengan gontai, Gio berdiri dan berjalan ke arah cermin, seorang pria bertubuh jakung dan berwajah pucat menatapnya balik. Gio tersenyum masam melihat penampilannya di cermin, tiba tiba dia merasa apa yang Anna ucapkan ada benarnya, dia memang menyedihkan. Kemeja yang dipakainya saat acara pertunangan kemarin belum di tukar bahkan kaus kakinya pun masih terpakai.. Gio kembali mengernyit mendengar suara berisik itu lagi “Dia ngapain sih?” Gio bertanya heran. Dengan malas, Gio keluar dari ruang kerjanya dan berjalan ke arah dapur. Di sana dia menemukan Anna tengah memegang panci dan sendok, dia menatap ke arah Gio prihatin. "Caramu membangunkanku, benar-benar menyebalkan!" ucap Gio sambil bersandar di tembok. Anna berbalik dan melirik pria itu sekilas. "Kalau aku masuk ke ruang kerjamu lagi, nanti kamu marah lagi. Makanya, ini satu-satunya alternatif buat bangunin kamu.." ujarnya sambil memindahkan sesuatu yang di masaknya kedalam piring. Gio mengangkat bahu acuh dan menguap sambil merentangkan tangan yang terasa pegal. "Aku udah bikin sarapan, makan dulu abis itu baru mandi. Kamu, ada meeting kan jam delapan?" Gio terdiam sebentar, sampai akhinrya mengangguk canggung. Dengan perasaan aneh, dia menuruti apa yang Anna katakan. Anna meletakkan sepiring nasi goreng di depan pria itu dan tanpa Gio sadari, dengan tidak tahu malu perutnya langsung berbunyi kelaparan. Anna langsung membekap mulutnya dan tertawa,  Gio hanya mendelik sewot, tanpa banyak bicara langsung menyantap nasi goreng buatan Anna sampai tandas. "Buset, laper apa doyan?" Gio tidak menjawab dan langsung meminum jus jeruk yang juga sudah tersedia. "Makasih ya." ujar Gio sesaat setelah hidangan di depanya tandas. Anna tersenyum tipis dan mengangkat bahunya acuh.Gadis itu segera membersihkan meja dan membawa piring dan gelas Gio ke wastafel. Saat, Gio hendak berbalik untuk mandi, suara Anna menghentikan langkahnya. "Gi, aku ikut ke kantor ya hari ini?" “Mau ngapain? Tanya Gio heran. “Mama nyuruh aku ikut kamu, setelah dari kantor katanya Mama mau ngajak pergi arisan dengan teman-temannya.” Gio terdiam sebentar menatap Anna terlihat cuek,  pria itu kemudian tersenyum tipis dan mengangguk, “Sure. Siap-siap dulu sana.” "Okay!" ujar Anna, Gio hanya mengangguk lalu benar-benar berbalik dari sana. *** "Aku rapat jam delapan, mungkin selesainya jam sepuluh atau sebelas. Kamu mau nunggu di ruangku atau di cafe depan?" Gio menoleh ke arah Anna yang berjalan santai di sampingnya.  Gadis itu menoleh dan tersenyum tipis menjawab pertanyaan Gio.Mereka baru saja sampai di kantor, menyita perhatian seluruh karyawan. "Di ruang kamu aja, sampai Mama datang. Is that okay?" "Sure!" jawab Gio mengangguk kecil. Pria itu tiba-tiba berhenti yang otomatis membuat Anna juga berhenti, dia berbalik dan tanpa di cegah tangannya merapikan rambut yang jatuh menutupi wajah Anna, membuat Anna terkaget begitupun Gio sendiri, namun pria itu sama sekali tidak berusaha menjelaskan maksud tindakannya, karena itu semua dia lakukan begitu saja, dengan refleks. Melihat ekspresi kaget Anna yang berlebihan, Gio hanya mendengus kecil kembali berjalan sambil merengkuh pinggang sang gadis,  Anna diam saja dan berjalan mengikuti Gio. Namun, ketika langkah Gio terhenti untuk kedua kalinya serta tangannya yang melingkar di pinggang Anna otomatis terlepas, Anna menoleh mencoba melihat apa yang membuat pria ini bersikap demikian. Ketika itulah dia  melihat seseorang tengah berdiri di depan pintu ruangan Gio. Tersenyum manis, membuat jantung Gio berdebar tidak karuan. She's really back.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD