"M-Mama, kenapa di sini?" Tanya Gio yang masih belum sadar apa yang terjadi, dia mencoba bangun, namun pusing menyerang kepalanya.
Ketika Gio hendak berdiri, Mamanya langsung menjerit dan menutup mata.
"Jangan-jangan turun, Mama ga mau liat!" Gio mengernyit heran, masih belum mengerti apa yang terjadi. Saat Gio hendak turun kembali, Helni berteriak lagi.
"Ada apa sih, Ma?" Gio menghela nafas kesal, Mamanya benar-benar aneh.
Helni kembali menunjuk-nunjuk ke arahnya, Gio mengerutkan alisnya tak mengerti, namun sang ibunda masih menunjuk-nunjuknya dengan cepat, tak mau melihat. Gio melihat tubuhnhya dan terkaget ketika menyadari dia tengah bertelanjang d**a, matanya membulat dan dia merasa darahnya turun ke kaki saat melihat Anna di ranjangnya.
"Holly s**t-" Umpat Gio, dia langsung menoleh ke arah Mamanya.
"It's not like what you think Mom-" Gio berucap panik, segera turun dari ranjang dan mendesah lega saat mengetahui dia masih memakai celana.
"Mama ga tau harus ngomong apalagi!"
Gio merasa langitnya runtuh saat itu juga, sementara Anna masih terlelap dalam tidurnya. Gio segera berlari ke arah mamanya dan menggeleng berkali-kali.
"Ma, I swear. ini ga seperti yang Mama bayangkan-"
Suara Gio ternyata menganggu tidur lelap Anna, dia segera terduduk dan mengerjap mengumpulkan nyawanya. Tanpa menyadari keadaan sekitarnya, Anna langsung bangun dan berjalan keluar tanpa memperdulikan dua pasang mata yang menatapnya.
"Ntar, kalo udah ngomongnya. Jangan lupa makan sup lo ya, udah gue panasin, Aduh pegal banget badan guee!"
Masih dengan mata yang setengah tertutup Anna berucap dan melenggang keluar dari kamar Gio. Tepat saat ia berada di ambang pintu, dia menyadari sesuatu yang aneh. Kenapa dia ada di kamar Gio? Sontak mata Anna membulat dan badannya menegang, dengan gerakan kaku, dia berbalik dan menatap dua orang di depannya. Saat matanya menangkap Gio, Anna sontak berteriak kencang.
"AAAHHH.."
***
Ini semua tidak benar.
Ini gila. Ini tidak mungkin terjadi.
Ini semua tidak mungkin terjadi.
Berulang kali Anna mengucapkan kata-kata itu di dalam hatinya sementara dia menatap kesekelilingnya dengan perasaan kalut, tangannya saling meremas di atas paha, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
“Jadi?”
Seluruh mata kini kembali menatapnya, mencoba menilai dirinya, Anna merasa mati kutu. Aksiden ‘kepergok’ tadi ternyata di perbesar-besarkan oleh Ibunda Gio, wanita paru baya itu masih tampak histeris sekaligus excited saat ini di tempat duduknya. Anna tidak bisa membedakan ekspresinya.
“Jadi apa?” Gio bertanya gusar. “Ga ada apa-apa kok diantara kami berdua!” sentaknya, lalu mengedarkan pandangan kesekeliling. Omanya membuang muka.
"Ga ada apa-apanya gimana? Orang tadi Mama lihat kamu-" Helni menyudutkan namun Gio lebih dahulu memotong.
“Itu cuman kesalah pahaman Ma, Pa, magh ku kambuh dan Anna bantuin aku, itu aja kok…” bela Gio, mencoba menjelaskan, sementara di sampingnya, Anna menunduk, menyembunyikan wajah, tidak tahu harus berbuat apa.
“Tuhkan Ma, cuma salah paham…”
Anna seketika mendongak, saat suara berat itu terdengar. Dilihatnya, Tuan Pribaldi, ayah Giomencoba untuk berdiri dan pergi, dia terlihat sangat canggung. Pikirnya, Gio sudah dewasa dan tidak seharusnya dia mencampuri urusan putra semata wayangnya itu seperti ini.
“Papa!” Helni menegur, menyuruh suaminya untuk kembali duduk dan menatapnya sangsi, lelaki itu hanya bisa pasrah dan kembali duduk di tempatnya. Helni kemudia dia mengalihkan pandangannya kepada Anna dan Gio, lalu wanita itu berucap.
"Satu-satunya cara buat ngelurusin semua ini adalah kalian harus dinikahkan!”
Sontak semua mata tertuju pada Helni, Gio menatap Mamanya dengan mata membulat tak percaya, sementara Anna, wajah gadis itu pucat pasi. Ucapan Helni barusan bagaikan vonis hukuman mati untuknya. ‘Yang benar saja! Ini kan cuman salah paham?’ Batin Anna menjerit pilu.
"Gio kan udah bilang, ini semua itu salah paham Ma!" Sela Gio lagi, Pria itu masih mencoba meredam emosinya.
"Terus kenapa kalian sampai tidur, seranjang segala?" Gio kembali hendak menyela namun Mamanya memotong. "Kamu kenapa diam aja, Anna?"
Anna terkesiap saat namanya di sebut, dia bukannya tidak berkata apapun sedari tadi, Helni tidak mau mendengarkan penjelasannya dan bersikeras menuduh Gio dan Anna berbuat yang tidak senonoh. Akhirnya, dia memutuskan untuk diam, karena merasa apapun yang di katakannya tidak akan berpengaruh, terutama pada Mama Gio, yang sedari tadi ngotot untuk menikahkan mereka.
"Anu, Tante-"
Anna kembali menatap wajah-wajah di depannya, sebenarnya ada seseorang yang dia kenali disana, Omanya Gio. Dialah yang menjual apartement ini ke kepada Anna, tapi Anna sudah mencoba menjelaskan kesalah pahaman ini berawal dari itu semua, namun Oma Gio tak bergeming. Anna menghela nafas, berfikir bahwa mereka memang sudah bersalah, semenjak perjanjian itu di mulai, mereka memang sudah melakukan kesalahan.
` "Mama ga tau harus ngomong apa lagi sama kalian, kalian udah dewasa. Tapi jujur, mama kecewa sama kamu Gi. Harusnya kamu tau mana yang benar dan yang salah, bukan kayak gini!" Helni berucap lirih. Di raut wajahnya tampak penyesalan yang amat dalam.
"Pernikahan memang satu-satunya jalan, sebelum orang lain tau. Kamu bisa kejebak skandal besar Gi. Gosh, I dont know what to say..." Seorang pemuda berkacamata hitam yang angkat bicara.
Anna mengusap wajahnya menyesal. Sadar dirinya dan Gio tidak akan bisa mengelak lagi saat Papa Gio akhirnya angkat bicara. Anna benar-benar tidak menyangka, di umurnya yang ke dua puluh empat tahun, dia harus menikah dengan seseorang yang baru saja di temuinya beberapa minggu yang lalu dan hanya karena sebuah kesalah pahaman. Harusnya dia mengikuti saran Papanya dulu, untuk menyewa seorang pengacara, untuk membantunya di keadaan terdesak sepertu ini. Namun apa boleh di buat, nasi sudah menjadi bubur. Pernikahan sudah di tetapkan.
Dan Anna yakin, pagi itu masuk kedalam pagi terburuk dalam hidupnya, karena lusa adalah hari pertunangannya dengan orang yang baru di kenalnya tidak lebih dari tiga minggu.
***
Jangan langsung percaya pada apa yang terlihat, karena garam saja kadang terlihat seperti gula. Sepertinya Anna mulai percaya hal tersebut, semua ini berawal dari sebuah kesalah pahaman yang terlalu di perbesar-besarkan, tak ada yang mau mendengar penjelasannya. Mereka lebih percaya dengan apa yang mereka lihat, ketimbang menjelaskan penjelasan logis dari dirinya dan Gio. Dan, sekarang apa lagi yang bisa dia perbuat. Semuanya sudah di putuskan.
Gio mondar-mandir di depan pintu kamar wanita yang dari tiga jam yang lalu tidak menampakkan batang hidungnya. Dia ragu, antara masuk atau tidak. Anna memutuskan untuk tidak berbicara dengannya semenjak beberapa waktu yang lalu, hal yang membuat Gio semakin merasa serba salah.
Keinginan Gio untuk beranjak dari depan pintu itu sirna saat dia mendengar suara isak tangis dari dalam ruangan, melupakan gengsinya yang selangit, Gio segera mendobrak masuk, matanya menjelajahi seluruh ruangan. Mencoba mencari keberadaan Anna. Dan tepat di dekat balkon, dia melihat Anna tengah berdiri menatap ke arah luar, rambutnya bergoyang-goyang di terpan angin. Isakannya terdengar jelas ke seluruh ruangan, Anna sama sekali tidak berniat untuk meredam tangisnya.
"Anna?"
Gio mendekat dengan hati-hati dan terkesiap kaget saat gadis di depannya makin menangis histeris.
"Aku ga mauuu huaaaaa, ga mau nikah sama kamu, ga mau! Apa kabar masa depan gue?” ucapnya masih terisak, air mata meluncur bebas membasahi pipinya, hidung dan matanya memerah karena kebanyakan menangis.
Gio mendengus. Ah, hilang sudah semua kata-kata manis yang ingin diucapkannya untuk menenangkan gadis itu. Dia mendekat dan menatap Anna yang masih terisak dari samping.
"Hei, ternyata kamu lebih jelek ya kalo lagi nangis!" Godanya, mencoba mencairkan suasana. Terlupa dengan penghinaan secara tak langsung yang di berikan oleh Anna tadi.
"Bodo!" ucap Anna di sela isakannya.
Setelah itu hening, Gio dan Anna sama sama terlarut dalam pikirannya. Nanti malam adalah acara pertunangan mereka. Percaya atau tidak, Anna bahkan belum memberitahukannya pada Papanya ataupun Flo. Sebenarnya tidak tahu bagaimana memulainy, selama dua hari ini, dia hanya berdiam diri dikamarnya, tidak peduli akan deringan ponsel yang memekakkan telinga.
Dia yakin itu adalah telfon dari Flo yang menanyakan kebenaran berita yang akhir-akhir ini mengguncang tanah air. Para wartawan sengaja membesar-besarkan berita tersebut. Beberapa majalah bahkan dengan terang-terangan membuat headline seperempat halaman, tentang pernikahan putra dari orang yang berpengaruh diperekonomian indonesia ini.
Tidak jauh berbeda dengan Gio. Semua persiapan acara pertunangan sudah dipersiapkan dengan matang oleh keluarganya. Waktu seolah membelit leher keduanya, Mama dan Omanya terlihat terlalu antusias, Gio bahkan curiga kalau semua ini sudah direncanakan sebelumnya.
"Saya…” Mata Gio melebar, sadar kalau dia masih berbicara informal dengan Anna, hal yang selalu di lakukannya kepada orang asing, namun Anna? Masihkah gadis ini di sebut orang asing dalam hidupnya?
Gio berdehem mengulang pernyataannya, “Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi, ini bener-bener udah diluar kuasaku…"Ucapan Gio diakhiri oleh isak tangis Anna. Gadis itu tidak menjawab, hanya isak pilunya yang terdengar. Gio melirik Anna dan merasa kasihan dan bersalah, dengan segenap keberaniannya Gio merengkuh Anna kepelukannya dan membiarkan gadis itu menangis di dadanya.
Sepertinya, mereka harus segera berdamai dengan takdir.
***
Mata elangnya membulat melihat headline surat kabar yang baru di bacanya, bibirnya bergetar membaca kata demi kata yang tertera, tepat setelah keseluruhan berita itu terbacay, tubuhnya melorot kelantai dan ketakutan dengan segera melingkupi tubuhnya.
Lelakinya telah berpaling, dia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat.