bc

Mengganti Pintu Surga : Pewaris Idaman Wanita

book_age16+
336
FOLLOW
6.3K
READ
revenge
family
HE
opposites attract
dominant
badgirl
boss
drama
bxg
abuse
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Nadias telah melalui seluruh masa mudanya untuk taat pada suami dan menjadi ibu yang baik. Namun disaat salah satu anaknya sakit, sang suami, Heru, justru malah berpoligami dengan dalih merasa kurang perhatian dari Nadias. Setelah dua bulan berlalu, ia tahu alasan dirinya dimadu bukan kesalahannya tetapi karena kesalahan Heru sendiri. Nadias tak mau lagi menjalani pernikahan ini dan ingin mengganti pintu surganya, tapi hal itu sulit karena beban ekonomi dan ketiga anaknya. Bisakah Nadias tetap bahagia dipernikahan ini atau ia memilih untuk pergi?

chap-preview
Free preview
1. Hamil Duluan
"Mas, sudah sampai mana sekarang?" tanya Nadias pada suaminya melalui saluran telepon. "Mas masih di rumah Kartika," jawab suaminya, Heru, sambil bisik-bisik. "Kok belum jalan? Sejam lagi kita harus berangkat kemoterapi Ade, loh. Lagian Mas juga di sana udah delapan hari, katanya bisa adil. Kan harusnya tujuh hari-tujuh hari," protes Nadias. "Masalah itu bisa diatur. Minggu depan Mas di tempatmu delapan hari juga. Janji! Tapi gini, ada hal yang Mas lupa. Hari ini mau ada syukuran empat bulanan, jadi Mas mau di sini dulu, baru balik ke rumah malam hari. Kemo Ade bisa di jadwal ulang jadi besok kan?" Mendengar jawaban suaminya yang ia nikahi selama tujuh belas tahun membuat fokus pembicaraan terhadap kemoterapi teralihkan. "Syukuran empat bulanan apa, Mas?" Tanya Nadias heran. "Ya, syukuran empat bulanan hamil Kartika toh," jawab Heru balik heran dengan pertanyaan Nadias yang menurutnya tak perlu ditanyakan. Nadias terdiam mendengar jawaban suaminya ini. Ia sedang mencerna dan mengingat-ingat sesuatu. "Empat bulan? Kamu gak salah? Kalian baru menikah dua bulan kenapa kok bisa syukuran hamil empat bulan?" tanya Nadias dengan suara lantang. "Eh, eh," Heru gelagapan, ia baru menyadari kekeliruannya. "Itu-itu," Heru tak tahu harus menjawab apa. "Jadi Kartika sudah hamil dua bulan pas kamu nikahi?" Nadias langsung paham apa yang terjadi sekarang. Heru panik, namun ia memilih diam karena tak berani menjawab pertanyaan istrinya. Untuk kedua kalinya perasaan Nadias hancur. Pertama saat suaminya memintanya untuk dimadu dan sekarang saat mengetahui jika suaminya ternyata telah mengkhianati dirinya dengan membawa nama Tuhan. Masih hangat kejadian tiga bulan lalu diingatan Nadias, saat suaminya meminta izin untuk menikah lagi dengan alasan Nadias tak mampu merawat dan melayani Heru seperti dulu lagi. Heru mengeluarkan semua dalil tentang poligami. Membawa alasan sunnah dan pahala syurga bagi istri yang ikhlas dipoligami karena Allah SWT. Ternyata, ayat suci hanya dijadikan alat untuk menutupi perbuatan zina yang dia lakukan. Tak hanya itu, Heru sampai mengajak Nadias untuk menemui guru spiritual mereka, Ustadz Abdullah, untuk menguatkan argumennya jika poligami itu lebih baik daripada syahwat lelaki disalurkan di tempat yang haram. Ustadz Abdullah menerangkan dengan baik dan ucapan Ustadz Abdullah semakin membuat Nadias merasa bersalah pada suaminya karena sejak anak ketiga mereka, Yusuf, sakit leukimia dia jarang memperhatikan Heru dalam urusan ranjang maupun isi perut. Akhirnya keluarlah izin untuk poligami itu dan sebulan setelah itu menikahlah Heru dengan Kartika yang diantar sendiri oleh Nadias. Menetes deras air mata Nadias detik itu juga. Ponsel di tangannya jatuh ke kasur. "Tega sekali kamu Mas menjadikan rasa bersalahku sebagai alat untuk menutupi kebejatanmu!" d**a Nadias sakit, ia ingin menghancurkan semua barang yang ada di dekatnya untuk meluapkan emosinya tetapi logikanya masih waras, jika ia melakukan itu hanya kerugian yang ia dapat. Ucapan itu sampai juga ke telinga Heru, tapi Heru tak mau ambil pusing. Toh ini sudah terjadi. Dipikirannya saat ini, ia ingin menyelesaikan urusannya satu persatu. Masalah terdekat yang harus ia urusi sekarang adalah empat bulanan Kartika. Urusan Nadias bisa nanti diselesaikan. Bukankah minta maaf lebih mudah daripada minta izin? *** Satu jam berlalu, Nadias menangis di tepian ranjang dalam kesendirian dan kesunyian. "Bu," suara ketukan pintu di depan pintu kamar. Itu adalah suara mbok Gito, orang yang membantu Nadias di rumah sehari-hari. "Jadi pergi gak?" tambah mbok Gito lagi sambil menggendong Yusuf. Nadias mengusap air mata di pipinya, ia ingat ada tugas lain yang harus ia lakukan. Setelah merapikan pakaian dan jilbab, Nadias kemudian keluar kamar. "Kami jadi pergi tapi ke tempat lain," jawab Nadias setelah membuka pintu. Mbok Gito yang sudah tinggal selama tujuh tahun dengan Nadias menyadari kalau Nadias baru saja menangis. "Barang-barang Maryam tolong di packing, Mbok. Baju tidur, baju main, baju sekolah sama buku mata pelajaran buat hari selasa," ucap Nadias sambil mengambil alih bocah empat tahun itu dari gendongan mbok Gito. "Iya, Bu," ucap wanita usia lima puluh lima tahun itu sembari pergi. Setelah semua barang beres, Nadias dan Yusuf langsung berangkat menggunakan mobil sedan berwarna merah yang dikemudikan sendiri oleh Nadias menuju rumah Retno, ibu mertuanya. Sementara anak keduanya Maryam akan dijemput nanti siang di sekolah. Menurut ilmu yang Nadias ketahui jika sedang bermasalah dengan suami berceritalah pada keluarga suami sebelum keluarga sendiri karena keluarga sendiri sudah pasti akan membela, sedangkan keluarga suami akan menjadi penengah. Hal itulah yang menjadi harapan besar Nadias pada ibu mertuanya. Pikirannya Nadias kalut, ia tak bisa berpikir, ia ingin mendengar saran yang bisa membuat pikirannya tenang. "Assalamualaikum, Bu," ucap Nadias ketika sampai di halaman rumah Retno. "Waalaikumusalam Warahmatullahi Wabarokatuh," jawab Retno yang sedang duduk meminum teh tawar, ia baru saja selesai merawat tanaman hias bersama Suroh, orang yang sehari-hari membantu dan menemaninya di rumah ini. "Nenek!" Teriak Yusuf. Retno kemudian memeluk cucuknya erat. Retno yang melihat anak mantunya menenteng tas dan datang tanpa anaknya sudah menebak jika Nadias dan Heru sedang bertengkar. "Loh, kalian kenapa datang ke sini gak ngabarin? Kalau ngabarin Nenek masak makanan enak," ucap Retno sebelum menanyakan alasan mereka berdua datang kemari. "Sekarang aja masak, Nek!" Ucap Yusuf polos. "Mana sempet. Udah mau jam makan siang ini. Suroh, beliin lauk makan di warung," pinta Retno pada wanita berusia empat puluh tahun itu. "Nggeh, Bu," jawab Suroh sambil merapikan peralatan berkebun. "Masuk, Yas. Simpan barang kalian di kamar," perintah Retno pada Nadias. "Iya, Bu," Nadias menuruti perintah ibunya dan masuk ke kamar yang biasa mereka gunakan kalau menginap di sini. Setelah merapikan barang di kamar, Nadias dan Yusuf duduk di ruang TV. Yusuf asik menonton TV sementara Nadias termenung menatap tembok kosong, ia sedang menimbang-nimbang waktu yang tepat untuk bercerita dengan ibu mertuanya itu. "Mungkin nanti malam aja aku ceritanya," batin Nadias. "Suroh udah pulang, Yas?" Tanya Retno membuat Nadias terkejut. "Sudah pulang, Bu," Nadias melihat ibu mertuanya sudah berganti pakaian. "Mungkin tadi dia mandi makanya sangat lama," pikir Nadias. "Suroh, makanan udah disiapin?" teriak Retno ke arah dapur. "Sudah, Bu," jawab Suroh yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. "Ayo makan dulu," ajak Retno pada Nadias. "Iya, Bu," Nadias berdiri dari sofa. "Ade, ayo makan dulu," ajak Nadias pada Yusuf. "Gak mau, gak laper," jawab Yusuf tanpa mengalihkan pandangannya dari TV. "Jangan bohong. Ini udah masuk jam makan, Adek, " ucap Nadias. "Udah kamu duluan aja yang makan. Nanti biar Ibu yang suapin Yusuf," ucap Retno. "Tapi, Bu," Nadias sedikit tak setuju dengan sikap Retno yang terkesan memanjakan Yusuf. "Itu kamu harus jemput Maryam 'kan di sekolah?" "Iya sih, Bu," "Ya sudah daripada buang waktu cepet kamu makan dulu," perintah Retno. Akhirnya, mereka makan berdua saja. Suroh juga tidak ikut makan malah sibuk dengan jemuran baju. "Apa yang membuatmu kemari berdua saja dengan Yusuf?" Tanya Retno di tengah makan. Nadias tidak menyangka jika Retno yang akan membahasnya terlebih dahulu. "Mas Heru ternyata selingkuh, Bu," ucap Nadias tanpa basa-basi. "Selingkuh? Padahal istrinya sudah dua?" Retno malah salah paham dan mengira jika Heru selingkuhnya sekarang. "Bukan, Bu. Mas Heru selingkuh dengan Kartika. Pas Mas Heru nikahin Kartika ternyata dia sudah hamil dua bulan," ucap Nadias penuh hati-hati takut ibunya tak terima kalau anaknya dituduh selingkuh. Retno menarik napas panjang. "Itu kebodohanmu sendiri," ucap Retno tegas. Nadias tersentak tidak menyangka kalau reaksi Retno akan sekejam itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.9K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
73.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook