2.Rahasia Ibu

883 Words
Tiba-tiba perut Nadias terasa penuh. Bukan penuh karena makanan, tetapi penuh seolah ada sesuatu yang menyakitkan mengisi lambungnya setelah mendengar perkataan mertuanya. "Sudah Ibu bilang dari awal untuk tidak mengizinkan Heru menikah lagi," ucap Retno setengah berbisik seolah suaranya takut tercuri orang lain dari meja makan ini. "Kamu sendiri yang bersikeras mengizinkannya. Kamu bilang pernikahan itu untuk kebaikan rumah tangga kalian dan kamu sendiri yang bilang akan belajar ikhlas." Retno mengingatkan kembali pilihan yang telah diambil Nadias tiga bulan lalu. Meskipun terkesan menyalahkan Nadias, sebenarnya Retno tidak menyukai perilaku anaknya. la juga tak senang dengan kehadiran Kartika dan keluarganya, bahkan sampai saat ini hati Retno tak menerima pernikahan ke dua Heru. Ditambah kabar dari Nadias hari ini membuat Retno semakin tak peduli dengan Kartika maupun calon cucu yang dikandung Kartika. "Aku begitu karena aku merasa bersalah pada Mas Heru yang tidak kuurus karena sibuk mengurus Yusuf, dan Mas Heru juga meyakinkanku lewat guru kami, dan ajaran-ajaran islam," jelas Nadias. "Untuk apa kamu merasa bersalah? Yusuf itu anak Heru juga. Justru Heru harus mengurus Yusuf, sebaik kamu mengurus Yusuf." Retno menyuap makanan kembali. Sepertinya selera makan Retno sama sekali tidak berkurang mendengar berita ini. Nadias terdiam. "Banyak sunnah yang berpahala yang ditinggalkan oleh Heru, kenapa dia harus memilih sunnah yang begitu berat? Padahal ilmu agama saja baru dia pelajari beberapa tahun terakhir ini. Apa kamu sama sekali tidak merasa disiasati dari awal?" "Aku percaya kalau Mas Heru sudah benar-benar hijrah dan dia tidak mungkin melakukan zina. Jadi, kupikir permintaan dia untuk menikah lagi memang untuk menjaga dirinya dari perbuatan zina. Aku gak pernah berpikir Mas Heru telah terlebih dahulu berzina." Nadias mecoba memberikan alasan lagi. "Sekarang mau gimana lagi? Dia sudah menikah, masa mau kamu suruh bercerai. Mana mau mereka!" Retno menahan emosinya seolah itu juga cerita miliknya. Nadias menundukan wajah. Semua perkataan ibu mertuanya benar, tapi bukan itu yang ingin dia dengar sekarang. Dia justru ingin mendengar perkataan yang menenangkan, yang membuat hatinya lebih bersabar, yang membuatnya tidak merasa menyesal mengizinkan mereka menikah atau berpisah dengan ikhlas. Nadias menangis, ia teringat kembali saat dia sendirilah yang menyiapkan pernikahan Heru. Nadias mengajak Kartika untuk memilih kain yang akan digunakan di hari akad, lengkap dengan pakaian untuk Nadias, Retno dan ketiga anak Nadias. Kue pernikahan, cincin, mahar, dan barang untuk seserahan dari pengantin pria untuk wanita. Bagaiaman perasaan Nadias saat itu? Pahit, sungguh pahit, tapi, ia berusaha menelan kepahitan itu dan menggantinya dengan senyum. Nadias harus berjuang sendiri menguatkan hatinya karena saat itu tak ada yang mendukung keputusan Nadias mengizinkan Heru menikah. Tidak keluarganya, tidak anak-anaknya dan tidak juga ibu mertuanya. Dihari pernikahan, Nadias harus berpura-pura kuat dan ikhlas karena melihat tangis Maryamlah yang pecah, ia tak ikhlas melihat bapaknya kawin lagi, tak ikhlas punya ibu baru, padahal ibu kandungnya sendiri masih ada. Jika tak ada Adam, anak pertama Nadias dan Heru yang menenangkan dan mengasuh Maryam, mungkin Nadias juga akan menangis lebih parah. Nadias mengusap air matanya berusaha melupakan kenangan itu. Nadias menarik napas panjang, menghembuskan dengan perlahan agar tangisnya berhenti. "Kalau tahu dari awal mereka selingkuh dan kekeh mau nikah, aku memilih untuk bercerai. Terserah mereka mau menikah atau apa." Bibir Nadias bergetar karena takut dengan ucapa perceraian yang ia katakan baru saja. Retno menatap Nadias dengan ekspresi 'bodoh sekali anak ini,'. "Jika ibu jadi kamu, mana mau ibu begitu. Kenapa dia yang berzina, tapi ibu yang harus menjanda, keenakan mereka!" ucap Retno dengan nada emosi. "Ini bukan masalah siapa yang enak dan siapa yang enggak, Bu. Masalahnya ini adalah perselingkuhan dan perzinahan. Aku gak bisa terima hal ini," terang Nadias dengan air mata terurai lagi. Nadias menarik napas panjang, seolah menguatkan diri. "Aku mau cerai saja. Mas Heru sudah zina, bohong, dan ngebodoh-bodohin aku, " sebuah kalimat yang terucap karena emosi. "Ibu tidak setuju. Untuk apa kamu cerai, toh nasi sudah menjadi bubur. Mau selingkuh atau tidak kenyataannya dia sudah kawin lagi dan akan segera punya anak. Apa bedanya jika kamu meneruskan perkawinan ini? Kalau kamu memilih cerai malah hidupmu sendiri yang akan ruwet. Emang kamu pikir enak jadi janda?" tegas Retno menolak keinginan Nadias. "Hatiku gak ikhlas lagi seperti dulu. Itulah bedanya, Bu. Tidak akan ada surga bagiku kalau menjalani pernikahan ini." Suara Nadias tak gemetar lagi justru terdengar sangat kuat, ia yakin pilihan yang ia ambil tepat. "Dengarkan ibu. Ibu akan ceritakan padamu cerita yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk Heru," ucap Retno serius. Nadias menelan ludah. Cerita apa yang akan mertuanya kataka? Kemudian, Retno melanjutkan lagi ucapannya, "Ayah sebenarnya juga selingkuh. Saat itu usia Heru sepuluh tahun, ayah datang pada ibu dengan seorang perempuan yang sudah hamil empat bulan. Dia meminta untuk menikahi wanita itu. Kamu tahu apa yang ibu katakan?" Nadias menggelengkan kepalanya. "Ibu bilang pada ayah 'terserah kamu mau apakan wanita itu dan anaknya, yang jelas jangan sampai keluarga besar dan Heru tahu kebusukanmu'. Ibu tak tahu mereka menikah atau tidak tapi yang ibu tahu wanita itu melahirkan anaknya, bahkan anak kedua dan ketiganya. Ayah jarang pulang, hanya pulang diakhir pekan dengan alasan sibuk bekerja. Ibu tidak peduli, ibu membebaskan ayah melakukan itu dan pada akhirnya ketika ayah mulai sakit-sakitan ayah kembali pada ibu. Ibu meminta semua aset hanya atas nama ibu dan Heru, sehingga wanita selingkuhan itu dan anak-anaknya tidak mendapatkan sepeserpun. Itulah hasil kesabaran yang akhirnya berbuah manis." Wajah Retno terlihat menang menceritakan hal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD