"Astaghfirullah." Nadias terkejut mendengar fakta bahwa ayah mertuanya juga selingkuh sampai hamil di luar nikah.
"Apa ini yang disebut buah jatuh sepohon-pohonnya?" batin Nadias.
"Jadi, lebih baik tidak usah bercerai dan biarkan mereka hidup di bawah tanah seperti tikus, gimana?" usul Retno.
Nadias sama sekali tidak sepemikiran dengan Retno. Menurut Nadias apa yang sudah ibu mertuanya lakukan itu zolim terhadap diri sendiri dan orang lain. Meskipun begitu, Nadias enggan mendebat prilaku ibu mertuanya ini. Masalahnya sekarang lebih penting.
"Entahlah, Bu. Aku belum bisa berpikir jernih. Aku mau jemput Maryam saja," ucap Nadias.
Retno tidak menahan kepergian Nadias.
Setelah mencium tangan Retno, Nadias pergi. Sebisa mungkin ia berjalan tanpa suara ketika sampai di ruang tv. Ia tak mau jika Yusuf menyadari kepergiannya. Kalau Yusuf tahu sudah pasti dia ingin ikut.
***
Nadias dan Retno tidak menyinggung lagi pembicaraan mereka siang tadi di meja makan. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing sampai malam.
Retno bermain dengan kedua cucunya, sementara itu, Nadias menyibukan dirinya dengan mendekatkan diri kepada Allah. Dia tidak tahu harus apa sekarang.
Tepat jam delapan malam telepon Nadias berdering. Itu adalah telepon dari Heru.
Nadias berpikir mungkin Heru sudah pulang dan menemukan mereka tak ada di rumah lantas menelepon Nadias.
Nadias membiarkan teleponnya terus berdering hingga tiga kali. Dia tidak berniat untuk mengangkat panggilan Heru malam ini.
Tak lama setelah telepon ke tiga sebuah pesan chat masuk.
Mas Heru :
Mas lelah banget habis acara di sini. Mas pulang besok. Tidurlah! Besok kita ke rumah sakit untuk kemoterapi Ade.
Mata Nadias terbelalak membaca pesan itu.
"Benar-benar tidak punya otak, hati nurani, dan etika!" caci Nadias.
Membaca pesan itu membuat Nadias yakin 100% untuk bercerai dengan Heru.
Keesokan harinya.
Panggilan dari Heru masuk saat mobil Nadias sampai di rumah sakit. Suaranya membangunkan Yusuf yang sempat tertidur. Kalau tak ada Maryam dalam mobil, Yusuf biasanya bosan dan akan tertidur. Maryam tadi sudah diantar ke sekolah sebelum ke rumah sakit. Maryam memang tidak pernah ikut ke rumah sakit saat Yusuf dikemo. Dia di rumah bersama mbok Gito.
Nadias ragu mengangkat panggilan itu, tapi sekarang, ia membutuhkan Heru di sini untuk Yusuf.
"Assalamualaikum, kamu di mana? Aku sudah di rumah," suara Heru di ujung telepon tanpa rasa bersalah.
"Waalaikumsalam, di rumah sakit," jawab Nadias singkat.
"Semalam kamu nginap di mana? Kata mbok Gito kamu gak di rumah?"
"Menginap di rumah ibu," jawab Nadias dingin.
"Ya sudah aku akan ke sana sekarang, Assalamualaikum,"
"Waalaikumusalam,".
Nadias menghirup udara panjang untuk melegakan sesak hatinya.
"Ma, Papa mana? Ade mau disuntiknya sambil dipeluk Papa," rengek Yusuf tiba-tiba.
Mungkin Yusuf si bocah cerdas itu tahu yang baru saja menelepon mamanya adalah papanya.
"Iya, Papa bentar lagi nyampe," jawab Nadias dengan wajah penuh senyuman.
Rengekan Yusuf inilah yang membuat Nadias berulang kali mengingatkan Heru soal jadwal kemoterapi. Yusuf selalu ingin digendong Heru saat sedang disuntikan obat. Jadi, harusnya Heru paham akan hal ini dan mementingkan kemoterapi Yusuf dibandingkan pengajian yang sebenarnya jadwalnya bisa diatur.
Proses kemoterapi Yusuf berjalan seperti biasa. Usai penyuntikan obat, Yusuf langsung dipindahkan ke kamar rawat inap.
Sikap Nadias hari ini yang tak banyak bicara dan dingin pada Heru membuat Heru merasa kesal, baginya seorang istri harus bersikap hangat dan manis depan suami. Terlebih kemarin malam Nadias sudah berani-beraninya menginap di rumah ibunya tanpa pamit.
Dia ingin menegur Nadias sejak tadi, tapi tak bisa karena ada Yusuf, dan sekarang saat Yusuf sudah tidur Heru harus ke kantor.
"Kamu kenapa semalam nginep di rumah ibu gak minta izin aku?" tanya Heru dengan suara tenang.
Nadias menarik napas panjang. Dia memilih diam kembali karena tak mau berdebat. Baru saja dia menidurkan Yusuf, dia takut kalau Yusuf akan terbangun.
"Aku sekarang akan ke kantor jadi akan kubicarakan kelakuanmu itu nanti pulang kerja," ucap Heru dengan gagah.
Mata Nadias terbelalak, ia tak menyangka jika suaminya ini tak peka dan tak merasa bersalah sama sekali.
"Aku ingin cerai," ucapan yang seharusnya Nadias simpan sampai tiga hari ke depan malah terucap secara spontan saat ini.
"Apa?" Heru menatap istrinya dengan wajah tak percaya seolah ia sama sekali tak punya dosa sehingga tak pantas dimintai cerai.
"Aku ingin cerai." Kali ini Nadias berbicara dengan penuh ketegasan.
"Udah-udah, aku gak ingin dengar omong kosong itu. Aku udah telat," ucap Heru sambil beranjak ke luar pintu mengabaikan ucapan Nadias.
Nadias tidak berusaha sedikitpun menghentikan langkah kaki Heru. Nadias juga setuju kalau membicarakannya sekarang tidak akan baik, tapi hatinya kecewa karena ucapannya dianggap omong kosong.
Heru kembali ke rumah sakit sekitar pukul sembilan malam. Saat itu kondisi Yusuf sedang tidak baik. Dia terus-terusan muntah dan menangis hingga pukul sebelas malam. Dan Nadias yang kelelahan langsung tertidur di ranjang yang sama dengan Yusuf.
Heru yang merasa kasian tidak jadi membahas pembicaraan tadi pagi dan ikut tertidur di sofa. Percakapan yang harusnya dibahas jadi tertunda. Bahkan tertunda sampai Yusuf pulang ke rumah karena Heru harus menginap di rumah untuk menemani Maryam.
***
Suatu malam setelah kepulangan Yusuf ke rumah.
Yusuf sudah terlelap saat Heru masuk ke kamar. Sementara Nadias masih terjaga meskipun matanya terpejam.
"Mas, aku tak main-main soal yang waktu itu," ucap Nadias saat Heru hendak meletakan kepalanya di bantal.
"Soal apa?" tanya Heru sambil duduk kembali.
"Minta cerai," jawab Nadias.
"Udah, Yas. Mas tahu kamu pasti ngomong gitu karena emosi jadi gak usah dibahas. Mas sudah memaafkan," jawab Heru enteng.
"Hah?" Nadias terkejut dengan kalimat terakhir Heru.