4. Watak Asli Suami

821 Words
"Kamuflatif sekali orang ini. Bisa-bisanya mencoba membalikan situasi seolah aku yang salah, " batin Nadias. "Kok bisa kamu pede banget ngomong kaya gitu, Mas? Salah aku apa?" Nadias geram sampai-sampai berdiri dari ranjang. "Aku itu suami kamu. Kemana pun kamu pergi harus atas izinku, surgamu ada padaku." Wajah Heru penuh kemenangan. "Tolong diingat, aku pergi karena kelakuan bejadmu!" Nadias semakin kesal. "Yas, Mas tahu kamu capek ngurusin Yusuf tapi jangan gitu dong. Jangan apa-apa jadi nyalahin, Mas," ucap Heru manis. "Mas, kamu gak sadar juga?" Nadias geram melihat kelakuan suaminya yang sok suci. Heru tak menjawab, hanya menatap wajah Nadias dengan wajah sedih. "Aku marah sama kamu karena Kartika hamil duluan sebelum kamu nikahi!" Nada Nadias meninggi membuat Yusuf sedikit bergerak. "Stt, pelanin suaramu nanti Yusuf bangun. Ayo, kita ke depan." Heru menggandeng Nadias ke luar kamar. Nadias menepis tangan Heru, tetapi langkah kakinya mengikuti langkah kaki Heru. Suasana ruang TV sepi karena semua orang sudah tertidur. Mereka duduk di sofa saling berhadapan. Dengan tatapan teduh Heru mulai berbicara. "Yas, itu kan sudah berlalu. Mas hanya berusaha untuk menebus dosa yang sudah terjadi dengan menikahi Kartika. Kartika mau gugurin anak itu. Jadi, terpakss Mas bertanggung jawab agar tidak ada dosa lagi yang kami perbuat. Percayalah cuma kamu yang Mas cintai." Mata Nadias memicing mendengar alasan-alasan Heru yang tak berguna lagi untuknya. "Kenapa kamu gak jujur dari awal kalau Kartika hamil duluan?" tanya Nadias. "Itu aib, aku malu. Mana bisa aku berkoar-koar," alasan Heru. "Memang siapa yang suruh kamu berkoar-koar? Kamu cukup ceritain itu sama aku." "Sumpah, Sayang, kalau Kartika tak hamil aku gak akan pernah menikah lagi. Kamu tahu kan aku sangat mencintaimu." "Gak akan pernah menikah lagi, tapi tetap berselingkuh?" Nadias langsung menuding. Heru terdiam, dia sadar kalau dia sudah keceplosan. "Bicaramu selalu berbeda-beda. Dulu, awal kamu mau nikah kamu ngomong apa? Sekarang kamu ngomong apa lagi. Gak usah banyak alasan, Mas. Kamu sudah selingkuh dari aku. Kamu sudah melanggar hal yang paling tidak boleh dalam agama. Aku benci itu," ucap Nadias tegas. "Maafin aku, Yas," Heru menangis sambil menaruh kepalanya ditangan Nadias. "Aku pikir kamu sudah berubah, sudah berhijrah, sudah ngerti agama lebih baik." Heru bungkam. "Suatu hari pasti aku akan maafkanmu tapi sekarang aku ingin kita pisah, " Nadias kekeh dengan keinginannya untuk bercerai. "Jangan meminta yang tak bisa Mas berikan. Mas gak mau cerai dari kamu. Kamu tahu Mas selalu mencintaimu dari pertama kita berjumpa sampai detik ini." Heru serius mengucapkan hal ini. "Kalau kamu mencintaiku tanpa henti, gak mungkin kamu selingkuh sampai Kartika hamil," "Itu cuma kesalahan. Mas kesepian pas kamu sering bolak-balik ke rumah sakit. Percaya sama Mas." Heru menggenggam tangan Nadias. "Kamu bukan anak kecil lagi, Mas. Harusnya kamu ikut berperan mengurus Yusuf. Yusuf itu anak kita bukan anak aku aja," teriak Nadias. "Mas khilaf. Mas mohon, maafin Mas. Mas janji kita akan tetap bahagia seperti sekarang." "Sejak kamu memutuskan untuk menikah lagi cuma kamu yang bahagia dan aku hanya berusaha bahagia. Tahu itu?" "Mana mungkin, apa yang berubah dariku setelah aku menikah lagi? Semuanya tetap sama kan?" "Banyak, Mas. Waktumu tak ada sebanyak dulu untukku dan anak-anak. Aku tetap akan memintamu untuk bercerai. Aku tak mau pengorbananku dimadu tidak membuahkan surga karena aku tak ikhlas setelah mengetahui jika Mas Heru dan Kartika telah mencurangiku jauh sebelum menikah." Heru menghempaskan tangan Nadias tiba-tiba dan itu membuat Nadias terkejut. "Coba saja kamu meminta cerai dariku. Aku tak akan menemani Yusuf dan membiayai pengobatan Yusuf!" Ancam Heru tiba-tiba. Nadias terkejut melihat prilaku Heru yang drastis. Padahal beberapa detik lalu, dia mengemis untuk tidak diceraikan, tetapi sekarang secara tiba-tiba dengan kasar menghempaskan tangan Nadias serta mengancamnya menggunakan Yusuf. Saking terkejutnya, Nadias tak mampu berkata. Dia hanya diam dengan mata melotot dan kepalan tangan penuh amarah. Heru merapikan sehelai rambut yang menempel di pipi kanan Nadias ke belakang telinganya. "Kamu paham kan apa yang aku ucapkan? Kalau kamu meminta-minta cerai lagi Mas gak akan membiayai dan menemani Yusuf untuk kemo," ucap Heru penuh ketenangan seolah hal yang ia ucapkan adalah hal sepele. Nadias mencoba mengembalikan kesadarannya. "Dia itu anakmu! Darah dagingmu! Mau kita bercerai atau tidak, peranmu sebagai ayah Yusuf tidak berhenti." Nadias dengan penuh ketegasan mengatakan itu agar ucapannya masuk ke dalam otak suaminya yang semakin tidak ia kenali. "Aku sangat menyayangi Yusuf saat dia lahir, tapi pas dia sakit rasanya kehidupan keluarga kita jadi berubah, terutama kamu. Bukankah lebih baik jika dia tidak menyusahkan ibunya lagi." Perkataan itu keluar dengan mudah dari mulut seseorang yang mengaku ayah pada Yusuf. Air mata membasahi mata Nadias tapi ia masih berusaha menahan isakan dan menjaga ekspresi wajah agar tak nampak lemah. "Aku sungguh tak suka melihatmu menangis, Sayangku," ucap Heru sambil mengusap air mata di pipi Nadias, lalu dia beranjak dari sofa dan pergi ke kamar seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah terdengar suara pintu ditutup tubuh Nadias ambruk ke sofa. Tangisnya pecah, dia tak menyangka lelaki yang ia nikahi selama 17 tahun ini bisa sekeji itu pada darah dagingnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD