Nadias terbangun sekitar jam tiga dini hari. Badannya terasa pegal dan kaku. Ternyata, ia tertidur di sofa ruang televisi dalam satu posisi. Setelah perdebatan dengan Heru, Nadias menangis tanpa suara sampai ia lelah dan tertidur.
Nadias bangun, ia hendak pindah ke kamar, tetapi seketika terhenti saat teringat bagaimana Heru menyumpahi Yusuf untuk mati.
Nadias menggelengkan kepala, menolak untuk melihat wajah suaminya. Dia lebih memilih pergi ke kamar Yusuf yang kosong untuk melakukan salat malam.
Suara adzan Subuh berkumandang. Rutinitas pagi sebagai ibu rumah tangga akan segera dimulai.
Sejujurnya, sudah tak sudi Nadias menyiapkan kebutuhan Heru lagi, tetapi tidak ada pilihan. Jika, Nadias tidak keluar kamar dan mulai melakukan kegiatannya seperti biasa, Maryam pasti akan bertanya-tanya. Terpaksalah dia memasak dan menyiapkan keperluan Heru untuk bekerja.
Maryam berangkat sekolah setengah tujuh pagi diantar Heru yang juga hendak pergi ke tempat gym sebelum bekerja. Setelah dari gym baru ia berangkat kerja.
Heru mendapat kehidupan yang cukup, mewah, dan nyaman sejak kecil karena orang tuanya sudah kaya. Ayahnya, Mahasura, adalah pemilik sebuah plaza di Jakarta. Kala itu plaza milik Mahasura terhitung sebagai salah satu plaza mewah. Meskipun sekarang sudah tidak karena banyak bermunculan mall yang lebih mewah.
Mahasura mewariskan plaza ini kepada Heru yang merupakan anak sah satu-satunya. Heru hanya melanjutkan dan mempertahankan pekerjaan ayahnya tanpa harus susah-susah memulai sesuatu dari nol. Bisa dibilang jalan hidup Heru tak pernah susah.
Setelah melihat suaminya pergi, buru-buru Nadias masuk ke kamarnya. Dia mengemas beberapa pakaian ke dalam koper. Rasanya ia sudah penat berada di rumah ini dan ingin pulang saja ke rumah orang tuanya di Bandung.
Nadias adalah wanita asal Bandung yang lahir dan besar di Bandung. Ayahnya seorang pegawai negeri di kantor gubernur kabupaten Bandung yang sekarang sudah pensiun dan ibunya guru TK yang sekarang sudah wafat. Ia memiliki seorang kakak perempuan bernama Nadine yang beda usia lima tahun. Nadine sampai sekarang tinggal di Bandung di rumah orang tua mereka.
Nadine menempuh pendidikan dibidang administrasi perbankan dan bekerja di bank swasta sampai usianya 35 tahun. Ia menikah dengan Latif seorang guru SMA. Mereka memiliki anak kembar yang sekarang berusia lima tahun. Karena usia anaknya sudah mulai besar, Nadine memulai bisnis hijab dengan suaminya sekitar satu tahun yang lalu.
Sedangkan, Nadias menempuh pendidikan di jurusan ilmu komunikasi hingga semester dua karena waktu itu dilamar oleh Heru yang merupakan kakak tingkatnya. Heru adalah mahasiswa S2, sejak melihat Nadias di kampus dia langsung menargetkan Nadias untuk jadi istrinya.
Setelah minta dikenalkan oleh teman, Heru langsung meminta Nadias untuk pacaran. Lalu, satu tahun kemudian setelah Heru lulus S2, ia langsung menikahi dan memboyong Nadias ke Jakarta.
Orang tua Nadias setuju karena yakin kehidupan anak mereka akan terjamin oleh Heru yang merupakan anak pemilik Mahasura Plaza.
***
"Kita mau ke mana, Ma?" tanya Maryam yang menyadari jalan yang sedang dilaluinya bukan jalan biasa menuju rumah.
Rasa kecewa, takut, dan muak pada Heru membuat Nadias nekad untuk pergi ke Bandung. Ia ingin pulang menenangkan diri dan bercerita masalah yang ia hadapi pada Nadine. Lebih tepatnya, Nadias ingin meminta dukungan secara moril dan finansial pada Nadine kalau nanti ia bercerai.
"Ma! Jawab dong," ulang Maryam karena Nadias lama menjawab.
"Hmmh?" respon Nadias.
Tiba-tiba perasaan Nadias untuk ke Bandung goyah. Suka tidak suka, Heru saat ini tetap suaminya. Bepergian perlu izin darinya kalau tidak mendapatkan izin justru dosa yang akan didapat Nadias.
"Mama pengen makan itu," ucap Nadias sambil menunjuk plang logo restoran fastfood.
Kemudian, Nadias mengemudikan mobilnya masuk ke rest area, tindakan itu spontan ia lakukan untuk memantapkan langkah selanjutnya yang akan ia ambil.
"C**? Bukannya di deket rumah juga banyak, Ma?" tanya Maryam heran.
"Yang ini beda," ujar Nadias mencari alasan.
Setelah memesan beberapa menu kesukaan Maryam dan Yusuf, Nadias membiarkan anak-anaknya menikamati makanan di meja terpisah, sementara ia pergi ke meja lain untuk menelepon Nadine.
Setelah menyedot minuman soda rasa mangga hingga habis, Nadias kemudian menelepon Nadine.
Tut-tut-tut! Suara nada tunggu panggilan.
"Assalamualaikum, Dek?" Suara Nadine terdengar di ujung telepon.
"Waalaikumusalam Warahmatullahi Wabarokatuh," jawab Nadias.
"Itu ditaruh di sana aja, Mang, " ucap Nadine pada orang yang ada di dekatnya.
"Lagi sibuk ya, Teh?" tanya Nadias lesu.
"Iya lumayan, Yas. Ini baru masukin kain-kain jilbab. Oh, iya, sekali lagi makasih banget kamu dan Heru udah bantuin Teteh,"
"Bantuin apa, Teh? " Nadias heran dengan ucapan Nadine.
"Ya, bantuan uang dari kalian," jawab Nadine masih tak sadar kalau Nadias tak tahu menau dengan topik yang Nadine bicarakan.
"Uang?" jawab Nadias semakin bingung.
"Loh, emang kamu gak tahu?" Nadine mulai menyadari.
"E-enggak,"
"Ehm," Nadine yang sekarang bingung harus menjelaskannya mulai dari mana.
"Dua hari yang lalu gudang jilbab Teteh kebakaran,"
"Hah, kebakaran?" Nadias memotong ucapan Nadine.
"Kok gak cerita ke aku? Teteh sama A Latif gak kenapa-napa kan? " Nadias panik.
"Tenang-tenang. Alhamdulillah gak ada korban jiwa karena posisi kebakaran malam hari, gudang kosong, gak ada karyawan yang kerja. Tapi, semua jilbab yang sudah dijahit sama bahan jilbab habis, " terang Nadine.
"Kok bisa Teteh gak ngabarin aku kalau dapat musibah gini? " protes Nadias.
"Waktu itu Teteh telepon kamu, tapi gak diangkat,"
Nadias mencoba mengingat-ingat, memang benar ada dua panggilan tak terjawab dari Nadine waktu itu, tapi Nadias tak sempat menelepon balik karena riweh mengurus Yusuf.
"Akhirnya, Teteh telepon Heru," lanjut Nadine "besok paginya, Heru tiba-tiba mengirim uang tujuh puluh juta katanya untuk modal," Nadine menceritakan dengan hati-hati.
"Teteh kenapa gak telepon aku lagi?" tanya Nadias muram.
"Eh, gak boleh ya?" Nadine merasa tak enak.
"Teteh pikir kalian udah diskusi. Maaf kalau kamu tersinggung. Apa Teteh balikin aja sisanya sekarang?"
Nadias menyesal karena membuat Nadine merasa bersalah.
"Gak usah, Teh. Maaf aku terlalu sensitif aja, padahal itu hal kecil doang." Nadias berusaha menghilangkan rasa bersalah Nadine.
"Maaf kalau kamu gak tahu, tapi Teteh makasih banget berkat bantuan Heru, Teteh gak harus pinjem sana-sini untuk cari modal lagi. Mana Teteh lagi ngerjain pesenan orang, bisa hilang kepercayaan mereka kalau sampai molor."
"Alhamdulillah kalau itu bisa membantu," ucap Nadias.
"Kenapa harus disaat seperti ini, sih? " batin Nadias.
"Keluarga kita lagi diuji kayaknya. Keuanganku setelah punya anak ekonominya goyah, Yusuf dan Ayah bolak-balik RS, lalu sekarang ini, baru mulai usaha malah kebakaran, " Nadine menghembuskan napas panjang.
"Tapi, gak apa-apa. Dibalik itu, aku senang karena kamu tetap hidup dengan bahagia di sana. Uang bulanan dari kamu yang dikirim buat Ayah bantu banget. Terima kasih, ya, " lanjut Nadine.
"Oiya, kenapa Heru belum cerita ya sama kamu? " lanjut Nadine lagi.
"Mungkin-mungkin, " Nadias mencoba mencari alasan "Mungkin karena kondisi Yusuf belum stabil."
Mendengar glagat Nadias seperti orang bingung membuat Nadine curiga ada yang tidak beres diantara suami istri itu.
"Kamu lagi berantem, ya? " tanya Nadine.
"Gak kok, Teh, " entah mengapa nyali Nadias tiba-tiba ciut untuk menceritakan masalahnya pada Nadine.
Nadias merasa kecil, merasa tak berdaya, sepertinya tak hanya dia yang bergantung pada Heru tetapi keluarganya.