Surat Yang Menyakitkan

574 Words
*~*~*~ Di masjid, Zara sedang berkumpul dengan remaja Santriwati lainnya, terlihat dari kejauhan Dea berjalan mendekati Zara. Dea menyodorkan sebuah kertas yang terlipat rapi untuk Zara, dan berkata "Mbak surat ini dari Walsa, adiknya Mas Ryan." ujar Dea menjelaskan Zara yang merasa heran pun menerima secarik kertas dari tangan Dea. "Surat ini untuk apa?" "saya nggak tau mbak. Mbak baca sendiri saja." jelas Dea lalu meninggalkan Zara dengan Teman-teman nya "ciyee... Dapet surat dari calon adik ipar ni ya? " canda Atun "Cie.. Cie.. Cie.. " semua teman bersorak "iihh apaan sih!" jawab Zara malu malu "coba buka ra," pinta Sari Zara mengangguk, dan mulai membaca surat tersebut. Teman-teman Zara tidak ada yang tau isi surat tersebut. Semua mata tertuju dengan ekspresi wajah Zara yang berubah, Zara mulai meneteskan air mata nya ketika sedang membaca surat tersebut. Setelah membaca surat tersebut, Zara berlari ke toilet dan menjatuhkan kertas yang ia pegang. Atun dan Vina mengambil surat tersebut lalu membacanya. "Untuk Zara... Dari Walsa lebih tepatnya adik dari mas Ryan. Mbak jangan deket lagi sama Kakak ku karena Ibu ku tidak menyukai mbak, dan juga Ayahku. Kami dari keluarga baik-baik mbak jadi Mbak nggak perlu masuk di kehidupan kami. Tolong ya mbak jauhi kakak ku. Maaf kalo ada salah kata, dan jangan kasih tau mas Ryan nanti aku di marahi. Kalau sampai mas Ryan tau pasti aku di tampol mbak, kan sakit. Yaudah jangan nangis ya mbak.. Walsa." isi pesan dari Walsa "Keterlaluan... " Ucap Atun Atun dan Vina mengejar Zara yang sudah menangis di pelukan Sari. Mata nya sudah bengkak dan memerah. Semua teman nya berusaha menenangkan Zara yang sedang menangis. "sudahlah ra.. Jangan di masukin hati, mungkin surat itu cuman bercanda." ujar Sari "nggak mungkin kan sar surat itu hanya candaan saja, bagaimana bisa ia menyuruhku untuk menjauhi Ryan. Sedangkan aku baru saja baikan sama Ryan. " jawab Zara yang masih menangis "udahlah lupakan saja ra.. Mungkin itu bukan ide nya atau bahkan orang lain yang menyuruhnya. Bisa saja kan?" ujar Vina berusaha menenangkan Zara "nggak mungkin vin.. Hikss hikss hikss.. " Vina, Atun dan Sari hanya memeluk Zara berusaha menenangkan teman nya yang sedang bersedih. Tiba tiba ada yang memanggil mereka. "hei.. Ayo masuk, rapatnya sudah mau di mulai. " ujar Ledi Zara menghapus air mata nya dan mencuci muka nya. Meskipun demikian, jejak di mata Zara masih terlihat. Mata yang merah dan sembab masih terlihat dengan jelas. Akhirnya Zara, Vina, Atun dan Sari masuk ke dalam ruang Rapat. Rapat pun dimulai, Zara sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Ia pun tanpa sengaja meneteskan air mata nya. "sudahlah raa.. " ucap Sari Zara menghapus air mata nya yang sudah menetes. "iya sar.." "udah ya, jangan nangis lagi. " Zara hanya mengangguk. Setelah kurang lebih satu jam, rapat pun selesai. Zara bergegas pulang untuk menenangkan diri. Ia melangkahkan kaki nya menjauh dari teman-temannya yang lain. "za... " panggil Atun "sudahlah Tun.. Biarkan Zara nenangin diri dulu." jelas Vina "iyaudah deh. Yuk kita pulang juga." ajak Sari "oke. " jawab Vina dan Atun *~*~*~ Sesampainya dirumah Zara masuk ke kamar dan menguncinya. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur miliknya, dan kembali menangis. "mengapa ini semua terjadi? Ketika aku dan Ryan sudah bahagia mengapa ada saja yang ingin menghancurkan itu? Apa salah ku dan Ryan? Aku hanya ingin bahagia bersama nya? Tuhan... Engkau Maha Mengetahui yang tidak Hamba Ketahui. Berikan aku petunjukmu. " batin Zara Setelah beberapa menit ia menangis Akhirnya Zara pun tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD