Setelah dari makam kami tak punya planning lain, cukup lama kami saling diam di dalam mobil hingga akhirnya aku berinisiatif untuk menanyakan apakah mereka mau ku ajak ke pantai. Sepertinya tawaranku di sambut baik oleh keduanya.
Ku tawarkan makan di sebuah restoran mall sambil mencari pakaian ganti untuk Guna sekaligus membelikan mobilan baru yang sudah ku janjikan. Selesai makan dan mendapatkan barang yang dibutuhkan baru lah kami menuju pantai. Aku memilih pantai yang tak terlalu jauh, kasihan Guna jika lelah di perjalanan nantinya. Namun baru setengah jalan aku ingat bahwa setelah makan siang tadi Guna belum minum vitamin.
"Kenapa berhenti?" tanya Kanza, dia pasti heran karena tiba-tiba saja aku berhenti di tengah jalan.
"Aku lupa kasih Guna minum vitamin" ucapku, namun tanganku sudah sibuk menelusuri dashboard mencari obat Guna.
"Bocil, minum obat dulu sini" ucap ku melihat ke arah belakang, bocah itu sedang asik menonton youtube gadis kecil pujaan hati katanya.
"Uuhhh" di lemparnya asal ponsel itu, bocah ini memang seperti itu, jika sudah melihat wajah kekasih idaman pasti tidak mau berpaling. Sama seperti ku.
"Anak pintar" ucap ku saat ia telah selesai menelan obatnya. Anak ini memang bukan tipe yang susah untuk minum obat, sebenarnya aku beruntung mengurus Guna, dia tipe anak penurut dan tidak mau membantah jika untuk kebaikannya, terkadang aku juga heran akan sifat yang dia miliki.
Ku telusuri kembali jalanan, kali ini kami sudah berada di kawasan pantai. Sudah tak terlihat lagi hiruk pikuk kendaraan, di kanan dan kiri hanya terdapat pohon. Hanya hitungan menit dari pintu masuk tadi kami sudah sampai, begitu mobil terparkir hamparan pasir putih dan birunya air seolah menyambut kedatangan kami.
Setiap hitungan 30 menit aku selalu memanggil Guna untuk menyuruhnya minum air. Hari ini anak itu terlihat sangat aktif, aku takut jika ia kekurang cairan nanti penyakitnya akan kambuh.
"Kamu sudah seperti orang tua kandungnya sendiri ya" ucap Kanza. Wanita itu meninggalkan Guna yang tengah sibuk dengan istana pasirnya.
"Waktu dia lahir aku yang pertama menggendong dan mengadzaninya. Panggilan Deddy Om juga di ajarkan Kak Gina agar Guna tidak merasakan rasanya tidak memiliki ayah"
"Sayang banget kamu sama Guna"
"Guna sekarang bagian hidupku, meskipun kadang aku suka merebutkan hal kecil dengannya. Aku punya cara sendiri untuk dekat dengan Guna, aku tidak ingin Guna merasakan kesepian, walaupun sebenarnya aku lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dari pada bermain bersamanya" ku lihat raut wajah Kanza, matanya mengembun memandang Guna yang asik bermain.
"Kamu tau gak Za...dulu ada perempuan yang dekat sama aku, tapi dia gak bisa nerima Guna dia selalu cari cara supaya aku mau kirim Guna ke panti. Tapi aku lebih milih Guna dari pada apapun, sebab Guna tidak memiliki keluarga lain selain aku" Ku lanjutkan lagi kalimat itu setelah melihat Kanza tak bergeming.
"Kasihan Guna dia hanya merasakan kasih sayang Ibu selama dua tahun, bahkan ayahnya entah dimana" kali ini cairan bening itu keluar dari pipi Kanza. Aku melihat ada raut penyesalan di wajahnya tapi aku tak tau untuk siap penyesalan itu di tujukan.
"Gunaa....waktunya minum air" panggilku, hanya butuh sekali panggilan saja bocah itu sudah datang berlari menghampiri.
"Haus ya sayang?" tanya Kanza melihat Guna meneguk air yang ku sodorkan dengan rakus.
Hanya di jawab anggukan oleh bocah itu, selesai minum dia kembali lagi bermain tapi kali ini bocah itu berjalan santai tidak lari lagi seperti sebelumnya.
"Kenapa di kasih minum terus sih? Anak kecil biasanya kalau haus nanti juga datang"
"Dia anak yang sangat istimewa buatku" Jawabku dengan pandangan mata terus menatap Guna.
"Maksudnya?" tanya Kanza.
"Guna itu beda sama anak yang lain. Dia kalau gak di ingatkan gak akan di lakukan sama dia" Jawabku singkat.
Ku lihat Kanza hanya mengangguk anggukan kepalanya, namun tatapannya mengarah pada Guna.
"Makasih karena mau menemani kami bermain hari ini" ucapku. Kali ini aku beranikan menggenggam tangannya. Awalnya ku pikir akan ada perlawanan namun ternyata tidak. Dia malah menatapku dengan senyum hangat.