Rolls-Royce Phantom hitam pekat meluncur perlahan memasuki halaman perusahaan dan berhenti tepat di depan bangunan perusahaan yang bertuliskan ‘Nocturne Corporation’. Pintu mobil terbuka dan seorang lelaki memakai setelan jas hitam keluar dari mobil.
Yah, lelaki itu adalah Ethan Michael Stone. Anak tunggal dari pasangan Arthur Stone dan Alena Grace. Ayahnya adalah Direktur di Nocturne Corporation, dan pemilik perusahaan sesungguhnya adalah Michael Stone -Kakeknya.
Selain anak orang kaya, Ethan juga terkenal dengan ketampanannya sehingga banyak wanita yang mengincarnya. Sayang, hingga saat ini Ethan masih belum punya pasangan. Akhirnya, banyak orang yang beranggapan jika Ethan Aseksual.
Hari ini, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-30. Kakek dan kedua orang tuanya melakukan rapat membicarakan pemilihan direktur baru. Dan Ethan sudah sangat yakin jika dialah yang akan menjadi Direktur selanjutnya menggantikan ayahnya.
“Siapa sih yang akan menggantikan Papaku jika bukan aku,” pikirnya.
Ethan menyapa beberapa staf di perusahaan. Ia masih melangkah dengan percaya diri memasuki lift naik ke lantai lima di mana rapat pemilihan direktur baru diadakan. Tak lama kemudian, Ethan tiba di lantai lima.
Tak jauh dari ruangan rapat, ia melihat Ibunya berdiri di depan pintu dengan wajah cemas. “Ma, kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah sekarang seharusnya berada di rumah Tante Yeni, yah?”
Bukannya menjawab pertanyaan Ethan, wanita paruh baya itu malah melayangkan pukulan di pundak anaknya dan memberikan kata-kata teguran. “Kenapa lama sekali! Kau lupa hari ini adalah hari yang penting! Bisa-bisanya kau telat!”
Ethan hanya tersenyum sekilas mendengar perkataan ibunya. Lelaki itu pun menenangkan ibunya dan meyakinkan jika tidak ada yang bisa menggantikan Ayahnya selain dia. Ayahnya adalah direktur tentu saja dialah yang mewarisi bukan oang lain.
Setelah menyakinkan ibunya Ethan pun kembali merapikan jas mahal yang ia kenangan agar tak kusut lalu memasuki ruang rapat dengan penuh percaya diri dan berwibawa.
Namun, saat ia masuk ke ruangan itu. Sebuah kalimat yang menggema di seluruh ruangan membuatnya jantungan. “Ethan Stone dan Felix Stone akan menjadi wakil Direktur. Keduanya akan berebut untuk menjadi Direktur selanjutnya.” Dan rapat pun akhirnya ditutup dengan ketukan palu tiga kali.
Ethan mendekati kakeknya yang duduk di kursi kekuasaan. Ia tak menyangka jika ia hanya menjadi wakil direktur, bukan Direktur yang ia bayangkan sejak tadi. “Kek, apa yang terjadi? Bukankah seharusnya aku yang menjadi direktur menggantikan Papa?”
“Kau belum bisa mewarisi perusahaan.”
“Tapi kenapa, Kek?” bukannya menjawab, Michael Stone malah meninggalkan ruangan dibantu oleh pengawal kepercayaannya.
Ethan beralih pada Papanya yang sejak tadi diam. “Pa, kenapa jadi begini? Bukankah seharusnya aku yang menjadi Direktur? Kenapa aku malah jadi wakil sih?”
“Dari pada kau tuntut penjelasan sama Papa, lebih baik kau bicara sama kakekmu.”
Ethan tampak kesal lalu beralih meninggalkan ruang rapat, tapi sebelum ia keluar ia sempat bertemu pandang dengan Felix -Sepupunya yang juga diangkat menjadi wakil Direktur sama dengannya. Tatapan Felix seakan sebuah tatapan ejekan untuknya.
“Tak akan kubiarkan dia mendapatkan perusahaan,” batin Ethan.
***
Di sebuah klub malam, terlihat sosok lelaki duduk menyendiri di sudut ruangan sambil menikmati beberapa botol minuman keras yang berjejer di mejanya. Beberapa dari botol tersebut sudah kosong dan beberapa masih terisi penuh.
Lelaki itu tak lain adalah Ethan Michael Stone – wakil direktur Nocturne Corporation. Sesekali ia tertawa lalu kembali terdiam seperti orang gila. “Menikah? Hahahaha. Untuk apa harus menikah? Aku tak butuh istri,” kata Ethan dengan nada serak.
Ia masih teringat akan perkataan kakeknya beberapa jam yang lalu yang menuntutnya harus menikah agar ia bisa menjadi direktur selanjutnya. Lalu, ingatannya kembali pada masa lalunya yang kelam di mana saat ia mencintai seorang wanita dan wanita itu malah mempermalukannya di depan umum. Hal itu membutanya benci pada wanita dan menganggap semua wanita munafik.
Kejadian masa lalu membuat Ethan menjadi sosok lelaki yang berbeda. Lelaki yang dulunya ramah dan baik hati kini bersifat dingin dan arogan. Ia membenci wanita dan lebih suka mempermainkannya. Ia hanya butuh wanita di atas ranjang, bukan menemaninya seumur hidup.
Di saat Ethan sedang mabuk berat, seorang wanita mendekat dan bergelut manja di lengannya. Merasa risih dan tak ingin diganggu, Ethan mendorong wanita itu menjauh. “Sya. Jangan dulu. Aku butuh sendiri,” kata Ethan pada wanita bernama Sya itu.
“Kenapa? Bukankah saat ini kau butuh aku?” tanya Sya sambil bergelut manja pada lengan Ethan berharap lelaki itu membalas belaiannya. Sayangnya Ethan menepis tangannya dengan kasar.
“Pergi.” Satu kata dengan nada dingin itu membuat wanita bernama Sya itu takut dan bergegas pergi. Ia tahu, jika Ethan sudah berkata dingin maka lelaki itu benar-benar tak ingin diganggu, jika tidak akibatnya akan fatal.
Ethan kembali meminum beberapa botol alkohol yang masih terisi penuh. Ia menenguknya dengan cepat hingga habis. Lalu ia keluar dari ruangan yang penuh dengan lautan manusia itu dengan langkah lunglai dan pandangan yang mengabur.
Ethan terus melangkah sempoyongan menyusuri koridor ruangan mencari jalan keluar. Namun, di tengah perjalannya ia melihat seoran wanita berlari ke arahnya.
“Anya,” kata Ethan dengan nada parau. Ingatan masa lalu pun kembali berputar pada otaknya bak kaset yang berputar. Dan dalam hitungan detik raut wajah Ethan berubah dingin dan penuh kebencian.
Di waktu yang bersamaan, Anya berlari ke arahnya dan di belakan wanita itu terlihat beberapa orang sedang mengejarnya. “Jangan lari kau!” pekik para lelaki itu.
Di saat Anya sudah lebih dekat dengannya, Ethan langsung menangkapnya dan mendorongnya ke dinding dengan kasar. “Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku,” kata Anya memberontak berusaha terlepas dari Ethan.
Ethan memperhatikan Anya dari ujung kepala hingga ujung kaki kemudian ia tersenyum mengejek. Kini Anya mengenakan gaun merah yang ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambutnya yang panjang dan terurai dan riasannya yang bold menambah kesan seksi.
“Tak kusangka sekarang kau menjadi wanita rendahan,” kata Ethan membuat Anya marah dan langsung menamparnya.
“Jaga ucapanmu. Aku bukan wanita seperti itu.”
Kesal karena Anya menamparnya, Ethan langsung mengambil tangan Anya lalu menyatukan dengan dengan tangan lainnya. “Apa yang kau lakuka-“ ucapan Anya terhenti saat Ethan tiba-tiba menaikkan kedua tangannya sehingga ia benar-benar terkurung oleh tubuh Ethan.
“Pelacur.” Satu kata itu kembali membuat Anya murka dan memberontak. Namun, ia teralihkan saat beberapa lelaki yang mengejarnya sejak tadi semakin mendekat.
“Lepaskan aku, Berengsek.”
“Tidak akan,” jawab Ethan dengan nada mengejek. Anya terus memberontak berusaha melarikan diri, tapi sayangnya Ethan memeganginya dan tak ingin melepasnya hingga para lelaki yang mengejar Anya mendekat.
“Siapa kau, berikan wanita itu pada kami,” kata salah satu lelaki itu pada Ethan dan meminta Ethan menyerahkan Anya pada mereka.
Anya pun menatap Ethan dengan kedua mata berkaca-kaca. “Aku mohon, tolong aku. Aku tidak mau ikut mereka. Aku bukan wanita seperti itu,” kata Anya memohon pada Ethan. Melihat Anya memohon padanya membuatnya semakin senang.
“Apa kau lupa apa yang telah kau lakukan padaku? Sekarang, aku akan membalasnya,” kata Ethan lalu mendorong Anya pada para lelaki itu.
“Tidak! Lepaskan aku.” Seketika Anya memberontak saat para lelaki itu berhasil menangkapnya.
Anya menatap Ethan dengan tatapan memohon berharap lelaki itu menolongnya. Sayangnya, Ethan malah berbalik dan membiarkan para lelaki itu membawanya.
Anya terus memberontak dan berusaha melepaskan diri dari para lelaki itu. “TOLONG! TOLONG! AKU MOHON SIAPA PUN TOLONG AKU!” Anya terus berteriak dan berharap ada yang menolongnya.
Karena Anya terlalu berisik salah satu dari lelaki itu mengeluarkan sebuah suntikan dan mengisinya dengan cairan bening. Setelah itu menyuntikannya pada tubuh Anya hingga akhirnya pandangan Anya pun gelap gulita.
“Tolong ...”