Lima jam sebelum kejadian.
Anya tengah menjaga ibunya di rumah sakit. Namun, seseorang menelponnya dan memintanya untuk keluar dari rumah sakit. Anya menurut begitu saja dan menunggu di luar sambil bertanya-tanya siapa yang telah menunggunya.
Akan tetapi, saat ia keluar, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di hadapannya dan tiga lelaki berbadan besar keluar lalu menyeretnya masuk ke mobil. Anya memberontak, namun kekuatannya kalah dari tiga lelaki berbadan besar itu.
Di dalam mobil, Anya ketakutan dan bertanya-tanya apa kesalahannya. Namun, para lelaki itu tak menjawab dan menyuruh Anya diam. Hingga akhirnya, mobil yang mereka naiki berhenti di sebuah bangunan besar.
Anya dipaksa keluar dari mobil dan masing-masing tangannya dipegang oleh dua lelaki. Anya hanya bisa pasrah dan berharap ini semua hanya mimpi.
Tak berselang lama, mereka pun tiba di salah satu ruangan di bangunan tersebut. Setibanya di dalam, Anya melihat seorang lelaki duduk di sebuah kursi membelakanginya. “Tuan, kami sudah membawanya.”
Lelaki yang duduk di kursi itu segera memutar kursinya dan menatap mereka. Lelaki itu terlihat tua dan beruban. Beberapa emas bergantungan di lehernya bahkan di jari-jari lelaki itu juga terdapat banyak cincin emas.
“Apa salahku? Kenapa membawaku kemari?” tanya Anya pada lelaki tua itu.
“Salahmu karena kau meminjam uang padaku,” kata lelaki tua itu membuat Anya kaget. Ia teringat akan aplikasi peminjaman uang yang ia hubungi beberapa minggu lalu.
“Mungkinkah orang yang aku hubungi dua minggu lalu adalah dia?” batin Anya bertanya-tanya.
“Orang yang kau hubungi adalah aku,” jawab lelaki itu seakan menjawab pertanyaan batin Anya.
“Kenapa membawaku kemari? Bukankah seharusnya masih ada satu minggu lagi untuk melunasi uang yang aku pinjam?” tanya Anya.
“Memang masih ada satu minggu untuk membayar hutangmu. Tapi bunganya harus kau bayar sekarang.”
“Bunga?”
“Apa aku tidak pernah memberitahumu? Meminjam uang padaku, kau harus menyetor bunga pinjaman setiap satu minggu. Dan minggu kemarin kau sama sekali tak membayar bunganya, maka dari itu aku minta anak buahku untuk menjemputmu. Kau harus segera melunasi bunga hutang yang ambil.”
“Be ... berapa bunganya?”
“420 Juta.”
“APA!” pekik Anya kaget. Jumlah yang harus ia bayar sangat besar dari jumlah uang ia pinjam.
“KAU MENIPUKU. AKU HANYA MEMINJAM UANG 30 JUTA!” pekik Anya marah. Namun, lelaki paruh baya itu malah tertawa pada Anya.
“Kenapa? Apa kau tidak bisa melunasinya?”
“Penipu,” kata Anya tak terima.
“Kau sudah menandatangi kontrak peminjaman, jika kau tidak bisa melunasinya maka kau akan berhadapan dengan hukum.” Seketika Anya terdiam, ia tak ingin berhadapan dengan hukum bagaimana dengan ibu dan adiknya jika ia dipenjara.
“Jika kau tidak punya uang untuk membayar hutang dan bunganya, kau bisa bekerja padaku.”
“Kerja?”
“Yah, setiap kau selesai dengan tugasmu hutangmu akan aku kurangi satu juta.”
“Benarkah? Kau tidak akan menipuku?”
“Tentu saja. Asal kau menurut dan tidak membantah.”
“Baiklah. Aku terima,” jawab Anya.
“Tapi kalau boleh tahu pekerjaan apa yang harus aku lakukan?”
“Nanti juga kau tahu.”
***
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam saat Anya di bawah ke sebuah ruangan. “Pakai baju ini,” ucap salah satu lelaki yang membawanya. Anya mengambil baju yang lelaki itu berikan padanya dan saat ia memeriksa baju tersebut, ia kaget.
“Baju apa ini? Aku tidak mau pakai ini.”
“Ini perintah. Kau harus menggunakan baju ini.” Lelaki itu memaksa Anya untuk mengenakan baju tersebut. Namun, Anya bersikeras untuk menolak. Hingga akhirnya salah seorang wanita seksi bergelut manja pada seorang lelaki tua yang melewati kamarnya, membuatnya mulai sadar akan sesuatu.
“Jangan-jangan pekerjaan yang lelaki tua itu maksud adalah menjadi p*****r? Tidak aku tidak mau jadi p*****r. Aku bukan wanita seperti itu,” batin Anya. Namun, ia juga tak bisa melarikan diri sekarang, apa lagi ia dijaga ketat oleh bawahan lelaki tua tempat ia meminjam uang.
“Aku akan memakainya.” Anya mengambil baju tersebut lalu masuk ke salah satu kamar. Ia berencana melarikan diri melalui jendela kamar, tapi harapannya pupus saat melihat jendela sudah ditutup dengan basi.
Tak bisa melarikan diri melalui jendela, Anya berencana kabur memalui pintu depan. Namun, saat ia mengintip ia masih diawasi.
Akhirnya, Anya memakai baju seksi tersebut dan memutuskan melarikan diri saat ia punya kesempatan nanti.
Setelah mengganti baju, Anya kembali menyusuri lorong bangunan sambil bertanya-tanya ia mau dibawa ke mana. “Yon!” seseorang berteriak keras memanggil sosok lelaki yang sejak tadi mengawasi Anya.
Lelaki bernama Yon itu tersenyum dan menyapa temannya dan keduanya pun mengobrol. “Ini saatnya kabur,” batin Anya.
Saat lelaki bernama Yon itu sibuk dengan mengobrol dengan temannya Anya pun melarikan diri. “Mau lari ke mana kau!” pekik Yon saat menyadari Anya melarikan diri.
Yon dan temannya pun mengejar Anya. Dan saat itulah Anya bertemu Ethan yang sudah mabuk berat dan membuat rencana pelariannya gagal.
Anya memberontak namun tak lama kemudian pandangannya mengabur dan akhirnya ia pingsan. Wanita itu pun diseret paksa ke salah satu ruangan. Dan di ruangan itu, seorang lelaki tua sedang menunggu. Yon dan temannya melempar tubuh tak berdaya Anya ke atas ranjang.
“Silahkan menikmatinya, Tuan. Wanita ini masih tersegel anda pasti puas mendapatkannya.”
“Terima kasih. Uangnnya sudah aku transfer.”
“Baik.” Yon dan temannya keluar dan menyerahkan Anya pada pelanggan yang sudah membelinya.
Lelaki tua itu pun tersenyum penuh gairah melihat lekukan tubuh Anya yang seksi. Ia benar-benar senang mendapatkan wanita yang ia inginkan. Bahkan mungkin lebih enak dari wanita-wanita yang telah ia tiduri sebelumnya.
Lelaki tua itu membuka baju atasannya lalu beranjak menaiki kasur ingin menikmati tubuh Anya yang masih tak sadarkan diri. Namun, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan seseorang memukul lelaki tua itu hingga pingsan. Lelaki yang baru masuk itu tak lain adalah Ethan. Entah apa yang merasuki lelaki itu hingga ia menyelamatkan Anya wanita yang sangat ia benci.
Ethan pun mengangkat tubuh Anya dan membawa wanita itu ke sebelah ruangan. Setelah itu membaringkan Anya dan tersenyum puas. “Mungkin ini adalah pembalasan yang terbaik untukmu.,” kata Ethan sambil tersenyum menyeringai.
Ethan pun melepas pakaian yang melekat pada tubuhnya, lalu ia menaiki kasur mendekati Anya yang masih tak sadarkan diri. Ethan mendekatkan tubuhnya lalu mengecup pelan bibir Anya dan menggerayangi tubuh wanita itu sepanjang malam.
***
Langit pagi merekah, biru muda dihiasi awan putih tipis. Udara sejuk dan segar membasahi bumi. Kicauan burung pun menyambut pagi hari yang cerah. Dan cahaya sinar matahari perlahan-lahan menyebar dan masuk ke sebuah kamar.
Sebuah kamar tepatnya di atas ranjang king-zize, selimut putih bermotif kupu-kupu sedikit berantakan, menunjukkan tanda-tanda penyatuan hangat terjadi semalam. Dua sejoli kini tertidur pulas dengan tubuh yang saling berdekatan. Dua sejoli itu tak lain adalah Anya dan Ethan.
“Eughh.” Ethan melenguh pelan saat kedua matanya terbuka. Wajah pertama yang ia lihat adalah Anya.
Sejenak lelaki itu menatap tubuhnya lalu beralih pada Anya. “Sial ... ternyata bukan mimpi,” batin Ethan. Lelaki itu beranjak dari tempatnya namun, ia tertegun saat melihat noda darah di atas kasur.
“Ternyata dia masih perawan?” batin Ethan tak menyangka. Semalam ia terlalu mabuk dan kelap mata. Bahkan ia menganggap Anya adalah seorang p*****r. Namun, setelah melihat noda darah di kasur. Ethan beranggapan jika Anya bukan p*****r.
Lelaki itu pun menghela napas lalu ia mengeluarkan dompetnya dan meletakkan beberapa lembar di tangan Anya yang masih tak sadarkan diri. “Mungkin ini cukup untuk tadi malam,” batin Ethan.
Ethan segera mengenakan pakaiannya lalu keluar meninggalkan Anya yang masih tak sadarkan diri di atas kasur.
***
Jam telah menunjukkan pukul delapan pagi saat Anya terbangun dari pingsannya. Saat ia bangun, ia mendapati dirinya polos tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Lalu beberapa lembar uang ada di tangannya.
Anya pun menangis sesenggukan tak menyangka apa yang terjadi semalam bukan mimpi. Itu semua nyata dan aset berharganya sudah diambil secara paksa. “Apa yang harus aku lakukan ... Bu ... aku sudah kotor.”
Sambil mengenakan pakaiannya, air mata Anya masih terus mengalir. Ia merasa bingung dan tak tahu harus melakukan apa lagi. Yang ia takutkan, bagaimana jika ia hamil? Ia tak tahu siapa lelaki yang menidurinya semalam.
Setelah mengenakan pakaian Anya pun segera keluar dari kamar tersebut. Ia menyusuri lorong bangunan mencari kamar tempat ia berganti pakaian. Namun, nasib sial kembali mendatanginya. Tak jauh dari tempatnya berdiri ia melihat Yon dan dua lelaki lainnya.
“Itu dia! Cepat tangkap wanita itu!”