2 Miliyar

1114 Words
Di ruangan yang sunyi, hanya ditemani deru AC dan detak jam dinding, Ethan bergelut dengan tumpukan berkas. Laporan keuangan perusahaan terhampar di mejanya, angka dan grafik seakan menari-nari di hadapannya, namun ia tak bisa fokus. Pikiran melayang menuju masa lalu yang membahagiakan dan kelam. Tepatnya, saat ia bertemu dengan sosok wanita yang pernah membuat jantungnya berdetak kencang. –Anya Aurelia. Memorinya penuh dengan wanita itu. Penuh dengan kenangan indah namun juga menyakitkan. Ia masih bisa merasakan bagaimana sakit yang ia rasakan saat dikhianati oleh orang yang cintai. Kejadian itu tak bisa ia lupakan. Tak! Ethan membuang berkas-berkas yang sejak tadi ada di genggamannya. “Tak bisa dibiarkan. Aku masih belum puas untuk membalasnya,” desisnya kesal. “Aku harus memberinya pembalasan yang lebih menyakitkan. Ia harus berlutut di hadapanku dan meminta maaf setelah apa yang ia lakukan dulu.” Tangan lelaki itu mengepal dan urat nadinya tercetak jelas di perpotongan lehernya yang menandakan ia sangat marah. Ethan pun mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu anak buahnya. “Cari dan selidiki wanita bernama Anya. Fotonya sudah aku kirim. Aku ingin kau bergerak cepat.” Setelah menghubungi anak buahnya, Ethan kembali untuk bekerja. Namun, ia kembali teralihkan pada ponselnya yang kembali berdering membuangnya kesal. “Ada apa lagi!” kata Ethan sedikit meninggikan suaran menganggap jika yang menelpon adalah anak buahnya. Akan tetapi, saat mengetahui siapa yang menghubunginya raut wajah lelaki itu berubah sedikit lebih lembut. “Iya, Ma. Aku lagi berusaha cari istri kok.” “Apa, perjodohan? Aku tidak mau. Lebih baik aku yang mencari sendiri.” Tiba-tiba Ethan meninggikan suaranya saat Ibunya menyarankan sebuah perjodohan yang tentu saja Ethan menolak keras. “Ma, beri aku waktu. Aku janji dalam satu minggu aku pasti mendapatkan calon istri dan bisa memenuhi keinginan kakek. Aku pasti tak akan tinggal diam. Aku tak akan membiarkan Felix mengambil alih jabatan yang seharusnya milikku,” kata Ethan lalu mematikan ponselnya. Setelah pembicaraan dengan Ibunya di telepon membuatnya malas untuk bekerja. Ia benar-benar pusing memikirkan keadaannya yang sudah didesak harus menikah secepatnya. “Bagaimana caranya aku mencari istri? Haruskah aku menyewa orang saja?” batin Ethan bertanya-tanya. Di saat ia sedang memikirkan cara mencari calon istri, tiba-tiba anak buahnya yang ia perintahkan mencari Anya menghubunginya. Lelaki itu pun segera membuka pesan yang baru saja dikirim oleh anak buahnya. Akan tetapi, raut wajah lelaki itu berubah drastis. Ethan bergegas mengambil jas dan keluar dari ruangannya menuju ke sebuah tempat. *** “Hiskkk. Aku mohon lepaskan aku.” Anya memberontak dan berusaha melepaskan diri dari dua lelaki berbadan besar yang memeganginya. “Kau berani sekali kau melanggar aturan. Kau telah membuatku rugi ratusan juta!” pekik seorang lelaki paruh baya di hadapan Anya. –Pak Rudi, lelaki tua yang telah menipunya setelah memberinya pinjaman. “Aku tidak mau jadi p*****r. Aku bukan wanita yang sepert-“ Plak! Perkataan Anya terpotong saat ia ditampar keras oleh Pak Rudi. “Kau bilang bukan p*****r? Lalu kenapa kau tidur dengan lelaki lain semalam hah?” Seketika Anya teringat akan kejadian tadi pagi. Ia mendapati dirinya telanjang di sebuah kamar dan ia melihat noda darah di kasur. “Kau tidak perawan lagi. Apa bedanya dengan pelacur.” “AKU BUKAN p*****r!” pekik Anya marah, ia benar-benar tak terima dengan perkataan Pak Rudi. Kesal karena Anya masih terus melawan, lelaki itu mengcengkram keras dagu Anya membuat Anya meringis kesakitan. “Saatnya kau bersiap-siap. Kau punya pelanggang baru,” kata Pak Rudi dengan nada mengejek. “TIDAK! AKU TIDAK MAU! LEPASKAN AKU!” Anya memberontak kuat berharap ia bisa melarikan diri dari tempat ini. Namun, apalah daya. Ia tak punya kekuatan untuk melawan. Akhirnya Anya hanya bisa pasrah dan menangis meratapi nasib saat dibawa ke salah satu ruangan untuk berganti baju. *** Anya duduk di tepi ranjang, tubuhnya gemetar membayangkan apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi. Ia berharap seseorang menolongnya, berharap ia bisa keluar dari belenggu yang mengikatnya. “Bu, apa yang harus aku lakukan? Hiskkk ...” Air mata yang sejak tadi ia tahan pun akhirnya jatuh begitu saja. Prang! Anya terdiam saat mendengar suara keributan di luar sana. Seakan telah terjadi pertempuran hebat. Wanita itu menghapus jejak air matanya lalu mendekati pintu untuk mendengar apa yang terjadi di luar sana. Namun, suara berisik yang dengar tadi tiba-tiba menghilang. Kini terdengar sunyi di luar sana. “Apa yang terjadi? Kenapa tidak ada suara lagi?” batin Anya bertanya-tanya. Di saat Anya sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi otaknya. Pintu kamar itu terbuka lebar dan sosok lelaki tampan berdiri di hadapannya lalu di belakang lelaki itu berdidi beberapa lelaki kekar berjas hitam layaknya seorang bodyguard. Yang lebih mengejutkan, Anya melihat semua anak buah Pak Rudi yang menjaga kamarnya terkapar di lantai. “Apa yang te-“ “Berisik,” kata Ethan memotong perkataan Anya. Lalu tanpa Anya duga, lelaki itu tiba-tiba mengangkatnya bak karung beras. “Yakk! Apa yang kau lakukan!” pekik Anya memberontak sambil memukul punggung Ethan. Namun, lelaki itu sama sekali tak melepasnya. “Turunkan aku, berengsek!” Anya terus memberontak dan memukul Ethan selama perjalanan di koridor. Hingga akhirnya, Ethan mulai kesal dan menurunkan Anya dengan kasar hingga wanita itu terjatuh di lantai. “Kau berisik sekali. Sudah untung aku menolongmu.” “Menolongku? Bukankah kau sedang menculikku?” tanya Anya balik dengan nada kesal dan marah. “Ka_” Perkataan Ethan terpotong saat Pak Rudi dan beberapa anak buahnya tiba-tiba muncul. Para bodyguarad Ethan bersiap untuk melawan anak buah Pak Rudi. “Lepaskan wanita itu. Wanita itu milikku!” Pekik Pak Rudi marah pada Ethan. Anya dan Ethan pun mengalihkan pandangan ke arah Pak Rudi. Ethan tersenyum mengejek. “Sekarang wanita ini milikku,” kata Ethan membuat Anya kaget. Anya menganggap jika sekarang ia sedang diperebutkan. “Dia milikku. Ia harus membayar hutang dan membayar kerugian yang aku alami kemarin. Jika kau ingin memilikinya, kau harus membelinya.” Ethan menatap Anya sejenak. “Mungkinkah kerugiannya karena aku meniduri Anya semalam?” batin Ethan saat mengingat kejadian semalam. Lelaki itu pun kembali menatap Pak Rudi. “Berapa harganya? Akan aku bayar.” “2 Miliyar.” “APA!” pekik Anya kaget. Dua miliyar adalah jumlah yang sangat banyak. Tentu saja, lelaki yang ingin membelinya itu tak akan sanggup. Ethan pun menatap salah satu anak buahnya. “Jhon, kirim uangnya sekarang,” kata Ethan. “Tapi, Tuan. Bukankah itu jumlah yang sangat banyak?” “Kirim saja.” “Baik, Tuan.” Setelah berbicara dengan Jhon anak buahnya, Ethan kembali memegang tangan Anya dan membawa Anya keluar dari bangunan tersebut. Anya hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah kaki dari lelaki yang baru saja membelinya dengan jumlah yang sangat besar. “Kenapa dia mau mengeluarkan uang yang banyak untukku?” “Dan kenapa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD