Aset Berharga Yang Telah Hilang

1010 Words
Kini Anya dan Ethan berada di dalam mobil yang sama, entah ke mana lelaki itu akan membawanya. Anya terus menatap sosok lelaki yang duduk di sampingnya. Ada banyak pertanyaan terus mengerubungi otaknya mengenai sosok lelaki di hadapannya, yang hingga saat ini belum ia tahu namanya. Ia ingin bertanya, namun wajah lelaki itu seakan memintanya untuk diam. Akhirnya, Anya hanya bisa diam dengan seribu pertanyaan di otaknya. Dreeet! Tiba-tiba ponsel Ethan bergetar, pandangan Anya pun teralihkan pada tangan lelaki itu yang mengambil ponsel di saku jas mahal yang Ethan kenakan. “Ya, Ma. Jangan terlalu khawatir, aku sudah punya calon istri,” kata Ethan sambil melirik ke arah Anya. Saat Ethan meliriknya Anya menunduk dan mengalihkan pandangannya tak ingin ketahuan oleh lelaki itu jika sejak tadi ia memperhatikannya. “Mama tenang saja. Aku pasti akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku,” kata Ethan masih mengobrol dengan Ibunya ditelepon. Mendengar Ethan menyebut kata Mama membuatnya teringat akan Ibunya yang masih terbaring lemah di rumah sakit entah bagaimana keadaan ibunya saat ini. Ia harus segera ke rumah sakit, sudah tiga hari berlalu sejak ia diculik oleh penagih hutang. “Hentikan mobilnya,” kata Ethan memerintahkan supir. Mobil pun berhenti, Ethan segera keluar dari mobil dan mengobrol dengan Mamanya melalui telepon. “Ini kesempatan bagus untuk kabur. Aku harus ke rumah sakit,” batin Anya saat menyadari punya kesempatan kabur. Diam-diam Anya membuka pintu mobil, lalu bergegas keluar. Anya membungkuk agar tak terlihat oleh Ethan yang masih sibuk mengobrol dengan ibunya di telepon. Namun, keberuntungan masih belum berpihak dengannya. Ia lupa, di dalam mobil ada satu pengawal lagi. Dan pengawal itu memergokinya. “Kau mau ke mana?” “Ahh, aku hanya ingin menghirup udara segar,” kata Anya berbohong lalu kembali masuk ke mobil. Di dalam mobil, Anya menghela napas karena tak bisa kabur. “Bagaimana caranya aku kabur dari sini? Aku harus ke rumah sakit,” batin Anya merasa sangat cemas akan keadaan ibunya yang sudah tiga hari berlalu tak ia kunjungi. Tak lama kemudian, Ethan masuk dan menatap Anya dengan tajam. “Kau berencana kabur?” “Ti ... tidak. Aku tidak kabur,” jawab Anya berbohong dengan sedikit tersenyum menyakinkan lelaki di hadapannya. “Dengar, aku sudah membeli mu dengan uang yang sangat besar. Jadi, menurutlah. Jangan membuatku kecewa telah mengeluarkan banyak uang untukmu.” “Iya, aku tidak akan kabur. Tapi, kalau boleh tahu. Kenapa kau menolongku? Lalu siapa kau sebenarnya?” pertanyaan terakhir Anya membuat Ethan naik darah. Ethan memegang kerah baju Anya kasar sambil menatap wanita itu tajam. “Kau bertanya siapa aku? Apa kau sedang mempermainkanku?” Anya menaikkan alisnya bingung. Ia sama sekali tidak mengenal lelaki itu. Namun, dalam hitungan detik kemudian, ia teringat akan kejadian semalam. Tepatnya, saat ia ingin melarikan diri dan sosok lelaki tak dikenal menggagalkan rencana pelariannya. “Kalau tidak salah lelaki itu mirip dengannya. Mungkinkah,” batin Anya. Anya balik menatap Ethan dengan tatapan tajam. “Kau! Yah, aku sudah ingat. Kau lelaki yang telah membuatku gagal melarikan diri,” kata Anya mulai marah dan berusaha melepaskan tangan Ethan dari kerah bajunya. “GARA-GARA KAU AKU HANCUR! DAN GARA-GARA KAU ASET BERHARGA YANG AKU JAGA SELAMA INI HILANG! KAU HARUS TANGGUNG JAWAB!” Pekik Anya sangat marah apa lagi aset berharganya sudah diambil orang yang tak dikenalnya. Ethan menaikkan alisnya. “Dia tak tahu akulah yang mengambil keperawanannya malam itu?” batin Ethan dan sedikit tersenyum menyeringai. Entah bagaimana reaksi Anya saat tahu jika dialah yang mengambil keperawannya. “Gara-gara kau, aku kotor hiskkk ... aku kehilangan aset berhargaku. Dan aku tidak tahu siapa yang meniduriku malam itu ... hiskkk.” Nada suara Anya keras berubah lirih, bahkan tatapan Anya mulai sayu tak setajam sebelumnya saat mengingat kejadian pilu kemarin. “Aku tidak tahu apa yang akan aku katakan pada Ibuku mengenai hal ini. Hiskkk ... aku sudah kotor, dan bagaimana jika aku hamil. Siapa yang akan bertanggung jawab ... hiskkk.” Anya menangis tersedu-sedu membayangkan masa depannya yang sudah hancur dalam semalam. Ethan pun melepas tangannya dari kerah baju Anya. Reaksi Anya terhadapnya sangat berbeda yang ia harapkan. Mungkinkah dia benar-benar salah orang? Benarkah wanita di hadapannya bukan Anya yang ia kenal? Tapi kenapa wajah dan nama mereka sama? Kali ini Ethan lah memiliki banyak pertanyaan mengenai sosok wanita di hadapannya. “Benarkah kau tidak tahu siapa aku? Kau tidak mengenalku?” tanya Ethan pada Anya. Ia ingin memastikan apakah Anya benar-benar tidak mengenalnya sebelum pertemuan mereka malam kemarin. Anya menghapus air matanya dan menatap Ethan. “Tentu saja aku tidak mengenalmu. Mungkin kau salah orang,” jelas Anya. “Jadi aku mohon lepaskan aku. Aku sudah kehilangan sesuatu yang berharga karena ulahmu, apakah kau tidak kasihan dan merasa bersalah padaku? Aku mohon lepaskan aku. Aku harus menjaga ibunya yang koma di rumah sakit,” kata Anya lagi berharap Ethan luluh dan melepasnya. “Baiklah, aku akan melepaskanmu kali ini, tapi jika aku punya bukti kau berbohong jangan harap kau bisa lepas dariku,” kata Ethan. Seketika Anya tersenyum senang saat Ethan mengatakan akan melepaskannya. “Benarkah? Jadi aku boleh pergi sekarang?” tanya Anya memastikan. “Pergilah, tapi jika aku menemukan bukti kebohonganmu, jangan harap kau bisa lepas dariku. Aku akan menemukanmu di mana pun kau berada.” “Tentu saja. Aku tidak mungkin salah. Ingatanku sangat bangus dan aku sama sekali tak pernah bertemu denganmu sebelumnya,” kata Anya percaya diri lalu bergegas keluar dari mobil. Ethan menatap punggung Anya yang semakin menjauh. “Tuan, benarkah anda melepasnya begitu saja setelah mengeluarkan banyak uang untuk menebusnya?” tanya pengawal Ethan. Ia menganggap jika uang banyak yang Tuannya keluarga sama sekali tak sebanding dengan wanita seperti Anya. “Jika memang dia bukan Anya yang aku kenal, maka uang yang sudah aku keluarkan sebanding dengan aset berharga yang telah aku ambil darinya. Tapi, jika dia membohongiku aku tidak akan melepaskannya begitu saja,” kata Ethan masih menatap punggung Anya sudah jauh. Ethan pun beralih menatap anak buah kepercayaannya. “Selidiki wanita itu dan juga pencarian Anya teman SMA ku dulu tetap kau lanjutkan.” “Baik, Tuan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD