Calon Istri

1264 Words
Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan Anya dan Ethan. Ethan masih belum bisa membawa calon istri ke hadapan orang tuannya, membuat orang tua Ethan marasa cemas. “Sampai kapan kau menunda? Satu minggu yang lalu kau bilang sudah punya calon istri? Lalu mana? Mana calon istri yang kau katakan itu?” tanya Bu Alena –Ibu Ethan. “Sabar, Ma.” “Bagaimana bisa Mama sabar. Kau belum punya calon istri dan Felix sepupumu sudah mempunyai calon istri bahkan Felix sudah memperkenalkan calon istrinya di hadapan orang tuanya. Sedangkan kau apa? Dari kemarin kau bilang ada tapi ternyata tidak ada,” kata Bu Alena dengan nada kesal. Ethan menghela napas mendengar ocehan ibunya. Setiap ia pulang dari kantor, ia selalu disambut dengan ceramah panjang lebar dari ibunya. “Mama jangan khawatir, Ethan pasti berusaha kok. Mama tenang saja.” “Bagaimana Mama bisa tenang. Ahh, bagaimana kalau kau dijodohkan saja dengan anak dari sahabat Papamu?” “Tidak, aku sudah pernah bilang, aku tidak mau dijodohkan. Biarkan aku yang mencari istri sendiri,” jawab Ethan dengan nada tegas lalu bergegas keluar rumah meninggalkan Ibunya yang masih mengoceh masalah pernikahan. Ethan tak tahan lagi, ia benar-benar ingin mengamuk di hadapan ibunya. Tapi, ia masih bisa menahan diri dan memutuskan untuk meninggalkan rumah dari pada ia benar-benar meluapkan emosinya di hadapan sang ibu. Ethan memasuki mobil mewahnya dan melaju dengan kecepatan penuh membelah jalan raya yang sudah sepi, karena saat ini jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Di mana kebanyak orang sedang tertidur di kamarnya saat ini. Hanya segelintir orang yang masih di luar sana, dan salah satunya Ethan sendiri. *** Di klub malam. Seperti biasa, lelaki itu akan menghabiskan waktunya dengan minuman keras saat ia lagi ada masalah. Perkataan ibunya yang selalu marah-marah terus terngiang-ngiang dalam benaknya. Ia pusing dan tak tahu apa yang harus ia lakukan demi memenuhi keinginan kakek dan kedua orang tuanya. Satu tangan Ethan mengambil sebotol minuman keras yang ada di hadapannya, lalu meneguknya hingga tak tersisa. “Hei, lagi ada masalah yah?” Tiba-tiba, seorang lelaki mendekat dan duduk di depannya. Ethan menatap lelaki itu sekilas lalu kembali pada minumannya. “Apa kau masih memikirkan masalah pernikahan?” tanya lelaki itu yang tak lain adalah Felix sepupu Ethan. “Bukan urusanmu, lebih baik kau pergi sana. Aku malas melihat wajahmu,” jawab Ethan dengan nada dingin. Bukannya pergi, Felix malah tertawa mendengarnya. “Baiklah, kalau begitu aku pergi. Tapi sebelum aku pergi, aku ingin memperingatimu ‘Nocturne Corporation’ adalah milikku. Bahkan, sejak awal perusahan itu seharusnya menjadi milik keluargaku bukan keluargamu,” kata Felix dengan nada penuh benci pada Ethan. Walau pun keduanya bersepupu, tapi mereka saling membenci. Itu semua bermula saat Michael Stone kakek mereka menjadikan Arthur –ayah Ethan sebagai Direktur bukan Ayahnya. Padahal ayah Felix anak tertua Michael Stone. Ethan berdecak mendengar perkataan Felix. “Tak akan kubiarkan kau mendapatkan apa yang kau inginkan.” “Kita lihat saja, siapa yang akan menjadi direktur selanjutnya,” jawab Felix lalu berlalu meninggalkan Ethan yang kembali mabuk-mabukkan. *** Jam telah menunjukkan pukul dua malam saat Ethan kembali ke rumahnya dalam keadaan mabuk. Lelaki itu memarkirkan mobilnya asal-asalan, lalu keluar dan berjalan menuju pintu utaman dengan langkah sempoyongan. Keadaan sekitar rumahnya sangat sepi dan gelap. Hanya dua lampu yang menyala yang berasal dari taman bunga samping rumahnya. Ethan terus berjalan hingga tiba di pintu utama. Saat ia ingin masuk, pintu rumahnya terkunci dari dalam. “Buka pintunya! Buka pintunya!” pekik Ethan dengan nada suara yang sangat keras. Karena masih tak ada yang membuka pintu, lelaki itu pun berteriak kencang sambil memukul-mukul pintu. “BUKA PINTUNYA!” Bu Alena dan Pak Artur yang mendengar keributan di depan rumah terbangun. Bahkan beberapa pelayan yang sudah beristirahat juga terganggu dan terbangun. Para penghuni rumah yang merasa risih akan keributan yang dilakukan Ethan bergegas keluar dari kamar masing-masing. Salah satu pelayan yang lebih dulu tiba di pintu utama segera membukakan pintu untuk Ethan. Saat pintu terbuka, Ethan yang sudah dalam keadaan mabuk masuk dengan langkah sempoyong. “Di mana orang tuaku,” kata Ethan pada pelayan. Namun, orang tua yang ia cari sudah ada di ruang tamu. “Apa yang kau lakukan, Than? Kenapa kau mabuk-mabukan seperti ini,” kata Bu Alena sedikit cemas dan bergegas memapah anaknya. Ethan melepas tangan ibunya yang berusaha membantunya berdiri. “Ma, Pa. Kalian ingin sekali aku menikah kan? Baiklah, aku akan menikah dengan orang pilihan kalian ...” kata Ethan dengan nada serak lalu lelaki itu pun tumbang tak sadarkan diri karena sudah terlalu mabuk. Bu Alena bergegas menolong putranya yang pingsan, sedangkan Pak Arthur malah tersenyum senang mendengar pengakuan putranya. “Akhirnya dia setuju. Besok aku akan mengundang calon menantu kita sarapan pagi bersama,” kata lelaki paruh baya itu pada istrinya. “Pa, apa yang kau tunggu. Cepat bawa Ethan ke kamarnya,” kata Bu Alena menegur. Saat itulah Pak Arthur segera mengangkat anaknya dan membawa ke kamar. Setelah memastikan Ethan sudah tidur di kamarnya, Pak Arthur dan Bu Alena segera keluar dan memerintahkan para pelayan untuk bangun lebih awal dan memasak banyak hidangan enak untuk menyambut menantu mereka. Tanpa Bu Alena dan Pak Arthur sadari, saat keduanya keluar. Ethan terbangun dan lelaki itu berjalan menuju sebuah meja di kamarnya. Lelaki itu mengambil sebuah kotak besar yang terkunci dari dalam laci meja. Ethan pun membuka kotak besar tersebut dan saat kotak itu terbuka, terlihat jelas ada banyak foto di sana. Ethan mengambil salah satu foto lalu menatap foto itu dengan kedua mata berkaca-kaca. “Anya kau di mana?” lirihnya. Yah, foto yang ia ambil adalah fotonya bersama Anya saat mereka masih di bangku SMA. Tak bisa ia pungkiri, ia masih tak bisa lepas dari masa lalu. Sosok Anya masih terbayang-bayang dalam memorinya. Ethan kembali ke kasurnya sambil membawa foto tersebut lalu memeluknya erat seakan tak ingin hilang. “Anya, kau di mana?” lirih Ethan saat ia mulai tertidur lelap. Di saat Ethan tertidur, ponsel lelaki itu berbunyi dan menandakan ada pesan masuk. Sayangnya, Ethan sudah tidur dan tak bisa membukanya. *** Esok harinya. Jam telah menunjukkan pukul 07:30 saat alaram berbunyi. Ethan pun bergegas bangun dan mematikan alaram yang menganggu tidurnya. Ethan duduk terdiam, kepalanya sedikit pening akibat banyak minum alkohol semalam. Selama lima menit, lelaki itu hanya diam dan menatap pintu kamarnya. Hingga saat ia ingin beranjak dari kasur, ia menemukan sebuah foto yang tergeletak. “Kenapa foto ini ada di sini sih,” kata Ethan sedikit kesal. Lelaki itu mengambil foto tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah yang sudah tersedia di kamarnya. Sebelum ke kamar mandi, Ethan menyempatkan diri untuk membuka ponselnya. Saat itulah ia menemukan sebuah pesan yang mengejutkan juga sesuatu yang sangat menarik. Ethan menyunggingkan senyum menyeringai. “Sudah aku duga. Ternyata benar-benar dia.” *** Ethan menuruni anak tangga dengan buru-buru. Ia ingin segera mencari Anya, wanita yang ia temui minggu lalu. Namun, setibanya di lantai satu Bu Alena memanggilnya dan meminta segera ke ruang makan. “Aku tidak lapar, Ma. Aku harus segera pergi.” “Kenapa buru-buru sekali. Ayo sarapan dulu,” kata Bu Alena menarik tangan Ethan agar mengikutinya ke ruang makan. Setibanya di ruang makan, Ethan melihat seorang wanita cantik duduk di meja makan sambil mengobrol dengan ayahnya. “Karin, ayo ke sini.” Wanita bernama Karin pun mendekat. Wanita bernama Karin itu tampak tersenyum malu saat ia berdiri di hadapan Ethan. Wajah tampan Ethan tentu saja membuatnya berdebar-debar. Mungkin ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Ethan. Bu Alena tersenyum pada Karin lalu menatap anaknya. “Than, beri salam pada calon istrimu,” kata Bu Alena. “APA? CALON ISTRI?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD