“Ca ... calon istri? Kenapa tiba-tiba sekali?” tanya Ethan masih kaget. Tiba-tiba saja ia sudah punya calon istri.
“Iya, kenapa kaget begitu. Bukan kah kau sudah setuju semalam jika membiarkan kami yang memilih calon istri untukmu,” kali ini Pak Arthur yang menjawab pertanyaan anaknya.
“Semalam?”
“Iya. Semalam kau sudah setuju untuk dijodohkan jadi mama dan papamu mengundang calon menantu sarapan bersama kita. Sekalian kalian bisa lebih dekat.”
Ethan menghela napas mendengar penjelasan ibunya. Mungkin ia menyetujui permintaan orang tuanya saat ia mabuk semalam. “Ma, Pa. Maafkan Ethan. Tapi, Ethan sudah punya calon istri sendiri,” kata Ethan meminta maaf.
“Lalu mana calon istrimu? Sudah berminggu-minggu kau selalu bilang sudah ada tapi sampai sekarang belum ada!” Bu Alena yang mulai kesal meninggikan suaranya. Ini sudah kesekian kalinya Ethan berkata punya calon istri. Tapi hingga saat ini Ethan belum membawa wanita itu ke hadapan mereka.
“Sabar yah, Ma ... Pa. Aku akan membawanya secepatnya. Jadi aku mohon batalkan perjodohan ini,” kata Ethan menolak membuat Karin yang sejak tadi berada di antara mereka merasa sedih karena sudah ditolak disaat mereka baru bertemu.
Menyadari ketidaknyamanan dan kekecewaan Karin membuat Ethan juga merasa bersalah. “Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menikah denganmu,” kata Ethan lalu meninggalkan dapur.
“ETHAN!” pekik Pak Arthur marah. Tak disangka putranya menolak dijodohkan dengan putri sahabatnya. Lelaki paruh baya itu pun beralih pada Karin yang tampak menunduk malu. Ia sangat malu setelah ditolak secara terang-terangan oleh Ethan.
“Karin, jangan terlalu memikirkan perkataan Ethan yah. Om dan tante akan berusaha menjodohkan kalian.” Karin hanya bisa tersenyum tipis lalu mengangguk. Kemudian, wanita bernama Karin itu segera sarapan bersama orang tua Ethan.
***
Ethan mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga beberapa menit kemudian, ia pun tiba di rumah sakit tempat di mana Anya berada.
Lelaki itu segera keluar dan mempertanyakan ruangan ibu Anya yang sedang dirawat di rumah sakit itu. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Ethan bergegas menuju ruangan tersebut.
Selama perjalanan menyusuri lorong rumah sakit, raut wajah lelaki itu tampak tegas dan arogan. “15 Tahun berlalu. Akhirnya aku menemukannya,” batin Ethan masih terus melangkah.
Hingga tak lama kemudian, ia tiba di lorong lantai empat rumah sakit. Ethan mencari kamar yang bertuliskan nomor R0403 pada kamar-kamar yang berjejer di lantai empat. Namun, baru dua kamar yang ia periksa, lelaki itu sudah melihat wanita yang ia cari.
Anya baru saja keluar dari ruangan R0403 yang terletak paling ujung lorong. Ethan semakin mempercepat langkahnya lalu segera lelaki itu mendorong Anya dengan kasar ke dinding. “Ap_”
Perkataan Anya terpotong saat Ethan tiba-tiba mencengkram lehernya dengan kuat. “Berani sekali kau menipuku,” kata Ethan dengan nada yang mendesis dingin membuta bulu kudung Anya meremang. Mendengar nada suara Ethan membuat wanita itu takut dan menciut.
“A ... aku tidak menipu-“
“BOHONG! JELAS-JELAS KAU ADALAH ANYA YANG AKU CARI SELAMA INI! TAPI KENAPA WAKTU ITU KAU BERPURA-PURA TAK MENGENALKU!” Lagi-lagi Ethan memotong perkataan Anya dan membalas wanita itu dengan perkataan kasar, bahkan cengkraman Ethan pada leher Anya semakin kuat.
“Lepa ... paskan aku. Sakit,” kata Anya memberontak berusaha melepaskan tangan Ethan dari lehernya. Ia benar-benar kesulitan bernapas saat ini.
“Jawab aku, kenapa kau membohongiku?”
“Aku ... aku tidak mengenalmu. Sungguh, aku bukan wanita yang kau cari dan aku sama sekali tak pernah bertemu denganmu sebelumnya.”
“Tidak. Kau bohong. Aku punya bukti jika wanita yang aku cari adalah kau.” Seketika Anya terdiam saat lelaki itu bersikeras mengatakan jika ialah wanita yang lelaki itu cari.
Di saat keduanya sedang berdebat, tiba-tiba pintu ruangan ibu Anya terbuka. “Kak, dia siapa?” tanya Adik Anya yang baru saja keluar. Keributan yang terjadi di depan ruangan ibu mereka tentu saja membuatnya terusik dan penasaran. Akhirnya keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Seketika, Anya melepaskan cengkraman Ethan dengan terburu-buru dan untungnya saat itu tangan Ethan pada lehernya sedikit longgar sehingga ia bisa melepaskan tangan Ethan dengan mudah, lalu Anya mendorong Ethan menjauh dan mendekati adiknya yang masih menatapnya dengan bingung sambil bertanya-tanya dalam hati siapa lelaki yang ada di hadapan kakaknya.
“Siapa lelaki itu, Kak?” tanya adik Anya sekali lagi.
“Teman kakak. Adek masuk ke dalam saja yah. Kakak mau bicara dengan teman kakak dulu,” jawab Anya dan mendorong adiknya pelan masuk ke kamar ibu mereka yang dirawat.
Adiknya sempat keberatan, tapi Anya pun menatapnya dengan tatapan tajam yang membuat nyalinya menciut sehingga ia terpaksa tetap berada di dalam ruangan menjaga ibu mereka. Anya pun beralih menatap Ethan dan meminta lelaki itu berbicara di tempat lain. Ia tak ingin menganggu adik dan ibunya.
***
Di taman rumah sakit.
“Kembalikan uangku,” kata Ethan dengan nada tegas pada Anya saat keduanya sudah tiba di taman rumah sakit. Anya tampak kaget saat lelaki itu meminta uangnya kembali.
“Tapi aku tidak punya uang,” jawab Anya dan menundukkan kepalanya.
“Bukankah kau sudah merelakan uang itu dan berjanji melepaskanku?” tanya Anya dengan hati-hati. Ia takut lelaki itu kembali mencekiknya seperti tadi.
“Yah, aku pernah berjanji. Tapi, itu jika kau tidak membohongiku. Setelah mengutus seseorang untuk menyelidikinya aku punya bukti kau berbohong.”
“Tapi aku tidak pernah berbohong. Sungguh aku tidak mengenalmu dan aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya,” kata Anya mencoba menyakinkannya.
“Kau tidak perlu mengelak lagi. Kau adalah wanita yang aku kenal itu dan wanita yang paaaaling aku banci,” kata Ethan dengan nada dingin sambil menekankan kalimat terakhirnya jika ia sangat membenci Anya.
Anya menelan ludahnya takut saat mendengar kalimat terakhir Ethan. Ia benar-benar dibenci oleh lelaki itu. “Lalu apa yang kau inginkan dariku? Aku tidak bisa mengembalikan uangmu.”
Ethan berdecik dan tersenyum menyeringai. “Kau bisa membayarku dengan melakukan apa yang aku perintahkan.”
Seketika Anya menatap Ethan dengan wajah serius. “Benarkah? Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Nanti juga kau tahu.” Jawaban Ethan membuat Anya teringat pada lelaki paruh baya yang sudah menipunya.
“Jangan bilang kau ingin menjadikanku w************n? Sama seperti lelaki berengsek itu?” tanya Anya sedikit marah.
“Jangan samakan aku dengan lelaki itu.”
“Lalu katakan apa yang harus aku lakukan untuk membayar hutangku?”
“Kau harus jadi istriku.”
“Hah?”
“Tepatnya Istri kontrak.”