Menyetujui Kontrak Nikah

1070 Words
Anya terduduk termenung memikirkan pertemuannya dengan Ethan beberapa saat yang lalu. Di tangan wanita itu terdapat sebuah map berisi beberapa lembar tentang pernikahan kontrak yang Ethan tawarkan untuk melunasi hutangnya. Berkali-kali Anya menghela napas. Ia pusing harus bagaimana, haruskah ia menandatangani surat kontrak itu atau tidak. Tapi, jika ia tidak menandatangani ia harus membayar Ethan dengan uang yang sangat banyak, tentu saja ia tak bisa melunasinya bahkan jika ia bekerja seumur hidup. 2 miliyar adalah jumlah yang sangat banyak. Wanita sepertinya mana bisa melunasinya, untuk uang makan sehari-hari pun ia kesulitan mencarinya. “Kak, ayo makan.” Tiba-tiba Ara adik Anya yang baru saja pulang dari membeli nasi bungkus mengagetkannya. Tatapan Ara langsung tertuju pada map yang kakaknya pegang. “Kak, itu apa? Boleh aku lihat?” tanya Ara dan ingin mengambil map di tangan Anya. Namun, dengan cepat Anya menepis tangan Ara tak membiarkan adiknya untuk melihat apa yang sedang ia pegang. “Ara tak perlu melihatnya. Lebih baik kita makan bersama,” jawab Anya. Ara menatap map itu sekali lagi lalu beralih pada kakaknya. Ia sangat penasaran map apa yang kakaknya pegang, tapi melihat reaksi Anya membuatnya mengerti jika ia tak boleh melihat map tersebut. Ara tersenyum tipis lalu mengangguk saat kakaknya mengajaknya makan. Keduanya pun makan bersama dalam satu bungkus nasi. *** Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Ara terbangun. Sejenak ia mendudukkan tubuhnya lalu menatap kakaknya yang terlelap di sampingnya. Ara langsung mengalihkan pandangannya pada map biru yang sejak tadi membuatnya penasaran. Ara pun beranjak dari tempatnya, lalu diam-diam mengambil map biru tersebut lalu keluar dari ruangan ibunya. Ara duduk termenung membaca setiap baris yang tertuang pada lembar kertas yang ia pegang. Kedua matanya berkaca-kaca membacanya dan ia sangat kaget saat melihat jumlah hutang kakaknya sangat besar. “Kenapa hutang kakak banyak sekali? Mungkinkah karena biaya rumah sakit ibu dan sppku?” batin Ara bertanya-tanya. Hingga Anya tiba-tiba mendekat. “Ara.” Ara pun mengalihkan pandangannya menatap kakaknya dengan kedua mata yang berkaca-kaca. “Sejak kapan kakak memiliki hutang sebanyak ini? Apakah biaya rumah sakit ibu dan sppku sangat mahal?” Tak bisa menahannya, Ara pun menangis membuat Anya ikut sedih. Anya pun memeluk adiknya dan menenangkannya. “Ara tidak perlu khawatir,” kata Anya sambil mengusap pelan punggung adiknya. Ara melepas pelukan adiknya dan menatap Anya serius. “Bagaimana aku tak khawatir, uang sebanyak ini bagaimana kita mencarinya, Kak? Sedangkan uang untuk makan sehari-hari kakak sudah susah payah mencari?” “Kakak sudah memutuskan akan menerima nikah kontrak ini,” jawab Anya membuat Ara kaget. “Apa! Apakah kakak ingin mengorbankan masa depan kakak?” “Hanya ini jalan satu-satunya untuk melunasi hutang kakak. Mau tidak mau kakak harus menerima pernikahan ini. Lagian hanya dua tahun. Kakak pasti bisa melewatinya, selain itu kakak juga diijinkan kerja di Nocturne Corporation perusahaan yang sangat besar dan terkenal di Indonesia” jelas Anya mencoba menyakinkan Ara jika keputusannya sudah bulat. “Tapi ... bagaimana jika lelaki itu menyakitimu, Kak?” tanya Ara khawatir. Seketika Anya teringat akan perlakukan Ethan padanya. Setiap bertemu lelaki itu selalu ingin membunuhnya. Bisakah ia bertahan dengan lelaki kejam seperti Ethan? Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, bagaimana jika Ethan akan terus menyiksanya? Bisakah ia tetap bertahan? Ada banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya saat ini. Ia takut, tapi ia tak punya pilihan lain selain setuju. “Kak? Bagaimana jika lelaki itu menyakitimu?” tanya Ara sekali lagi saat Anya hanya diam. Anya pun menatap Ara dengan serius. “Ara tak perlu khawatir. Lelaki itu bernama Ethan, ia sangat baik. Ia telah menolongku jadi aku yakin dia lelaki yang baik dan tak akan menyakitiku,” jawab Anya berbohong untuk menyakinkan adiknya. “Benarkah dia sangat baik?” “Tentu saja, dia baik sekali padaku dan tak akan menyakitiku.” Ara pun mulai tenang dan setuju kakaknya menikah kontrak dengan Ethan dan mendoakan kebahagiaan kakaknya di masa depan. Setelah obrolan singkat itu, Ara bergegas kembali ke ruangan ibunya. Meninggalkan Anya sendiri dalam kesunyian malam. Anya menghela napas sejenak, lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi Ethan. “Aku menerima pernikahan itu.” *** “Semangat Anya, kau pasti bisa!” pekik Anya menyemangati dirinya sendiri. Sesuai dengan apa yang tertuang pada kontrak nikah yang diberikan oleh Ethan dua hari yang lalu. Anya harus bekerja di perusahaan milik keluarga Ethan. Anya pun melangkah dengan penuh semangat dan sedikit gugup membayangkan apa yang akan terjadi padanya saat ia kerja di perusahaan ini. Baru kali ini ia menginjakkan kakinya di gedung yang sangat besar dan luas. Biasanya, ia hanya bekerja serabutan, biasanya ia kerja di toko-toko. Anya berjalan menuju resepsionis dan tersenyum pada seorang wanita paruh baya yang sedang berjaga. “Selamat pagi! Saya Anya karyawan baru di divisi penjualan.” “Selamat pagi, Mba Anya. Saya akan menghubungi atasan anda.” Anya tersenyum dan menunggu atasannya datang. Tak membutuhkan waktu yang lama, seorang wanita cantik dengan mengenakan kemeja putih berkancing dan rok pendek berwarna hitam. Dari pakaian dan langkah yang penuh percaya diri membuat Anya yakin jika wanita itu adalah atasannya. Anya tersenyum dan menyapa atasannya dengan hangat. Namun, wanita itu sama sekali tak tersenyum padanya bahkan terkesan cuek dan membencinya. “Ikut aku.” Anya mengangguk dan mengikuti atasannya ke salah satu ruangan. Di sana, Anya melihat beberapa karyawan sibuk bekerja. “Selamat pagi semua. Saya karyawan baru di sini. Senang bertemu dengan kalian.” Anya menyapa teman kerja dengan ramah. “Oh, karyawan baru yah. Semoga kamu kuat, ya. Kerja di sini tak semudah yang kau bayangkan,” kata salah satu karyawan dengan nada sinis dan di akhiri dengan tawa kecil dan diikuti oleh beberapa rekan kerjanya yang lain. Anya tersenyum kecil dan tak mengambil hati dengan perkataan sinis tersebut. Akan tetapi, sepanjang hari kerja di sana. Ia sadar jika ia dibenci oleh rekan kerjanya. Beberapa kali ia diejek, di tertawakan bahkan beberapa pekerjaan yang bukan tugasnya dilimpahkan kepadanya. Walau begitu, Anya berusaha tetap kuat. Ia tak boleh menyerah di hari pertamanya kerja. Tanpa Anya sadari, sejak tadi Ethan memperhatikannya melalui rekaman CCTV. Melihat Anya ditindas oleh karyawan lain membuatnya cukup senang. “Tuan, kenapa anda memintanya kerja di sini? Dia sama sekali tak punya pengalaman kerja di perusahaan.” Ethan tersenyum tipis. “Aku tahu dia tak punya pengalaman. Tapi, karena itu juga rencana pembalasan dendamku terbayarkan. Aku tahu orang seperti Anya tak mungkin diterima oleh rekan-rekan lainnya. Aku hanya ingin melihatnya menderita.” “Dan aku ingin melihat sampai kapan ia bisa bertahan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD