Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, Anya masih sibuk di meja kerjanya sambil di kelilingi oleh bertumpuk-tumpuk berkas dokumen yang harus ia selesaikan malam ini juga. Layar komputernya terasa sangat panas yang menandakan kesibukannya sejak tadi siang hingga saat ini. Mungkin jika komputer itu bisa bicara mungkin, komputer itu akan mengatakan jika ia sudah lelah.
"Bagaimana ini," desah Anya yang merasa prustasi dengan pekerjaannya. Ia benar-benar mengalami kesulitan saat ini. Tugas yang diberikan oleh atasannya sama sekali tak bisa ia selesaikan dengan cepat dan karena itu, ia harus tetap bertahan di meja kerjanya hingga saat ini. Padahal semua karyawan sudah seharus pulang sejak satu jam yang lalu.
“Bagaimana ini. Aku sama sekali tak mengerti,” kata wanita itu lirih.
Sejenak Anya melirik ke salah satu ruangan yang masih menyala. Sebuah ruangan yang membuat teman kerjanya takut untuk menghadap pada penghuni ruangan itu. Yah, ruangan itu milik Wakil direktur Ethan. Ethan terkenal dengan perkataan dingin dan tajamnya. Bahkan kerap kali membuat karyawan menangis. Hal itu banyak orang yang takut padanya, hanya Bu Rina- Atasan Anya yang selalu bolak balik ke ruangan itu dibolehkan masuk ke ruangan itu.
“Haruskah aku minta bantuannya?” batin Anya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Namun, ia kembali menggelengkan kepala. “Tidak, dia tidak akan membantu.” Anya kembali menghela napas saat ia tak bisa meminta bantuan pada siapa pun. Akhirnya, Anya kembali menatap layar komputer. Ia tak ingin menyerah, Anya tetap berusaha untuk menyelesaikan laporannya yang harus ia selsaikan secepatnya.
Di sisi lain, Ethan baru saja selesai dengan pekerjannya. Lelaki itu merenggangkan tubuhnya sebelum ia beranjak dari tempatnya. Ethan memakai jasnya lalu keluar. Saat ia keluar, ia menemukan Anya masih berkutat dengan layar komputer dan tumpukan berkas yang menggunung di mejanya.
Lelaki itu mendekat masih dengan wajah dingin dan arogan. “Kau masih belum selesai?”
“Iya, aku bingung cara mengerjakannya. Aku sama sekali tak pernah mengerjakan hal seperti ini,” jawab Anya dan berharap Ethan akan membantunya.
“Aneh, padahal ia mendapatkan nilai tertinggi saat di bangku SMA, bahkan semua orang mengagumi kepintarannya. Kenapa sekarang ia sangat bodoh? Bahkan hal seperti ini pun ia tak bisa menyelesaikannya,” batin Ethan bingung saat melihat tugas apa yang Anya kerjakan.
“Serius kau tidak bisa mengerjakannya?” tanya Ethan memastikan. Ia merasa curiga dengan perubahan Anya saat ini. Tugas Anya sangat mudah bahkan anak SMA pun bisa melakukannya.
“Mana mungkin aku masih di sini jika aku bisa mengerjakannya,” jawab Anya.
“Kalau begitu selamat lembur,” kata Ethan menyemangati Anya, tapi suaranya lebih terdengar sebuah ejekan.
Ethan beranjak dan meninggalkan Anya, namun sebelum ia benar-benar pergi, lelaki itu memperingati Anya untuk merahasiakan tentang kontrak nikah yang telah mereka sepakati. Anya mengangguk mengerti dan berjanji tidak akan membocorkan rahasia mereka. Setelah Ethan pergi, Anya kembali pada kesibukannya.
***
Esok harinya, Anya masih berada di meja kerjanya. Ia begadang semalaman hanya satu tugas yang tak bisa ia selesaikan. Beberapa kali ia menghela napas dan bersiap-siap mendapatkan teguran dan amarah dari atasannya.
Dan benar saja, saat Bu Rina datang, wajahnya sudah menunjukkan ketidakpuasan akan tugasnya yang dikerjakan asal-asalan. “Anya,” suara Bu Rina terdengar sangat dingin dan tajam.
“Saya sudah memberimu waktu satu hari satu malam, tapi tugas ini kau kerjakan seperti ini! Apa sebenarnya yang terjadi! Masa tugas sekecil dan segampang ini kau tidak tahu!”
Anya menundukan kepala sambil berusaha menjelaskan kebingungannya akan tugas tersebut, namun penjelasannya terasa kurang menyakinkan sehingga membuat Bu Rina semakin marah dan kesal. “Ini bukan soal mengerti atau tidak mengerti. Ini soal tanggung jawab! Anda seharusnya mencari solusi dengan bertanya atau mencari tahu di internet, bukan hanya duduk diam menatap angka-angka di layar komputer!”
Anya hanya bisa menunduk dan merasa malu. Selain itu, ia juga merasa bersalah karena tak bisa mengerjakan satu tugas pun dengan benar. Padahal ini adalah pertama kalinya ia kerja di sebuah perusahaan besar. “Maafkan aku, Bu. Aku akan berusaha menyelesaikannya,” kata Anya pelan.
“Kali ini aku beri kau waktu sampai jam makan siang. Jika kau masih tak bisa menyelesaikannya jangan harap kau bisa makan siang.”
“Baik, Bu.”
Anya menghela napas saat Bu Rina sudah kembali ke meja kerjanya. Anya melirik teman kerjanya yang saat ini sedang menatapnya sambil berbisik-bisik membicarakannya. “Tugas segampang itu ia tak tahu. Kenapa dia bisa masuk ke perusahaan ini?” Beberapa karyawan mulai mempertanyakan Anya.
“Dengar-dengar ia punya orang dalam.”
“Wahhh, gila. Hanya karena punya koneksi ia bisa masuk. Tapi orang seperti dia hanya akan menjadi sampah atau benalu di divisi kita.”
Anya semakin sedih dengan perkataan buruk tentangnya. Bahkan beberapa dari karyawan mulai mempertanyakan siapakah orang dalam yang memasukkan Anya ke perusahaan?
***
Jam telah menunjukkan pukul dua belas siang. Waktunya makan siang dan Anya masih belum bisa menyelesaikan tugas yang Bu Rina berikan. Hal itu membuatnya harus melewatkan jam makan siang.
Saat ini ruangannya sangat sepi, semua karyawan ke kantin perusahaan untuk makan siang. Hanya dia seorang di ruangan itu dan wakil direktur yang masih berada di ruangannya.
Kriutt!
Anya memegang perutnya yang sakit, ia benar-benar kelaparan. Semalam ia tak makan karena lembur, dan hari ini ia juga harus melewatkan makan siangnya. “Bagaimana ini, aku sama sekali tak mengerti,” lirih Anya. Rasanya ia ingin menangis, ia tak tahu harus bagaimana.
Hingga pintu ruangan wakil direktur terbuka. Anya langsung menatap Ethan yang juga berjalan ke arahnya. “Kau masih belum bisa mengerjakan tugas semalam?” tanya Ethan. Anya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Ethan menghela napas. Lalu meminta Anya menyingkir dari tempat duduknya. Anya segera berdiri dan Ethan pun duduk di kursi Anya. Tatapan lelaki itu pun tertuju pada layar komputer, jari-jarinya pun menari-nari di atas keyboard mengerjakan tugas yang Anya tidak mengeti.
Di samping Ethan, Anya terus menatap Ethan yang sedang serius. “Tak kusangka dia akan membantuku. Sepertinya dia tak sejahat yang aku bayangkan,” kata Anya pada dirinya sendiri.
Tak membutuhkan waktu yang lama saat Ethan selesai. Anya tampak tersenyum senang dan berterima kasih pada Ethan.
“Tidak perlu berterima kasih. Ini demi menjaga rahasia kita berdua. Jika kau terus seperti ini aku khawatir orang-orang akan tahu jika akulah orang dalam yang telah memasukkan orang bodoh ke perusahaan,” jawab Ethan sinis dan perkataannya sangat menusuk hati.
“Maafkan aku, aku akan lebih berhati-hati lagi.”
Ethan pun beranjak dari tempatnya, namun ia kembali teringat akan perkataan ibunya tadi pagi. Lelaki itu pun menatap Anya. “Hari minggu nanti, kau harus ikut denganku.”
“Ke mana?”
“Menemui keluargaku.”
“APA!”