Anya menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia sedang memperhatikan tubuhnya yang saat ini dibalut oleh sebuah gaun cantik berwarna biru. Gaun cantik itu sangat serasi dengan tubuhnya putih bersih. Membuatnya terlihat lebih menawan. Namun, gaun cantik itu tak bisa menutupi kelusuhannya. Yah, gaun itu ia belik tiga tahun yang lalu saat ia merayakan hari ulang tahun adiknya yang ketiga belas.
Sejenak, Anya memoles sedikit bedak di wajahnya dan juga sedikit lipstik agar bibirnya tidak terlalu polos. Sejank ia tersenyum lalu menyentuh dadanya yang saat ini berdebar kencang. Ia sangat gugup hari ini, sebab ini adalah pertama kalinya ia akan menemui orang tua Ethan.
"Semoga semuanya berjalan lancar," batinnya sambil menyemprotkan parfum kesukannya yang beraroma vanila.
Setelah memastikan penampilannya cukup sempurna, Anya melangkah keluar. Di depan rumah sudah ada mobil taksi yang menunggunya. Perjalanan menuju kediaman Ethan terasa singkat, pikirannya dipenuhi bayangan pertemuan mereka nanti.
Sesampainya di alamat yang diberikan Ethan, Anya terkesima kagum. Tak di sangka rumah Ethan sangat besar dan megah. Berbanding terbalik dengan rumahnya yang kecil dan dan termakan waktu. Ada banyak mobil yang berjejer dan beberapa pelayan yang menyambut tamu.
“Kenapa banyak orang?” batinnya bingung. Ia pikir, ia hanya akan bertemu dengan kedua orang tua Ethan, tapi mengapa banyak orang yang datang?
“Mungkinkah Ethan langsung memperkenalkanku dengan keluarga besarnya?” Seketika nyali Anya sedikit menciut. Ia gugup dan takut. Apakah ia akan diterima atau tidak? sebuah pertanyaan yang langsung menusuk pikirannya.
“Dan jika aku ditolak, Ethan pasti marah besar dan menuntut uangnya kembali.” Anya mematung di tempatnya. Kedua kakinya seakan berat untuk melangkah.
“Akh.” Anya meringis kesakitan saat seseorang menabraknya. Bukannya minta maaf, si penabrak itu malah memarahinya.
“APA YANG KAU LAKUKAN! KENAPA DIAM SAJA SIH. MENGHALANGI JALAN AJA!”
“Maaf kan aku. Aku akan menyingkir,” kata Anya merasa bersalah lalu menyingkir dan mempersilakan wanita cantik itu memasuki pintu utama. Di sana sudah ada Bu Alena menunggu wanita tadi yang tak lain adalah Karin. Wanita yang ingin ia jodohkan dengan putranya.
Di sisi lain, Anya semakin gugup dan tak berani masuk. Akhirnya ia memutuskan untuk memutar arah. Ia belum siap untuk bertemu dengan keluarga besar Ethan. Akan tetapi, saat ia berbalik ponselnya berdering dan yang menghubunginya tak lain adalah Ethan.
“Kau di mana! Jangan bilang kau akan kabur. Cepat kemari dan temui orang tuaku,” kata Ethan dengan nada tegas dan memerintah.
Anya hanya bisa menghela napas dan mengiyakan. Setelah itu Anya memberanikan diri untuk masuk ke rumah yang sangat besar dan megah tersebut.
Anya melangkah masuk melewati pintu utama. Setibanya di dalam Anya kembali terkesima dengan kemegahan yang ada di dalamnya. Suasana sangat ramai bak pesta menyambutnya. Alunan musik bergema di seluruh ruangan, tawa dan obrolan memenuhi ruangan. Tak lupa aroma hidangan lezat mengudara dari dapur.
“Permisi,” Anya mendekati salah satu pelayan yang sejak tadi berlalu lalang di keramaian. “Maaf, saya Anya. Saya diundang oleh Ethan, tapi saya tidak menyangka akan seramai ini.”
Pelayan tersebut tersenyum ramah padanya dan memberitahukan Anya jika malam ini memang istimewa. Ini acara perayaan ulang tahun ke-78 Michael Stone- kakek Ethan sehingga banyak orang yang hadir.
Anya tersenyum dan mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan dari pelayan tersebut. “Kenapa dia tidak memberitahukan jika malam ini adalah acara ulang tahun kakeknya. Jika tahu hal itu lebih awal seharusnya aku bawa kado,” batin Anya sedikit cemas.
Anya pun memperhatikan semua tamu yang hadir, ia merasa semakin cemas dan canggung, pakaiannya terasa kurang pantas di tengah keramaian yang begitu mewah.
Anya mencoba untuk berbaur, namun telinganya menangkap bisikan sinis dari seorang wanita yang berdiri tak jauh darinya. Wanita itu berpakaian glamor dan modis dengan perhiasan yang mencolok. Dan di samping wanita itu berdiri seorang wanita yang menabraknya saat di luar tadi.
“Lihat pakaiannya, luar biasa ketinggalan zaman. Pasti bukan dari kalangan yang sama dengan kita,” bisik wanita itu pada temannya yang menabraknya di luar tadi. Suaranya sengaja dibesarkan agar Anya bisa mendengar.
Wajah Anya memerah. Ia meremas ujung gaun yang ia kenakan dan merasa rendah diri. Ia tahu gaunnya memang sederhana dan warnanya sudah memudar karena sudah ketinggalan zaman. Bahkan harga gaunnya tak semahal yang para wanita itu kenakan tapi gaun itu adalah yang terbaik dari semua pakaiannya.
Anya tak menyangka jika ia akan diejek secara terang-terangan. Anya mencoba untuk mengabaikannya, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman. Wanita itu pun beranjak dari tempatnya dan mencari keberadaan Ethan.
Namun, tugas itu ternyata sangat sulit baginya. Rumah Ethan sangat besar dan sangat ramai. Sehingga ia tak bisa menemukan Ethan di antara para tamu. Di saat ia sibuk mencari Ethan, lagi-lagi dua wanita yang sejak tadi membicarakannya kembali mencari gara-gara padanya.
Mereka dengan sengaja menghalangi jalannya bahkan sengaja menyenggol pelayan agar minuman tumpah ke arahnya. Untungnya, Anya berhasil menghindar sehingga ia masih baik-baik saja. Namun, kedua wanita itu tak berhenti mengusiknya. Hingga kesabaran Anya benar-benar habis. Ia tak bisa lagi menahan emosinya.
“Cukup! Kalian berdua sejak tadi mengganggu!” kata Anya dengan sedikit sinis.
“Apa maksudmu terus-menerus menggangguku? Padahal aku tidak pernah mengganggu dan mengusik kalian.” Anya mencurahkan kekesalannya pada dua wanita itu.
Karin dan sahabatnya tertawa melihat Anya yang mulai kesal. “Kau ini siapa sih? Berani-beraninya kau datang ke pesta ini dengan pakaian seperti ini?” tanya Jeny sahabat Karin.
Anya menatap Jeny. “Pakaianku adalah urusanku. Dan kau tidak lebih baik dariku.”
“Kau berani melawanku? Kau tidak tahu siapa wanita di sampingku?” tanya Jeny menantang.
Anya menatap Karin lalu kembali menatap Jeny. “Aku tak mau tahu. Bukan urusanku dia siapa.” Perkelahian antara Anya dan kedua wanita itu semakin memanas membuat semua tamu memperhatikan mereka.
Jeny tertawa mendengar jawaban Anya. “Dengar yah. Satu perintah darinya, kau bisa diusir dari sini. Dia ini adalah calon menantu keluarga Stone,” kata Jeny menjelaskan jika Karin akan menjadi menantu di keluarga Michael Stone.
Anya mengerutkan dahinya. “Bukankah aku calon menantu keluarga Stone?” batin Anya bingung.
“Karin, ada apa?” tiba-tiba seorang wanita paruh baya mendekat. Wanita itu tak lain adalah Bu Alena ibu dari Ethan.
“Maafkan aku, Tante. Sejak tadi wanita ini menggangguku. Bahkan mengejekku,” kata Karin berbohong sengaja agar Bu Alena membenci Anya.
“Apa kau bilang? Kau yang sejak tadi menggangguku!” pekik Anya meninggikan suaranya tak terima dituduh.
Bu Alena menatap Anya tajam. “Siapa kau? Dan berani sekali kau berlaku kasar pada menantuku.” Perkataan Bu Alena membuat Karin tersenyum senang tak menyangka Bu Alena akan mendukungnya.
Semua orang pun berbisik-bisik tentangnya. Membuat Anya semakin tak nyaman. Sepertinya ia tak diterima di keluarga Ethan. “Ma ... maafkan aku. Aku akan pergi,” kata Anya dengan nada pelan lalu bergegas beranjak dari tempatnya.
Namun, saat ia akan berlari keluar, ia tak sengaja menabrak seseorang. Saat ia mengangkat kepalanya, ia melihat Ethan berdiri menatapnya. “Kau mau ke mana?” tanya lelaki itu. Namun, Anya tak bisa menjawab.
Ethan pun menatap Ibunya dan Karin. Kemudian, Ethan memegang tangan Anya dan menarik tangan wanita itu agar kembali menghadap pada ibunya.
“Ma, perkenalkan dia calon istriku.”
“APA!”