Udara dingin rumah sakin mencengkram Ethan. Bau disinfektan menyengat hidungnya,menggantikan aroma kopi pahit yang biasa ia hirup di kantor. Langkah kakinya terasa berat, setiap detak jantungnya bergema di telinganya, rasa cemas yang mengiringi langkahnya menuju kamar Anya. Tak berselang lama, Ethan pun tiba di ruangan Anya, ia pun di sambut dengan aroma disinfektan yang telah bercampur dengan aroma samar-samar bunga lili puth yang diletakkan di vas kecil di sudut ruangan. Ruangan itu sendiri terasa sunyi, hanya diiringi bunyi tik-tik jam dinding yang seolah berdetak semakin cepat seiring kecemasannya. Anya terbaring lemah di ranjang, wajahnya pucat seperti kertas, rambut hitamnya terurai di bantal putih bersih. Alisnya bertaut, bibirnya sedikit terbuka, seakan-akan masih tersiksa mimp

