Hujan mengguyur Kota Jakarta dengan derasnya, membasahi kaca jendela kantir Pak Heldrik yang menjulang tinggi Di dalam, suasana jauh dari ketegangan. Udara terasa sesak, dipenuhi aroma kopi pahit yang tak mampu menandingi kepahitan yang memenuhi hati Pak Heldrik. Sebuah kertas putih terletak di meja kerjanya, berisi berita yang menghancurkannya, putrinya Karin telah dipenjara. Kertas putih yang dihias dengan tinta hitam terasa seperti tamaran kuat di wajahnya. Ia meremasnya hingga hancur lalu membuangnya ke tong sampah, jari-jarinya memutih menahan amarah yang membuncah. Meja kerjanya, biasanya rapi dan tertata kini berantakan. Bayang wajah Karin, cantik dan manja terlintas di benaknya. Bayangan itu berubah menjadi penuh luka dan penderitaan. Amarah yang tadinya hanya bergelora di dadan

