Kontrak Kerja

1179 Words
Jonathan terkejut saat mendapati pelayan restoran itu adalah Meilani, gadis yang sedang dicarinya itu. Anita yang melihat reaksi Jonathan saat dia bertemu dengan pelayan itu pun terlihat heran dan tidak suka. “Kenapa kau ada di sini, bukankah seharusnya kau tadi ikut sesi wawancara?” tanya Jonathan langsung. “Maaf Tuan, saya akan mencatat pesanan Tuan dan Nyonya, saya harus kembali bekerja lagi!” ucap Meilani sambil menyiapkan catatan dengan pulpennya. Mendengar itu Anita langsung menyebutkan beberapa menu makanan yang dipesannya dan segera oleh Meilani dicatat sambil mengulang kembali pesanannya untuk memastikan. “Dan apa pesanan Tuan?” tanya Meilani sambil melirik Jonathan yang sedang terlihat memperhatikannya. “Pak Jo, kenapa kau tidak segera menyebutkan pesananmu?” tanya Anita mengingatkan Jonathan untuk segera memesan. Sebenarnya Jo masih penasaran dengan jawaban Meilani. Tapi saat ini dia sedang bersama dengan Anita. Dia tidak mungkin mengabaikan Anita saat ini. “Aku pesan ….” Jonathan kemudian menyebutkan pesanannya pada Meilani. Dia melihat gadis itu terlihat  cekatan menulis pesanannya dan mengulang kembali pesanannya itu. “Oke Tuan, Nona tunggu sebentar pesanannya akan segera diantar.” Meilani kemudian meninggalkan Jonathan bersama Anita. “Pak Jo, apa Anda mengenal pegawai restoran yang tadi?” tanya Anita penasaran. “Tidak juga. Aku tadi sempat melihatnya di kantor untuk wawancara untuk perekrutan karyawan di kantor. Pas giliran dipanggil dia tidak ada. Dan rupanya dia ada di sini bekerja,” ucap Jonathan merasa tidak penting menceritakannya pada Anita. “Oh begitu rupanya. Tapi kenapa Pak Jo ingat dan hafal sekali dengan orang yang melamar pekerjaan di perusahaan Bapak?” tanya Anita dengan nada yang takjub. “Itu karena dia nomor terakhir dan sempat kita cari-cari dan tunggu. Sudahlah itu tidak penting juga dibahas. O iya, apa kau sudah menerima Salinan pembaharuan tawaran perpanjangan kontrak kita?” tanya Jonathan pada Anita. “Oh itu. Bagaimana kalau itu kita bicarakan setelah makan saja. Saat ini aku ingin membahas yang lain dulu!” ucap Anita. “Apa, bahas yang lain. Apa maksudmu?” tanya Jonathan yang keheranan dengan gelagat aneh Anita. “Tujuan aku mengundang Pak Jo sebenarnya bukan hanya karena untuk urusan kerja sama dan kontrak itu.” Anita terlihat sangat mencurigakan. “Lalu apa sebenarnya. Jadi kau sudah membohongiku untuk datang ke sini. Apa kau pikir ini sebuah lelucon Anita?” tanya Jo mulai merasakan percikan amarah. “Tidak Pak Jo. Aku hanya ingin sekedar bertanya padamu. Aku merasa penasaran selama ini.” “Apa itu. Nona Anita, sepertinya Anda belum tahu siapa aku. Aku ini bukan tipe orang yang mau menghabiskan waktu dengan seseorang kalau bukan tentang pekerjaan?” Jonathan merasa sudah dipermainkan dengan lelucon Anita yang ingin menemuinya bukan untuk membahas perpanjangan kontraknya. “Pak Jo, apakah Anda sudah mendengar dari kakek Anda. Lee Dae Jun. Kalau Anda akan dijodohkan dengan saya?” tanya Anita. Jonathan terbatuk-batuk mendengar pernyataan Anita yang membuatnya sangat terkejut. Bagaimana bisa dia dijodohkan dengan Anita. Anita memang merupakan putra dan cucu dari sahabat kakeknya Lee Dae Jun. Tapi Jonathan tidak tahu kalau dia dijodohkan dengan Anita. “Jadi Anda belum tahu Pak?” tanya Anita melihat reaksi Jonathan yang seperti itu. Berarti Jonathan memang belum tahu perihal itu. “Kenapa itu menjadi soal buat saya dan buat kamu?” tanya Jonathan. “Jika Anda belum tahu. Ini bisa jadi kabar buruk atau kabar baik untukmu!” ucap Anita. “Aku belum mendengar apa pun dari Kakek, jadi aku akan menganggapnya itu hanya gosip.” “Tapi itu sedikit menjadi masalah buatku Pak Jo. Aku dengar kau punya masalah serius dengan –” Anita tidak melanjutkan pembicaraannya. Dia terlihat ragu tapi dia juga tidak tahan untuk tidak mengatakannya pada Jonathan. “Dengar ya, entah itu benar atau tidak. Aku tegaskan aku tidak akan mau dijodohkan denganmu Anita. Jadi kamu jangan khawatir. Kau bukan tipeku,” ucap Jonathan agak malas. Mendengar hal itu telinga Anita jadi panas. Niatnya mungkin ingin terlihat kalau dia tidak menerima perjodohan itu. Tapi sebenarnya dia ingin memiliki Jo. “Kenapa aku bukan tipemu. Memangnya tipe wanita seperti apa yang kau sukai?” tanya Anita. Jonathan meringis sambil menampilkan senyuman sinisnya pada Anita. Dia sungguh malas membahas tentang ini. “Pokoknya kau bukan tipeku titik. Aku tidak mau membahas masalah pribadiku di sini. So, can we start our business now?” tanya Jonathan ingin mengalihkan pembicaraannya ke topik awal. Anita merasa diabaikan dan dihinakan dengan perlakuan tidak mengenakkan dari Jonathan. Dia sungguh kecewa dengan sikap Jonathan yang terang-terangan tidak menyukainya. “Untuk menjadi BA perusahaanmu saja kau sampai luangkan waktumu dan mengurusnya sendiri. Itu berarti aku adalah tipemu kan Pak Jo. Andaikata aku ini bukan tipe wanitamu aku ragu untuk memperpanjang kontrak dengan LLC,” jawab Anita. Kali ini dia yang merasa di atas angin. Jonathan begitu bersikukuh ingin terus memperpanjang kontraknya dengan LLC. Jonathan menatap tajam pada wajah Anita yang dia anggap sudah sangat tidak professional. Dia mencampuradukkan masalah kontrak bisnisnya dengan urusan pribadinya. Hal itulah yang paling dibenci Jonathan. Hidangan yang mereka pesan pun datang. Jonathan sudah merasa tidak nyaman di sana. Dia ingin segera menyelesaikan permasalahannya dengan Anita. Kenapa wanita itu malah membuat dirinya menjadi bad mood. Dan untuk urusan perjodohan itu, dia sama sekali belum mendengarnya langsung dari kakeknya yang berasal dari Korea itu. Dia dan kakeknya jarang bertemu, apalagi berbicara. Dan Jonathan tidak tahu menahu tentang perjodohannya dengan Anita. “Silakan dinikmati Tuan dan Nona!” ucap pelayan itu setelah selesai menghidangkan semua makanan yang dipesan oleh keduanya. Jonathan menatap wajah Anita yang terlihat sudah kesal dengan ucapan mereka yang sebelumnya itu. “Silakan dimakan Pak Jo!” ucap Anita mempersilakan Jonathan untuk menyantap makanannya. Tanpa menjawab dengan suara, Jonathan kemudian mengangkat sendok dan garpunya dan mulai mencicipi hidangan. Sesekali Jonathan memandang wajah Anita yang sedang menahan kekesalannya. “Anita, sepertinya kau memang dari awal ingin memperpanjang kontrak itu, tapi karena ada masalah perjodohan itu kau jadi ragu bukan?” tanya Jonathan memanipulasi Anita. Dia tahu apa yang dia katakan padanya adalah kebalikannya yang Anita inginkan. “Pak Jo, apa kau berniat untuk memperpanjang kontrak kita hanya sebagai urusan bisnis saja? Bukankah kalau kita menikah kau tidak perlu bersusah payah mengurus ini semua. Aku akan menjadi BA mu selama yang kamu mau dan itu tanpa bayaran alias gratis?” tanya Anita sekarang lebih terus terang. Pak Jo sampai tersedak mendengar ucapan Anita yang memang sudah sangat niat sekali padanya. Dia segera mengambil air di gelas dan meneguknya sampai airnya habis. “Apa maksudmu Anita. Aku menikahimu. Jangan bermimpi, karena aku sampai kapan pun tidak akan menikahi gadis sepertimu!” Jonathan benar-benar muak. Tadi pagi dia harus memecat Adam karena dia berani-beraninya memberi saran agar dia menikahi Anita. Dan sekarang ini, justru Anita memintanya untuk menikahinya. “Kalau begitu, aku tidak akan mau memperpanjang kontraknya,” jawab Anita ketus. “Persetan dengan kontrak itu. Aku sudah tidak tahan dengan ini!” ucap Jonathan kemudian merobek map yang berisi tentang pernikahan kontak itu. “Kau ini dasar pria tidak berperasaan!” bentak Anita. Mendengar itu, Jonathan menjadi lebih emosi. Perlahan tapi pasti dia merasa tubuhnya kembali terbakar. Amarahnya membuat tubuhnya mengeluarkan gejala aneh itu lagi.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD