Jadi nama gadis itu adalah Meilani.
“Apa dia tidak ada di sini untuk ikut wawancara?” tanya Richard Lee, wakil direktur LLC yang merupakan paman dari Jonathan.
“Tapi di sini tadi dia sempat mengisi daftar hadir. Apa dia pulang ya?” sungut Keyra bicara pada dirinya sendiri.
“Apa pulang. Bagaimana dia meremehkan sesi wawancara ini?” tanya Richard sambil membolak-balikkan berkas lamaran milik Meilani.
“Eh tapi dia cantik dan masih muda juga Jo, dia baru lulus tahun ini. Dia nol pengalaman rupanya.”
Jonathan tidak menggubris apa yang dikatakan pamannya itu. Dia hanya membuka lembaran-lembaran berkas Meilani. Dari CV nya Jonathan bisa tahu semuanya tentang Meilani.
Untuk seorang gadis seusia dirinya, seharusnya dia memiliki pengalaman kerja setahun atau dua tahun. Kenapa dia baru lulus kuliah. Dia terlambat atau bagaimana?
Jonathan menjadi teringat gosip yang tadi dia tidak sengaja dengar. Kalau gadis itu pernah dipenjara. Apa karena itu?
“Ya sudah kalau itu adalah pelamar terakhir, kita sudahi saja. Jo apa kau mau ikut makan siang bersamaku?” tanya Richard pada keponakannya itu.
“Om saja, aku masih harus membereskan sesuatu di kantor!” jawab Jonathan berdiri sambil membawa berkas Meilani.
“Biar saya simpan untuk arsip Pak!” pinta Keyra menunjuk berkas milik Meilani.
“Tidak usah aku mau melihatnya sekali lagi!”
Keyra dan yang lainnya pun melongo melihat sikap Jonathan yang tidak biasanya. Bukankah Jonathan adalah orang yang tidak mentoleransi sedikit kesalahan dan kekurangan dari orang lain. Dan kenapa saat ini dia terlihat tidak melakukannya pada pelamar Meilani.
“Aku berani taruhan, kalau dia tertarik dengan visual gadis itu, ya kan?” tanya Richard pada Frans dan Keyra yang masih di dalam ruangan itu.
Frans yang tahu alasan kenapa Jonathan sangat tertarik dengan berkas Meilani hanya pura-pura tidak tahu dengan mengangkat kedua bahunya ke atas. Dia pun segera berjalan menyusul Jonathan.
“Pak Jo, apa kau berniat mencarinya?” tanya Frans ketika dia sudah berjalan sejajar dengan Jonathan.
“Apa dia akan melaporkanku pada polisi?” tanya Jonathan sambil menoleh kea rah Frans yang sedikit khawatir juga dengan kejadian tadi.
“Kemungkinan sih kecil, tapi yang aku takutkan dia akan mengungkapkan ini di media sosial Pak. Ngeri sekali kalau sampai dia berkicau di media sosial. Citra perusahaan ini bisa terancam. Jo, negara kita netizennya paling jahat dalam berkomentar di media sosial.” Frans malah menambah khawatir Jonathan.
“Kalau begitu sebelum dia melakukan itu, kita harus menemukannya terlebih dahulu. Kau temukan dia dan bawa padaku!” ucap Jonathan sambil menyerahkan berkas Meilani dengan cara memukulnya ke d**a Frans.
“Harus aku?” tanya Frans dengan cemberut.
Jonathan kemudian melirik tajam pada Frans. Meskipun dia banyak membantunya sejak kuliah, tapi Jo memang sering memperlakukan Frans tak lebih seperti anak buahnya. Entahlah, mungkin karena kebiasaan atau memang sudah natural karena jabatan dia pun lebih tinggi darinya.
“Apa kau menolak. Karena aku juga akan membantumu jika kau meminta bantuan dariku.” Jonathan pun segera berjalan menuju ke ruangannya meninggalkan Frans yang manggut-manggut kesal tapi harus menerima ucapan dari Jo.
Kalau bukan karena Jonathan, dia juga tidak akan bisa bekerja di perusahaan seperti LLC. Latar belakangnya yang membuatnya harus setia pada Jonathan. Sambil menghela napasnya karena harus melaksanakan perintah dari Jonathan dia pun berjalan untuk mencari gadis bernama Meilani itu.
*** ***
Jonathan melonggarkan ikatan dasinya sambil duduk di kursinya. Dia mengingat kembali gadis bernama Meilani. Dia tidak mengira kalau kejadiannya akan seperti ini.
Jonathan kemudian membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah bingkai foto. Dia tersenyum melihat foto itu.
“Ibu, ternyata sulit juga aku bertahan tanpa Ibu,” gumam Jonathan.
“Aku tidak bisa mempercayai semua orang kecuali Ibu. Meskipun banyak orang yang membantuku, tapi aku tahu semua orang hanya berlaku baik di depanku saja.”
Jonathan kemudian mengembalikan kembali fotonya ke dalam laci. Dia mendapat sebuah panggilan telepon. Dan ketika melihat siapa yang meneleponnya Jo segera mengangkatnya.
“Halo Anita!”
“Halo Pak Jo!”
“Apa anak buahku sudah menemuimu?” tanya Jonathan ingin mengetahui perkembangan perpanjangan kontraknya.
“Aku sudah menemuinya. Tapi aku tidak enak membicarakannya di telepon. Bagaimana kalau kita bertemu sambil makan malam untuk membahasnya?”
Jonathan mendesah. Rupanya ini sangat sulit baginya. Walaupun dia tidak menyukai cara pendekatan seperti ini untuk mendapatkan sebuah deal atau kesepakatan sebagai bos dia tentu harus melakukan itu demi perusahaannya.
“Baiklah, aku akan menemuimu di restoran. Sekretarisku akan –“ Jonathan lupa kalau dia belum mempunyai sekretaris baru.
“Aku sudah membooking sebuah restoran Pak Jo. Tenang saja, kali ini aku yang menyiapkannya,” jawab Anita.
Meskipun tidak terbiasa, tapi Jonathan harus menyetujuinya.
“Baiklah.”
Jonathan kemudian menutup sambungan teleponnya. Setelah itu dia menelepon Frans. Namun, ketika dia melihat di atas mejanya masih tersimpan berkas kontak Anita yang diserahkan Adam sebelumnya, Jo kemudian membatalkannya.
Dia segera mengecek berkas itu, dan setelah itu dia membawa berkas itu pergi meninggalkan ruangannya.
Dia mengemudikan mobilnya menuju sebuah tempat yang sudah dipesan Anita. Dia memasukkan alamat maps-nya pada ponselnya dan berkendara dengan aman.
Ketika mengendara mobilnya, Frans tiba-tiba meneleponnya. Jo segera memasang earphone nirkabel nya dan menjawab panggilan teleponnya sambil terus menyetir.
“Halo, bagaimana, apa kau sudah menemukannya?” tanya Jonathan tanpa basa-basi.
“Aku tadi langsung menelepon nomor ponselnya. Dan katanya dia tidak mau bertemu lagi.”
“Apa, kenapa dia menolak. Apa dia sepicik itu?” tanya Jonathan tidak mengira kalau gadis itu akan menolak mentah-mentah untuk bertemu dengannya.
“Katanya dia terlalu takut bertemu denganmu lagi Bos.”
“Apa aku melakukan sesuatu padanya. Dalam hal ini, dia lah yang menyentuh tubuhku. Seharusnya aku yang marah.”
“Dia tidak mengaktifkan lagi ponselnya setelah menerima panggilanku Bos. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Frans.
“Ada kan alamat rumahnya. Kirimkan padaku aku sendiri yang akan menemuinya!” ucap Jonathan.
“Baik Bos. Aku kirim lewat chat.”
Klik.
Jonathan marah mendengar Meilani menolak bertemu dengannya. Dia melepas earphone-nya dengan kasar dan membantingnya. Dia tidak pernah merasa hina diperlakukan seperti ini. Seorang gadis yang biasa ingin bertemu dengannya, dia sendiri malah menolaknya.
Jo sangat geram dan marah. Dia menarik napas dalam-dalam agar penyakitnya tidak kambuh dan tubuhnya berwarna merah lagi. Dia tidak mau bertemu dengan Anita dalam keadaan tubuhnya yang buruk.
Tring.
Sebuah pesan masuk dari Frans. Dia mengirimkan alamat rumah gadis itu.
Baiklah. Aku akan mendatangimu setelah aku menyelesaikan masalah kontrak dengan Anita.
Jonathan kemudian mempercepat laju kendaraannya menuju sebuah restoran. Bukan Jonathan kalau dia tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Perpanjangan kontrak Anita harus bisa deal. Dan dia juga harus bisa menemukan gadis bernama Meilani itu untuk mencegahnya menggunggah sesuatu yang buruk tentangnya di media sosial.
Sampai di sebuah restoran. Jonathan segera turun dengan membawa map berkasnya. Ketika dia hendak berjalan menuju ke dalam restoran. Dia merasakan sakit di kakinya.
Ah kenapa kakiku. Tadi dia baik-baik saja. Apa mungkin karena luka beling tadi ya. Kerasanya baru sekarang.
Jonathan berjalan dengan rasa kurang nyaman di telapak kakinya yang terluka itu. Sambil melihat-lihat di mana tempat Anita memesan meja untuk mereka berdua.
“Pak Jo selamat datang. Kemarilah!”
Jonathan kemudian menghampiri Anita yang sudah datang duluan. Dia terlihat cantik dan anggun dengan balutan dress yang mewah. Tapi di mata Jonathan dia sama saja dengan wanita yang lainnya.
Dia kemudian duduk di depan Anita yang sudah tersenyum riang melihat orang yang ditunggunya datang.
Kemudian datang seorang pelayan restoran untuk mencatat pesanannya.
“Ini daftar menu restoran kita!”
“KAU!”
Jonathan terkejut ketika melihat pelayan restoran menyerahkan daftar menu padanya. Begitu juga dengan wajah pelayan itu tidak kalah terkejutnya.