PART EIGHT

2276 Words
Aku berdiri sembari bersandar pada sebuah batu karang, memperhatikan dari kejauhan beberapa mermaid tengah berkumpul untuk mendengar kisah yang diceritakan Mother Cassandra seperti biasa.  Aku tidak ikut bergabung karena tak ingin mendengar Mother Cassandra mengatakan sesuatu yang aneh saat melihatku masih berada di Atlantis. Tak ingin ada satu pun yang curiga dengan rencana kepergianku ke daratan.  Satu-satunya alasan yang membuatku berada di sini karena dua sahabatku berada di sana. Ya, aku berdiri di sini untuk menunggu Nora dan Nata. Sebelum pergi, aku harus memperbaiki hubunganku dengan mereka yang tengah memburuk.  Kedua mataku menelisik ke depan ketika satu demi satu mermaid berhamburan keluar pertanda Mother Cassandra telah selesai menceritakan kisahnya hari ini. Aku memperhatikan satu persatu mermaid yang berenang keluar, memastikan tak melewatkan sosok Nora maupun Nata yang sebentar lagi pasti ikut keluar dari gua tersebut.  Senyuman lebar tersungging di bibirku tatkala dua sosok yang ku tunggu, akhirnya menampakan batang hidung. Aku melambaikan tangan sembari berteriak heboh memanggil nama mereka. Beruntung keduanya mendengar suaraku, meski mereka sempat berpandangan yang mana artinya mereka terkejut melihat kehadiranku di sini, aku lega karena mereka kini tengah berenang menghampiriku.  “Ashley, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak bergabung dengann yang lain di dalam?”  Yang menanyakan itu adalah Nata yang kini sudah berdiri tepat di depanku. Nora pun berdiri di sampingnya, namun seperti biasa dia selalu bersikap tenang. Menatapku dengan tatapan datar andalannya.  Aku terkekeh kecil sembari mengusap-usap belakang kepalaku, “Maaf. Aku bangun kesiangan. Jadi tidak sempat ikut bergabung dengan kalian di dalam.” Jawabanku ini jelas sebuah kebohongan. Mustahil juga aku menceritakan alasan yang sebenarnya.  Nata menggeleng mendengar jawabanku, mungkin sudah biasa melihatku yang pada dasarnya memang ceroboh.  “Lalu apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak pulang saja?” “Aku menunggu kalian,” sahutku cepat, menjawab pertanyaan Nora yang kali ini melontarkan tanya.  Aku berenang semakin mendekati mereka, berdiri di tengah-tengah dan merangkul lengan keduanya.  “Ikut denganku sebentar, mau ya? Sudah lama kita tidak jalan-jalan bertiga.” “Aku harus ...”  Kuletakan jari telunjukku di depan mulut Nora yang terbuka hendak menolak, membuat ucapan sahabatku ini menggantung. Aku kembali terkekeh, sadar sepenuhnya telah berlaku kurang ajar dan tidak sopan.  “Masih ada waktu kan sebelum kau pergi bekerja?” Kataku seraya memandang wajah Nora yang terlihat kesal. Aku menoleh ke arah kiri, pada sosok Nata lebih tepatnya. “Kau juga masih ada sedikit waktu kan untuk menemaniku jalan-jalan?”  “Itu ... aku juga ...”  Sebelum kalimat penolakan Nata ikut meluncur keluar, ku abaikan reaksi tak setuju mereka, ku tarik paksa tangan mereka agar berenang bersamaku.  Aku tahu persis kedua sahabatku ini memang mermaid yang sibuk, jauh berbeda denganku yang selalu bermalas-malasan setiap harinya. Jika bukan karena ini kesempatan yang ku miliki untuk membuat kenangan seindah mungkin dengan mereka, aku pun tak mungkin memaksa mereka. Mau bagaimana lagi, waktuku sangat terbatas sekarang.  Aku mengajak Nora serta Nata duduk di area yang cukup sepi. Di atas sebuah batu karang tepat di depan beberapa ganggang laut berwarna-warni tumbuh dengan cantiknya. Aku duduk di tengah-tengah, diapit dua sahabatku yang hanya terdiam. Mungkin kesal karena aku memaksa mereka datang ke sini.  “Kau ini kenapa? Tidak biasanya kau memaksa seperti ini?” tanya Nora, akhirnya bersuara. “Tidak apa-apa. Aku hanya merindukan kalian saja.” “Pasti kau sedang ada masalah? Iya?” Aku menggeleng tegas, tak heran mendengar pertanyaan Nata, sudah ku duga dia akan mengira seperti itu.  “Aku ingin meminta maaf pada kalian karena kejadian tempo hari itu. Aku keras kepala padahal maksud kalian baik. Kalian hanya memberikan nasihat demi kebaikanku.” Aku mengatakan ini dengan tulus tentunya, karena memang inilah alasanku menemui mereka pagi ini. “Aku ingin kita berbaikan. Kemarin kalian pasti marah padaku, kan? Aku menyebalkan sekali ya ...” Aku terkekeh kecil di akhir ucapanku.  Suara decakan Nora mengalun di telingaku.  “Kami tidak marah. Justru kami yang harus minta maaf karena bicara tanpa memikirkan perasaanmu,” kata Nora. “Benar, benar. Maafkan kami ya Ashley. Kami membicarakan Lex seolah kami bisa membaca isi hatinya. Kami benar-benar minta maaf.” Nata ikut menimpali sembari menangkupkan kedua tangannya di depan d**a.  Aku tak mengatakan apa pun, karena demi apa pun ... apa yang mereka katakan waktu itu sama sekali tidak salah. Bahkan tebakan mereka benar, Lex memang jatuh cinta pada Myesha. Aku saja yang bodoh karena menampik kebenaran itu meski kecurigaan itu sempat ada.  “Aku sudah merenungi perkataan kalian dan ...” Aku menatap Nora, lalu beralih menatap Nata. Ku genggam tangan mereka berdua. “... kuputuskan tidak mengungkit masalah itu lagi. Aku tidak marah pada kalian. Aku senang jika kalian mau memaafkan dan melupakan kata-kata kasarku kemarin.”  Aku meringis ketika Nora tiba-tiba menepuk belakang kepalaku dengan cukup keras.  “Huuh ... memangnya kemarin itu pertama kalinya kita berselisih, tidak kan? Pertengkaran kecil sudah biasa terjadi di antara kita bertiga.” “Setuju. Pertengkaran juga bisa membuat hubungan persahabatan menjadi semakin dekat,” kata Nata heboh sembari memelukku dan Nora. Aku yang berada di tengah-tengah menjadi merasa sesak. Namun, tak kutolak pelukan itu, sebaliknya, kubalas memeluk mereka. Kami pun tertawa bersamaan.  “Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Lex sekarang?” tanya Nata, mengalihkan pembicaraan. “Aku dan Lex ...” Aku menunjuk diriku sendiri saat mengatakan ini. “... kami baik-baik saja. Sama sekali tidak ada yang berubah.” “Berarti tebakan kami kemarin memang salah ya? Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Aku sempat khawatir kalian berdua jadi bertengkar karena kata-kata kami kemarin.”  Aku menggeleng untuk merespon ucapan Nata, “Jangan khawatir. Kami baik-baik saja,” sahutku.  “Kau kemana saja beberapa hari ini?” Yang merubah topik pembicaraan kali ini adalah Nora.  Aku cengengesan sekarang, bingung sendiri harus berbohong apa lagi untuk menutupi keadaanku yang sebenarnya. Aku yang terus menangis di dalam kamar karena kepergian Lex.  “Biasa, penyakitku kambuh. Aku merasa tubuhku lemas belakangan ini karena itu aku istrirahat di rumah.” “Membuat khawatir saja,” timpal Nora, dengan nada ketus andalannya. “Tadinya kami berencana mengunjungi rumahmu jika hari ini kau belum muncul juga. Karena kau sudah muncul di sini, aku lega sekarang,” kata Nata.  “Maaf membuat kalian berdua khawatir.”  Kini giliran aku yang menangkupkan kedua tangan di depan d**a, tanda permohonan maafku dengan tulus pada mereka.  Aku sadar waktuku sudah tak banyak lagi. Sebentar lagi Nora maupun Nata harus memulai aktivitas mereka. Aku pun bangkit berdiri dari posisi duduk. Aku berlutut di depan Nata, ku genggam tangannya erat.  Nata melebarkan mata tampak terkejut melihat tindakanku yang mungkin aneh baginya.  “Nat, aku mau mengucapkan terima kasih karena selama ini kau mau menjadi sahabatku.” “Ihhh ... kenapa mengatakan itu? Sebenarnya kau ini kenapa?” tanyanya, benar kan Nata kebingungan dengan sikapku ini.  “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku. Dengarkan baik-baik ya karena aku tidak akan mengulanginya.”  Aku menundukan kepala untuk menahan sesuatu yang memberontak ingin keluar dari kedua mataku. Walau bagaimana pun inilah detik-detik akhir kebersamaanku dengan dua sahabatku ini.  “Di Atlantis ini hanya kalian berdua sahabat baikku selain Lex.” Aku lega karena Nata tak berkomentar lagi. Dia diam mendengarkan semua yang ku katakan, begitu pun dengan Nora yang ikut diam mendengarkan.   “Nata ... kau selalu baik dan peduli padaku. Sikapmu yang ceria juga menjadi hiburan tersendiri bagiku dikala sedang merasa sedih.”  Kugenggam tangan Nata semakin erat.  “Nat, tetaplah menjadi Nata yang periang seperti ini ya. Jangan pernah berubah. Aku selalu berdoa untukmu agar kau dan kekasihmu bisa cepat-cepat hidup bersama dan memiliki banyak keturunan yang lucu-lucu. Aku tulus mendoakan kebahagiaan untukmu.”  “Ashley ...” balas Nata sembari melepaskan genggaman tanganku, dia merentangkan kedua tangannya ke samping disertai bola matanya yang berkaca-kaca. Memahami isyarat tersirat darinya, aku menghamburkan diri dalam pelukannya.  “Doa yang sama kuberikan juga untukmu. Kau juga ya ... cepatlah utarakan perasaanmu pada Lex. Aku berharap kalian bisa cepat-cepat bersama.”  Aku mengangguk dalam pelukannya, “Tentu saja. Itulah yang akan kulakukan, mengutarakan perasaanku pada Lex.”  Setelah menjawab seperti itu, aku melerai pelukan kami. Kini tatapanku tertuju pada Nora, hal yang sama ku lakukan, aku menggenggam kedua tangannya yang terasa dingin, sedingin ekspresi wajahnya di depan orang lain.  “Jangan mengatakan omong kosong di depanku. Jika kau pikir aku akan menangis seperti Nata mendengar kata-kata anehmu. Jangan harap ya, hanya ada dalam mimpimu.”  Nah kan, belum apa-apa dia sudah mengatakan kalimat pedas. Aku terkikik geli, memang seperti inilah Nora yang aku kenal. Tak pernah berubah meski sudah bertahun-tahun bersahabat dengannya.  “Ra, kau bukan hanya sekadar sahabat bagiku, lebih dari itu. Bagiku, kau sudah seperti sosok seorang kakak yang tidak pernah aku miliki. Terima kasih untuk semua nasihatmu. Meskipun kau sering memarahiku, aku tahu niatmu baik.”  Nora mendengus sembari memutar bola matanya.  “Kau ini kenapa, Ash? Jika masih kurang sehat, lebih baik istirahat saja di rumah daripada tetap di sini, ucapanmu jadi melantur begini.” “Sudah kukatakan, aku hanya ingin mengutarakan perasaanku.” “Sudah kukatakan juga, aku tidak ingin mendengar omong koso ...”  Aku memeluk Nora tanpa seizinnya, membuat Nora terpaku hingga tak melanjutkan lagi ucapannya.  Aku tak kuasa menahan air mataku lagi, jadi ku biarkan wajahku banjir dengan air mata dalam pelukan Nora.  Kupikir Nora akan melepas paksa pelukanku, nyatanya tidak. Dia balas memelukku tak kalah eratnya.  “Aku menyayangimu, Ashley. Bagiku juga kau sudah seperti adikku sendiri. Jadi jangan sungkan, kalau ada masalah, ceritakan saja padaku.”  Aku mengangguk tanpa kata.  “Terima kasih untuk segalanya, Nora. Maaf aku sudah sering merepotkan dan membuatmu khawatir.”  Aku melepaskan pelukanku sembari menatap wajah cemberut Nora, kuhapus jejak air mata di pipi dengan punggung tangan.  “Biasanya kan kau yang memberiku nasehat dan memarahiku. Boleh tidak kali ini aku yang menasehatimu?” “Mau memberiku nasihat apa memangnya?”  Aku tersenyum lebar sebelum kembali membuka mulutku untuk bersuara. “Jangan terlalu galak. Jangan sampai kekasihmu kabur karena kau yang terlalu galak padanya.” “Heeh ... aku galak hanya padamu ya, Ash. Di depan dia dan orang lain, aku biasa saja.” “Iya, benar. Nora galak hanya padamu,” timpal Nata, membenarkan ucapan Nora.  Kami bertiga pun kembali tertawa.  “Aku juga selalu mendoakan kebahagiaan untukmu, Ra. Semoga kekasihmu yang sekarang benar-benar merman yang ditakdirkan untukmu ya. Secepatnya kalian hidup bersama dan memberiku keponakan yang manis dan lucu. Mudah-mudahan keturunanmu nanti tidak ada yang memiliki sifat galak sepertimu.”  Nora mencubit pipiku cukup kencang seketika aku meringis kesakitan. Mereka berdua tertawa serempak, tampak senang melihatku yang tengah kesakitan. Kuusap pipiku yang pastinya memerah disertai wajah memberengut tak suka.  Tak ada lagi yang ingin ku katakan pada mereka, sudah kuutarakan semua isi hatiku.  Sekali lagi ku pandangi wajah Nora, lalu beralih pada Nata. Mereka berdua pasti baik-baik saja meskipun aku sudah tak ada lagi di tengah-tengah mereka.  Aku bangkit berdiri setelah memantapkan hati. Inilah saat perpisahan itu.  “Sudah saatnya kalian bekerja, kan? Kalian sudah boleh pergi.” “Kau mengusir kami sekarang?”  Aku geragapan, padahal bukan itu maksudku. Nora selalu sukses membuatku tiba-tiba panik dengan tuduhan-tuduhannya.  “Bukan mengusir, hanya saja ...” “Ya, ya, kami tahu. Jadi sudah puas mengungkapkan isi hatinya?” tanya Nata sembari menyenggol lenganku.  “Sudah puas. Terima kasih sudah mendengarkan,” jawabku.  Nata terkekeh sedangkan Nora hanya mendengus kasar.  “Kalau begitu kami pergi dulu ya. Pulanglah, kau terlihat aneh hari ini, Ashley.” Nata lagi yang berbicara. “Jika ada masalah jangan sungkan berbagi dengan kami, paham?”  Aku mengangguk seraya memposisikan tanganku menyentuh pelipis seolah aku sedang memberi hormat pada Nora sekarang.  Mereka berdua pun berenang menjauhiku. Melambaikan tangan sebelum benar-benar pergi.  “Sampai jumpa besok, Ashley!!” teriak keduanya bersamaan.  Aku hanya tersenyum, tak membalasnya. Aku hanya tidak yakin akan bertemu dengan mereka lagi nanti. Dan mungkin inilah terakhir kali aku melihat mereka, terakhir pula menjadi bagian penghuni Atlantis.  Aku beruntung memiliki sahabat seperti Nora dan Nata. Kini aku sangsi, mungkinkah aku akan bertemu dengan orang sebaik mereka di daratan nanti?  Menghela napas panjang, aku pun berenang menuju rumahku untuk mengambil cairan mantra dan pakaian yang diberikan Mother Cassandra.  Tak membutuhkan waktu lama, setelah kedua benda itu ada di tanganku, aku memantapkan keputusanku untuk pergi. Ya, aku sudah siap pergi ke daratan. Aku sudah mengucapkan salam perpisahan pada orangtuaku dan juga kedua sahabatku. Tak ada lagi yang ku sesali sekarang.  Tanpa membuang waktu lagi, aku berenang cepat menuju ke permukaan.  Aku tak tahu sudah berapa lama aku berenang, yang kutahu ... sekarang aku sudah tiba di permukaan laut. Aku berenang ke tepian, ke tempat yang sama dimana aku mengantar kepergian Lex dan Myesha beberapa hari yang lalu.  Tempat ini sepi, tak ada manusia yang melihatku ketika aku mendudukan diri di tepian. Jantungku berdebar cepat setelah ku buka tutup botol berisi cairan mantra yang akan merubah ekorku menjadi sepasang kaki.  Menghela napas berulang kali sembari ku usap-usap dadaku sendiri. Jika aku meminum cairan ini maka hidupku akan berubah sepenuhnya.  Keraguan sudah sirna sepenuhnya dari hatiku, yang kuinginkan sekarang hanyalah pergi ke daratan untuk membawa Lex kembali ke Atlantis.  Aku pun menenggak habis cairan itu dalam sekali tegukan. Kurasakan hawa dingin meluncur dari mulut, masuk ke dalam tenggorokan dan bersarang di bagian ekor. Aku meringis ketika merasakan ekorku tiba-tiba kaku, tak bisa digerakkan.  Rasanya begitu sakit hingga ingin aku berteriak sekarang. Namun, aku tahan mati-matian karena tak ingin teriakanku didengar orang lain. Aku memejamkan mata, tak kuasa melihat ekorku yang perlahan mulai mengalami perubahan.  Baru lah ketika rasa sakit itu perlahan pudar, aku kembali membuka mata. Ku yakin kedua mataku membulat sempurna sekarang, bagaimana tidak ... kudapati ekor cantik yang selalu kubanggakan, kini tak ada lagi. Digantikan sepasang kaki seperti manusia normal.  Aku semakin terkejut mendapati tubuhku dalam keadaan polos, tak tertutupi sehelai benang pun. Jadi inilah alasan Mother Cassandra memberiku pakaian ini. Aku jadi ingat Lex yang langsung berpakaian seperti manusia setelah merubah ekornya menjadi sepasang kaki, tentu saja hal itu terjadi berkat kemampuan sihirnya.  Secepat yang ku bisa, masih dalam posisi duduk ... aku mengenakan pakaian yang diberikan Mother Cassandra. Pakaian ini basah karena terendam air, tidak masalah aku akan menunggunya sampai kering sendiri.  Aku menelisik sekitar, tatapanku tidak lagi tertuju pada laut yang membentang luas. Melainkan pada dunia baru yang akan ku jajaki. Mungkin ini saatnya aku mengucapkan selamat tinggal pada dunia Atlantis, dan selamat datang pada dunia daratan yang dipenuhi manusia.  Aku siap menghadapi rintangan apa pun yang akan menghadangku di masa depan nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD