Sampai Kapan Bisa Bertahan

1361 Words
Seperti yang dikatakan Myesha, Arsen memang sudah menungguku di depan. Wajahnya terlihat masam, sudah kuduga dia pasti akan mengomeliku seperti biasa. Aku menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan, mencoba menyiapkan diri sebelum akhirnya kulangkahkan kaki mendekatinya. “Kenapa lama sekali? Padahal aku sudah bilang kita akan mulai belajar pagi-pagi. Apa kau bangun kesiangan?” Dia bertanya dengan nada kesal, ketus dan sinis. Ingin rasanya aku membalas perkataannya ini dengan nada yang sama, tapi aku mencoba menahan diri karena aku sedang tak berselera berdebat dengannya. “Maaf, aku sudah bangun sejak pagi. Tapi tadi aku makan dulu.” Satu alis Arsen terangkat naik. “Makan?” Aku mengangguk. “Ya, tadi Lex datang ke kamarku dan membawakan roti untukku.” “Ck, jadi tadi kau memakan roti?” Kembali kuanggukan kepala. “Iya, aku makan roti dulu tadi. Rasanya lezat sekali. Aku suka rasanya.” Aku berujar demikian dengan riang karena teringat pada rasa roti yang dibawakan Lex tadi, rasanya memang sangat pas di lidahku. “Huh, seharusnya kau jangan makan apa-apa dulu tadi.” “Memangnya kenapa?” tanyaku heran karena Arsen terlihat tak senang mendengar aku sudah makan sebelum datang ke sini. “Nanti juga kau akan tahu alasan aku bicara begini. Ya sudah, cepat ikut aku. Ini sudah siang, jangan membuang waktu lagi.” Aku hanya mengangguk-anggukan kepala, memilih patuh karena sekali lagi aku tak ingin berdebat dengannya. “Hei, tunggu apa lagi? Cepat jalan!” Kali ini Arsen membentakku, aku yang sedang berdiri mematung tersentak karena terkejut. “Ya sudah, kau jalan duluan, aku kan mengikuti dari belakang.” “Kau ini bodoh, ya?” Keningku mengernyit dalam, bohong jika aku tak tersinggung mendengar ucapannya itu. “Mana mungkin aku bisa jalan duluan kalau tidak kau dorong kursi rodanya. Cepat dorong.” Aku memutar bola mata, jadi ini alasan dia membentakku, padahal dia bisa memintaku mendorong kursi rodanya secara baik-baik. Sekarang tak kuragukan lagi aku memang tak menyukai pria yang satu ini, dia terlalu menyebalkan. Tak berkomentar apa pun untuk menanggapinya, aku pun menurut. Aku sudah memegang pegangan di belakang kursi roda, dan ketika aku siap mendorongnya. “Tunggu sebentar.” Arsen tiba-tiba melarangku untuk berjalan sehingga aku pun mengurungkan niat untuk melangkah detik itu juga. “Kenapa lagi?” tanyaku. “Aku ingin memastikan sekali lagi, apa kau yakin akan belajar dariku?” Bola mataku berotasi, entah sudah keberapa kalinya dia bertanya seperti ini, padahal sudah kujawab dengan jelas bahwa aku sudah yakin dengan keputusanku ini. Namun, kembali dia bertanya. “Ya, aku sudah yakin. Jangan bertanya lagi karena aku tidak akan menarik kata-kataku.” Dengan tegas aku memberikan jawaban seperti ini. Arsen mendengus. “Baik kalau begitu. Tapi jangan menyesal karena aku tidak akan segan-segan atau berbelas kasihan padamu. Kau harus menuruti apa pun yang aku perintahkan.” Aku meneguk ludah, ucapan Arsen ini cukup membuatku takut dan bertanya-tanya, memangnya apa yang akan dia lakukan padaku? Aku tahu jawabannya akan kudapatkan setelah memulai latihan kami sehingga tanpa berkata apa pun lagi, aku pun mulai mendorong kursi roda yang diduduki Arsen. Entah ke mana pria ini akan membawaku pergi. *** “Jangan berhenti. Cepat lanjutkan!” Itu suara teriakan Arsen yang sedang memberikan perintah padaku agar terus berlari mengelilingi lapangan ini. Arsen ternyata mengajakku ke sebuah lapangan berumput yang biasa digunakan untuk bermain sepak bola. Itu yang Arsen jelaskan ketika aku bertanya padanya. Lapangan ini berada tak jauh dari rumah Arsen, dan pria itu bilang sewaktu kakinya belum lumpuh seperti ini, dia sering berlatih sepak bola di lapangan ini. Kini di sinilah aku berlatih. Arsen bilang sebelum mulai berlatih menggunakan senjata, aku harus melatih fisikku terlebih dahulu agar kuat. Karena itu dia menyuruhku untuk berlari, padahal jangankan berlari, untuk berjalan pun aku masih beradaptasi karena baru memiliki sepasang kaki seperti ini. Sebenarnya jika aku masih memiliki ekor dan kami ada di dalam air, tak sulit bagiku untuk berenang dengan cepat. Namun, berlari seperti ini … sungguh aku kesulitan melakukannya. Terhitung sudah dua putaran yang aku lalui, walau laju lariku sangat pelan karena seperti yang kukatakan tadi, aku belum terbiasa menggunakan sepasang kaki ini. Aku masih terus berlari walau kepalaku rasanya sudah berputar-putar dan tatapanku mulai berkunang-kunang. Jangan lupakan napasku yang mulai tersengal-sengal. Baru dua putaran dan aku merasa benar-benar tersiksa. Tubuhku sudah kelelahan bukan main rasanya aku tak sanggup lagi untuk berlari. Aku pun berhenti, aku mencoba mengatur napas seraya membungkuk, memegang kedua lututku. “Apa yang kau lakukan? Kenapa berhenti?!” Arsen kembali berteriak, melarangku agar tak berhenti, tapi sungguh aku sudah tak kuat lagi karena itu kuabaikan teriakannya. Aku kini mendoakan kepala ke atas mencoba mengisi pasokan udara yang rasanya nyaris tersedot habis. “Ck, apa yang kau lakukan? Kenapa malah berhenti berlari?!” Arsen menghampiriku, dia menjalankan sendiri kursi rodanya dan kini berada tepat di sampingku. Saat aku menoleh ka arahnya, kulihat wajahnya memerah karena kesal dan marah padaku yang tak menuruti perkataannya. “Aku lelah sekali. Tolong biarkan aku istirahat sebentar saja,” ucapku dengan napas terengah-engah, aku bahkan hampir tak bisa mengeluarkan suara karena deru napasku yang begitu cepat. Jangankan untuk bicara, untuk bernapas pun rasanya sangat sulit kulakukan. Arsen mendengus seolah dia sedang mencibir perkataanku, padahal aku serius dengan perkataanku ini, aku memang kelelahan, rasanya akan mati jika kupaksakan untuk terus berlari. “Baru berlari segini saja kau sudah mengeluh, padahal kau sendiri yang bilang jika kau ingin, kau pasti bisa melakukan apa pun. Tapi mana buktinya? Baru lari dua putaran saja kau sudah seperti akan mati begini.” Aku tak bisa membalas kata-katanya karena sekali lagi, aku bahkan sulit untuk mengatur napasku. “Bagaimana kau bisa membantu kami balas dendam pada keluarga Mikelson jika fisikmu selemah ini? Lebih baik kau lupakan saja keinginanmu untuk menggantikan pria bernama Lex itu. Biarkan dia yang membantu kami balas dendam seperti yang direncanakan Myesha.” “Tidak,” sahutku tegas, aku juga bergegas mengangkat kepala dan menegakan tubuh. “Aku akan menggantikan Lex. Jangan coba-coba kalian berdua melibatkan Lex dengan rencana balas dendam kalian.” “Kau bicara seperti ini seolah kau memang kuat dan sanggup saja menggantikannya karena nyatanya fisikmu memang payah.” Aku tak ingin melanjutkan pembicaraan menyebalkan ini sehingga aku pun mencoba memaksakan diri. Walau napasku masih terengah-engah dan aku masih kelelahan bukan main, aku kembali memaksakan diri untuk berlari. Kepalaku rasanya sangat pusing hingga sekelilingku terlihat berputar-putar, napasku semakin putus-putus, tapi aku tetap memaksakan diri. Walau laju lariku terlihat pelan, tapi sungguh aku sedang mengerahkan seluruh tenaga yang kupunya. Aku terus berlari, hingga lima putaran berhasil kulalui. Namun, ketika aku sedang menjalani putaran keenam, kedua kakiku sudah tak sanggup lagi menahan keseimbangan hingga aku pun terjatuh dalam posisi menelungkup di lapangan. Aku ingin berdiri, tapi rasanya sulit sekali, tubuhku terasa lemas. Aku bahkan merasakan perutku mual bukan main hingga aku pun memuntahkan semua isi di dalam perutku. “Inilah kenapa aku melarangmu untuk sarapan karena kau akan mual jika memaksakan olahraga saat perutmu penuh dengan makanan,” ucap Arsen yang entah sejak kapan sudah berada di dekatku yang masih dalam posisi menelungkup. “Fisikmu memang lemah dan payah, tapi kuhargai kerja keras dan usahamu. Aku tidak akan menceritakan kejadian hari ini pada Myesha.” Aku mengulas senyum tipis, lega mendengar Arsen yang mau berbaik hati padaku. “Terima kasih,” ucapku tulus. “Huh, tapi jangan harap besok akan lebih mudah, sebaliknya besok akan jauh lebih berat dari ini. Jadi, persiapkan dirimu.” Setelah mengatakan itu, Arsen mendorong sendiri roda pada kursi rodanya. “Kau akan pergi ke mana?” tanyaku karena kulihat dia berniat meninggalkanku sendirian di sini. “Tentu saja pulang. Tidak ada alasan bagiku untuk lebih lama lagi di sini.” “Tapi aku belum sanggup untuk bangun. Aku masih lelah sekali dan kepalaku sangat pusing. Aku juga harus mengatur napasku dulu.” Arsen mendengus keras. “Memangnya siapa yang memintamu untuk ikut denganku sekarang? Kau istirahat saja di sini karena aku tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Setelah itu Arsen benar-benar pergi meninggalkanku, aku pun merebahkan diri, terlentang di lapangan berumput ini. Fisikku memang selemah ini, aku sangat menyadarinya, hanya saja yang jadi pertanyaannya sampai kapan tubuhku ini sanggup bertahan seperti ini? Untuk kesekian kalinya aku merutuki tubuhku yang lemah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD