Janji Yang Terucap

1679 Words
Seperti yang direncanakan kemarin, hari ini aku akan mulai belajar dan berlatih menggunakan senjata. Aku sudah bangun pagi-pagi sekali, bersiap-siap jika Arsen tiba-tiba memanggilku dan mengajakku ke suatu tempat. Walau masih takut, aku mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa aku pasti bisa melakukannya. Aku sedang menyisir rambut di kamarku saraya memikirkan banyak hal yang sejak menguping pembicaraan Myesha dan Arsen, terus terngiang-ngiang di kepalaku. “Ashley.” Aku tersentak kaget, sisir di tanganku seketika terlepas dan berdenting membentur lantai saat terjatuh begitu mendengar suara seseorang yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Walau tanpa menoleh ke belakang pun aku tahu pemilik suara itu adalah Lex. Begitu berbalik badan, benar saja memang Lex baru saja muncul dari balik pintu, dia masuk ke kamarku tanpa permisi. “Huh, kau ini membuatku kaget saja. Kenapa tidak minta izin dulu untuk masuk?” tanyaku seraya memasang wajah cemberut, walau nyatanya dalam hati sebenarnya senang melihat Lex menemuiku. Seharian kemarin aku tak bertemu dengannya, dia selalu pergi menemani Myesha sehingga tak memiliki waktu untuk menemuiku. Walau hanya tak bertemu satu hari, rasanya aku sangat merindukan Lex. Pasti ini karena selama di Atlantis setiap hari aku menghabiskan waktu dengannya. Lex berdecak, dia melangkah menghampiriku. “Meminta izin bagaimana maksudmu?” “Mengetuk pintu dulu contohnya. Nenek Lana mengajariku jika ingin ke kamar Arsen, aku harus mengetuk pintu dulu. Sepertinya itu bentuk sopan santun bagi bangsa manusia karena di Atlantis tidak ada yang seperti ini.” Lex mendengus kali ini. “Tentu saja. Mana ada mengetuk pintu, kau saja kalau datang ke rumahku pasti langsung masuk.” “Ya, karena di rumah kita di Atlantis tidak ada pintu.” “Mana mungkin ada pintu karena rumah kita di sana terbuat dari tumpukan kerang,” sahut Lex. Kami berdua saling berpandangan, mengingat-ingat rumah kami di kampung halaman, dan seketika kami berdua tertawa lantang menyadari begitu banyak perbedaan di dunia Atlantis dan di daratan yang ditempati para manusia. Lex berjalan menghampiriku dan duduk di tempat tidur di mana jaraknya sangat dekat dengan kursi yang sedang kududuki. “Kau sedang apa, Ash?” “Menurutmu?” Aku bertanya balik, seharusnya tanpa menjawab pun dia tahu aku sedang menyisir rambutku. “Sepertinya kau mulai bisa beradaptasi tinggal di daratan, ya. Kau bahkan mulai terbiasa menggunakan alat-alat di sini,” sahut Lex seraya menatap sisir yang sedang aku pegang. “Bukankah kau juga begitu?” Satu alis Lex terangkat naik. “Maksudnya?” “Kau juga sepertinya sudah beradaptasi tinggal di daratan, bahkan kau sudah sering bepergian berdua dengan Myesha. Sepertinya kalian bersenang-senang berdua kemarin.” Aku yakin wajahku sedang cemberut sekarang karena aku selalu merasa kesal setiap kali membayangkan Lex dan Myesha sedang berduaan. Bahkan pikiranku sering melanglang buana, memikirkan apa saja yang mereka berdua lakukan saat berduaan. Berbagai pikiran negatif pun memenuhi kepalaku. “Aku mengantar Myesha. Sebenarnya aku juga ingin membawamu bersama kami, tapi kau kan harus bekerja. Arsen membutuhkan bantuanmu karena dia tak bisa melakukan apa pun sendirian.” “Siapa yang bilang begitu? Padahal kan ada Nenek Lana yang bisa melayani kebutuhan Arsen juga. Pasti Myesha, kan? Dia yang melarangmu mengajakku.” “Myesha hanya mengkhawatirkan kakaknya. Dia percaya kau bisa menjaga dan melayaninya dengan baik. Dia sangat percaya padamu, Ash, karena itu menitipkan kakak laki-lakinya padamu.” Aku mendengus dalam hati mendengar Lex yang terus membela Myesha di depanku. Di depan Lex, wanita itu mengatakan alasanku bekerja untuk Arsen karena dia mengkhawatirkan kakaknya dan percaya aku bisa menjaga serta melayani Arsen dengan baik, padahal alasannya dia mempekerjakan aku melayani Arsen karena dia tak rela jika aku menetap di rumah ini dengan gratis. Ya, aku ingat Myesha sendiri yang mengatakan itu. Kebencianku pada Myesha semakin bertambah besar karena dia yang terus berpura-pura baik di depan Lex. Aku yang sedang melamun ini kembali tersentak kaget karena Lex yang tiba-tiba memegang daguku. “Hei, kenapa malah melamun? Kau marah ya karena tidak diajak?” Aku mendengus. “Menurutmu?” Lex pun terkekeh. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu sendirian. Lain kali aku akan mengajakmu pergi, bagaimana?” tanyanya seraya menangkupkan kedua tangan di depan d**a sebagai bentuk permohonan maaf. “Lain kali itu kapan?” Kali ini Lex memasang pose sedang berpikir keras. “Hm, kapan, ya? Entahlah, tapi aku usahakan secepatnya.” Dia pun menyengir lebar di akhir ucapannya. Ekspresi wajahnya yang sangat aku rindukan, rasanya sulit bagiku sekarang untuk menghabiskan waktu bersama Lex. “Kau jangan cemberut terus, Ash, aku minta maaf sudah meninggalkanmu kemarin. Sebagai gantinya, aku membawakan kejutan untukmu.” Lex terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantong yang dia bawa ke kamarku. Itu terlihat seperti makanan yang biasa dibuatkan Nenek Lana untuk Arsen. “Ini, coba dimakan. Myesha bilang nama makanan ini roti, rasanya enak sekali. Kau pasti suka.” Aku menatap gamang pada makanan bernama roti yang diulurkan Lex padaku, menatap dalam diam karena aku sama sekali tidak menerimanya. “Ck, kau ini kenapa melamun terus? Ayo diambil dan makan.” Mungkin karena aku yang diam membisu tanpa mengambil pemberiannya, Lex menangkap tangan kananku, lalu meletakan roti itu di telapak tanganku. “Ayo dimakan. Percayalah rasanya sangat lezat.” Aku mengembuskan napas pelan, kulihat Lex begitu ingin melihatku memakan makanan yang dibawanya ini, tapi jika makanan ini Myesha yang membelikannya, rasanya malas sekali aku untuk memakannya. “Apa Myesha yang membelikan roti ini?” tanyaku akhirnya. Lex mengangguk. “Ya, dia membelikannya untukku. Aku sudah memakannya dan suka dengan rasanya. Karena aku ingat padamu makanya aku sisakan juga untukmu dan membawanya sekarang. Ayo dimakan, Ash. Kenapa kau terlihat ragu?” Ingin rasanya mengatakan aku tak mau memakan roti ini karena ini Myesha yang membelikannya, tapi aku takut Lex akan marah padaku sehingga aku tetap diam membisu dengan tatapanku yang tertuju sepenuhnya pada roti yang ada pada genggaman tanganku. “Ck, kau ini kenapa, Ash? Sejak aku masuk ke kamarmu, kau melamun terus?” “Aku tidak apa-apa. Aku hanya ….” Namun, aku tak pernah bisa melanjutkan ucapanku karena Lex yang dengan kurang ajar memasukan potongan roti ke dalam mulutku yang sedang terbuka. “Lex … kau ini …” “Jangan banyak bicara. Ayo dikunyah dan nikmati rasanya, kau pasti suka.” Aku mendengus keras, tapi karena roti ini sudah ada di mulutku, aku pun dengan terpaksa mulai mengunyahnya dan memang benar seperti yang dikatakan Lex, roti ini terasa lezat di mulutku. Pantas dia bilang rasanya enak dan aku pasti menyukainya. “Bagaimana? Enak, kan?” Aku mengangguk-anggukan kepala. “Kalau begitu habiskan. Sini, biar aku suapi.” Lex tak main-main dengan ucapannya, dia merebut roti dalam genggaman tanganku, lalu dia masukan sedikit demi sedikit potongan roti itu ke dalam mulutku. Sama halnya seperti saat kami di Atlantis dulu, sekarang pun dia sedang menyuapiku dengan telaten, membuatku kembali teringat pada semua kenangan indah kami saat di Atlantis. Tak kupungkiri rasanya ingin sekali aku membawa Lex pulang ke Atlantis sekarang juga. “Lex, bagaimana kalau kita kembali ke Atlantis?” tanyaku yang membuat gerakan tangan Lex yang sedang menyuapiku itu terhenti seketika. Dia pun mengembuskan napas pelan. “Pembahasan ini lagi, sudah kukatakan aku tidak akan kembali lagi ke Atlantis. Aku ingin di sini. Aku ingin bersama Myesha, aku mencintainya.” Jawabannya sangat menyakitkan, untuk kesekian kalinya Lex mematahkan hatiku dengan pernyataan cintanya pada Myesha. Betapa besar perasaan cinta Lex untuk Myesha sampai dia tak berniat kembali ke Atlantis. Namun, mengingat rencana jahat yang direncanakan Myesha untuk memanfaatkan kekuatan sihir Lex, rasanya aku ingin memberitahu Lex sekarang juga tentang siapa Myesha yang sebenarnya. Kenyataannya wanita itu tak sebaik yang Lex kira selama ini. “Lex, ada sesuatu yang ingin aku katakan. Ini tentang Myesha.” Lex yang sedang fokus memotong roti untuk dimasukan ke dalam mulutku, kini mengangkat kepala dan menatap wajahku dengan satu alis terangkat naik. “Kenapa? Ada apa dengan Myesha?” Aku meneguk ludah, tapi aku yakin memang harus memberitahu Lex yang sebenarnya sebelum semuanya terlambat. Kami masih bisa kembali ke Atlantis tanpa perlu melibatkan diri dengan rencana balas dendam Myesha dan Arsen pada musuhnya. “Myesha itu …” “Ashley.” Namun, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah pintu membuatku seketika mengatupkan mulut kembali. Itu Myesha yang entah kenapa tiba-tiba masuk ke kamarku. “Kak Arsen sedang menunggumu di luar. Ayo cepat ke sana, jangan memubuatnya kesal karena menunggumu lama.” Aku kembali meneguk ludah, kesempatanku untuk memberitahu Lex tentang kejahatan Myesha sepertinya sudah hilang. Arsen menungguku di luar pasti karena dia akan mengajari dan melatihku cara menggunakan senjata seperti yang kami rencanakan kemarin. “Ayo cepat Ashley,” desak Myesha, memaksa agar aku cepat pergi. “Ashley sedang makan roti dulu, Sha. Apa tidak bisa Arsen menunggu sebentar sampai Ashley menghabiskan rotinya?” Lex yang mengatakan itu, aku berharap Myesha akan mengabulkannya, memberi sedikit waktu lagi untukku berduaan dengan Lex. Namun, harapanku tinggal harapan ketika Myesha menanggapi dengan gelengan kepala. “Tidak. Kak Arsen itu orangnya tidak sabaran. Kau pasti tidak ingin Ashley dimarahi Kak Arsen, kan? Jadi, biarkan dia pergi menemui kakakku, roti itu bisa dia habiskan nanti.” Lex mengembuskan napas pelan, terlihat kecewa mendengar jawaban Myesha, dia pun menoleh padaku. “Sepertinya kau harus pergi sekarang, Ash. Aku letakan roti ini di sini ya supaya nanti bisa kau makan lagi,” ucapnya seraya meletakan sisa roti yang belum kumakan di atas meja, dekat tempat tidurku. Aku tak bisa melakukan apa pun selain menurut, aku pun berjalan menuju pintu. Ketika aku berpapasan dengan Myesha yang memang sedang berdiri di dekat pintu. “Jangan coba-coba mengkhianatiku, Ashley, atau aku akan berubah pikiran dan akan melakukan seperti rencana awalku untuk memanfaatkan Lex demi ambisi balas dendamku.” Tiba-tiba Myesha berbisik pelan seperti itu sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya. “Tidak, jangan lakukan itu. Aku janji tidak akan mengkhianatimu, aku akan menuruti apa pun perintahmu,” balasku, sama halnya dengan Myesha, aku pun berbisik pelan agar Lex yang berada jauh di dalam sana, tak bisa mendengarnya. “Jangan hanya omong besar, kau harus membuktikannya. Cepat sana, lakukan semua yang diperintahkan Kak Arsen padamu.” Setelah itu, Myesha menghampiri Lex disertai senyuman palsu yang terulas di bibirnya. Sedangkan aku memilih pergi karena tak tahan melihat kedekatan di antara mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD