Berkorban Untuknya

1679 Words
Keheningan melanda antara aku dan Arsen yang masih berada di kamar ini. Pembicaraan kami tadi masih membuat suasana terasa menegangkan. Kuhembuskan napas secara perlahan lalu menatap pada Arsen yang ternyata masih dalam posisi yang sama, duduk sambil bersandar pada kepala ranjang. “Apa ada yang bisa aku bantu?” tanyaku, mencoba melembutkan suara karena aku yang ingat statusku di sini hanya sebagai pelayan Arsen. “Ya, bantu aku bangun dan duduk di kursi roda.” Aku tak mengajukan protes apa pun, aku sadar betul inilah tugasku yaitu melayani semua kebutuhan Arsen. Aku pun berjalan menghampirinya dan seperti permintaannya, aku membantunya untuk bangun. Tubuhnya sangat berat saat aku memapahnya, tapi coba kutahan hingga akhirnya berhasil membantunya duduk di kursi roda. “Ada lagi yang kau butuhkan?” Aku kembali bertanya. “Suruh Nenek Lana menyiapkan makanan untukku. Kau bisa ikut membantunya. Kau harus belajar memasak agar kelak jika aku ingin makanan, harus kau yang menyiapkannya, bukan Nenek Lana lagi.” Aku hanya mengangguk karena sama sekali tak berminat berdebat dengannya, rasanya semua tenagaku terkuras habis setelah mati-matian membujuk Myesha agar tak memanfaatkan kekuatan Lex lagi demi ambisi balas dendamnya. “Baik, kalau begitu aku pergi ke dapur dulu.” Aku pun berbalik badan dan melangkah pergi menuju pintu tanpa menunggu jawaban Arsen. “Ashley.” Namun, suara Arsen yang memanggil namaku seketika membuatku menghentikan langkah. Aku pun kembali berbalik badan menghadapnya. “Iya, kenapa?” “Kau ini lemah dan payah, sekilas pun aku bisa melihat kamu pasti tidak sanggup mengikuti perintahku dan Myesha.” Aku mendengus mendengar Arsen yang kembali membahas masalah rencana balas dendamnya dan Myesha, masih tampak meragukan kemampuanku. Kupikir pembahasan ini sudah selesai setelah kesepakatan antara aku dan Myesha tadi selesai. “Jangan bicara sebelum melihatnya. Kalian lihat saja dulu, aku pasti bisa menjalankan apa pun yang kalian perintahkan padaku.” “Kau tidak tahu kengerian apa yang sedang kau hadapi ini. Kau akan melakukan kejahatan besar, Ashley.” Aku tersenyum tipis mendengarnya. “Dari ucapanmu itu sepertinya kau mengkhawatirkanku.” Arsen mendengus keras. “Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin rencana balas dendam yang sudah aku dan Myesha susun dengan matang gagal karena ulahmu.” “Jika itu yang kau takutkan, jangan khawatir. Aku akan melakukan apa pun agar rencana kalian berjalan lancar dan sukses. Kalian cukup katakan saja apa yang harus aku lakukan, aku pasti akan menurutinya.” “Aku heran kenapa kau sampai seperti ini, bersi keras mengorbankan dirimu.” Aku tersenyum tipis. “Jika itu demi Lex, aku rela melakukan apa pun. Permisi, aku pergi ke dapur dulu.” Aku pun kembali berbalik badan dan melangkah pergi. “Aku harap kau tidak akan menyesali keputusanmu ini.” Namun, lagi-lagi suara Arsen kembali mengalun sehingga mau tak mau aku juga kembali menoleh padanya. Kembali aku mengulas senyum tipis. “Jangan mengkhawatirkan tentang aku yang sudah mengambil keputusan dengan tepat atau tidak, cukup pikirkan cara untuk mengajari dan melatihku menggunakan senjata seperti yang dikatakan Myesha.” “Huh, jika itu maumu baiklah. Jangan mengeluh karena aku tidak akan berbaik hati atau lembut padamu. Besok kita akan mulai berlatih.” Aku mengangguk, sama sekali tak keberatan. “Baik, aku sudah tidak sabar ingin segera besok.” Setelah itu, aku pun kembali melangkah pergi dan kali ini aku benar-benar pergi dari kamar Arsen. Setibanya di luar kamar dan aku sudah menutup pintu, aku menyandarkan punggungku pada daun pintu. Tiba-tiba saja aku yang sejak tadi terlihat tegar dan kuat, kini kembali pada diriku yang sebenarnya. Aku yang sejak tadi menahan amarah kini tak kuasa lagi menahannya hingga tubuhku gemetaran. Dan tiba-tiba saja air mataku mengalir dengan sendirinya, ini karena sebenarnya aku takut. Takut membayangkan apa yang akan menimpaku nanti. Walau aku bicara seperti tadi pada Myesha dan Arsen seolah aku ini sosok yang kuat, sebenarnya aku sendiri tak yakin bisa melakukan misi balas dendam yang sepasang saudara itu rencanakan. Namun, sekali lagi demi Lex, aku harus bisa melakukannya. Aku tidak boleh menyerah sebelum mencobanya. Setelah menenangkan diri sejenak, aku pun pergi menuju dapur untuk melaksanakan seperti yang diperintahkan Arsen. Setibanya di dapur, kutemukan Nenek Lana sedang berada di sana. Tanpa ragu kuhampiri dia. “Nenek, tadi Arsen meminta Nenek untuk menyiapkan sarapan. Nenek akan membuat apa untuk sarapannya? Arsen menyuruhku untuk membantu Nenek agar sekalian belajar.” Aku mencoba bersikap senormal mungkin di depan Nenek Lana, tak ingin nenek yang baik hati ini menyadari aku baru saja menangis dan sedang ada masalah berat yang aku hadapi. “Hm, kita buat yang sederhana saja, ya. Kita buatkan sandwich saja untuk Tuan Muda Arsen.” “Baik, Nek. Ayo kita mulai membuatnya. Apa yang harus kulakukan untuk membantu Nenek?” “Coba kau cuci saja sayuran itu.” Nenek Lana menunjuk pada sayuran hijau yang diletakan tak jauh dari tempatku berdiri. Aku pun hendak mencucinya seperti yang Nenek Lana perintahkan, tapi saat aku hendak berjalan pergi, Nenek Lana tiba-tiba menahan tanganku. Refleks aku menoleh padanya. “Kenapa, Nek?” tanyaku. “Jangan melakukan tindakan yang bisa membuatmu terluka, Ashley.” Keningku mengernyit mendengar ucapan Nenek Lana yang tiba-tiba ini. “Maksudnya, Nek? Aku tidak mengerti.” “Nenek sudah tahu semuanya. Pembicaraan antara kau dan Nona Myesha juga Tuan Muda Arsen, Nenek tidak sengaja mendengarnya ketika datang ke kamar Tuan Muda Arsen untuk memastikan kau tidak melakukan kesalahan.” Detik itu juga aku melebarkan mata, tak menyangka ternyata Nenek Lana menguping pembicaraan kami. Nenek Lana kini menggenggam kedua tanganku erat dan menatapku serius. “Ashley, Nenek mendengar semua yang kau katakan di kamar Tuan Muda Arsen, tolong jangan lakukan itu, Nak. Jangan memaksakan dirimu, apalagi sampai melakukan kejahatan seperti itu. Balas dendam bukan perbuatan yang benar, itu kesalahan besar, Nak. Nenek sudah sering membujuk Nona Myesha dan Tuan Muda Arsen untuk melupakan kebencian dan dendam mereka pada keluarga Mikelson, tapi Nenek selalu gagal. Walau Nenek mengerti alasan mereka sebenci ini pada keluarga itu.” Aku mengulas senyum, aku tahu Nenek Lana mengatakan ini karena murni dan tulus dia mengkhawatirkan aku. Aku balas menggenggam tangannya. “Jangan khawatir, Nek. Aku pasti akan baik-baik saja.” Nenek Lana menggelengkan kepala dengan tegas. “Tapi Nak, yang akan kau lakukan itu kejahatan serius. Kau mungkin akan melenyapkan nyawa manusia. Jika tertangkap, kau bisa dihukum berat.” Tentu aku tahu konsekuensi apa yang akan aku hadapi jika sampai membunuh manusia, bahkan Madam Cassandra sudah mengatakannya dengan jelas, bahwa aku tidak boleh menyakiti apalagi sampai membunuh manusia karena hukumannya akan sangat berat untukku. Namun, aku tak memiliki pilihan lain, semua ini kulakukan demi Lex, satu-satunya pria yang kucintai di dunia ini. “Pergi dari sini sebelum semuanya terlambat, Nak. Nenek merasa kau dan pemuda bernama Lex itu tidak seharusnya tinggal di rumah ini. Kalian tidak boleh melibatkan diri dengan dendam Nona Myesha dan Tuan Muda Arsen.” “Jika boleh jujur, aku juga ingin kembali ke tempat asalku, Nek. Aku tidak betah tinggal di daratan.” Aku cepat-cepat berdeham saat menyadari salah berucap. “Eh, maksudku tinggal di rumah ini.” Dan dengan cepat aku meralatnya agar Nenek Lana tak mencurigai apa pun. “Hanya saja aku tidak akan kembali ke tempat asalku tanpa Lex. Dia harus ikut denganku, tapi aku tahu itu mustahil karena dia sangat mencintai Myesha.” Aku yakin raut wajahku berubah sendu sekarang karena bisa kurasakan wajahku memanas dan air mata memberontak meminta pembebasan. “Dan kau mencintai pria itu?” Aku meneguk ludah karena tebakan Nenek Lana tepat adanya. “Apa pria itu tahu perasaanmu?” Aku menggelengkan kepala, di depan Nenek Lana tak mungkin aku bisa membohonginya. Sehingga aku memilih mengatakan yang sebenarnya tentang cintaku yang bertepuk sebelah tangan pada Lex. “Seharusnya kau beritahu dia tentang perasaanmu.” Kugelengkan kepala dengan tegas. “Tidak, Nek. Lex tidak boleh tahu perasaanku.” “Kenapa memangnya?” “Aku takut persahabatan kami rusak karena perasaan cintaku ini. Lagi pula dia tidak pernah mencintaiku. Yang dia cintai itu hanya Myesha.” Dan kini aku tak bisa menahan lagi air mataku sehingga akhirnya berjatuhan membasahi wajahku. Nenek Lana mungkin iba melihatku menangis seperti ini sehingga dia pun mengusap-usap punggungku dengan lembut untuk menguatkanku. “Aku rela melakukan apa pun demi Lex, Nek. Asalkan dia bahagia.” “Walaupun kebahagiaannya bersama Nona Myesha?” Aku mengangguk tanpa ragu. “Ya, Nek.” “Tapi kau akan terus terluka melihat kebersamaan mereka, Ashley. Selain itu, ketika mereka berdua berbahagia, kau justru tersiksa karena harus memenuhi ambisi balas dendam Nona Myesha dan Tuan Muda Arsen.” “Jika itu demi Lex, aku rela, Nek.” Kedua mata Nenek Lana ikut berkaca-kaca, sepertinya dia bisa merasakan kesedihan yang kurasakan ini. “Cintamu pada Lex terlalu besar. Jangan seperti itu, Ashley. Kau juga berhak hidup bahagia, masih banyak pria lain di dunia ini selain Lex. Walau mungkin sekarang kau sangat mencintai Lex, Nenek yakin kelak kau akan menemukan pasanganmu yang sebenarnya. Yang lebih baik dari Lex dari segi apa pun.” Aku mengulas senyum tipis, sama sekali tak keberatan mendengar perkataan Nenek Lana ini, aku tahu dia menasihatiku demi kebaikan. “Tidak, Nek. Pengorbananku ini tidak seberapa jika dibandingkan pengorbanan Lex untukku.” “Memangnya apa yang sudah dilakukan pria itu untukmu?” Aku tertegun dalam diam karena tak mungkin kukatakan yang sebenarnya bahwa ketika di Atlantis dulu, Lex menyelamatkan nyawaku dengan kekuatan sihirnya. Dia memberikan separuh kekuatan sihirnya padaku agar aku bisa bertahan hidup dari kelainan yang tubuhku derita ini. Jika bukan karena bantuan Lex, mana mungkin aku masih bisa bernapas dan berada di dunia ini. Aku kembali mengulas senyum. “Tidak, Nek. Maaf, aku tidak bisa menceritakannya.” Nenek Lana tak terlihat marah, dia tersenyum seraya mengusap puncak kepalaku dengan lembut dan penuh kasih sayang membuatku kembali teringat pada orang tuaku di Atlantis. “Baiklah jika itu yang kau inginkan, Ashley. Hanya saja satu pesan Nenek, jaga dirimu baik-baik karena sungguh yang akan kau lakukan ini sangat berbahaya. Kau mungkin bisa kehilangan nyawamu.” Aku mengangguk karena ya aku sudah siap menghadapi semua konsekuensi dari keputusanku ini. Yang harus kulakukan sekarang adalah fokus mengikuti latihan yang akan diberikan Arsen padaku. Entah latihan seperti apa yang akan dia berikan? Kita lihat saja jawabannya besok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD