Myesha dan Arsen terlihat terkejut mendengar ucapanku, mereka saling berpandangan mungkin tak percaya mendengar ucapanku barusan.
“Tunggu, kau bilang apa barusan?” tanya Myesha memastikan telinganya tak salah mendengar.
“Aku akan menggantikan Lex melakukan apa pun yang kalian rencanakan, karena itu aku mohon jangan ganggu dia. Jangan libatkan dia dengan rencana jahat kalian.”
“Kau serius akan menggantikan Lex untuk membalaskan dendam kami? Termasuk membunuh orang?”
Aku mengangguk tanpa ragu karena ya aku serius dengan ucapanku ini. Aku tak sampai hati jika Lex dimanfaatkan oleh wanita yang dia cintai, aku tak bisa membayangkan akan sesakit apa hatinya nanti. Dari perbincanganku dengan Lex malam itu, aku tahu persis dia sangat mencintai Myesha. Lex pasti akan melakukan apa pun yang diperintahkan Myesha padanya. Lex pria yang baik, tak pernah melakukan kejahatan seumur hidupnya. Dia memang memiliki kekuatan sihir yang dia warisi dari keluarganya, tentu mudah baginya membantu Myesha balas dendam, termasuk membunuh manusia. Namun, aku tak akan membiarkan dia menggunakan kekuatan sihirnya untuk menyakiti manusia.
“Ya, seperti yang kau dengar tadi, aku serius akan menggantikan Lex untuk membantu kalian balas dendam.”
Untuk kesekian kalinya suara tawa mengalun, tentu saja itu suara Myesha yang menertawakan aku. Sedangkan Arsen tak mengatakan apa pun, pria itu masih diam membisu walau tatapannya begitu tajam terarah padaku.
“Apa kau sedang bercanda, Ashley?”
“Aku serius!” Aku meninggikan suara karena kesal mendengar dia yang seolah tak mempercayai keseriusanku ini.
Myesha mengembuskan napas pelan seraya memutar bola mata. “Dengar Ashley, rencana balas dendamku dan Kak Arsen pada keluarga Mikelson itu bukan main-main. Kami akan menghancurkan keluarga mereka, bahkan kami akan membunuh mereka. Memangnya kau bisa apa? Kau itu sangat lemah dan payah. Apa kau lupa dengan penyakit yang kau derita?”
Aku diam seribu bahasa, ternyata dia mengetahui tentang kelainan yang kuderita, aku yakin Lex yang memberitahunya. Ternyata Lex memang sudah menceritakan segalanya tentang kehidupan kami di Atlantis pada Myesha, tak ada yang Lex sembunyikan dari wanita ini bahkan termasuk kelemahanku, kelainan yang kuderita sejak anak-anak. Aku yang tak boleh kelelahan atau aku akan kesulitan bernapas.
“Bagaimana Ashley? Kau ingat penyakitmu?”
“Memangnya dia punya penyakit apa?” Itu suara Arsen yang tiba-tiba bertanya, padahal sejak tadi dia tak melibatkan diri dalam pembicaraanku dan Myesha.
“Lex bilang tubuhnya lemah,” sahut Myesha seraya menunjukku dengan jari telunjuknya. “Dia tidak boleh kelelahan karena dia akan kesulitan bernapas.”
“Benarkah? Seharusnya orang sakit sepertimu tidak tinggal di rumah ini apalagi bekerja sebagai pelayanku. Dan apa katanya tadi, dia akan membantu kita balas dendam untuk menggantikan Lex?” Arsen mendengus, aku tahu dia sedang mencibirku. “Aku jadi ingin tertawa, mana mungkin kau sanggup melakukannya, Ashley.”
“Kalian berdua tidak tahu apa pun tentangku, jadi jangan sembarangan menyimpulkan apa pun. Selama aku ingin melakukannya, maka aku bisa melakukan apa pun termasuk menggantikan Lex membantu kalian balas dendam pada musuh kalian itu.”
Myesha dan Arsen kembali saling berpandangan, mungkin heran dengan kekeras kepalaanku ini.
“Kau tidak akan sanggup melakukannya, Ashley. Hanya Lex yang sanggup karena kau juga tahu dia memiliki kekuatan yang bisa membuatnya dengan mudah membunuh orang sekalipun.”
“Memangnya kekuatan apa yang dimiliki Lex?” Arsen kembali bertanya. Aku meneguk ludah, khawatir sekali Myesha akan menceritakan rahasia kami berdua.
“Hm, bagaimana mengatakannya pada Kakak ya, yang pasti Lex itu …”
“Myesha, aku mohon biarkan aku yang membantumu balas dendam. Jangan libatkan Lex!” Dengan cepat aku menyela dan meninggikan suara agar Myesha tak melanjutkan ucapannya yang hendak memberitahu Arsen identitas Lex yang sebenarnya sebagai merman dari Atlantis.
“Kau tidak akan sanggup melakukannya, Ashley.”
“Siapa bilang?!” Suaraku masih bernada tinggi, kesal karena mereka terus meragukan kemampuanku. “Kalian bahkan belum melihat bagaimana aku melakukannya. Aku pasti bisa melakukannya. Aku akan membantu kalian balas dendam.”
“Apa kau memiliki kekuatan seperti Lex makanya kau begitu percaya diri seperti ini bisa membantu kami balas dendam?”
Aku diam mematung di tempatku berdiri mendengar pertanyaan Myesha tersebut. Aku memang mermaid dari Atlantis, tak ubahnya seperti Lex. Namun, berbeda dengan Lex yang berasal dari keluarga yang memiliki kekuatan sihir, aku tidak demikian. Aku tak memiliki kekuatan apa pun walau aku seorang mermaid.
Aku mengembuskan napas pelan, lalu kepalaku menggeleng. “Aku memang tidak memiliki kekuatan apa-apa, tapi aku yakin bisa melakukan apa pun yang kalian berdua perintahkan.”
Myesha mendengus. “Jangan gila, Ashley. Kami tidak akan mengambil resiko rencana kami gagal karena percaya padamu yang lemah ini.”
“Biarkan aku melakukannya dulu. Kalian lihat sendiri apa aku sanggup membantu kalian balas dendam atau tidak. Jika aku memang tidak sanggup melakukannya, baru aku akan menyerah dan aku tidak akan ikut campur lagi urusan kalian. Bagaimana?”
Aku menanti dengan was-was, khawatir mereka tak mau mengabulkan permintaanku ini dan tetap akan memanfaatkan Lex seperti rencana awal mereka.
“Aku heran kenapa kau sampai begini, Ashley. Kau rela menggantikan Lex padahal tahu kami akan memintamu melakukan kejahatan, tapi kau tidak keberatan. Kenapa Ashley? Apa kau jatuh cinta pada Lex makanya sampai seperti ini?”
Aku yakin kedua mataku melebar sempurna, Myesha menebak dengan tepat alasanku sampai bersedia mengorbankan diri seperti ini. Namun, mana mungkin aku mengakuinya. Pada Lex saja kupendam sendiri perasaan cinta ini, apalagi pada orang lain … aku tak akan pernah menceritakannya.
Aku berdeham untuk menormalkan diri yang sempat terkejut mendengar pertanyaan Myesha itu. “Jangan bicara sembarangan. Aku tidak mencintai Lex.”
“Masa?” tanya Myesha yang secara terang-terangan menunjukan ketidakpercayaannya. “Lalu kenapa kau sampai rela mengorbankan diri seperti ini? Selain itu, kau sampai pergi meninggalkan tempat asalmu hanya karena ingin mengikuti Lex ke sini. Kau tidak bisa berjauhan dengan Lex dan selalu menempel padanya. Tidak salah lagi, kau pasti mencintainya, kan?”
Aku meneguk ludah, ditanya seperti ini dengan tiba-tiba tentu saja aku gugup bukan main, aku juga tak tahu harus menjawab apa.
“Huh, kasihan sekali kau ini, Ashley. Kau jatuh cinta pada Lex, tapi Lex mencintaiku. Cintamu itu bertepuk sebelah tangan dan kau dengan bodohnya mau mengorbankan diri demi pria yang jelas-jelas tidak memiliki perasaan yang sama denganmu.”
Kini kedua tanganku terkepal erat, kenapa Myesha harus mengatakan ini, membuat hatiku kembali sakit bukan main, seperti ada ribuan senjata tak kasat mata yang menancap di sana.
“Bagiku Lex itu sahabat karib sekaligus orang yang paling dekat denganku. Aku tidak rela jika kau dan kakakmu …” Aku melirik pada Arsen yang masih duduk di ranjang. “… memanfaatkannya. Aku tidak rela dan akan melakukan apa pun demi bisa menghentikan kalian. Tentu saja termasuk mengorbankan diri.”
Myesha menggelengkan kepala. “Kau pikir aku percaya? Mustahil kau bersedia melakukan semua ini jika bukan karena kau mencintai Lex.”
“Terserah kau mau berpikir apa tentangku, yang pasti apa kau menyetujui permintaanku ini? Biarkan aku yang menggantikan Lex membantu kalian balas dendam.”
Myesha tak mengatakan apa pun, tapi dia sedang menatapku lekat seolah sedang menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya.
“Aku tanya sekali lagi apa kau yakin akan melakukan ini, Ashley? Kau akan membantu kami balas dendam?”
Aku tanpa ragu mengangguk. “Ya, aku serius dan sangat yakin.”
“Kau akan mengikuti apa pun yang aku perintahkan padamu?”
“Ya, aku akan menurutinya.”
Myesha tiba-tiba menyeringai lebar. “Hm, baiklah kalau begitu. Aku setuju.”
Seketika aku mengembuskan napas lega karena Myesha berkata demikian.
“Hei, Myesha. Apa kau bercanda? Kau akan menggunakan gadis bodoh dan payah ini untuk membantu kita balas dendam pada keluarga Mikelson?”
Namun, rasa legaku berubah khawatir ketika mendengar pertanyaan Arsen yang seolah menyiratkan protes karena dia tak menyetujuinya.
“Ya, Kak. Aku tidak bercanda. Aku serius akan memberi Ashley kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya sanggup melakukan apa pun perintah kita.”
“Tapi dia itu payah dan bodoh, dia tidak bisa melakukan apa pun.”
“Karena itu Kak Arsen harus melatih dan mengajarinya.”
Satu alis Arsen terangkat naik. “Mengajari dan melatih apa maksudmu?”
“Menggunakan senjata.” Myesha menyengir lebar di akhir ucapannya, sedangkan Arsen kini melebarkan mata tampak terkejut mendengar rencana gila sang adik. Lalu tatapan Myesha pun tertuju padaku. “Bagaimana Ashley? Kau bersedia kan belajar dan berlatih menggunakan senjata pada Kak Arsen? Karena walau bagaimana pun kau harus bisa menggunakan senjata mengingat kau ini lemah. Kau tidak memiliki kekuatan seperti Lex.”
Sekali lagi tanpa ragu aku mengangguk. “Baik. Aku bersedia berlatih dan belajar apa pun seperti yang kau perintahkan asalkan kau mengabulkan beberapa syarat dariku.”
Kening Myesha mengernyit dalam. “Syarat? Apa itu?”
“Rahasiakan hal ini dari Lex. Jangan sampai dia tahu apa yang sedang kita rencanakan ini. Dan lagi …”
Aku menjeda sejenak karena sulit bagiku melanjutkan ucapanku ini. Namun, aku tahu tetap harus mengatakannya.
“… Lex sangat mencintaimu, aku harap kau tidak mengecewakannya. Tolong terima cintanya dan bahagiakan dia.”
Aku mengepalkan tangan disertai kepala tertunduk, meminta hal ini pada Myesha sama saja seperti aku sedang menyerahkan Lex padanya dan tentunya ini menghancurkan hatiku. Namun, sekali lagi demi Lex, aku rela melakukan apa pun.
“Hm, baiklah kalau begitu. Aku setuju dengan syaratmu itu. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah membuktikan bahwa kau memang mampu membantu kami balas dendam dan memang bisa menggantikan Lex.”
“Ya, akan kubuktikan pada kalian berdua,” sahutku tegas tanpa keraguan walau aku tak tahu kejadian mengerikan seperti apa yang nanti akan menimpaku.
“Dan mulai besok kau harus belajar pada Kak Arsen. Turuti semua yang dikatakan Kak Arsen, jangan membuatnya kesal. Mengerti?”
Setelah melihatku menganggukan kepala sebagai persetujuan, Myesha pun melangkah pergi meninggalkan aku hanya berduaan dengan Arsen di kamar ini.