Rencana Balas Dendam

1650 Words
“Kau bilang akan menggunakan pria bernama Lex untuk balas dendam pada keluarga Mikelson? Memangnya rencana balas dendam apa yang kau rencanakan dengan menggunakan pria itu?” tanya Arsen, tampak penasaran dengan rencana yang tengah menari-nari dalam pikiran Myesha. Sebenarnya aku pun sama penasaran dengannya karena itu aku masih berdiri di sini, menguping pembicaraan mereka. “Banyak hal yang sudah kurencanakan, Kak. Yang pasti karena keluarga Mikelson sudah menghancurkan keluarga kita dan membuat orang tua kita tiada. Aku juga akan melakukan hal yang sama pada mereka. Aku akan menghancurkan keluarga mereka dan melenyapkan nyawa mereka semua.” “Maksudnya kau berencana meyuruh Lex untuk membunuh semua anggota keluarga Mikelson?” Myesha menyeringai. “Sebagian akan kulenyapkan nyawanya dan sebagian lagi akan kubuat hidup mereka menderita hingga mereka berpikir mati lebih baik daripada hidup seperti itu.” Arsen terlihat menggelengkan kepala, aku mengintip dari celah pintu yang kubuka sedikit sehingga selain bisa mendengarkan pembicaraan mereka, aku juga bisa melihat apa yang tengah sepasang kakak dan adik itu lakukan. “Jangan melakukan ini, Myesha. Kau tidak perlu memikirkan balas dendam yang mengerikan seperti itu.” Myesha mendengus. “Kenapa Kak Arsen bicara begini? Apa Kakak tidak marah pada mereka? Ingat, Kak, mereka sudah menghancurkan keluarga kita. Membuat perusahaan kita bangkrut karena mereka sudah menipu dan memfitnah ayah sampai dia di penjara lalu sakit dan meninggal di penjara. Ibu kita menjadi frustrasi dan sakit jiwa setelah kematian ayah dan kita yang jatuh miskin. Ibu akhirnya memilih mengakhiri hidup. Lalu apa Kak Arsen sudah lupa apa yang mereka lakukan pada Kakak?” Arsen tak menjawab apa pun, pria itu terlihat sedang menundukan kepala. “Mereka yang menyebabkan Kak Arsen mengalami kecelakaan lalu lintas hingga kaki Kakak menjadi cacat dan lumpuh seperti ini. Lihat, apa yang mereka lakukan pada Kakak, sekarang Kakak hanya bisa duduk di kursi roda tanpa bisa melakukan apa pun. Padahal seharusnya Kakak menjadi pemain sepak bola yang sukses di internasional, tapi gara-gara kecelakaan naas itu, Kak Arsen jadi harus melupakan impian Kakak untuk menjadi pemain sepak bola profesional.” Kali ini kulihat wajah Arsen memerah sempurna, kedua tangannya mengepal erat hingga jari-jari tangannya memutih, terlihat jelas emosinya mulai naik ke permukaan karena ucapan adiknya. “Karena itu kita tidak bisa hanya tinggal diam, Kak. Sudah saatnya kita membalas mereka. Aku juga tidak tahan lagi menjadi bahan ejekan dan bully teman-teman di kampus karena ulah Agnes yang terus menghasut mereka. Aku sudah tidak tahan, Kak. Kemarin saja aku nyaris mati karena ditenggelamkan di laut oleh mereka. Kalau Ashley dan Lex tidak menolongku, sekarang tidak mungkin aku berdiri di depan Kakak, aku mungkin sudah mati dan berada di dunia yang sama dengan ayah dan ibu. Apa Kakak ingin aku juga mati seperti ayah dan ibu?” “Jangan bicara begitu, tentu saja aku tidak mau melihatmu mati. Kau satu-satunya keluarga yang aku miliki sekarang.” Mendengar jawaban Arsen, Myesha mengulas senyum. “Karena itu jangan diam terus, Kak. Sudah saatnya kita membalas mereka semua.” “Aku hanya tidak ingin melakukan balas dendam karena tidak ingin kita sama seperti mereka. Kita bukan orang jahat seperti mereka.” Raut wajah Myesha kembali mengeras karena kesal mendengar Arsen yang lagi-lagi menolak untuk balas dendam. “Jadi Kak Arsen sudah rela menerima takdir Kakak ini? Takdir Kakak yang lumpuh dan tidak bisa lagi bermain sepak bola. Bukankah impian Kak Arsen sejak kecil ingin menjadi pemain sepak bola profesional? Benar Kakak sudah rela hidup cacat seperti ini di saat teman-teman Kakak sudah sukses dengan impian mereka?” Lagi dan lagi perkataan Myesha berhasil mempengaruhi pikiran Arsen, bisa kulihat dari wajah pria itu yang kembali memerah karena amarah. “Sudahlah, Kak. Memang ini waktunya kita membalas mereka. Mereka semua yang sudah menghancurkan hidup kita dan membuat kita menderita seperti ini. Kita balaskan juga kematian ayah dan ibu.” Arsen mengembuskan napas pelan. “Aku hanya kasihan pada Lex. Kau serius akan memanfaatkan dia?” Tanpa ragu Myesha mengangguk. “Ya, dia sepertinya jatuh cinta padaku. Dia akan bersedia melakukan apa pun yang kuperintahkan termasuk membunuh sekalipun. Jadi, kita tidak perlu mengotori tangan kita, Kak. Lex yang akan menggantikan kita menghancurkan semua anggota keluarga Mikelson.” Myesha pun tertawa lantang, Arsen tak mengatakan apa pun karena pria itu terlihat masih ragu mengikuti rencana adiknya. Sedangkan aku di sini … tentu saja aku marah bukan main mendengar rencana jahat mereka yang berniat memanfaatkan Lex untuk kepentingan dan rencana balas dendam mereka ini. “Aku masih ragu pria itu bisa menjalankan tugasnya.” Arsen yang diam kini kembali bersuara. “Tentu saja. Sudah kukatakan dia akan melakukan apa pun untukku.” “Bukan. Maksudku, apa dia sanggup melakukan semua yang kau rencanakan? Termasuk membunuh? Dia terlihat lemah dan seorang pria baik-baik.” Myesha kembali tertawa lantang. “Kakak tidak tahu apa pun tentang dia. Sudah kukatakan Lex itu memiliki kekuatan misterius.” “Kekuatan misterius?” Kening Arsen mengernyit. Sedangkan Myesha kini mengangguk disertai senyum tipis. Senyuman yang entah kenapa membuatku merasakan firasat buruk saat melihatnya. “Ya, kekuatan misterius karena dia itu …” “Berhenti Myesha!” Aku yang berteriak dan bergegas keluar dari kamar mandi karena sudah bisa menebak apa yang akan dikatakannya pada Arsen. Myesha hendak mengatakan identitas Lex sebagai merman dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Pantas saja tadi aku merasakan firasat buruk, ternyata firasat burukku terbukti benar. Myesha benar-benar jahat, dia mengingkari janjinya untuk menyembunyikan identitasku dan Lex yang sebenarnya. Wanita itu … aku dan Lex salah menilainya. Seharusnya tak kami tolong dia ketika tenggelam di laut kala itu. “Ashley! Apa yang kau lakukan di kamar ini?” tanya Myesha, terlihat terkejut bukan main melihat aku yang tiba-tiba muncul di hadapannya. “Kak, apa Kakak tahu dia ada di kamar ini?” Kali ini dia bertanya pada Arsen. “Huh, aku pikir dia tidak akan menguping. Ternyata selain bodoh dan payah, dia juga tidak punya sopan santun karena itu dia menguping pembicaraan kita.” Arsen menatapku tajam, terlihat jelas dia marah besar padaku. Namun, kali ini aku tak peduli pada apa pun penilaian Arsen padaku karena yang paling penting bagiku sekarang adalah membujuk Myesha agar mengubah pemikirannya. Tak akan kubiarkan dia memanfaatkan Lex untuk melakukan kejahatan. Tatapanku dari Arsen kini beralih pada Myesha. “Aku mohon jangan kalian manfaatkan Lex melakukan kejahatan seperti yang kalian rencanakan. Dia pria yang baik, dia tidak pernah berbuat jahat sebelumnya.” Myesha mendengus, sedangkan Arsen tak mengatakan apa pun. Pria itu tetap menatapku lekat. “Kalau dia tidak pernah melakukan kejahatan, artinya sekarang dia harus mulai berlatih melakukan kejahatan itu. Lagi pula dia bukan melakukan kejahatan melainkan sedang menegakkan keadilan. Dia akan menghukum orang-orang berdosa seperti keluarga Mikelson. Yang akan dilakukan Lex itu bukan kejahatan, melainkan menegakan keadilan.” Aku menggelengkan kepala dengan tegas, tak setuju. “Tidak. Aku sudah mendengar semua yang kau rencanakan pada Lex. Kau akan menyuruhnya membunuh. Itu kejahatan besar, Lex tidak boleh melakukannya.” “Ck, jangan ikut campur, Ashley. Ini bukan urusanmu.” “Semua hal yang berhubungan dengan Lex adalah urusanku juga,” sahutku tegas. “Aku tidak akan membiarkan kalian memanfaatkan Lex untuk berbuat jahat. Aku akan melakukan apa pun untuk menghentikan kalian.” Aku serius mengatakan itu, tapi Myesha menganggapnya sebagai lelucon lucu karena kini dia untuk kesekian kalinya tertawa lantang. “Memangnya apa yang bisa kau lakukan, hah? Ashley … Ashley … apa kau lupa ketika kau meminta Lex untuk tidak pergi mengikutiku, dia tetap mengikutiku karena dia tak peduli padamu? Dia tidak mendengarkan perkataanmu karena dia lebih peduli padaku.” “Itu karena Lex mencintaimu.” Rasanya hatiku sakit saat berkata demikian, tapi aku tetap mengatakannya, berharap Myesha akan tersentuh dan mengurungkan niatnya untuk memanfaatkan Lex. Myesha mendengus keras. “Aku tahu dia jatuh cinta padaku karena itu dia sampai mengikutiku kemari.” “Kalau kau tahu dia mencintaimu, kenapa kau tetap berniat memanfaatkannya?” “Karena aku tidak peduli dengan cintanya itu. Aku sama sekali tidak mencintainya.” Myesha berjalan menghampiriku, lalu berhenti tepat di sebelahku dan mendekatkan mulutnya ke telingaku. Setelah itu dia berbisik pelan sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya, “Ah, lebih tepatnya aku tidak mungkin jatuh cinta pada merman seperti Lex. Aku masih waras untuk tidak jatuh cinta pada makhluk aneh seperti kalian.” Aku melebarkan mata dengan kedua tangan yang terkepal erat karena sangat tersinggung mendengar Myesha yang mengejek kami sebagai makhluk aneh hanya karena kami bukan manusia sepertinya. Myesha menjauhkan wajahnya dariku, lalu kini mendaratkan salah satu tangannya di bahuku. “Sudahlah, Ashley. Lebih baik kau jangan ikut campur karena aku tidak akan pernah mendengarkanmu. Lex akan tetap aku manfaatkan untuk kepentingan balas dendamku dan Kak Arsen.” Myesha menyeringai lebar sebelum dia menoleh pada Arsen yang masih duduk di ranjang sambil bersandar pada kepala ranjang. “Kak, aku pergi dulu. Nanti kita bahas lagi masalah ini saat tidak ada orang yang menguping,” ucap Myesha, yang kutahu sedang menyindirku karena menguping pembicaraan mereka. “Aku akan memberitahu Lex tentang rencana jahat kalian ini,” ucapku seraya menatap Myesha dan Arsen secara bergantian. Myesha memalingkan tatapannya dari sang kakak dan kini mendelik tajam padaku. “Coba saja katakan itu padanya. Kau pikir dia akan percaya padamu?” Myesha menggelengkan kepala. “Tidak, Ashley. Dia tidak akan mempercayaimu karena dia akan lebih mempercayai aku. Yang ada justru dia akan membencimu karena menjelek-jelekan aku … wanita yang dia cintai.” Sungguh aku kesal dan sakit hati setiap kali dia mengatakan tentang perasaan cinta Lex padanya. Sayangnya aku tak memungkiri yang dia katakan itu memang benar adanya. Tampaknya Lex tidak akan mempercayai perkataanku. “Sudah ya, Ashley. Lebih baik kau jalankan tugasmu. Ingat, kau ini pelayan Kak Arsen sekarang. Layani dia dengan baik, jangan membuatnya marah. Mengerti?” Myesha pun berniat meninggalkan kamar, dia sudah berjalan menuju pintu dan hendak membukanya. “Aku yang akan menggantikan Lex untuk melakukan apa pun yang kalian rencanakan.” Namun, gerakan tangan Myesha yang hendak membuka pintu itu seketika terhenti mendengar ucapanku yang mengejutkannya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD