PART TEN

2982 Words
Rasa lega dan haru yang ku rasakan sekarang, entah dengan cara apa aku bisa menggambarkannya. Yang pasti dikala aku melihat sosok Lex berdiri di depanku, memeluknya adalah hal yang paling ku inginkan sekarang.  Jadi, itulah yang ku lakukan. Memeluknya seerat yang ku bisa.  “Kau baik-baik saja, Ash?”  Tidak. Aku sama sekali tidak baik-baik saja. Ingin ku berkata demikian, namun aku sadar kata-kataku hanya akan memperburuk suasana, dia akan menjadi sangat mencemaskanku. Maka dari itu, hanya anggukan samar yang bisa ku berikan sebagai respon.  “Kurang ajar. Siapa kau berani ikut campur urusan kami?”  Atensi kami berdua teralihkan oleh suara seseorang yang keberadaannya sempat terabaikan. Dia pria itu, penipu yang nyaris mencelakakanku. Tanpa sadar aku beringsut mundur, berdiri di belakang tubuh tinggi Lex, mencoba mencari perlindungan.  “Pertanyaan itu seharusnya aku yang memberikannya padamu. Siapa kau hingga berani menyentuh Ashley?”  Pria monster itu mendecih, meludah sembarangan seolah ucapan Lex yang penuh intimidasi tidak berpengaruh untuknya. Dia sudah berdiri tegak setelah berhasil bangkit setelah punggungnya menghantam keras tanah karena tarikan tangan Lex.  “Lex. Lebih baik kita pergi. Orang ini berbahaya. Dia jahat dan seorang penipu,” ucapku sembari ku tarik lengan Lex.  Suara tawa pria itu tiba-tiba mengudara, hal itulah yang membuat gerakan tanganku urung untuk membawa Lex pergi.  “Oh, jadi pria ini yang bernama Lex. Pria yang membuatmu patah hati itu, nona manis,” ujarnya. Aku melirik wajah Lex, ingin melihat ekspresi wajahnya. Setelah kudapati dia memasang wajah teramat datar, ternyata Lex sama sekali tak terpengaruh.  “Untuk apa ikut bersama pria yang senang berselingkuh sepertinya? Bukankah kau sendiri yang bilang dia pergi dengan gadis lain?”  Aku tercekat mendengar ucapan pria itu yang terlewat batas. Di depan Lex, tak seharusnya dia mengatakan itu. Aku geram, rasanya ingin menyumpal mulut pria itu agar diam.  “Ikutlah denganku.” Pria itu kini merentangkan kedua tangannya ke depan seolah memberi isyarat padaku agar datang ke pelukannya. Aku membuang muka, tak tertarik tentu saja.  “Aku lebih tahu cara membahagiakan seorang gadis. Bersamaku, kau akan bahagia. Aku tidak akan menyia-nyiakanmu seperti Lex-mu itu.”  Samar-samar aku mendengar dengusan meluncur dari bibir tipis Lex. Sebelum tiba-tiba dengusan itu berubah menjadi kekehan penuh celaan.  “Aku seperti sedang mendengar seseorang membicarakan dirinya sendiri,” sahut Lex sembari mengorek telinganya dengan ujung jari kelingking. “Tahu cara membahagiakan seorang gadis, kau  bilang?” Lex mendecih jijik. “Dari yang kulihat, kau predator gila yang senang memaksa seorang gadis hanya untuk memenuhi nafsu bejatmu. Menjijikkan. Orang sepertimu yang seharusnya dibasmi dari muka bumi.”  Pria itu geram, terpancing celaan Lex, dia berlari menerjang kami. Dia berniat menangkap tanganku namun Lex tak membiarkannya. Dia mencengkram tangan pria itu disertai kedua mata yang memelotot tajam.  “Kembalikan dia padaku. Gadis itu milikku!!” teriak si pria, tak tahu malu.   “Beraninya tangan kotormu menyentuhnya. Aku tidak akan mengampunimu.” “Haah ... anak muda sepertimu memangnya bisa apa? Coba perlihatkan padaku, kau bisa apa sehingga berani mengancamku?”  Pria itu penuh percaya diri, ku rasa karena dia terlalu membanggakan postur tubuhnya yang lebih tinggi dan besar dibanding Lex. Namun, ucapannya yang terlalu sombong menjadi bumerang untuknya sendiri.  Saat ku lihat Lex menyeringai, saat itulah aku tahu pria penipu itu akan berakhir mengenaskan jika aku tak menolongnya.  “Dengan senang hati, akan kuperlihatkan kemampuanku.”  Dugaanku tepat, dikala bibir Lex yang mulai bergerak untuk merapalkan mantra, dan ketika pria itu tiba-tiba diam membeku dengan kedua mata melotot seolah bola mata itu siap melompat keluar dari kelopaknya. Pria itu tiba-tiba menggigil hebat setelah kedua matanya bersirobok dengan kedua mata Lex.  Dia menjerit seraya menjatuhkan dirinya berlutut di tanah. Dia menjambak rambutnya sendiri, menariknya hingga beberapa helaian ikut terlepas bersama tarikan tangannya yang terlampau kuat. Sorot matanya memancarkan jelas rasa takut tak berujung seolah dia sedang melihat monster mengerikan sedang berdiri di hadapannya, siap menjadi malaikat maut yang akan mencabut nyawanya.  Pria itu mencengkram lehernya sendiri, dengan teramat kuat seolah dia ingin membunuh dirinya sendiri dengan memelintir leher, meremukkan tulang-tulang rapuh yang menyangga kepalanya tetap di tempat.  “Hentikan, Lex. Sudah cukup.”  Aku memeluk pinggang Lex dari belakang. Lihat, bukankah yang kukatakan benar? Pria itu akan berakhir mati jika aku tidak menyelamatkannya dari amarah Lex. Lex dan kekuatan sihirnya yang mengerikan menjadi pembunuh yang paling kejam. Inilah salah satu alasan para merman di Atlantis, tak ada yang berani mengusik kehidupan seolah Alexei Heather. Dia keturunan penyihir yang hebat. Darah penyihir mengalir deras di dalam tubuhnya. Bakat alami itu tak akan bisa diredam dengan mudah. Lex tidak akan segan-segan menggunakan kekuatan sihirnya untuk menghukum mereka yang mengusik hidupnya dan juga hidupku.  “Lex, jangan bunuh dia. Kita tidak boleh menyakiti manusia atau kita akan menerima konsekuensinya. Itulah yang dikatakan Mother Cassandra padaku.”  Lex tak menggubris permintaanku. Sedangkan wajah si pria semakin memerah pertanda dia mulai kesulitan bernapas. Tidak, jika terus seperti ini maka pria itu benar-benar akan mati karena kepalanya yang terlepas dari lehernya. Mirisnya tangan pria itu sendiri yang akan mematahkan tulang leher rapuhnya.  “Aku mohon, Lex. Jika kau peduli padaku, lepaskan dia. Sudah cukup!”  Aku berteriak, dan kali ini sepertinya berhasil menggerakan hati Lex yang terlanjur dikendalikan emosi.  Pria itu terkulai di tanah dengan mulutnya yang tiada henti mengeluarkan suara batuk.  “Pergi dari sini. Cepat!!”  Seolah tahu aku sedang memberi peringatan padanya, pria itu memaksakan dirinya untuk berdiri meski berulang kali terjatuh. Dia berlari terbirit-b***t setelahnya. Diam-diam aku menghela napas lega.  “Kau menggunakan sihirmu untuk membunuhnya?” tanyaku sembari melirik Lex yang sedang menutupi separuh wajahnya dengan telapak tangan besarnya.  Dia terkekeh, tak terlihat penyesalan sedikit pun.  “Sangat menyenangkan saat aku bisa membunuh seseorang tanpa perlu mengotori tanganku. Memberikan halusinasi yang membuatnya ketakutan jauh lebih menarik daripada aku mencekiknya dengan tanganku sendiri.”  Terkadang aku penasaran apa yang Lex perlihatkan pada orang yang dia incar sehingga orang itu sebegitu ketakutannya, hingga mati jauh lebih baik menurut mereka. Ya seperti yang baru saja menimpa pria jahat itu. Namun, aku tak pernah berani menanyakannya pada Lex.  “Dibanding pria itu sebenarnya ada hal lain yang membuatku kesal.”  Aku yang sedang menunduk, perlahan mengangkat wajah. Kuperhatikan dirinya yang kini sedang menatapku tajam.  “Kenapa kau bisa ada di sini, Ash?”  Aku meneguk ludah, tiba-tiba gugup karena ku dapati wajah Lex memerah karena dirinya marah. Objek kemarahannya tentu saja adalah aku.  Ku buka mulutku untuk menyahut, aku berencana mengatakan alasan yang sebenarnya aku mendatangi daratan. Namun, terpaksa harus ku katupkan kembali bibir ini saat melihat sosok Myesha yang tiba-tiba muncul dengan napas terengah.  Kedua matanya membulat saat melihat keberadaanku. Dia berjalan menghampiri kami, aku mendecih dalam hati. Sebal luar biasa melihat kedatangan gadis yang kehadirannya sama sekali tak ku harapkan.  “Lex, ternyata firasatmu benar. Ashley benar-benar ada di sini. Tapi bagaimana bisa? Apa ini bukti ikatan batin di antara kalian sangat kuat?” katanya, kedua mata Myesha menelisik penampilanku. Keningnya berkerut saat sepasang kakiku menjadi pusat atensinya sekarang.  “Separuh sihirku ada dalam diri Ashley, aku terikat dengannya. Aku bisa merasakan jika dia dalam bahaya.”  Myesha tak berkomentar lagi seolah penjelasan Lex sudah cukup membuatnya mengerti.  “Tapi kenapa kau ada di sini? Dan kakimu itu ... kau sendiri kah yang merubahnya, Ashley?”  Aku membuang muka, sebenarnya tak tertarik menanggapi pertanyaan gadis itu. Alasan aku membuka suara tidak lebih karena aku ingin menyahuti pertanyaan Lex yang tadi.  “Aku datang ke sini untuk menjemputmu. Ayo kita kembali ke Atlantis.”  aku dan Lex saling bertatapan. “Sepertinya aku tahu siapa orang yang merubah ekormu menjadi sepasang kaki. Aku hanya heran kenapa dia yang selalu menebarkan kengerian dunia daratan tiba-tiba membantumu agar bisa ke daratan. Mother Cassandra kehilangan kewarasannya kah?”  Aku memelotot, Lex terlalu lancang hingga menghina Mother Cassandra yang dihormati seluruh penghuni Atlantis.  “Dia membantuku karena mengetahui tujuanku baik. Aku ingin membawamu kembali ke Atlantis. Ayo Lex, kita pulang.”  Lex mendengus kasar sebelum tiba-tiba dia menangkap tanganku. “Kau benar, saatnya untuk kembali.”  “Lex, jangan bercanda. Kau sudah berjanji akan ikut denganku!”  Yang berteriak ketakutan itu tentu saja Myesha. Karena aku tak menolak sedikit pun ketika Lex menarik tanganku, membawaku menuju lautan. Aku melirik ke belakang, pada Myesha yang mengikuti kami dengan tertatih dan wajah memerah menahan kesal.  “Lex!!” teriaknya.  Dan sungguh aku senang bukan main karena Lex tak menggubrisnya.  Aku yang diam-diam terus tersenyum karena berpikir berhasil membujuk Lex, terperangah tatkala pria itu menghentakan tanganku kasar setibanya kami di pinggir laut.  “Pulanglah, Ash. Tempat ini berbahaya untukmu.”  Aku terbelalak. Jangan katakan dia menyuruhku pulang tanpa dirinya. Aku menggeleng cepat, jelas ini bukan sesuatu yang aku harapkan. Aku datang ke daratan untuk membawanya kembali.  “Aku tidak akan kembali tanpamu. Kita pulang sama-sama.”  Lex berdecak, dia mendorongku kasar hingga aku pun tercebur ke air. Ombak yang menggulung deras itu menarikku ke bagian laut yang cukup dalam. Aku meronta, aku tak bisa bergerak di dalam air. Sesuatu yang membuatku terkejut karena baru kali ini aku merasa seperti ini. Bagian bawah tubuhku terasa mati rasa. Benar juga, aku tak tahu cara berenang dengan sepasang kaki karena biasanya aku berenang dengan ekor.  “Lex, tolong aku. Tolong.”  Kedua tanganku meronta, memohon belas kasihan siapa pun yang melihatku nyaris tenggelam.  Beruntung Lex cukup peka dengan kondisiku. Dia tak kesulitan menarikku kembali ke daratan. Aku mengusap dadaku berulang kali, di dalam sana ada sesuatu yang berdebar teramat cepat. Jadi seperti itu rasanya tenggelam, sungguh mengerikan.  “Apa-apaan ini, Ashley? Apa kau sedang membuat lelucon sekarang? mermaid sepertimu nyaris tenggelam di laut?” cibir Myesha sangat kasar.  Aku mendelik padanya. Oh rupanya dia berpikir aku sedang berpura-pura untuk menarik perhatian.  “Aku tidak tahu cara berenang dengan dua kaki. Seperti yang kau lihat, kakiku tidak bisa kembali menjadi ekor.”  Gadis itu terbelalak, dia menoleh pada Lex meminta penjelasan.  “Apa yang terjadi padanya?” “Berapa waktu yang kau miliki sampai efek sihirnya menghilang?”  Ingin rasanya aku tertawa melihat Lex bukannya menjawab pertanyaan Myesha, namun berbalik melontarkan tanya padaku. Terlebih melihat wajah Myesha yang tertekuk jengkel karena diabaikan, sungguh aku ingin tergelak dalam tawa sekarang.  “Enam bulan,” jawabku. “Mother Cassandra bilang efek sihirnya akan hilang setelah enam bulan.” “Kau bisa merubah kakinya kembali menjadi ekor dengan sihirmu kan, Lex? Ashley harus kembali ke Atlantis.”  Terlihat jelas Myesha membenci kehadiranku di sini. Dia berambisi mengembalikanku ke Atlantis. Terbaca jelas olehku, gadis licik itu sedang merencanakan sesuatu pada Lex.  “Aku tidak bisa merubah sihir orang lain.”  Aku menyeringai puas, yang tentunya ku tujukan pada Myesha yang sedang menahan mati-matian amarahnya.  “Tidak ada pilihan lain, Ashley akan tetap bersamaku.” “Apa?” sahut Myesha, tak menahan diri memperlihatkan ketidaksetujuannya. “Aku tidak bisa meninggalkannya sendiri.” “Kau sudah janji ikut denganku, Lex.” “Karena itu aku akan mengajaknya.”  Myesha mendesis tertahan, “Tinggalkan saja dia di sini agar dia bisa kembali ke Atlantis setelah pengaruh sihirnya hilang.”  “Tempat ini terlalu berbahaya untuknya. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian.”  Aku hanya menjadi pendengar yang baik, tetap diam sembari memasang telinga setajam mungkin agar perdebatan mereka berdua tak ada yang terlewatkan sedikit pun.  “Kau sudah berjanji akan pergi bersamaku, Lex. Kau tidak akan mengingkari janjimu, kan?” “Aku akan pergi selama Ashley juga ikut. Jika dia tidak pergi bersama kita, aku juga tetap di sini.” “Kau bilang mencintaiku. Tapi dari yang ku lihat kau lebih peduli padanya?”  Myesha dengan amarah yang menggebu-gebu dalam dirinya, menunjuk wajahku dengan kasar.  “Aku menyayangi Ashley. Dan jika disuruh memilih, aku akan memilihnya.”  Aku memejamkan mata, Lex yang dulu kukenal belum berubah sedikit pun. Selalu membelaku di atas yang lain. Inilah kenapa aku tak rela jika dia diambil gadis lain.  “Ajak dia bersama kita, hanya itu pilihan untukmu jika kau ingin aku tetap ikut denganmu.” “Tapi aku tidak bisa menampung dua orang sekaligus,” lirih Myesha, masih tetap enggan membawa serta aku.  “Jika ini soal uang. Karena aku tahu hidup di daratan tidak lepas dari uang. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan bekerja untuk memenuhi kebutuhanku dan Ashley. Kami berdua tidak akan merepotkanmu.”  Myesha menggeleng berulang kali, hingga rambut panjangnya terayun mengikuti gerak kepalanya. “Kau berjanji akan menjadi pelindungku mulai sekarang. Kau tidak boleh bekerja untuk orang lain.”  Myesha menghela napas panjang, mendelik tajam padaku sebelum tiba-tiba mengulas senyum teramat tipis untuk Lex.  “Baiklah. Kita akan mengajak Ashley. Aku akan mempekerjakan dia di rumahku.” “Tubuh Ashley lemah. Aku tidak akan mengizinkan jika kau memberinya pekerjaan yang melelahkan. “Jangan khawatir. Aku akan memberinya pekerjaan yang ringan.”  Lex menoleh padaku dan aku balas menatapnya.  “Ashley, kau akan ikut dengan kami.”  Dan tak ada lagi alasan aku menahan senyuman lebarku. Aku mengangguk lega.  “Kalau boleh tahu, kemana kita akan pergi?” tanyaku, menatap Lex lalu bergantian menatap Myesha.  “Sebagai informasi, kita sedang berada di negara Hawaii sekarang. Aku datang ke sini untuk melakukan penelitian bersama teman kuliahku. Dan kita akan kembali ke kota asalku. London.”  Aku hanya mengangguk, meski aku tak tahu menahu tentang nama-nama tempat yang baru saja disebutkan Myesha. Ya, tak masalah. Kemana pun aku pergi, selama ada Lex di sampingku, tak apa. Tak ada yang ku takutkan karena aku tahu Lex akan selalu melindungiku.   ***    Aku bersumpah rasanya sungguh menyeramkan di saat aku harus duduk di monster raksasa bernama pesawat. Benda yang Myesha bilang sebagai alat transportasi untuk membawa kami ke kota asalnya.  Aku ingin muntah saat melirik pemandangan di luar dari jendela dan hanya awan-awan putih yang tampak. Suara bising yang katanya berasal dari mesin pesawat membuat telingaku berdengung. Tak bisa ku bayangkan betapa tinggi aku terbang sekarang. Hei ... aku terbiasa tinggal di dalam air, mengetahui diriku sedang ada di udara, wajar bukan jika aku mulai was-was. Berpikir tubuhku akan hancur berkeping-keping jika sampai benda raksasa ini jatuh ke bawah.  Aku tak tahu berapa lama tepatnya kami berada di udara karena aku tertidur setelah Lex dengan lembut menenangkanku yang panik dengan mempersilakan diriku merebahkan kepala di bahu kekarnya.  Yang kutahu, sekarang kami bertiga sedang berdiri di depan sebuah bangunan. Bangunan berlantai dua yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.  “Ini rumahku,” kata Myesha, menjelaskan bangunan yang berdiri kokoh di depan kami. “Apa mulai sekarang kami akan tinggal di sini?” tanyaku penasaran.  Myesha memicingkan mata saat mendelik padaku, “Jangan salah paham, kau akan bekerja di rumahku. Hidup di daratan tidak sesantai hidupmu di Atlantis.”  Aku mencibir, menjulurkan lidah untuk mengejek Myesha yang secara terang-terangan masih menunjukan keengganannya mengajakku.  Lex menepuk bahuku, isyarat agar aku menjaga sikapku di depan gadis licik itu. “Berterima kasihlah pada Myesha. Dia sudah mengizinkanmu ikut.”  Aku mengangkat kedua bahuku, tak peduli.  Lex mendesah lelah, dia mengangkat tangannya. Dan saat kulihat telapak tangan besarnya mendarat di puncak kepala Myesha untuk mengusapnya lembut. Hatiku berdenyut sakit, Lex ... benarkah kau mencintai Myesha? Padahal dia gadis yang licik. Aku ingin mengatakan ini, sayangnya aku hanya berani mengatakannya di dalam hati. Aku tidak memiliki bukti agar Lex percaya bahwa mencintai Myesha adalah kesalahan besar.  “Terima kasih sudah mengizinkan kami tinggal di rumahmu.”  Myesha tersenyum manis. Demi apa pun aku sedang meremas kesepuluh jemariku. Ada keinginan kuat di hatiku untuk memukul wajah sok cantik Myesha.  “Tidak apa-apa. Lagi pula mulai sekarang kau akan melindungiku dari orang-orang yang sering menjahatiku, kan?” “Tentu saja. Aku akan melindungimu dengan nyawaku.”  Aku menggigit bibir bawah. Sampai kapan aku harus menahan rasa sakit ini?  “Kalau begitu, ayo masuk ke dalam,” ajaknya. Myesha menarik tangan Lex dengan manja, membiarkan aku berjalan di belakang mereka bagai anak ayam yang baru menetas dan mengekori sang induk.  Ketika pintu berwarna putih nan kokoh itu terbuka, sosok wanita tua yang menyambut kami. Tanpa ragu Myesha tiba-tiba menghamburkan diri dalam pelukannya.  “Nenek Lana, perkenalkan mereka teman-temanku, Lex dan Ashley.” Myesha berujar dengan riang di depan sang nenek yang belum ku ketahui ada hubungan apa dengannya. Nenek itu terlihat kebingungan, dia memandangiku lalu beralih memandang Lex.  “Oh, senang bertemu kalian. Perkenalkan saya, Lana. Pelayan di rumah ini.”  Nenek Lana membungkuk, tanpa sadar aku balas membungkuk sebagai bentuk sopan santun.  “Dimana kakak, Nek? Aku ingin menyampaikan sesuatu padanya.”  Myesha yang hendak melangkah pergi seketika terhenti karena Nenek Lana yang menahannya. “Anda baik-baik saja? Saya dan tuan muda sangat mengkhawatirkan nona. Bukankah seharusnya nona kembali dua hari yang lalu? Kenapa nona baru kembali sekarang?”  Myesha tersenyum penuh arti, “Akan kuceritakan nanti. Sekarang beritahu aku dimana kakak.” “Tuan muda ada di taman belakang.”  Myesha merangkul lengan Lex, dengan lirikan mata memberi isyarat padaku agar mengikuti mereka. Aku berdecak sinis, toh tetap ku ikuti juga langkah mereka karena aku merasa tak memiliki pilihan lain selain menurut.  Setibanya di taman belakang rumah Myesha, ku temukan sebuah pemandangan cukup indah. Ada sebuah kolam renang di sini, berukuran cukup besar. Seandainya kakiku bisa kembali menjadi ekor, pasti aku sudah menceburkan diri di air kolam yang tampak segar di pandang mata tersebut.  Sosok seseorang tengah duduk memandangi kolam renang. Myesha sepertinya membawaku dan Lex ke sini untuk menemui orang tersebut.  “Kakak.”  Mendengar panggilan Myesha, orang itu berbalik. Bukan hanya dirinya yang berbalik, namun bersama kursi yang sedang dia duduki. Kursi yang aneh karena ada roda di bawahnya.  “Myesha, kau sudah kembali?” tanyanya dengan wajah datar namun terlihat jelas raut kelegaan dalam sorot mata orang di depan kami yang ternyata seorang pria dewasa dengan paras yang cukup tampan.  “Iya, kak. Aku kembali.” Myesha menghampiri pria itu, berlutut di depannya seraya menggenggam tangannya yang tergolek di atas pangkuan. “Mereka teman yang kutemui di Hawaii. Mereka berdua menolongku dari orang-orang itu.”  Aku memicingkan mata, siapa ‘orang-orang’ yang dimaksud Myesha? Sungguh sosok Myesha masih penuh misteri. Masih ada banyak hal yang tidak ku ketahui tentangnya.  “Untuk membalas kebaikan mereka, aku akan mempekerjakan mereka berdua di rumah kita.”  Alis pria itu tertaut, tergambar raut tak suka di wajahnya yang selalu berekspresi dingin nan datar. Dia menelisik Lex sebelum beralih menatapku.  “Pria itu bernama Lex. Dia akan menjagaku mulai sekarang. Dan gadis itu ...” Myesha menunjukku dengan dagunya. “Dia akan menjadi pelayanmu, Kak.”  “Ashley.”  Aku berjengit ketika Myesha tiba-tiba memanggil namaku dengan cukup keras. “Mulai sekarang kau harus melayani kakakku. Seperti yang kau lihat, kakakku lumpuh. Jadi, kau harus merawatnya dengan baik.”  “Oh, iya. Namanya, Arsen Rawnie. Aku harap kau bisa bekerja dengan baik dan tidak mengecewakanku karena sudah membawamu ke sini.”  Aku mengangguk patuh setelah Lex sebelumnya memberi isyarat dengan anggukan agar aku merespon. Namun, saat tanpa sengaja tatapanku beradu pandang dengan pria bernama Arsen itu ... aku tahu dia akan sangat menyusahkanku mulai sekarang.  Jadi orang seperti apa Arsen Rawnie ini? Mungkinkah dia seburuk adiknya atau bahkan lebih buruk? Harapanku sekarang hanya satu, semoga pria itu tidak membuat hidupku berantakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD