PART ELEVEN

2411 Words
Yang kulakukan setelah berkenalan dengan pria bernama Arsen adalah mengikuti Nenek Lana yang mengajakku mendatangi suatu ruangan.  Ruangan ini luas, jika dilihat dari sebuah ranjang berukuran besar yang ada di tengah ruangan, ku rasa ruangan ini sebuah kamar. Aroma menyengat menusuk hidungku begitu aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Aroma yang harum dan terasa menenangkan saat menghirupnya.  “Wangi sekali ruangan ini,” ucapku spontan. “Ini wangi bunga lavender. Tuan muda Arsen menyukai aroma ini. Kau harus memastikan pengharum kamarnya tidak habis ya.” “Pengharum ruangan?”  Nenek Lana mengangguk.  Aku menelisik keadaan di kamar ini, banyak barang di sini seperti meja, kursi, rak berisi banyak buku yang tertata rapi, lemari dan juga barang antik lainnya yang tak pernah ku temukan di Atlantis.  Kendati demikian, aku sangat yakin tidak menemukan satu pun jenis bunga yang tumbuh di dalam kamar ini. Katakan aku bodoh, tapi sungguh aku tidak paham dimana pengharum ruangan yang dimaksud nenek Lana tadi.  Aku berdeham, ingin bertanya pada nenek Lana tentang pengharum ruangan yang dia maksud namun enggan karena aku takut mempermalukan diriku sendiri.  “Kamar ini ... kamar tuan muda Arsen. Karena mulai sekarang kau pelayan pribadinya jadi semua kebutuhan tuan muda Arsen, kaulah yang akan memenuhinya.”  Lamunanku buyar seketika begitu suara nenek Lana menginterupsi. Aku mengangguk, meski aku belum paham sepenuhnya apa saja yang harus ku lakukan untuk melayani pria bernama Arsen itu.  “Apa saja yang harus aku lakukan, Nek?” tanyaku. Nenek Lana tersenyum lembut, sungguh dia benar-benar ramah. Dan sekarang aku tahu tidak semua manusia memiliki sifat yang buruk. Di antara mereka masih ada yang berhati baik, salah satunya nenek Lana ini.  “Itulah kenapa aku mengajakmu ke sini, Ashley. Aku akan memberitahukan tugas-tugasmu.”  Aku yakin wajahku sedang memasang senyum lebar sekarang, karena aku memang sangat antusias mendengar nenek Lana akan menjelaskan semua tugas yang harus ku lakukan mulai sekarang.  “Tugasmu yang pertama, kau harus menyiapkan sarapan untuk tuan muda Arsen setiap pagi.”  Aku terbelalak. Membuat sarapan, bukankah artinya aku harus memasak? Hei ... aku bahkan tak pernah menyiapkan makanan untukku sendiri selama di Atlantis. Selalu orangtuaku yang menyiapkannya untukku.  “Apakah maksudnya aku harus pergi keluar mencari makanan untuk Tuan muda Arsen?”  Nenek Lana mengernyitkan dahi, sebelum suara tawa tiba-tiba meluncur dari bibirnya yang keriput.  “Tidak. Jika yang kau maksud kau sendiri yang harus pergi ke pasar, jawabannya tidak. Ada orang lain yang bertugas berbelanja ke pasar. Tugasmu hanya membawakan sarapan untuk tuan muda Arsen.”  Aku ber-oh panjang, lega sekali mengetahui aku tidak perlu mencari sendiri makanan untuk Arsen.  “Kau bisa memasak, Ashley?” “Memasak?”  Nenek Lana mengangguk santai, sedangkan aku sedang menggigiti kuku-kuku tanganku. memasak? Sepertinya aku tidak bisa melakukan tugas yang satu itu. Jika aku mengatakannya dengan jujur, mungkinkah aku akan diusir dari tempat ini?  Tidak. Jelas aku tidak boleh sampai diusir dari rumah ini. Aku tidak boleh berpisah lagi dengan Lex.  “Aku bisa memasak.” Jawabku, memilih bohong karena ketakutanku akan diusir jika aku mengatakan yang sejujurnya. “Bagus kalau begitu. Karena mungkin tuan muda Arsen akan memintamu memasakan makanan untuknya.”  Aku tersenyum getir sekarang. Ini benar-benar masalah besar bagiku.  “Kita lanjutkan yang tadi ya. Tugasmu selanjutnya setelah menyiapkan sarapan untuk tuan muda adalah membantunya mandi.” “M-Membantunya mandi?” Aku terbelalak mendengarnya.  Untuk tugasku yang satu ini, aku tidaklah bodoh. Apakah maksudnya aku harus memandikan pria itu? haruskah aku melihat tubuh telanjang pria itu? demi apa pun aku yakin wajahku sedang memerah sekarang karena ku rasakan panas pada kedua pipiku.  “Wajahmu merah, Ashley. Kenapa?” tanya nenek Lana sembari menunjuk pipiku. “T-Tidak apa-apa. Aku hanya merasa memandikan Tuan Muda Arsen ... rasanya aku tidak sanggup.”  Dan sekali lagi nenek Lana tertawa lantang. Meski aku tak tahu kenapa dia menertawakanku tapi reaksinya ini membuatku tersinggung.  “Aku tidak bilang kau memandikan tuan muda Arsen. Membantunya mandi maksudnya kau yang harus menyiapkan peralatan mandinya. Tuan muda Arsen itu sangat suka berendam. Jadi setiap pagi kau harus memastikan bak mandinya sudah siap. Kau juga harus siap sedia jika tiba-tiba tuan Arsen memanggilmu dan meminta bantuanmu. Seperti yang kau lihat, tuan muda Arsen itu lumpuh, jadi dia pasti membutuhkan bantuan orang lain.”  Mendengar ucapan Nenek Lana, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di benakku. “Tuan Muda Arsen tidak bisa berjalan ya, Nek?”  “Iya. Dia lumpuh karena itu menggunakan kursi roda.” “Kenapa dia bisa seperti itu? Apa dia memiliki penyakit atau kelainan?”  Nenek Lana menggeleng, raut wajahnya yang awalnya ceria kini berubah sendu.  “Tuan Muda mengalami kecelakaan mobil. Karena itu kakinya menjadi lumpuh. Sayang sekali padahal tuan muda itu dulunya atlet sepak bola. Karirnya cemerlang, dia pemain yang begitu diandalkan di team-nya. Sekarang dia tidak bisa bermain bola lagi, aku tidak sanggup membayangkan betapa hancurnya perasaan tuan muda.”  Sepak bola atau apa pun itu ... aku tak pernah mendengarnya di Atlantis. Satu hal yang aku tangkap dari cerita nenek Lana, pria bernama Arsen itu pasti kehilangan pekerjaannya karena kakinya yang kini lumpuh.  “Oh, iya. Tugasmu yang lain, kau juga harus menyiapkan pakaian tuan muda. Tanyakan setiap hari padanya pakaian apa yang ingin dia kenakan setelah mandi.” “Iya, Nek. Aku mengerti.”  Nenek Lana berjalan menuju lemari, aku mengekorinya.  Setelah nenek Lana membuka pintu lemari itu, aku terbelalak menemukan banyaknya pakaian yang tersusun rapi di dalam lemari.  “Semua pakaian tuan muda disimpan di sini. Tuan muda itu sangat menyukai kebersihan dan kerapian. Nanti kaulah yang bertugas mencuci dan menyetrika pakaiannya ya. Jangan lupa selalu tambahkan pewangi pakaian beraroma lavender saat menyetrikanya.”  Aku menggaruk belakang kepalaku, bagaimana ini ... semua tugas yang harus ku kerjakan ini aku tidak memahaminya sedikit pun?  Apa itu mencuci dan menyetrika? Istilah seperti itu tak ada di duniaku.  “Kaki tuan muda itu harus dipijat setiap hari, jadi nanti kau yang bertugas memijatnya.”  Kali ini aku tersenyum sumringah, kalau memijat tentu aku memahaminya ... karena di Atlantis pun aku sering memijat pundak ayahku.  “Tuan muda senang melukis dan biasanya dia akan melukis di taman belakang. Intinya kau harus selalu berada di samping tuan muda, agar jika dia membutuhkanmu, kau selalu siap sedia. Kau mengerti kan, Ashley?” “Mengerti, Nek.” “Bagus,” sahut Nenek Lana sembari mengusap pelan lenganku. “Oh, iya. Satu lagi, untuk urusan membereskan dan membersihkan kamar ini juga sudah menjadi tugasmu ya, Ashley.” “Baik, Nek.” “Kau bisa bertanya padaku jika ada yang tidak kau mengerti.”  Aku tersenyum kecil sembari mengangguk-anggukan kepala. Jika boleh jujur, banyak pertanyaan yang bercokol di dalam benakku. Namun aku takut dianggap bodoh jika ku tanyakan semuanya sekarang.  “Sudah saatnya tuan muda Arsen makan siang. Ashley, coba kau tanyakan padanya, dia mau makan jam berapa. Seharusnya sekarang dia sedang melukis di taman belakang.” “Aku yang harus bertanya padanya?” tanyaku seraya menunjuk diriku sendiri. “Tentu saja. Nona Myesha bilang kau mulai bekerja hari ini.”  Aku pikir akan diberi waktu istirahat seharian, walau bagaimana pun aku baru tiba di rumah ini beberapa jam yang lalu. Aku bahkan tidak tahu sekarang Lex dan Myesha ada dimana karena kami berpisah setelah berkenalan dengan pria bernama Arsen itu.  “Kau ini banyak melamun ya.”  Aku tersentak ketika nenek Lana tiba-tiba berujar demikian. Aku menggeleng sebagai respon. “Aku tidak melamun.”  “Kau seperti kebingungan.” Nenek Lana meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat membuat rasa hangat itu menjalar ke sekujur tubuhku.  “Seperti yang ku katakan tadi, jangan sungkan atau malu jika ingin bertanya.” “I-Iya, Nek. Aku mengerti,” jawabku, balas menggenggam tangan nenek Lana yang keriput dan hangat. “Oh, iya. Tanganmu dingin ya, kau baik-baik saja, kan?”  Aku ingin tertawa sekarang, suhu tubuh kami ... bangsa mermaid memang dingin. Berbeda dengan manusia yang memiliki suhu yang hangat. Aku tahu mustahil aku bisa menjawab demikian. Identitasku sebagai mermaid tidak boleh sampai diketahui nenek Lana atau siapa pun di daratan ini.  “Aku baik-baik saja, Nek. Jangan khawatir.” “Mungkin karena tegang dan gugup ya, kau jadi dingin begini?” “Iya, sepertinya begitu.”  Nenek Lana terkekeh pelan, aku bersyukur karena sepertinya dia mempercayai kebohonganku.  “Sekarang pergilah, temui Tuan Muda Arsen. Tanyakan padanya kapan makanannya bisa dihidangkan.” “Dia ada di taman yang tadi kan ya?”  Nenek Lana mengangguk.  “Baik, aku akan ke sana sekarang.”  Dengan langkah ceria aku berjalan meninggalkan nenek Lana. Bukan bermaksud pamer, tapi daya ingatku memang cukup baik jadi aku tak kesulitan sedikit pun pergi ke taman belakang. Aku masih ingat betul arah jalannya.  Setibanya di taman belakang, ku temukan Arsen sedang duduk di bawah sebuah pohon. Benar kata nenek Lana, dia sedang melukis di sana. Tanpa ragu, aku pun menghampirinya.  “Tuan muda ...” ucapku seraya ku tepuk bahunya dari belakang.  Pria itu memutar kursi roda yang dia duduki, menatap tajam padaku yang sukses membuatku meneguk ludah karena takut. Wajahnya seram sekali jika sedang memelotot seperti itu.  “Apa kau tidak pernah diajari sopan santun?” katanya dengan nada sinis.  Aku kembali menelan ludah, sepertinya aku melakukan kesalahan besar barusan.  “M-Maaf, Tuan Muda. Aku tidak bermaksud ...” “Sejak melihatmu tadi, aku sadar ada sesuatu yang tidak beres denganmu. Sekarang terbukti penilaianku benar.”  Aku tertegun, apa maksudnya ada yang tidak beres denganku? Sungguh aku tersinggung sekarang.  “Apa maksudmu bicara begitu?” “Kau terlihat bodoh. Aku yakin kau tidak punya pengalaman bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Aku sangsi kau bisa melayaniku dengan benar. Dan semuanya terbukti, kau bahkan tidak tahu cara bersikap di depan majikanmu.”  Tanpa sadar aku mendesis. Sesuai perkiraanku, pria ini memang menyebalkan. Wajahnya saja sudah menyebalkan, ternyata sikapnya jauh lebih menyebalkan.  “Sebenarnya aku tidak tertarik sedikit pun menjadikanmu pelayanku. Sekalipun kau teman Myesha, aku akan menolakmu jika aku tidak menyukaimu.”  “M-Menolakku?” gumamku, terkejut tentu saja. “Apa artinya kau akan mengusirku dari rumah ini?” “Tentu saja. Untuk apa kau tinggal di sini jika kau tidak bisa berguna untukku.”  Aku melebarkan mata, dia akan mengusirku. Ketakutanku tadi kini benar-benar menjadi kenyataan.  “Jangan! Jangan usir aku dari rumah ini, aku mohon,” pintaku sembari menangkupkan kedua tangan di depan d**a. “Kau tidak berguna. Aku akan bicara pada Myesha bahwa aku tidak membutuhkanmu. Kau bisa bekerja di tempat lain.”  Pria itu hendak pergi karena kedua tangannya kini siap memutar roda pada kursinya. Aku bergegas menghalangi jalannya, berdiri sembari merentangkan kedua tanganku ke samping.  “Minggir dari jalanku!” Dia membentakku, namun  aku tidak peduli. Aku tidak akan membiarkan dia menemui Myesha dan mengusirku.  “Aku mohon, jangan usir aku. Aku harus tinggal di sini. Aku tidak mau berjauhan dengan Lex.”  Pria itu mengernyitkan dahinya. Aku spontan mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa aku bersi keras ingin menetap di rumah ini.  “Jadi, kau meminta pekerjaan karena ingin bersama pria itu? Pria yang katanya bodyguard Myesha mulai hari ini.”  Wajah pria itu semakin memerah entah karena apa, mungkin semakin marah padaku.  “Tidak. Aku ingin bekerja karena memang aku membutuhkannya.” Aku menjawab seperti ini karena aku sadar jawabanku tadi salah di matanya.  “Dilihat sekilas pun, aku tahu kau tidak bisa mengerjakan apa pun. Kau tidak lebih dari gadis manja yang tidak tahu cara berjuang dalam hidup karena kau selalu dimanjakan orang-orang di sekelilingmu.”  Aku tersentak, kini aku benar-benar tersinggung. Dia mengatakan aku gadis manja tanpa tahu perjuangan yang sudah ku lakukan agar bisa bertahan hidup. Pria ini tak pernah tahu kerasnya hidup di Atlantis yang sudah aku jalani. Diriku yang berulang kali nyaris meregang nyawa karena kelainan yang ku derita, jika aku tak berjuang memertahankan hidup, kekuatan sihir Lex sekali pun tidak akan sanggup menopang hidupku.  Pria itu berniat melewatiku, tentu aku tak membiarkannya. Aku berdiri di depannya, ku tahan kursi rodanya dengan kedua tanganku yang menumpu di sana. Wajahku dan wajahnya berada dalam jarak sangat dekat. Aku menatapnya penuh amarah, kata-katanya tadi ... aku ingin dia menariknya kembali.  “Jangan bicara sembarangan karena kau tidak tahu apa pun tentangku.”  Arsen hanya diam, balas menatapku tajam, tak mau mengalah.  “Jangan mengatakan aku gadis manja karena kau tidak tahu dan tidak akan pernah tahu seberat apa perjuanganku menjalani hidup.”  “Kau tidak mengenalku. Apa pantas kau memberi penilaian padaku seburuk itu di hari pertama pertemuan kita? Jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja karena kau tidak tahu apa pun tentang kedalaman hatiku.”  Aku menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk di akhir ucapanku. Napasku memburu karena aku berbicara nyaris tanpa jeda.  “Oh, begitu.” Dia menyahut dengan santai, kedua tangannya terlipat di depan d**a. “Apa kau ingin mengatakan penilaianku salah tentangmu?” “Ya. Kau tidak tahu apa pun tentangku jadi jangan sembarangan menghinaku.”  Arsen mendengus sembari memejamkan kedua matanya. Mengulas senyum mencela yang membuatku ingin sekali menghajar wajah sok tampannya itu.  “Kalau begitu, bagaimana jika kau membuktikannya?”  Aku melebarkan mata, refleks mundur menjauhi kursi rodanya karena seringaian mencurigakan yang kini tercetak di wajahnya. Aku seketika berubah penuh waspada.  “Aku akan menantangmu,” tambahnya, yang membuatku semakin antisipasi.  “Menantang bagaimana maksudmu?” “Kau ingin bekerja di rumah ini, benar?”  Aku mengangguk tanpa ragu.  “Kau tidak terima saat aku mengatakan kau tidak berguna. Kalau begitu buktikan padaku kau bisa berguna untukku.” “Cara membuktikannya bagaimana?” “Memangnya kau bisa melakukan apa pun?” Dirinya balas bertanya. Oh, sungguh orang ini sangat menyebalkan bagiku. “Tentu saja. Aku bisa melakukan apa pun karena itu jangan meremehkanku.” “Kalau begitu makan siangku, aku ingin kau yang menyiapkannya dengan tanganmu sendiri.”  Aku terperangah sekarang dan sepertinya ekspresi terkejutku ini membuatnya puas karena seringaiannya semakin lebar.  “Kau bilang bisa melakukan apa pun, tentunya sekadar memasak tidak sulit bagimu bukan? Seharusnya hanya memasak untukku sangat mudah bagimu.”  Wajahku tertunduk. Memasak? Aku ingin menenggelamkan diriku ke laut sekarang. Aku tidak pernah memasak sebelumnya.  “Jika masakanmu enak, aku akui penilaianku salah tentangmu dan aku akan menerimamu sebagai pelayan pribadiku.”  Kepalaku kembali mendongak, menatap dirinya yang masih menjelaskan tentang tantangan bodoh yang dia ajukan padaku.  “Sebaliknya, jika masakanmu tidak enak, artinya ucapanku memang benar. Kau tidak berguna. Dan kau harus meminta maaf padaku karena sudah bersikap tidak sopan.” “Bagaimana? Mau menerima tantanganku ini?”  Aku menggigit bibir bawahku, memutar otak untuk menimbang-nimbang keputusan terbaik yang harus aku ambil.  “Kalau kau menolaknya sama saja kau menjilat ludahmu sendiri. Kau bilang bisa melakukan apa pun beberapa menit yang lalu. Apa sekarang kau menyesal karena sudah mengatakan omong kosong seperti tadi?”  Aku menggeram dalam hati, kekesalanku yang sempat mereda kini naik lagi ke permukaan.  “Jika kau menolak, bagiku kau tidak lebih dari orang tak berguna dan si beban.” “B-Beban?” gumamku dan dia mengangguk dengan santainya. “Ya. Beban. Hanya bisa menyusahkan orang lain terbukti dari Myesha yang harus repot-repot merekomendasikanmu padaku.”  Kedua tanganku terkepal erat, baik lah tidak ada gunanya untuk ragu. Aku akan membuktikan pada pria menyebalkan ini bahwa aku bukan beban.  “Baik. Aku terima tantanganmu. Hanya menyiapkan makanan untukmu, kan? Tunggu di sini, sebentar lagi aku akan membawanya ke hadapanmu. Dan kaulah yang akan menjilat ludahmu sendiri, bukan aku.”  Aku pun melenggang pergi dengan amarah yang meluap-luap di dalam d**a, meninggalkan Arsen yang kembali tersenyum meremehkan.  Tapi meskipun aku sok berani mengatakan ini, sekarang aku benar-benar bingung. Makanan apa yang harus ku siapkan untuknya? Ngomong-ngomong makanan apa yang disukai manusia? Haah, rasanya aku benar-benar ingin menenggelamkan diriku ke laut sekarang juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD