PART TWELVE

2190 Words
Yang kulakukan di dalam ruangan bernama dapur adalah terpaku. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Aku hanya bisa melongo melihat banyaknya peralatan yang diletakan di ruangan ini. Dan sungguh aku tak tahu bagaimana cara menggunakannya karena di Atlantis tentunya benda-benda seperti itu tak pernah ada.  “Apa yang dikatakan tuan muda Arsen?”  Sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang sukses membuatku terperanjat kaget. Tanpa menoleh pun aku tahu pemilik suara itu adalah Nenek Lana.  “Hm, dia memberikan tantangan padaku.” Aku tidak ingin berkata bohong pada orang sebaik Nenek Lana, jadi ku putuskan untuk jujur. “Tantangan?” Nenek Lana terheran-heran sekarang. “Sepertinya tadi aku membuat tuan muda marah besar.” “Haah? Bagaimana bisa?”  Untuk menjawab pertanyaan nenek Lana ini, aku pun tak memiliki pilihan lain selain menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Arsen.  Nenek Lana tak berkomentar hingga aku menyelesaikan ceritaku.  “Bagaimana menurut nenek, memangnya aku salah?” tanyaku, meminta pendapatnya. “Tentu saja salah. Benar yang dikatakan tuan muda Arsen, kau sangat tidak sopan.”  Aku menegang setelah mendengar nenek Lana dengan gamblang menyuarakan pendapatnya.  “Kita ini hanya pelayan di sini, sudah seharusnya kita bersikap sopan di hadapan majikan. Tuan muda Arsen pasti terkejut karena kau tiba-tiba menepuk bahunya dari belakang, terlebih memanggil namanya dengan suara kencang. Bukan begitu seharusnya kau bersikap di depan majikanmu, Ashley.” “Maaf,” ucapku tulus sembari menunduk.  Suara helaan napas nenek Lana terdengar jelas di telingaku.  “Ya sudah tidak apa-apa, kau kan baru pertama kali bekerja sebagai pelayan, wajar jika kau melakukan kesalahan. Tapi jangan diulangi lagi ya kedepannya.”  Dan aku pun dengan cepat mengangguk-anggukan kepala.  “Sekarang aku harus bagaimana, Nek?” Untuk kedua kalinya aku meminta pendapat pada nenek Lana. “Ya, tinggal membuat makanan seperti yang diperintahkan tuan muda Arsen. Kau bilang bisa memasak, kan?”  Untuk kesekian kalinya aku dibuat mati kutu hari ini. Kebohonganku tadi kini menjadi bumerang untukku, hingga aku tak sanggup berkata-kata lagi dan hanya bisa diam membisu layaknya patung.  “Masak apa pun yang kau bisa. Tuam muda juga tidak menyebutkan jenis makanan yang harus kau buat secara spesifik bukan?”  Bibirku masih terkatup rapat, namun ku anggukan kepala untuk menanggapi pertanyaan nenek Lana.  “Agar kau tidak bingung, sini aku tunjukan tempat penyimpanan bahan makanannya.”  Aku mengekori nenek Lana yang entah mau mengajak kemana.  Ternyata dia membawaku mendekati benda aneh yang jika pintunya dibuka seketika rasa dingin menyapa kulit.  “Semua bahan makanan ada di lemari es ini.”  Oh benda tinggi dengan dua pintu itu bernama lemari es, aku kembali mengangguk tanpa kata.  “Kau tinggal pilih saja mau memasak apa. Di sini ada daging sapi, ayam, telur, ikan juga ada.”  Aku melebarkan mata saat baru ku sadari ada beberapa ekor ikan yang sudah mati dan membeku di dalam lemari es itu. Kasihan sekali mereka, namun tak ada yang bisa ku lakukan untuk menolong mereka karena mereka sudah dipastikan telah mati.  “Sayuran juga ada. Ada wortel, kol, kentang dan brokoli. Terserah kau mau memasak apa untuk tuan muda.”  “Kalau untuk bumbu-bumbu diletakan di sana ya.” Nenek Lana menunjuk ke arah lemari yang ditempel di dinding tepat di atas kompor diletakan.  “Oh, iya. Sebagai informasi, tuan muda itu seorang vegetarian, jadi aku sarankan kau memasakan sayur atau membuatkan salad saja untuknya.”  “Vegetarian?” tanyaku tak paham. “Maksudnya?”  Wajah melongo Nenek Lana menyadarkanku bahwa aku telah salah memberikan pertanyaan.  “Serius kau tidak tahu apa itu vegetarian?”  Dan aku menanggapinya hanya dengan kekehan pelan seraya menggaruk pelipisku yang sebenarnya tak gatal. Nenek Lana menggeleng tak percaya. Mungkin baru ditemuinya orang bodoh sepertiku. Padahal aku bukan bodoh, aku hanya memang tidak tahu istilah yang dipakai para manusia di dunianya ini.  “Vegetarian itu artinya tidak memakan daging atau semua makanan yang mengandung lemak tinggi.” “Artinya tuan muda Arsen juga tidak memakan ikan?” tanyaku antusias.  Nenek Lana mengangguk, “Iya. Tuan muda jarang juga memakan ikan. Telur juga sesekali jika dia sedang bosan memakan sayur atau salad.”  Entah kenapa penilaianku tentang pria itu jadi sedikit berubah setelah mengetahui dia tidak memakan ikan-ikan malang itu.  “Bagaimana? Sudah diputuskan mau membuat apa?”  Nenek Lana kembali bertanya, aku yang sempat antusias kini kembali murung. Kupandangi isi di dalam lemari es. Tak punya ide sedikit pun bahan apa yang harus ku ambil.  “Ashley, jangan terlalu lama berpikir, nanti tuan muda Arsen semakin marah padamu karena menunggu terlalu lama.”  Aku mendesah putus asa sekarang. Katakan aku bodoh tapi sungguh bahan-bahan makanan itu baru pertama kali ini ku lihat. Di Atlantis sama sekali tak ada.  “Jangan katakan sebenarnya kau tidak bisa memasak, Ashley?”  Dengan gerakan patah-patah aku menoleh pada nenek Lana yang menebak tepat kondisiku.  “Kau berbohong ya, sebenarnya kau tidak bisa memasak?” “Maaf, Nek. Aku sangat menyesal karena sudah berbohong.”  Awalnya ku pikir nenek Lana akan memarahiku, tapi nyatanya tidak demikian. Sebaliknya, dia tiba-tiba mengambil beberapa bahan makanan di dalam lemari es.  Aku memperhatikannya dengan bingung, toh pada akhirnya aku hanya berjalan mengekori.  “Nenek ingin melakukan apa?” “Tidak ada waktu lagi,” sahutnya sembari menjajarkan bahan makanan yang sudah diambilnya, di dekat kompor. “Jika tidak cepat, tuan muda bisa benar-benar mengusirmu dari rumah ini.”  “Aku akan membantumu membuatkan sandwich. Perhatikan baik-baik agar nanti kau bisa membuatnya sendiri.” “B-Baik, Nek,” sahutku, meski tak enak hati karena merepotkan Nenek Lana. Namun, aku sadar hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa tetap bekerja di rumah ini. Tentunya nanti aku akan berterima kasih sebanyak-banyaknya pada nenek Lana yang sudah berbaik hati mau membantuku.  Dengan gesit nenek Lana mulai memotong-motong sayuran.  Aku memperhatikan cara nenek Lana membuat makanan bernama sandwich itu tanpa teralihkan sedikit pun. Nenek Lana sepertinya sudah terbiasa membuat sandiwich bahkan makanan itu sudah jadi sebelum sempat aku menghapal urutannya.  “Ini cepat, antarkan pada tuan muda,” titahnya setelah dua buah sandwich itu dia tata di atas sebuah piring yang diletakan pada nampan.  “Untuk minumannya air mineral saja, tuan muda tidak suka minuman yang aneh-aneh.” Kini dia pun meletakan segelas air putih di samping piring sandwich.  “Nenek, jika tuan muda nanti bertanya siapa yang membuat sandwich ini,bagaimana?” tanyaku, tak enak hati jika aku mengaku yang membuatnya. “Katakan saja kau yang buat.” “Artinya aku harus berbohong.” Aku menunduk, merasa bersalah. “Tidak apa-apa untuk sekali ini, daripada kau diusir nanti.”  Aku heran kenapa nenek Lana begitu baik padaku karena itu aku memberanikan diri langsung bertanya padanya.  “Kenapa nenek begitu baik padaku?”  Nenek Lana terenyak untuk sesaat, namun tak bertahan lama karena setelah itu tiba-tiba dia mengusap kepalaku lembut, sentuhannya ini mengingatkanku pada sentuhan hangat ibuku.  “Kau mengingatkanku pada Nona Myesha dulu. Dulu nona sangat mirip denganmu, sama polosnya sepertimu. Dia berubah setelah tragedi itu.”  Aku mengernyitkan dahi karena tak paham kenapa nenek Lana tiba-tiba berekspresi sendu.  “Aku tidak punya keluarga. Sejak muda aku sudah bekerja bersama keluarga Rawnie. Aku melihat sendiri bagaimana tuan muda dan nona tumbuh. Aku menyayangi mereka seperti anakku sendiri. Dan melihatmu mengingatkanku pada nona Myesha sewaktu masih remaja. Sekarang nona sudah banyak berubah.”  Kedua bola mata nenek Lana berkaca-kaca yang mana artinya dia sungguh sedang bersedih.  “Sudah jangan banyak bertanya, sana temui tuan muda. Jangan khawatir, jika dia bertanya padaku, akan ku katakan kau yang membuat sandwich itu.”  Nenek Lana mendorong punggungku pelan. Akhirnya dengan terpaksa aku harus menuruti keinginan nenek Lana yaitu mengaku di depan Arsen bahwa sandwich ini aku yang membuatnya.   ***    Di sebuah ruangan yang katanya bernama ruang makan, Arsen sedang menyantap sandwich itu dengan lahap seolah rasanya begitu lezat.  Aku sejak tadi berdiri di depannya, menunggu responnya dengan detak jantungku yang tak beraturan. Aku takut dia akan menyadari sandwich itu bukan aku yang membuatnya.  “Nenek Lana memberitahumu aku seorang vegetarian?”  Aku terperanjat ketika suaranya tiba-tiba mengalun. Ditanya secara tiba-tiba di saat aku sedang gugup, tentu saja membuatmu salah tingkah sekarang.  “I-Iya.” Dan akhirnya aku hanya bisa menjawab demikian. “Hm, apa saja yang sudah diberitahukan Nenek Lana padamu?” “Semua tugasku sebagai pelayan anda.” “Sebutkan tugasmu apa saja?”  Aku menggeram tertahan, pria ini benar-benar menyebalkan. Padahal sedang makan tapi mulutnya tidak bisa diam, terus saja memberikan pertanyaan padaku.  “Membereskan dan membersihkan kamar anda, membantu anda menyiapkan perlengkapan mandi atau berendam. Menyiapkan pakaian anda dan juga makanan anda.” “Hanya itu?” tanyanya lagi.  Aku memutar bola mata malas, “Memijat kaki anda setiap pagi,” tambahku. “Oh, iya. Juga selalu menemani anda untuk berjaga-jaga jika anda membutuhkan bantuan.”  Arsen akhirnya terdiam, mulutnya sibuk mengunyah sandwich buatan Nenek Lana yang diketahuinya aku lah yang membuatnya dengan tanganku sendiri.  “Sandwich ini enak, rasanya sesuai seleraku.”  Aku diam mendengarkan dia yang tengah menilai rasa sandwich-nya.  “Ini benar kau yang membuatnya sendiri?”  Seketika aku menegang setelah dia menambah pertanyaannya.  Pria itu menopang dagunya dengan kedua tangan yang terlipat di atas meja, menatapku tajam seolah tak sabar menunggu jawabanku.  “Kenapa diam?” Dia kembali mengintimidasiku dengan pertanyaan sekaligus tatapannya. Entah kenapa sekarang lidahku terasa kelu sekadar untuk memberikan jawaban.  “Jika sandwich ini benar buatanmu sendiri maka kau lulus. Aku akan menerimamu sebagai pelayan pribadiku. Kau bisa bekerja mulai besok.”  Aku meneguk ludah, panik secara tiba-tiba. Padahal situasinya sangat sederhana, cukup mengakui sandwich itu aku yang membuatnya seperti yang diperintahkan nenek Lana. Namun ... entah kenapa rasanya sulit sekali mengatakan kalimat itu.  “Jangan menguji kesabaranku, nona. Kenapa kau hanya diam seperti patung? Kau mengerti bahasaku ini, kan?”  Suaranya terdengar semakin berat dan penuh penekanan. Oh sepertinya aku kembali membuatnya marah. Meneguk ludah sekali lagi, akhirnya aku membuka mulut untuk menyahut.  “B-Begitulah. Memang aku yang membuatnya.”  Arsen tiba-tiba memasang seringaian entah karena apa. Hingga tiba-tiba dia memundurkan kursi rodanya seolah siap untuk pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.  Melihat kursi rodanya semakin menjauh, tiba-tiba rasa bersalah menghantam hatiku. Ini tidak benar, tidak seharusnya aku berbohong seperti ini, kan? Orangtuaku selalu mengajarkanku untuk berkata jujur.  Tak kuasa menahan rasa bersalah ini, aku pun berlari untuk mengejar Arsen. Aku menahan kursi rodanya dari belakang, agar berhenti berjalan.  “Maafkan aku,” ucapku dengan kepala tertunduk. “Untuk?”  Aku berjalan ke depan dan kini berdiri tepat di hadapan Arsen yang sedang menatapku dengan kening yang mengernyit.  “Aku sudah berbohong.” Arsen memiringkan kepalanya sekarang, masih dengan sepasang mata yang menatapku penuh intimidasi.  “Sandwich itu sebenarnya nenek Lana yang membuatnya. Aku ...” Sebelum kulanjutkan ucapanku yang sebenarnya akan mempermalukan diriku sendiri di hadapan Arsen, kupejamkan mataku sejenak. Setelah menghela napas panjang, akhirnya kubuka kembali kedua mataku untuk balas menatapnya dengan berani.  “... aku tidak bisa memasak. Lebih tepatnya aku tidak pernah memasak sebelumnya.”  Suara dengusan Arsen mengudara. Padahal dia tidak sedang menertawakanku tapi aku merasa dia sedang mengolok-olokku sekarang.  “Apa dengan ini kau mengakui bahwa ucapanku tadi memang benar? Kau ini sama sekali tidak berguna. Kau tidak bisa melakukan apa pun.”  Kedua tanganku terkepal mendengar penghinaannya ini, namun aku tak bisa membantah karena yang dia katakan memang ada benarnya. Aku tidak bisa berguna untuknya.  “Bahkan kau sekarang sedang menjilat ludahmu sendiri. Padahal dengan percaya dirinya tadi kau menantangku.”  Aku marah sebenarnya, tapi aku memang kalah telak dari pria sialan ini. Akhirnya aku hanya bisa memasang senyum terpaksa.  “Anda benar,” ucapku. “Semua yang anda katakan memang benar. Aku tidak berguna karena tidak bisa melakukan apa pun. Tapi aku tetap bangga pada diriku sendiri.” “Memangnya apa yang bisa kau banggakan?” tanyanya mencela. “Aku memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu yang tidak pernah aku lakukan, sekalipun beresiko tinggi dan mempertaruhkan nyawaku. Aku juga bukan seorang pecundang yang hanya bisa berbohong demi meraup keuntungan pribadi.” “Satu lagi, aku juga tidak arogan seperti seseorang. Aku tidak pernah menghakimi orang lain hanya karena diriku merasa lebih baik darinya. Aku bangga karena masih punya hati nurani, tidak seperti seseorang yang tega menghakimi tanpa memberikan kesempatan pada orang lain untuk memperbaiki dirinya.”  Aku sedang menyindirnya, entah pria ini menyadarinya atau tidak. Aku tak peduli yang terpenting sudah ku luapkan isi hatiku padanya.  “Aku mengaku kalah. Aku tidak bisa memenuhi tantangan anda.” “Apa ini artinya kau siap pergi dari rumah ini?”  Aku semakin mengeratkan kepalan tanganku. Aku tak ingin pergi sebenarnya karena Lex berada di rumah ini. Tapi mustahil juga aku bisa tetap tinggal di sini setelah aku kalah telak dari pria ini.  “Ya. Aku akan pergi.” “Kau bilang tidak ingin berpisah dengan pria bernama Lex itu, kan?” “Benar. Aku tidak ingin berpisah dengan Lex. Tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah kalah dari anda, aku harus memenuhi janjiku bukan?”  Aku tersenyum lebar di akhir ucapanku, lantas membungkuk pada Arsen sebagai bentuk perpisahan. Lalu aku pun berjalan meninggalkannya.  Aku harus mencari keberadaan Lex, memberi tahu dia aku tidak bisa tinggal di rumah ini sepertinya. Haah, entah kemana aku harus pergi. Sepertinya aku harus mendiskusikannya dengan Lex.  Dengan gontai aku berjalan keluar dari rumah Myesha. Yang menjadi tujuanku sekarang adalah mencari Lex yang sepertinya sedang pergi ke suatu tempat bersama Myesha.  “Ashley!!” Dan ketika suara seseorang tiba-tiba memanggilku dari arah belakang. Aku bergegas menoleh. Tatapanku semakin menyendu mendapati nenek Lana yang sedang berlari ke arahku dengan tergopoh-gopoh.  “Nenek, maaf. Aku harus pergi. Aku tidak sanggup berbohong pada tuan muda Arsen,” ucapku penuh penyesalan, merasa bersalah pada nenek Lana yang sudah berbaik hati membantuku.  “Tuan muda Arsen menyuruhku memanggilmu. Jangan pergi, Nak. Kau diterima bekerja di rumah ini.”  Aku menganga dengan kedua mata terbelalak karena terlalu terkejut.  “Mulai besok kau resmi menjadi pelayan pribadi tuan muda Arsen.”  Sungguh aku tak tahu apa yang terjadi sekarang. Pria bernama Arsen itu sungguh aneh. Aku sangsi hidupku akan baik-baik saja setelah mengenal pria itu. Dan apa kata Nenek Lana barusan, mulai besok aku resmi menjadi pelayan pribadinya? Haah, sepertinya hidupku akan berubah seperti di neraka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD