Jomlo 89 *Happy reading* "Di-dia meninggal?" tanyaku dengan syok. Alan hanya menanggapi tanyaku dengan anggukan satu kali. "Hanya karena diabaikan Aa, dia bunuh diri?" Aku masih mengejar penjelasan. Kali ini Alan tidak langsung menjawab. Dia terdiam lalu membuang napas kasar. "Entahlah, mungkin juga itu salah satunya," jawabnya tidak yakin. Aku pun mengejar penjelasannya dengan menarik-narik lengan bajunya. "Saya tidak tahu tepatnya, Hasmi. Soalnya saya kan tidak pernah bertemu dan mengobrol lagi dengannya setelah pertemuan terakhir kami. Temannya bilang, dia depresi karena merasa bersalah pada saya. Tapi ada juga yang bilang, depresi karena KDRT. Tahu sendiri bagaimana Papa saya, kan? Dia kalau marah selalu gelap mata. Saya saja hampir mati terbakar." Ah, benar juga. Pantas wanit

