13. Laras di Rumah Ibunya

1132 Words
"Mas Arkan baik-baik saja?" Laras mengibaskan tangan di depan wajah Arkan yang berdiri melamun. "Ah, ya, aku baik-baik saja. Kemarin emang nggak sengaja aja lewat. Lagian satu arah sama tempat kondangan," jawab Arkan sama persis dengan jawaban Ana. "Apa pun itu, aku makasih banget," kata Laras dengan tulus dan sambil tersenyum ramah. Arkan mengangguk lalu segera pergi ke bagian toilet. Ia belum memakai seragam. Arkan membuka tas dengan cepat lalu mengambil baju yang masih terlipat rapi. Baju dan celana seragam sudah dipakainya. Ada kertas yang jatuh dari kantung celana dan segera diambil oleh Arkan karena. 'Laporan keuangan palsu rumah sakit.' Dada Arkan berdetak kencang saat membaca judul dari kertas itu. Siapa yang membuat laporan itu? Arkan kali ini merasa sudah tidak ada lagi batas toleransi untuk semua pegawai yang bermain api di rumah sakit. Sejauh ini, rumah sakit milik keluarga Firdaus memang sedang mengalami penurunan tajam. Penurunan dalam bidang fasilitas juga pelayanan, dua hal yang membuat kepercayaan masyarakat turun drastis saat ini. Penyebab dari dua hal itu, Arkan sudah bisa menganalisanya. Ia hanya perlu bukti yang sangat akurat. Bukti sangat diperlukan untuk menjebloskan ke penjara bagi orang-orang yang terlibat. Sementara itu, Yudha saat ini berada di kantor, tidak ada berita buruk apa pun tentangnya. Kantor dalam suasana yang sangat kondusif untuk kerja. Satu per satu pekerjaan diselesaikan oleh Yudha siang ini. Mendadak, dering ponsel membuat Yudha tersentak. "Siap!" Atasan Yudha menghubungi Yudha agar datang menghadap. Ia lantas segera membawa semua berkas. Yudha bisa berjalan dengan santai karena semua pekerjaan sudah selesai. Lantas apakah yang dibahas adalah tentang pekerjaan? "Mohon izin menghadap!" Yudha memberikan salam dan hormat pada sang atasan. "Ya, masuk, duduklah," jawab sang atasan singkat padat dan jelas. Yudha duduk dengan tegak seperti biasanya. Sang atasan menatapnya dengan tatapan sulit terbaca saat ini. Ya, Cokro, seorang jenderal bintang satu itu dulu adalah seorang intel. Ia tahu kapan anggotanya berbohong atau tidak. Semua tidak akan bisa lepas dari sosok laki-laki berusia empat puluh delapan tahun itu. "Anda sudah mendengar tentang adanya kasus perselingkuhan seorang anggota TNI?" Cokro bertanya tanpa basa-basi pada Yudha yang saat ini tampak sangat terkejut di depan sang atasan. "Siap! Tidak, Komandan!" Yudha berusaha sesantai mungkin saat menjawab pertanyaan dari sang atasan. "Saya tidak terlalu memperhatikan urusan orang lain dan hanya fokus pada kelurga saya," lanjut Yudha dengan tegas. Cokro paham, ada kebohongan yang ditutupi oleh Yudha saat ini. Akan tetapi, sebagai atasan, ia tidak mau gegabah. Istri Yudha tidak mengadukan apa pun padanya. Ia hanya ingin mengetahui kejujuran Yudha. "Kamu paham, 'kan, saya nggak segan langsung memecat anggota yang berselingkuh? Ada atau tidaknya aduan dari istri, tetap saya akan memprosesnya," kata Cokro dengan halus, tetapi sukses menusuk dan membuat Yudha takut. "Siap, saya paham!" Yudha menjawab dengan tegas pada sang atasan. "Baiklah, kamu boleh keluar. Saya rasa sudah cukup," kata Cokro santai, tetapi sukses membuat raut wajah Yudha berubah seketika. Setelah memberikan hormat, Yudha pun kembali ke ruangan kerja. Ia yakin, Laras tidak melaporkan semua tindakannya. Lagi pula, Laras tidak punya cukup bukti. Lantas apakah Nadira yang melaporkannya pada Cokro? Otak Yudha pusing memikirkan jawaban itu. Terlalu banyak kemungkinan tentang siapa yang melapor. Belum lagi, ada tetangga yang seorang purnawirawan TNI dan Polri. Mereka juga bisa jadi tersangka. Sementara itu, sudah pukul sembilan malam dan shift Laras sudah selesai. Ia hanya ingin pulang ke rumah sang ibu. Laras ingin tenang sejenak. Masalah rumah tangganya dengan Yudha bukan masalah kecil. "Ras, kamu dijemput suami?" tanya Arkan yang beru saja keluar bersamaan dengan Ayu. "Nggak, Mas. Aku naik ojol aja. Dia mungkin pulang telat," kata Laras yang terbiasa dengan kondisi seperti ini. Arkan paham dengan ucapan Laras. Yudha akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Nadira. Padahal, jika laki-laki jahat itu sedikit saja membuka mata, Laras jauh lebih cantik daripada wanita yang berprofesi sebagai dosen itu. Belum lagi, Arkan pernah mendengar berita miring perihal Nadira Efendi. "Aku duluan, itu ojol-nya udah datang," kata Laras berpamitan pada kedua rekan kerjanya itu. Laras berjalan mendekati pengemudi ojek online. Tujuan Laras bukan lagi rumah Yudha. Ia pulang ke rumah sang ibu. Setidaknya, hati sedikit tenang karena jika di rumah itu, hanya ada pertengkaran saja. Pertengkaran demi pertengkaran itu sebenarnya hanya berawal dari masalah Yudha. Yudha selalu saja mencari pembenaran dan kambing hitam untuk setiap kesalahan yang terjadi. Laki-laki berpangkat Letnan Satu itu tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Justru sebaliknya, Yudha selalu saja memanipulasi kesalahan agar tampak menjadi korban. Sementara itu, sudah hampir pukul sebelas malam, Yudha masih berada di salah satu kafe. Pikirannya sangat kalut saat ini. Cokro sebenarnya sedang menegur dengan cara halus. Teguran itu bisa berakibat fatal jika Yudha tidak hati-hati saat ini. Dering benda pipih di atas meja membuat lamunan Yudha buyar. Nama Nadira tertera di sana. Yudha yang biasanya cepat tanggap langsung merespons panggilan sang mantan istri, kini seperti ada rasa malas. Bunyi telepon itu kini hilang dan Yudha mengalihkan panggilan itu. 'Ck! Kenapa sih wanita satu ini?!' batin Yudha geram saat melihat benda pipih itu terus berkedip. "Halo!" Tidak ada sapaan ramah tamah yang keluar dari mulut Yudha saat ini. Ia masih menduga jika sang mantan istri yang memberikan laporan pada Cokro. Kemungkinan itu ada banyak dan Nadira adalah salah satu kemungkinan itu. Laras? Bisa saja, hanya wanita muda itu terbiasa diam. "Yud, aku pendarahan. Bisa antar aku ke rumah sakit? Aku ingin mempertahankan janin ini." Degh! Jantung Yudha seolah diremas paksa dan berdetak lebih kencang. Apa yang dilakukan saat ini? Tidak tahu, Yudha juga tidak ingin mendekati Nadira dulu. Ia merasa ada yang diam-diam mengawasi. "Kamu bisa ke rumah sakit sendiri. Aku masih di kantor." Yudha langsung mematikan sambungan telepon itu sepihak. Embusan napas kasar keluar begitu saja dari mulut Yudha. Masalah lama belum selesai, kini ada lagi masalah baru yang berasal dari masalah lama. Yudha kali ini sudah terpojok karena tidak pernah dan tidak terbiasa menyelesaikan setiap masalah yang ada. "Maaf, Pak, kafe kami mau tutup. Makanan Bapak mau kami bungkus?" tanya seorang pelayan laki-laki dengan sopan dan sambil tersenyum meski sudah mengantuk. "Nggak usah." Yudha langsung beranjak dari duduknya lalu menuju ke meja kasir. Pesanan makan malam Yudha sama sekali tidak tersentuh. Yudha hanya meminum kopi pahit separuh cangkir ukuran sedang. Pikiran yang kalut membuat selera makan hilang seketika. Yudha pun segera menuju ke tempat parkiran. Keluar dari parkiran kafe, Yudha tidak langsung pulang. Ia menepikan mobil di depan supermarket tempat Laras bekerja. Pintu rooling door sudah ditutup saat ini. Yudha bahkan tidak tahu jika saat ini sudah hampir tengah malam. Pukul satu dini hari, Yudha baru sampai di rumah. Rumah dalam keadaan gelap gulita. Kamar utama rumahnya pun dalam keadaan gelap gulita. Gegas, laki-laki banyak masalah itu segera memarkirkan mobil. "Ras! Laras!" Yudha berusaha memanggil sang istri. Nihil, tidak ada jawaban, semua ruangan kosong. Yudha mengembuskan napas kasar saat ini. Apa lagi sekarang? Yudha harus siap mendengar celaan dari banyak orang karena Laras tidak pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD